SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mimpi


__ADS_3

Azka mengusap mukanya. Seulas senyum tersungging di bibir yang tak pernah tersentuh rokok. Doa bangun tidur telah ia bisikkan.


Mimpi yang indah baginya membuat senyumnya tidak memudar. Bahkan saat ia sudah berda di musala pun senyum itu masih terlukis.


Rupanya, hal itu tak luput dari perhatian kedua orang tuanya. Pak Haris heran dengan sikap putra bungsunya.


“Ada apa sebenarnya? Aku perhatikan dari kemarin ini anak seneng banget. Sekarang malah senyum-senyum sendiri begitu. Coba kutanya Ayang saja nanti.”


Usai qiyamul lail, Pak Haris dan Bu Aisyah kembali ke dalam. Mereka bersiap makan sahur. Sementara Azka masih tenggelam dalam bacaan ayat-ayat suci Al Quran.


“Ay, ada apa dengan anak bungsu kita? Sepertinya dia bahagia banget. Ni tadi di musala dia senyum-senyum sendiri. Ayah jadi khawatir.”


Bu Aisyah yang tengah menyiapkan bumbu nasi goreng tertawa lirih. Tak lama kemudian, tawanya digantikan dengan senyum yang merekah di bibir.


“Waduh, bundanya malah tertular Azka nih,” gumam Pak Haris.


“Apaan, sih? Bunda lagi ingat kelakuan anak kita. Bunda juga bahagia jadinya,” ucap Bu Aisyah.


Pak Haris menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia belum mengerti arah pembicaraan istrinya.


“Bisa diperjelas?” pinta Pak Haris.


“Begini, lo. Kemungkinan besar, kita akan punya calon menantu lagi.”


“Maksud Ayang, Azka  punya calon? Dia menyukai seorang gadis? Begitu?”


Bu Aisyah mengangguk. Senyumnya masih menghiasi bibirnya.


“Iya. Dia tadinya masih ragu. Mungkin sekarang dia sudah mantap hingga senyum-senym terus.”


“Bunda tahu siapa gadis yang Azka suka?” tanya Pak Haris lagi.


“Tentu saja Bunda tahu,” jawab Bu Aisyah mantap.


“Siapa sih? Ratna?” cecar Pak Haris.


Bu Aisyah tertawa. Ternyata suaminya begitu ingin tahu.


“Ayah kepo, deh. Gadis itu bernama Meli. Dia dari Jember. Ayah ingat gadis yang nginep di sini bareng Ratna lalu Via nyusul juga? Habis pernikahan Edi dan Mira waktu itu,” tutur Bu Aisyah.


Pak Haris mengangguk-angguk. Sesaat kemudian, pria itu menautkan alisnya.


“Memngnya sudah kenal betul gadis itu? Bukankah Azka baru saja kenal?” tanya Pak Haris.


“Iya. Waktu itu Bunda sudah banyak menanyainya, kok. Selain itu, Azka tentu sudah menanyai Via atau Ratna tentang Meli.”

__ADS_1


Pak Haris tampak belum puas atas jawaban sang istri. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya yang tampak ragu.


“Auw!” pekik Bu Aisyah lirih.


Pak Haris terkejut. Ia segera berlari mendekati Bu Aisyah yang tengah menggoreng nasi.


“Kenapa? Kena penggorengan, ya?”


Bu Aisyah mengangguk. Pak Haris segera  mematikan kompor lalu membimbing istrinya ke wastafel. Telapak tangan kiri Bu Aisyah disirami air yang mengalir dari kran.  Pak Haris mengambil salep di kotak P3K.


Setelah  didinginkan menggunakan air mengalir, Pak Haris mengeringkan telapak tangan istrinya yang tampak memerah dengan hati-hati. Lalu, ia mengoleskan salep di area tersebut.


“Mau minum ibuprofen?” Pak Haris menawari.


“Kayaknya nggak perlu. Cuma sakit ringan begini. Paling sebentar lagi juga sembuh. Makasih, Sayang. Sekarang, biar Bunda lanjutin masak,” ucap Bu Aisyah sembari menatap suaminya.


“Sama-sama. Meski ringan, kalau  di dekat sumber panas tentu akan nyeri. Sudah, sekarang duduklah. Biar Ayah saja yang lanjutin,” cegah Pak Haris. Ia menekan bahu Bu Aisyah yang sudah siap berdiri.


“Waduh, Azka langsung dapat suguhan adegan mesra. Ayah unda bikin ngiri jones kalau begini,” celetuk Azka yang baru masuk dapur.


“Nganan saja, Ka! Sini, bantuin Ayah. Tinggal dikit, kok. Tangan bundamu luka bakar kena penggorengan,” jelas Pak Haris.


“Nanti kalau Ayah mesra-mesraan lagi sama Bunda, Azka gimana?” Azka memasang muka  memelas.


“Nggak usah sok polos! Sini! Ayah juga tahu kamu lagi naksir cewek, kan? Begitu saja pura-pura belum dewasa. Sudah, kita eksekusi nasi goreng ini agar segera siap santap!”


Mereka menikmati makan sahur dengan menu sederhana, tetapi penuh kenikmatan. Kehangatan keluarga yang membuat kenikmatan tercipta. Keluarga dokterHaris memang terbiasa puasa Senin-Kamis.


“Ka, Ayah dengar dari Bunda kalau kamu menyukai gadis bernama Meli. Benar?” tanya Pak Haris usai menghabiskan nasi gorengnya.


Azka tersentak. Ia tidak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu. Ditatapnya sang bunda meminta bantuan untuk menjawab. Namun, kali ini Bu Aisyah tidak membantunya.


Azka mengambil nafas panjang terlebih dahulu. Ia seperti sedang mengumpulkan keberanian.


“Sebenarnya, Azka belum sepenuhnya mantap, Yah. Azka sedang  berusaha mendapat kemantapan antara memilih Meli atau tidak,” jawab Azka.


Pak Haris menoleh ke Bu Aisyah. Yang dipandang pun balas menatap lembut. Anggukan dari Bu Aisyah membuat Pak Haris terlihat lea.


“Jadi, kamu sudah salat itikharah? Tapi, kamu belum dapat jawaban? Begitu?” tanya Pak Haris.


Azka mengangguk. Ia tampak menahan senyum.


“Terus, kenapa tadi kamu senyum-senyum terus?” cecar Pak Haris.


Azka kaget. Ia mengingat-ingat apa yang ia lakukan sejak bangun tidur. Tak lama berselang,  pipi Azka tampak bersemu merah.

__ADS_1


“Ah, itu karena—karena Azka mimpi,” jawab Azka tertunduk.


“Mimpi apa? Kenapa membuat kamu terlihat begitu bahagia? Mimpi ketemu Meli?” Pak Haris masih mencecar Azka dengan pertanyaan.


“I—iya, Yah. Tapi—tapi mimpinya nggak jorok, kok. Azka cuma  cuma mimpi ketemu Meli di taman lalu kami main kejar-kejaran di taman. Cuma begitu, kok. Beneran, Yah,” tutur Azka gugup.


Pak Haris dan Bu Aisyah tertawa. Mereka melihat wajah Azka yang tampak lucu menjelaskan tentang mimpi.


“Siapa yang menuduhmu mimpi jorok, Ka? Kalau sampai mimpi basah, pasti kamu mandi junub. Tadi Ayah nggak nyium wangi sampo,” kata Pak Haris santai.


Azka tampak lega. Tadinya, ia mengira akan dicecar pertanyaan tentang mimpinya.


“Kamu masih belum yakin setelah mimpi bertemu Meli?” tanya Bu Aisyah.


“Belum, Bun. Azka masih ingin tahu karakter Meli, juga kemauan Meli,” jawab Azka. Ia tidak lagi tampak gugup.


Pak Haris menatap Azka yang sering menunduk. Senyum tipis mengembang di bibirnya.


“Lalu bagaimana caramu mengetahuikarakter dan kemauan Meli? Kemauan tentang apa?” Kembali Pak Haris mencecar Azka.


“Dia mau datang berlibur ke Jogja. Bunda bisa, kan menanyainya? Kalau menurut Bunda oke, Azka baru mau melangkah,” jawab Azka.


Pak Haris saling tatap dengan istrinya. Senyum kembali  terlukis di bibir mereka.


“Ka, kamu harus ingat kalau kamu nggak boleh pacaran. Ayah sudah berpesan berulang kali, jangan pacaran karena itu sama saja mendekati zina. Kalau kamu mantap memutuskan Meli jadi pendamping hidupmu, lamar dan nikahi dia!” tegas Pak Haris.


“Kalau dia belum mau nikah, gimana? Apa Azka harus meninggalkannya? Dia mungkin masih ingin melanjutkan kuliahnya,” tutur Azka lirih.


Bu Aisyah menepuk  paha Pak Haris, memberi kode kepada suaminya.


“Kamu sendiri juga belum selesai kuliah. Bunda setuju kalau kalian melanjutkan kuliah sampai lulus. Tidak ada larangan bagi mahasiswa untuk menikah. Kalian kan bisa melanjutkan studi setelah menikah. Itu berarti, kalian harus siap LDR.” Bu Aisyah menjelaskan dengan suara lembutnya.


Azka terdiam. Ia sepertinya sedang berpikir, mempertimbangkan ucapan bundanya.


“Azka sih mau. Tapi, Meli bagaimana? Apa dia mau?” tanya Azka ragu.


Bu Aisyah dan Pak Haris kembali tertawa. Baru kali ini mereka membahas soal perempuan dengan Azka.


“Memangnya kamu sudah mantap? Mantapkan dulu! Soal itu, biar Bunda yang menanyai. O ya, dia datang bareng temannya? Kalau sendiri, suruh Ratna atau Via atau mereka berdua nginep di sini! Jangan sampai dia menginap sendiri di sini! Nggak enak sama tetangga,” kata Bu Aisyah.


Azka mengangguk Ada sedikit kelegaan menyeruak di hatinya. Setidaknya, ayah bundanya memberikan dukungan.


*


Bersambung

__ADS_1


Tetap dukung karya receh ini dengan klik like dan tinggalkan komentar! Bagi yang belum tahu siapa Meli, baca novel Cinta Strata 1 karya Kak Indri Hapsari, ya! Cusss....



__ADS_2