
Salsa terdiam. Ia masih terlihat ragu. Ia menatap mata Mira lagi, mencari kepastian di sana. Mira memberikan senyum meneduhkan.
“Mbak Mira, aku ngalami hal yang hampir sama dengan Mbak Mira. Aku menyukai seseorang, sudah cukup lama. Bahkan, aku nekad melanjutkan kuliah juga karena dia. Tadinya, aku punya harapan besar kepadanya. Tapi, aku baru tahu kalau dia ternyata mencintai gadis lain,” ungkap Salsa. Ia tertunduk.
“Kamu yakin kalau dia mencintai gadis lain? Dari mana kamu tahu?” tanya Mira.
“Yakin, Mbak. Dia sendiri yang terlihat antusias mencari tahu tentang gadis itu. Dia terlihat begitu semangat, begitu bahagia membahas tentang gadis itu,” jelas Salsa dengan suara parau.
Mira mengusap punggung Salsa untuk memberikan ketenangan.
“Boleh aku tahu siapa cowok yang kamu sukai?”
Salsa terdiam. Ia ragu-ragu memberi tahu Mira.
“Dia—dia Mas Azka,” jawab Salsa lirih.
Mira menutupi keterkejutannya. Ia diam sesaat.
“Lalu, siapa gadis yang Mas Azka sukai?” tanya Mira.
“Dia dari luar kota. Kalau nggak salah namanya Meli,” jawab Salsa lagi.
“Apa kamu mengetahuinya tadi?” Mira bertanya dengan hati-hati.
Salsa mengangguk. Mendadak dadanya kembali sesak. Matanya juga berkaca-kaca. Mira merasakan adanya perubahan sikap Salsa. Ia merengkuh bahu gadis itu. Isak pun terdengar. Mira membiarkan Salsa menumpahkan perasaannya.
Setelah beberapa saat, Mira mengambil minuman untuk Salsa. Disodorkannya gelas berisi air putih ke hadapan Salsa. Setelah meminum beberapa teguk, isakan mulai mereda.
Sa, ada kalanya cinta itu bersemi dan tumbuh subur. Tapi, kadang cinta justu layu sebelum berkembang. Aku sudah menceritakan tentang aku. Kamu bisa belajar dari kisahku. Bedanya, kamu mencintai laki-laki yang belum dimiliki siapa pun, sedangkan aku mencintai pria yang ternyata telah beristri.”
Salsa terperangah. Ia tidak mengira kalau Mira jatuh cinta kepada pria beristri.
“Jadi, Mbak Mira mencintai pria yang sudah berumah tangga?”
Mira tersenyum, mengerti arah pertanyaan Salsa.
“Sa, waktu aku menyadari kalau aku mencintainya, aku belum tahu kalau dia sudah menikah. Seandainya aku tahu, rasanya tak mungkin aku jatuh cinta kepadanya. O ya, kembali ke masalahmu. Kamu yakin cowok itu tidak menaruh perasaan apa pun kepadamu?”
Salsa mengangguk lesu. Hatinya kembali perih.
“Aku yakin, Mbak. Dari sikapnya jelas sekali dia mencintai gadis itu,” jawab Salsa lirih.
Mira mengambil nafas panjang. Dadanya ikut menyesak.
“Ya sudah, sekarang kamu harus belajar ikhlas. Kalau memang tidak berjodoh, dikejar pun tidak akan bertemu. Sebaliknya, kalau memang jodoh, dihindari pun akan bertemu juga,” ucap Mira perlahan.
Salsa hanya diam. Hatinya masih bergejolak, belum bisa menerima kenyataan kalau cintanya bertepuk sebelah tangan.
***
Edi menginjak gas tak terlalu dalam. Mobil merah metalik itu melaju dengan kecepatan stabil.
__ADS_1
Baru lima menit meninggalkan ruko, Mira meminta Edi untuk berhentidi warung makan, atau cafe.
“Mas, kita makan di luar saja, ya. Aku rasanya lagi malas masak,” pinta Mira.
“Nggak masalah. Kamu mau makan di mana?” tanya Edi.
“Terserah Mas Edi saja.”
“Kalau begitu, yang kita jumpai saja, ya. Kita tetap mengikuti rute ke rumah.”
Mira mengangguk setuju. Mood wanita itu sedang kurang baik. Ia sebenarnya tidak lapar. Tapi, tentu Edi akan kelaparan kalau tidak makan sore itu.
Di depan sebuah rumah makan yang tak terlalu mewah tetapi bersih, Edi memarkirkan mobilnya. Mereka memasuki tempat yang cukup sepi. Hanya adatiga pengunjung di dalam. Mungkin karena bukan jam makan.
“Mau pesan apa?” tanya Edi.
“Samakan saja dengan Mas Edi. Minumnya teh manis,” jawab Mira.
Sambil menunggu pesanan datang, Mira mengecek ponselnya sebentar. Ia tak menjumpai ada pesan baru lalu menyimpan kembali benda pipih tersebut.
“Mas Edi tadi diajak Mas Azka ke mana?” tanya Mira.
“Ke Kafe. Cuma minum sama ngemil. Kan belum terlalu siang, belum lapar.” Edi menjawab apa adanya.
“Tumben. Atau ada hal penting?” tanya Mira seperti menyelidik.
“Enggak. Kami cuma ngobrol, kok.”
Mira menatap suaminya. Ia mencoba mencari hal tersembunyi di balik ucapan pria itu.
“Eh, enggak. Ngomongin Mas Azka jadi ingat Salsa,” elak Mira.
“Apa hubungannya sama Salsa?” Edi mengerutkan dahinya.
Saat Mira akan menjawab, seorang pelayan menyajikan pesanan mereka.
“Silakan. Selamat menikmati. Semoga Tuan dan Nyonya berkenan. Ada yang bisa saya bantu?” ucap pelayan itu sopan.
“Tidak, terima kasih,” sahut Edi datar.
“Kalau begitu saya permisi.”
Setelah pelayan itu pergi, Mira akan kembali menjawab. Namun, ucapan Edi menghentikannya.
“Makan dulu! Kalau sudah dingin, nggak enak.”
Mira menelan kembali kalimatnya. Ia segera menyantap makanan di depannya. Tidak ada kenikmatan yang ia rasakan. Pikirannya masih dipenuhi tentang Salsa.
“Apa yang terjadi dengan Salsa?” tanya Edi setelah meneguk minumannya.
“Emmm, tampaknya Salsa menaruh hati sama Mas Azka,” jawab Mira dengan suara tertahan. Ia sedikit menutupi fakta yang sebenarnya.
“Dari mana bisa menyimpulkan begitu?” tanya Edi lagi.
__ADS_1
“Dari sikapnya. Ia murung saat ada yang membicarakan gadis lain dikaitkan dengan Mas Azka.”
Edi sedikit tersentak. Ia teringat obrolan dengan Azka.
“Kok diam? Ada apa, Mas?” tanya Mira.
Edi menghela nafas panjang. Ia tampak berpikir berat.
“Mas Azka memang menyukai gadis lain. Jadi, kalau memang Salsa menyukai Mas Azka, perasaannya mungkin tidak akan berbalas.”
“Maksud Mas Edi, Salsa sudah tidak punya harapan mendapat cinta Mas Azka? Begitu?” Mira meminta penegasan.
“Itu kalau memang benar Salsa mencintai Mas Azka. Tapi, Allah kan Maha membolak-balikkan hati. Aku tidak ingin mendahului kehendak-Nya.” Edi memberikan jawaban aman.
Mira termenung sesaat. Ia kasihan kepada Salsa yang sudah dianggap adik.
“Sa, kenapa nasib kita sama? Kita mencintai kakak beradik dan cinta kita harus layu sebelum berkembang,” keluh Mira dalam hati.
“Kenapa? Kok diam?” Edi mengagetkan Mira dari lamunannya.
“”Ah, Mira lagi mikir Salsa. Kasihan kalau cintanya bertepuk sebelah tangan,” jawab Mira lirih.
“Jodoh, hidup dan mati seseorang kan ada di tangan Allah.Kita nggak tahu jodoh Salsa juga Mas Azka. Merka masih sama-sama single. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Apalagi sampai ikut campur. Kecuali kalau mereka meminta bantuan kita,” nasihat Edi lembut.
Mira membalas ucapan Edi dengan senyuman. Hatinya masih tetap gundah karena Azka ternyata memang menyukai gadis lain.
“Seandainya kita bisa berlaku seperti Mas Farhan dan Dek Via waktu itu,” gumam Mira.
“Maksudmu?” Edi tak paham.
“Bukankah mereka yang menjadi perantara hubungan kita? Mas Edi nggak berani ngomong langsung ke Mira, kan?” ucap Mira.
Edi tertawa lirih. Ia malu sekaligus bahagia mengenang masa itu.
“Bukan hanya itu, Sayang. Mereka juga membantu lamaran sampai proses pernikahan kita,” sahut Edi.
“Bahkan isi rumah kita,” lanjut Mira.
“Keluarga Mbak Via memang sangat baik. Aku sangat bersyukur masuk dalam keluarga Mbak Via. Tadinya, aku merasa dicampakkan oleh Tuan Candra karena disuruh membantu Wijaya Kusuma lalu harus totalitas membantu keluarga Mbak Via. Ternyata, Mbak Via dan Mas Farhan nggak ada bedanya dengan Tuan Candra dan Tuan Adi,” ucap Edi dengan mata berkaca-kaca.
“Iya, Mas. Mira juga beruntung. Sudah dibantu dapat penghasilan, dibantu jodoh sampai tempat tinggal.” Mira tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya.
“Kita pulang sekarang, yuk!” ajak Edi.
Setelah membayar, Edi menggandeng tangan Mira ke mobil. Mereka menuju istana kecil hadiah keluarga Via dengan membawa perasaan masing-masing.
Edi diliputi kebahagiaan karena mengenang begitu banyak keberuntungan yang ia peroleh. Sementara Mira, masih belum lepas dari pemikiran tentang Salsa. Ia terus memikirkan nasib gadis itu, mencari cara agar Salsa bisa move on.
***
__ADS_1
Bersambung
Apa Salsa bisa cepat move on? Atau dia akan berusaha membuat Azka berpaling kepadanya? Ikuti terus karya receh ini, ya! Jangan lupa like dan komen Kakak yang sangat berarti buatku. Terima kasih