
Edi terlihat panik mendengar laporan salah satu anggota Tim 3. Ia melihat sekilas gadis yang terbaring tak berdaya.
"Bawa ke mobil. Satu orang mengantar anak kecil itu ke rumah bos muda dan satu lagi membawa gadis ini ke rumah sakit!" Kiki dengan suara bass-nya memberikan instruksi.
Edi menghela nafas panjang. Ia tersenyum tipis ke Kiki. Meski sering bertingkah bak waria, lelaki itu jarang kehilangan ketenangan.
Edi mengikuti mobil yang ke rumah sakit. Sebelumnya, ia sudah mengabari Farhan lagi. Edi kembali melaporkan perkembangan terakhir.
Kiki tetap berada di markas. Ia mengawasi anak buah Rahardian yang sudah dilumpuhkan. Orang-orang yang tertembak sedang mendapat perawatan. Meski mereka berada di pihak berseberangan, Tim 3 tetap memberikan pertolongan. Sesuai pesan Via dan Farhan, jangan sampai ada korban jiwa dalam operasi pembebasan sandera.
Sementara itu, di kediaman Via, pasangan suami istri muda itu masih terjaga. Mereka baru beranjak dari musala setelah pukul 23.00.
Baru saja masuk kamar, gawai Farhan berbunyi. Panggilan dari Edi segera Farhan jawab.
Mereka berdua bernafas lega setelah mereka mendapat laporan dari Edi.
"Alhamdulillah, semua berjalan cukup lancar. Untungnya mereka tidak sempat menghubungi Rahardian," ucap Farhan.
"Semua selamat, Hubbiy?" tanya Via memastikan.
"Iya. Tapi ada yang terluka. Seorang anggota Tim 1, satu sandera, dan 6 anak buah Rahardian," jawab Farhan.
"Satu sandera? Berarti anak dari ART Eyang Probo?" Via tampak gugup.
"Bukan. Ternyata di rumah itu ada dua sandera. Yang terluka seorang gadis. Kalau anak ART itu...eh siapa namanya?" Farhan mendadak lupa.
"Bu Hani. Anak Bu Hani namanya Tanto," jawab Via.
"Ya, ya. Tanto tidak terluka, tetapi dia trauma," ucap Farhan.
Via mengangguk-angguk. Dia berpamitan keluar untuk mencari Bu Hani.
Baru saja Via keluar, Farhan kembali mendapat panggilan dari Edi. Ia menjadi khawatir mendengar penjelasan Edi bahwa gadis yang baru dibebaskan dalam kondisi kritis.
Farhan menghubungi ayahnya. Saat itu, dokter Haris baru saja mengganti cairan infus Eyang Probo.
"Assalamualaikum. Ada apa, Han?" tanya Pak Haris.
"Waalaikumsalam. Sandera telah bebas, Ayah. Tapi ada satu yang terluka parah. Dia kehilangan banyak darah. Sekarang dalam perjalanan ke situ," jawab Farhan.
"Baik. Ayah akan segera menghubungi IGD untuk mempersiapkan penanganan," sahut dokter Haris.
"Terima kasih, Ayah. Farhan tutup dulu, ya. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Farhan memasukkan gawai ke saku piyamanya. Sebelum menyusul Via, Farhan menyempatkan untuk mengecek Zayn terlebih dahulu. Begitu yakin Zayn masih terlelap, Farhan segera ke kamar tamu.
Di depan kamar, Farhan melihat ART eyangnya tengah memeluk Via erat. Air matanya tampak menggenangi pipinya.
"Terima kasih, Nyonya. Saya berhutang nyawa kepada keluarga Nyonya. Maafkan saya. Saya telah berbuat banyak salah kepada keluarga Nyonya, tapi keluarga Nyonya malah membalas dengan begitu banyak kebaikan," ucap Bu Hani di sela isaknya.
Via mengusap punggung wanita itu. Ia berusaha menenangkan.
"Bu, semua sudah digariskan Yang Mahakuasa. Kita hanya menjalani. Mari kita belajar mengambil hikmah dari peristiwa yang telah lewat," kata Via bijak.
Via menyadari kehadiran Farhan. Ia segera melepaskan pelukan Bu Hani. Kemudian, Via membimbing Bu Hani keluar kamar.
"Eh, Tuan. Saya sangat berterima kasih kepada Tuan. Saya tidak hanya berhutang Budi. Saya berhutang nyawa. Saya bersedia mengabdikan diri kepada Tuan." Perempuan itu bersimpuh di depan Farhan.
Via segera menarik Bu Hani agar kembali berdiri. Meski dengan susah payah, akhirnya Bu Hani mau berdiri.
"Kita harus bersyukur karena putra Ibu selamat. Mari kita duduk menunggu pita Ibu diantar ke sini," kata Farhan ramah.
"Anak saya di--diantar ke--sini?" tanya Bu Hani tergagap.
"Iya, dia dalam perjalanan. Mohon Ibu bersabar. O ya, mungkin dia trauma karena menyaksikan kekerasan tadi. Jadi, Ibu harus berhati-hati dalam menyikapinya," tambah Farhan.
"Lalu, bagaimana dengan tawaran kami? Apa Ibu bersedia tinggal di Medan, bekerja di perkebunan? Kalau masih di sini, ada kemungkinan ketahuan anak buah Rahardian. Itu bisa membahayakan keselamatan Ibu dan putra Ibu," ucap Via perlahan.
"Saya ikut saran Nyonya. Yang penting saya bisa bersama anak saya dalam kondisi aman. Kami sudah sebatang kara, Nyonya," sahut Bu Hani sambil menunduk.
Via tertunduk sedih. Ia teringat saat dirinya ditinggal kedua orang tuanya. Waktu itu dia merasa sebatang kara karena tak punya siapa pun untuk bersandar.
Farhan menyadari perubahan sikap Via. Ia segera melingkarkan tangannya ke bahu sang istri dan mengusap lembut untuk memberi ketenangan.
"Tiin...tiin!" terdengar klakson mobil.
Mereka bertiga segera bangun menuju teras depan. Sebuah mobil minibus hitam memasuki halaman rumah.
Tak lama kemudian, pintu dibuka. Seorang lelaki bertubuh tinggi kekar turun dari mobil dengan menggendong seorang anak kecil.
"Tanto!" teriak Bu Hani.
"Ibu!" Anak kecil dalam gendongan lelaki itu meronta minta diturunkan.
Begitu diturunkan, anak laki-laki itu berlari menghambur ke pelukan sang ibu. Bu Hani pun segera memeluk erat anak semata wayangnya.
__ADS_1
Sudah berbulan-bulan mereka hanya bisa melihat tanpa bisa saling memeluk. Bu Hani hanya diberi kesempatan melihat beberapa menit, memastikan anaknya masih selamat.
Mata Via pun berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak menyaksikan ibu dan anak yang sedang menumpahkan rindu.
"Mari kita masuk! Tidak baik udara malam bagi Tanto," ajak Farhan.
Mereka semua mengikuti ajakan Farhan. Setelah duduk beberapa menit, mereka dipersilakan beristirahat di kamar.
Via dan Farhan pun pergi ke kamar mereka. Kelelahan, kekhawatiran, ketegangan telah mereda. Memang masih ada masalah tersisa. Namun, setidaknya satu masalah besar telah terlewati.
"Tidur dulu, yuk! Meski paling dua jam, lumayanlah. Ayo, kita segera tidur!" ajak Farhan.
"Bagaimana dengan adik kita, ya?" gumam Via.
"Maksud Cinta?" Farhan mengerutkan kening.
"Hemmm, Dek Azka kan ke pernikahan Anjani. Aku yakin dia menyiapkan kejutan untuk Meli."
"Menikmati ibadah sunah yang nikmat itu? Bukannya mereka sudah melakukannya waktu Meli ke sini?" sahut Farhan.
"Haish, Hubbiy kok mikirnya ke situ. Tapi, mereka belum melakukannya waktu Meli ke sini," ucap Via malu-malu.
"Dari mana Cinta tahu?" Farhan menaikkan alisnya.
"Waktu itu Meli sedang kedatangan tamu bulanan," jawab Via sambil mengulum senyum.
"Oh, begitu. Yah, semoga pertemuan kali ini sekalian bulan madu. Jadi, gak kalah seru dengan Anjani dan suaminya. Eh, siapa nama calon suami Anjani?"
"Mario. Kenapa?"
"Nggak. Bagaimana kalau kita ke sana? Kita juga bisa berbulan madu lagi," usul Farhan dengan senyum smirk-nya.
"Ah, maunya. Via mau tidur, ah," ucap Via sambil menarik selimutnya.
Farhan terkekeh melihat reaksi sang istri. Ia bermaksud menyusul Via. Namun, notifikasi panggilan mengurungkan niatnya.
"Mas Edi? Ada apa, ya?" gumam Farhan.
***
Bersambung
Hai, hari ini up 2 episode. Tolong like dan komen di tiap episode biar akunya semangat, ya! O iya, Azka sudah di Jember lo! Keseruan Azka-Meli bisa dibaca di CS1 karya Kak Indri Hapsari.
__ADS_1