
Pagi itu Via dan Farhan sudah rapi. Mereka akan ke Jakarta hari itu untuk bertemu calon investor.
"Nanti diantar Azka, kan?" tanya Bu Aisyah.
"Iya, Bun," jawab Farhan.
"Sekarang kita sarapan dulu. Jadwal penerbangan jam berapa?" giliran Pak Haris yang bertanya.
"Kata Pak Arman jam 8. Semoga pesawatnya tidak delay."
"Ketemu calon investor jam berapa?" tanya Bu Aisyah lagi.
"Rencana mulai jam 1 siang. Nanti tiba di Jakarta, kami langsung ke hotel. Sambil istirahat, kami perlu mendiskusikan beberapa hal yang nantinya akan disampaikan kepada calon investor itu. Farhan kan baru beberapa hari mempelajari dokumen PT Wijaya Kusuma."
"Semoga sukses, ya. Jangan lupa untuk selalu berdoa."
"Insya Allah, Bun. Mohon doa restu dari Ayah dan Bunda."
"Kami tentu selalu berdoa untuk kalian," kata Pak Haris.
Via hanya mengangguk. Sejak keluar kamar, ia belum bersuara.
Selesai sarapan, Farhan menyeret kopernya keluar. Langkahnya diikuti oleh Via dan Azka.
Pak Haris dan Bu Aisyah mengekor di belakang Azka yang berjalan sambil memainkan kunci mobil.
"Hati-hati, Azka! Jangan ngebut!" Bu Aisyah berpesan.
"Siap, Boss! Azka akan berhati-hati mengawal pengantin baru ini," sahut Azka.
Bluss... Pipi Via memerah mendengar kata 'pengantin baru'.
"Kita nggak nunggu Pak Arman, Mas?" tanya Via untuk menghilangkan rasa grogi.
"Enggak. Pak Arman sudah otewe ke bandara. Baru saja beliau ngasih kabar."
"Ya, sudah. Berangkat sekarang saja. Hati-hati, ya! Farhan, jaga istrimu baik-baik!" pesan Pak Haris.
"Siap, Ayah."
Setiap kali ada menyinggung hal yang berhubungan dengan pernikahannya dengan Farhan, jantung Via mendadak berdegup kencang.
Farhan dan Via berpamitan lagi, lalu mencium tangan ayah dan bunda mereka.
"Assalamualaikum" ucap Farhan dan Via bersama.
"Waalaikumsalam," jawab Pak Haris dan Bu Aisyah juga bersama.
Farhan membukakan pintu untuk Via. Setelah menutupnya, ia akan membuka pintu depan, berniat duduk di samping Azka.
"Apa-apaan, nih? Duduk di belakang! Siapa yang melindungi kakak iparku?" suara Azka membuat Farhan tidak jadi duduk di depan.
Akhirnya, ia duduk di samping Via.
"Sekarang aku sopir. Tenang saja, aku sudah berpengalaman, kok. Mari berangkat. Jangan lupa berdoa! Allaahu akbar Allahu akbar Allahu akbar, subhaanal-ladzii sakh-khoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahu muqriniin. Wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun, allaahumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal birro wat-taqwaa, wa minal ‘amali maa tardhoo, allaahumma hawwin ‘alainaa safaronaa haadzaa wathwi ‘annaa bu’dah, allaahumma antash-shoohibu fis-safari wal kholiifatu fil ahli, allaahumma innii a’uudzu bika min wa’tsaa-is-safari wa ka-aabatil manzhori wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli."
Azka mulai menginjak pedal gas. Mobil melaju perlahan meninggalkan kediaman dokter Haris. Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah sampai bandara. Setelah Farhan dan Via turun, Azka langsung berpamitan pulang.
Ternyata Pak Arman sudah menunggu.
"Assalamualaikum, Pak. Sudah lama?" sapa Farhan sambil menjabat erat tangan Pak Arman.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Baru sekitar lima menit, kok. Mari!"
Perjalanan mereka cukup lancar. Mereka sampai di hotel pukul 10.30.
"Masih ada waktu untuk istirahat. Kalau Mas Farhan sudah cukup istirahat, tolong ke kamar saya, ya. Kalau bisa, Mbak Via juga."
"Saya rasa setelah menyimpan koper di kamar, kita langsung bicarakan persiapan untuk nanti. Bagaimana?" usul Farhan.
"Baik, saya tunggu. Toh kamar kita berdekatan."
Mereka masuk ke lift dan menuju kamar masing-masing.
"Kok pakai sewa kamar, sih? Bukannya nanti sore kita pulang?" tanya Via sebelum masuk kamar.
"Belum tentu. Kita tidak tahu pembicaraan ini selesai jam berapa. Makanya, Pak Arman tidak berani pesan tiket pulang."
"Kita sekamar?" tanya Via lagi. Kali ini nadanya begitu khawatir.
Farhan tertawa. Ia tahu yang Via khawatirkan.
"Iya. Kalau mereka tahu kita tidak sekamar, mereka bisa curiga. Kan ini ada kaitannya dengan pernikahan kita."
Via terdiam. Pikirannya masih kalut karena harus sekamar dengan Farhan.
"Tenang, Pak Arman sudah memesan yang dobel bed, kok. Tuh," ucap Farhan sambil membuka pintu kamar dan memperlihatkan bed yang tersedia.
Via sedikit lega. Setidaknya, ia tidak berbagi ranjang dengan Farhan meski tinggal dalam satu kamar.
Sampai pukul 12.00 Pak Arman dan Farhan begitu serius membahas persiapan pertemuan dengan calon investor. Via hanya diam. Namun, ia mencermati baik-baik apa-apa yang dibicarakan Farhan dan Pak Arman.
Usai salat dhuhur, mereka berniat ke resto untuk makan siang. Saat akan masuk lift, ponsel Pak Arman berbunyi.
"Hallo, selamat siang," ucap Pak Arman.
....
....
"Oh, ada yang bisa saya bantu?"
....
"Jadinya jam berapa?"
....
"Baik, Pak. Nanti akan saya sampaikan. Kami tunggu kabar selanjutnya."
....
"Sama-sama. Selamat siang."
Setelah menyimpan ponselnya ke dalam saku, Pak Arman menatap Farhan.
"Tadi telepon dari asisten Pak Chandra. Katanya, Pak Chandra sedang menunggui ayahnya di rumah sakit."
"Apa pertemuan kita dibatalkan?" tanya Via menyela.
"Bukan dibatalkan. Tapi diundur. Kemungkinan jam 3 atau jam 4 sore Pak Chandra baru datang. Saat ini ayah beliau tengah menjalani operasi."
"Tak apa. Toh kita juga sudah booking kamar. Kita sudah mempersiapkan kalau pembicaraan kita tidak selesai sore ini," ujar Farhan.
__ADS_1
Pak Arman mengangguk setuju lalu mengajak mereka, "Ayo, kita makan siang bertiga!"
Mereka pun menuju resto untuk menikmati makan siang. Setelah selesai makan, mereka memutuskan kembali ke kamar untuk beristirahat sambil menunggu kedatangan Pak Chandra.
Di kamar, Via merasa gelisah. Ia tidak nyaman berduaan dengan Farhan.
"Nggak ngantuk? Tidurlah! Siapa tahu pertemuan kita sampai larut malam."
"Via nggak ngantuk," jawab Via lirih.
"Apa kita ngobrol saja? Biar nanti nggak canggung saat ketemu Pak Chandra," usul Farhan.
Via hanya diam. Ia juga bingung, apa yang mau diobrolkan.
"Dek, kita pacaran, yuk!"
Via kaget. Ia menatap Farhan sambil melongo.
"Apa-apaan ini? Ngajak pacaran? Yang bener saja! Kan sudah nikah," batin Via.
Farhan tersenyum melihat kebingungan Via. Ia mendekat dan duduk di samping Via.
"Dek Via belum pernah pacaran, kan?"
Via menggeleng.
"Mas juga belum pernah. Kita menikah dalam hubungan yang tidak akrab. Makanya, kita pacaran seperti orang-orang itu. Jalan berdua, kencan gitu. Besok kalau Dek Via sudah tinggal di ruko, Mas akan apelin Dek Via."
Via tertawa geli mendengar penjelasan Farhan.
"Kenapa? Lucu, ya? Selain membuat kita saling mengenal, hubungan itu juga untuk menutupi status kita yang sebenarnya. Biar orang menganggap kita belum menikah. Demi keamanan, agar musuh-musuh almarhum papa tidak curiga pergerakan kita. Bagaimana?"
Via diam sejenak. Akhirnya, ia mengangguk setuju.
"Mulai sekarang, ya. Karena kita pacaran, ga papa kan kalau Mas gandeng kamu?"
Via gelagapan. Ia ragu untuk menjawab.
"Nanti kita coba. Awalnya mungkin canggung. Lama-lama pasti terbiasa."
"Iii---iya, Mas. Mmmm, boleh Via nanya?"
"Tanya apa?"
"Apa Mas Farhan menyukai Via?"
Farhan tersenyum. Terbersit keinginan untuk menggoda istrinya.
"Menurut Dek Via bagaimana?"
"Aa--aku nggak tahu."
"Aku jelas menyukai Dek Via. Kalau nggak, Mas gak mau menikah dengan Dek Via," bisik Farhan ke telinga Via.
Via kaget. Ia merinding mendengar jawaban Farhan yang disertai hembusan nafas ke wajahnya.
****
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like, rate 5, juga vote biar Author makin semangat.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan semua pembaca 🙏.