
Sesampai di bandara, mereka dijemput body guard Pak Candra. Edi sudah menghubungi untuk memastikan keselamatan keluarga Via. Iring-iringan 3 mobil dengan beberapa pesepeda motor meninggalkan bandara menuju rumah sakit.
Ardi menyambut mereka hangat. Ia membawa Via dan keluarga angkatnya ke ruangan yang disewa khusus.
“Keponakanku lebih baik ditinggal di ruangan, jangan ikut dibawa menengok papa mama,” kata Ardi.
“Betul kata Nak Ardi. Kalian pergilah dulu, Bunda jaga Zayn,” sahut Bu Aisyah.
“Baik, Bun. Bagaimana kondisi om dan tante?” tanya Via kepada Ardi.
“Tadi baru saja dioperasi. Tangan kiri mama patah sedangkan papa mengalami dislokasi bahu kanan.” Ardi menerangkan.
Setelah sampai di ruangan khusus, Via membaringkan Zayn ke ranjang. Ia mengusap-usap kepala bayinya sebentar agar tidak terusik tidurnya.
Setelah memastikan Zayn masih terlelap, Via berpamitan kepada bundanya. Ia mengikuti Ardi ke bangsal perawatan Pak Candra dan istri.
“Bagaimana ceritanya om bisa kecelakaan, Ar?” tanya Azka.
“Saat di perempatan, ada truk remnya blong melaju tak terkendali hingga menghantam mobil papa dari kiri.” Ardi memberi penjelasan.
“Kecelakaan murni atau ada unsur rekayasa?” selidik Farhan.
Ardi menggeleng. Ia memang tidak tahu.
“Masih dalam penyelidikan, Kak,” jawabnya.
“Bukankah kamu juga akan ikut ke Jember? Apa kamu tidak satu mobil dengan om dan tante?” tanya Via.
Lagi-lagi Ardi menggeleng.
“Aku satu mobil dengan Dini di belakang mobil papa. Jadi, kami selamat. Dini masih trauma melihat kecelakaan yang terjadi di depan mata.”
Mereka sampai di kamar perawatan. Via masuk ke kamar om-nya terlebih dahulu. Dilihatnya sosok pria dengan mata terpejam tergolek tak berdaya. Beberapa slang pembantu penyambung kehidupan terhubung ke tubuhnya.
Tak terasa air mata Via membanjiri pipi. Ia seperti mengalami de javu. Papanya dulu terbaring tak berdaya. Bedanya, papanya sudah tak bernyawa saat ia melihat. Kecelakaan yang dialami Pak Wirawan waktu itu telah membuat Via menjadi yatim piatu. Ia takut peristiwa itu terulang.
Sebuah usapan lembut di lengan membuat Via tersadar. Farhan ternyata yang melingkarkan tangannya. Ia paham perasaan Via.
“Sabar, Sayang. Insya Allah Om Candra segera pulih,” hibur Farhan.
Mereka bergantian menjenguk. Setelah itu, mereka berbincang di teras kamar.
“Maaf, Kak Azka. Di hari bahagia Kak Azka kami tidak jadi datang,” ucap Ardi tertunduk.
“Haish, ngomong apa kau ini?! Memangnya kalian sengaja? Justru kami prihatin dengan musibah ini,” kata Azka.
“O iya, selamat, ya! Semoga jadi keluarga samara.” Ardi mengulurkan tangannya.
Dengan cepat Azka meraih tangan Ardi. Hanya sesaat mereka salaman. Mereka melanjutkan dengan pelukan.
“Kakek sudah diberi tahu?” tanya Via.
Ardi melepaskan pelukan, lalu menjawab,”Sudah. Alhamdulillah, jantungnya baik-baik saja menerima kabar ini.”
“Apa ada korban lain selain om dan tante? Bagaimana dengan sopir? Farhan ganti yang bertanya.
Ardi menghela nafas panjang. Ia menenangkan diri terlebih dahulu.
__ADS_1
“Sopir kami tewas di tempat. Body guard pun ada yang kritis.”
“Innalilahi wa inna ilaihi rajiuun,” ucap Via, Farhan, dan Azka bersama.
“Polisi masih menyelidiki kasus ini. Kami pun ikut menyelidiki dan mengawal kinerja kepolisian.”
Mereka mengobrol beberapa saat. Kemudian Via berpamitan ke ruangan ditemani Farhan. Azka memutuskan menunggui Pak Candra dan istrinya.
*
Pagi itu mereka sarapan di rumah sakit. Meski menu yang dipesan hasil olahan koki restoran, mereka tidak merasakan kelezatan masakan. Suasana di rumah sakit yang membaut selera makan mereka turun. Ditambah lagi kondisi Pak Candra dan istrinya.
Usai menghabiskan sarapan, Azka berpamitan. Rupanya, ia memilih ke taman. Ia mencari lokasi yang sepi.
Setelah mengusap layar, ia mencari kontak untuk dihubungi.
“Assalamualaikum,” terdengar suara lembut dari seberang. Sementara di layar gawai Azka menampilkan wajah cantik Meli.
“Waalaikumsalam, Sayang. Semalam bisa tidur?Ah, pasti kau merindukan aku” kata Azka menggoda.
“Ish, pede amat! Aku langsung tidur setelah membalas pesan Mas Azka, kok!” sahut Meli.
“Ah, teganya. Aku di sini nggak bisa-bisa tidur. Aku membayangkan malam Minggu ini tidur bersamamu, bangun tidur langsung melihat wajah cantikmu.”
“Ih, Mas Azka gombal!” pekik Meli. Wajahnya sudah seperti tomat matang.
Azka terkekeh. Mendadak di dekatkannya layar gawai ke wajah hingga bibirnya menempel layar.
“Mas Azka apa-apaan, sih?” pekik Meli lagi.
“Kan aku pengin nyium kamu,” jawab Azka tanpa dosa.
Mendadak wajah Azka murung. Meli menatap heran.
“Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bisa pulang dalam waktu dekat.Baru saja aku diberi tahu kalau besok pagi aku harus menghadap dosenku. Beliau menyuruhku segera menyelesaikan thesis karena bulan depan beliau ke Singapura untuk jangka waktu agak lama,” tutur Azka.
Meli terdiam. Ia pun sedih dengan perpisahan.
“Semoga thesis Mas Azka lancar, Mas Azka cepet wisuda,” ucap Meli tulus.
“Aamiin. Makasih atas doamu, istriku.”
“Setelah Mas Azka selesai, Mas Azka kembali ke Jogja?”
Azka terdiam. Raut mukanya seperti tengah berpikir.
“Selesai apa, Sayang?”
“Selesai kuliah, sudah wisuda,” jawab Meli.
“Iya, begitulah. Kenapa?”
“Meli bagaimana?” tanya Meli dengan suara manja.
Azka terkekeh mendengarnya. Ia sebenarnya gemas akan ucapan gadis yang baru saja sah menjadi istrinya.
“Terserah kamu. Aku nggak ingin mengekang. Kamu boleh selesaikan kuliahmu dulu di Jember. Pindah kuliah juga butuh adaptasi. Kalau kamu tetap di Jember, aku akan mengunjungimu di akhir pekan. Kan jadi kayak pacaran,” jawab Azka diikuti tawanya.
__ADS_1
Meli tampak tersipu. Ia memang belum berpengalaman pacaran.
“Kita kan belum lama kenal. Nah, anggaplah kita pacaran model anak sekarang. Kita bisa kencan, jalan-jalan, nonton, begitu. Habis jalan-jalan kita nggak usah pulang,” kata Azka sambil membayangkan berduaan dengan Meli.
“Tidak pulang?” Meli tampak bingung.
“Iya, ke hotel saja.” Azka memasang wajah tengilnya.
“Ngapain?” tanya Meli polos.
“Sewa kamar, tiduran berdua, olah raga bersama,” jawab Azka cepat.
Meli tampak malu setelah menyadari arah pembicaraan Azka.
“Ih, mesum!” komentar Meli.
Azka terkekeh melihat reaksi sang istri.
“Mesum sama istri sendiri kan nggak apa-apa. Lagian aku kan cuma bilang apa yang bisa kita lakukan di hotel. Kok mesum? Hayo, kamu mikirnya ke mana?” ledek Azka.
“Tau ah.” Meli cemberut. Mukanya masih kemerahan.
Azka benar-benar harus menahan perasaan. Ingin sekali ia men***m bibir yang menggemaskan itu.
“Oh, iya. Bagaimana kondisi Om Candra? Apa parah lukanya?” Meli mengalihkan pembicaraan.
“Semalam om dan tante menjalani operasi ortopedi. Semoga mereka segera pulih.”
“Aamiin.”
Azka terkejut saat merasakan bahunya ditepuk. Benda pipih di tangan nyaris jatuh.
“Lagi vicall sama istri, ya? Pantesan lama banget nggak kembali.”
“Mas Farhan ngagetin aja. HP Azka hampir jatuh, nih,” sungut Azka.
“Mas, Mas Azka! Ada apa? Kok layarnya jadi gelap?” terdengar suara dari gawai Azka.
Azka cepat-cepat mengangkat tangannya, membuka telapak tangan yang menutupi layar.
“Assalamualaikum Adik ipar! Kangen suamimu yang tengil, ya?” sapa Farhan.
Meli menjawab salam Farhan. Ia tampak malu-malu bicara dengan kakak iparnya.
“Mas Farhan ganggu aja. Sudah, sana! Kan Mas Farhan punya istri. Sana mesra-mesraannya sama Mbak Via!” usir Azka.
“Waduh, ngusir? Ya sudah, lanjutin ngobrolnya! Jangan lama-lama! Kamu ditunggu.”
Farhan meninggalkan adiknya. Azka kembali melanjutkan obrolan dengan Meli. Hanya sebentar. Ia segera menutup pembicaraan lalu menyusul Farhan.
*
Bersambung
Bagaimana sikap Meli jauh dari suami? Baca novel Kak Indri, Cinta Strata 1 ya! Jangan lupa selalu dukung kami. Terima kasih.
Barakallahu fiik
__ADS_1