SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pengumuman


__ADS_3

Esoknya, Farhan dan Via berangkat bersama ke kantor pusat Wijaya Kusuma. Rencananya, hari itu mereka akan memperkenalkan diri secara resmi.


Kali ini, Farhan tidak lagi mengendarai motor matik milik Azka. Ia pun tidak mengemudikan mobilnya sendiri. Ada Pak Yudi yang mengemudi. Ia duduk manis bersama Via di jok belakang.


Via tampak gelisah. Dari cara duduknya sudah terlihat ia sedang memikirkan sesuatu yang membuatnya tak tenang.


"Kenapa, Cinta kok kelihatannya gelisah?" tanya Farhan lembut.


"Iya, Via nervous. Kan Via belum pernah berhadapan dengan para karyawan Wijaya Kusuma."


Farhan tertawa. Ia membelai kepala istrinya yang tertutup jilbab biru muda.


"Tenang saja. Kita kan hanya kenalan. Cinta kan sudah biasa berbicara di depan banyak orang."


"Tetap saja, Hubbiy. Via kan belum pernah berhadapan dengan banyak orang di lingkungan perkantoran."


"Tapi Mas yakin nanti kamu bisa. Jangan bayangkan yang buruk! Dibawa santai saja," ujar Farhan.


Selang beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di kantor Wijaya Kusuma. Pak Yudi memarkirkan mobil di tempat parkir khusus.


Begitu turun dari mobil, Farhan menggenggam tangan Via. Ia tidak melepaskan genggamannya meski sudah memasuki bagian dalam gedung. Dua resepsionis memandang Farhan dengan keheranan. Pria itu tidak mempedulikan, tetap melanjutkan langkahnya dengan bergandengan tangan.


"Itu Pak Farhan, kan? Sama siapa dia? Istrinya?" bisik seorang resepsionis.


"Entahlah, aku nggak kenal. Mungkin iya," jawab resepsionis yang satunya.


"Penampilannya kok beda, ya? Dia pakai jas mahal kelihatannya. Ketampanannya jadi berlipat, deh."


"Hus, nggak usah terlalu berkhayal, deh! Kamu lihat sendiri dia menggandeng seorang wanita. Kalau benar istrinya, kamu mau jadi pelakor?"


"Yeee, aku kan cuma mengagumi ketampanannya."


Beberapa karyawan yang berpapasan dengan Farhan dan Via pun memasang wajah keheranan.


"Hubbiy, orang-orang pada ngliatin kita. Via jadi nggak enak, nih," rengek Via.


"Santai saja. Toh ada Mas di sampingmu, yang selalu siap menjagamu," kata Farhan santai.


Ia tetap menggandeng tangan Via hingga memasuki lift. Hanya mereka berdua yang ada di dalam lift.


"Sudah tenang? Sebentar lagi kita ke ruangan Om Arman. Cinta bisa menenangkan diri dulu di sana sebelum menemui para karyawan," ucap Farhan. Diremasnya dengan lembut telapak tangan yang berada dalam genggamannya.

__ADS_1


Ternyata Pak Arman sudah menunggu mereka. Begitu Farhan dan Via mengetuk pintu, Pak Arman menyambut dengan ramah.


"Selamat datang Mas Farhan, Mbak Via. Silakan duduk." Pak Arman menyilakan keduanya untuk duduk di sofa.


"Terima kasih, Om."


Farhan masih menggandeng tangan Via duduk.


"Mbak Via, nanti sekitar jam 9 karyawan akan dikumpulkan di aula. Mas Farhan dan Mbak Via saya perkenalkan kepada semua karyawan. Mohon nanti Mas Farhan dan Mbak Via memberikan sedikit sambutan."


"Baik, Om. Cinta, tenangkan diri dulu, ya! Dibuat santai saja. Jangan terlalu formal. Iya, kan Om?" ujar Farhan.


Via mengangguk. Wajahnya masih menampakkan ketegangan.


"Via nanti ngomong apa saja?" tanya Via lirih.


"Cukup kenalan aja. Kayak kenalan biasa gitu. Sudah pernah kenalan di depan forum, kan? Dulu Cinta kan aktif di OSIS dan Pramuka. Pasti sudah biasa ngomong di hadapan andik setiap latihan Pramuka," ucap Farhan lembut.


Via menarik nafas panjang. Ia membayangkan saat dia tampil penuh semangat sebagai pradani di hadapan banyak andik. Tanpa disadari, seulas senyum menghiasi bibirnya.


"Iya. Via ingat masa-masa SMA. Via sering bentak-bentak andik juga," kenang Via.


"Nggak usah ngingat yang macam-macam, termasuk cowok-cowokmu!" Farhan mendadak kesal.


"Hemm, apakah ada hati yang terbakar? Kok bau cemburu, ya?" ucap Via sambil mengerling suaminya. Ia sengaja menggoda Farhan.


Farhan mendengus kesal. Namun, ia segera dapat menguasai diri.


"Mana ada bau cemburu? Yang ada bau parfum Mas, nih. Cium coba!" Farhan mendekatkan keteknya ke wajah Via.


Sontak tangan Via memukul lengan Farhan. Tentu saja bukan pukulan keras.


"Jorok, ih!" pekik Via.


Farhan terkekeh. Ia senang melihat Via sudah terlihat rileks. Sementara Pak Arman hanya senyum-senyum melihat sepasang suami istri itu.


Canda mereka terhenti karena ada suara ketukan pintu. Ternyata OB yang mengantarkan minuman dan camilan yang dipesan Pak Arman.


"Silakan diminum dulu. Sambil menunggu saatnya para karyawan berkumpul, Mbak Via bisa mempersiapkan diri," kata Pak Arman.


"Terima kasih, Pak. Maaf, ya, Via minum. Hubbiy masih tetap puasa?" ucap Via.

__ADS_1


"Iya, Cinta. Mas insya Allah lanjut. Minum saja, Mas nggak apa-apa, kok," kata Farhan diiringi senyum.


"Oh, Mas Farhan puasa sunah, ya? Maaf, ya. Aduh, saya jadi nggak enak," kata Pak Arman sedikit gugup.


"Sudah, Om, santai saja. Saya nggak apa-apa, kok. Biar minuman saya nanti dihabiskan wanita cantik ini," sahut Farhan.


Mereka melanjutkan obrolan mereka. Pak Arman menjelaskan secara garis besar program PT Wijaya Kusuma kepada Via.


Saat jarum pendek menunjuk angka 9, mereka bertiga bersiap menuju aula. Baru saja membuka pintu, mereka bertemu seorang wanita berusia sekitar 30 tahun. Tampaknya dia akan masuk ruangan.


"Maaf, Pak Arman. Tadi saya bermaksud memberi tahu Bapak kalau para karyawan telah berkumpul di aula," ucap wanita itu sopan.


"Terima kasih, Nita. Kami akan ke aula," kata Pak Arman. "Mari Mas Farhan, Mbak Via."


Sesampai di aula, orang-orang sudah menunggu. Kasak-kusuk mulai terdengar. Mereka menduga-duga apa yang akan disampaikan pimpinan mereka itu.


Pak Arman berjalan menuju podium diikuti Farhan dan Via. Pria setengah baya itu bersiap berbicara di depan mikrofon yang telah disiapkan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara-saudara yang saya banggakan, hari ini ada hal penting yang akan saya sampaikan. Saudara tentu masih ingat, siapa pendiri perusahaan ini dan juga pemegang saham terbesar. Ya, beliau adalah almarhum Pak Wirawan. Beliau yang membesarkan PT Wijaya Kusuma meskipun pernah mengalami masa sulit hingga hampir bangkrut. Saudara-saudara yang sudah lama bekerja di sini tentu tahu pahit getirnya. Setelah Pak Wirawan meninggal, saya ditunjuk pemegang saham dalam RUPS luar biasa untuk memimpin perusahaan ini sementara waktu hingga ahli waris almarhum Pak Wirawan sudah dapat menjalankan haknya sebagai pemegang saham mayoritas." Pak Arman terdiam sejenak.


"Dalam rapat tersebut, posisi almarhum diwakili oleh Pak Andi selaku kuasa hukum beliau. Selain menunjuk saya sebagai pimpinan sementara, mereka berharap ahli waris almarhum yang nantinya mengganti kedudukan almarhum."


Pak Arman kembali berhenti. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Karyawan yang hadir diam, tidak lagi ada yang kasak-kusuk.


"Setahun yang lalu, seseorang membantu PT Wijaya Kusuma. Tidak hanya bantuan finansial, tetapi juga bantuan tenaga dan pemikiran. Orang-orang yang merongrong Wijaya Kusuma selama ini dapat disingkirkan berkat bantuan beliau. Orang itu adalah adik almarhum Pak Wirawan, Pak Candra Wijaya."


Orang-orang melongo. Sesaat terjadi kegaduhan kecil.


"Mohon perhatian lagi! Saya lanjutkan informasi ini. Pak Candra Wijaya ini adalah adik kandung Pak Wirawan, yang ternyata nama aslinya adalah Pak Beni Wijaya, putra dari Bapak Adi Wijaya. Saya yakin banyak yang mengenal nama besar Pak Adi Wijaya."


Begitu disebut nama Adi Wijaya, orang-orang kembali gaduh. Namun, kegaduhan itu hanya sesaat.


"Sesuai hasil RUPS luar biasa dan arahan Pak Adi Wijaya beserta Pak Candra Wijaya, keturunan Pak Wirawan atau Pak Beni Wijaya yang akan memegang tampuk pimpinan perusahaan. Pada hari ini, saya akan memperkenalkan pewaris almarhum Pak Wirawan."


Pak Arman berhenti lalu turun dari podium. Ia mengajak Farhan dan Via mendekat. Semua mata menatap ke arah mereka.


***


Bersambung


Maaf, ternyata tugas negara masih berlanjut sehingga author belum sempat membalas koment readers. Jangan khawatir, author berusaha menanggapi nanti malam. Untuk para authors yang memiliki karya untuk didukung balik, tetap akan kukunjungi meski terlambat, insya Allah 🙏

__ADS_1


Terima kasih atas dukungan seluruh readers.


__ADS_2