
Sinar matahari mulai menerobos celah ranting. Embun mulai beranjak pergi dari rerumputan.
Pagi itu Via kembali ke tempat tidur setelah salat subuh. Ia membungkus tubuhnya dengan selimut.
"Assalamualaikum, Cinta," ucap Farhan sambil membuka pintu.
"Waalaikumsalam," jawab Via lirih. Ia seperti tak punya tenaga untuk menjawab.
"Bagaimana kondisi Cinta? Masih pusing?" tanya Farhan lembut. Ia duduk di sisi ranjang.
Via hanya mengangguk. Kepalanya terasa berat.
Farhan mengulurkan tangannya. Ia mengusap kening sang istri.
"Panas banget. Cinta nggak usah mandi, ya. Biar Mas seka air hangat."
Farhan bangkit dari duduknya. Ia mengambil air hangat, waslap, dan handuk.
"Ayo, Mas bantu agar tidak lengket."
"Aaa...Via malu, Hubbiy," tolak Via. Ia menarik selimutnya.
"Mas sudah pernah lihat. Ayolah! Kamu lemas begini. Nanti kalau kuat ke kamar mandi, Cinta bisa mandi sendiri," bujuk Farhan.
"Papah Via ke kamar mandi, ya! Biar Via mandi sendiri," pinta Via.
"Memang kuat?" Farhan tampak ragu.
"Kuat, insya Allah."
"Baiklah, Mas siapkan airnya dulu."
Farhan ke kamar mandi sebentar lalu kembali lagi. Ia membuka selimut yang menutupi tubuh Via. Ia membopong istrinya ke kamar mandi.
"Aaa...kok malah diangkat gini? Via bisa jalan sendiri," pekik Via lirih.
"Sudahlah, Cinta nurut saja!"
Farhan menurunkan tubuh istrinya di dekat bathtub.
"Bisa buka baju sendiri? Apa mau Mas bantu?" tanya Farhan.
"Bisa, Via sendiri saja. Hubbiy keluar sana!"
Farhan terkekeh melihat Via malu-malu. Ia segera keluar.
"Nggak usah dikunci. Kalau ada apa-apa, Mas nggak perlu dobrak pintu. Jangan lama-lama, ya! Nanti Cinta tambah sakit," pesan Farhan di depan pintu.
Hanya beberapa menit, Via sudah memanggil Farhan. Ia sudah selesai mandi dengan memakai jubah mandi.
"Hubbiy, Via mau ganti baju. Bisa keluar sebentar?" pinta Via.
"Memang kenapa kalau di sini?" Farhan mencoba meledek Via.
"Ish, Via kan malu. Udah sana, Via kedinginan," ujar Via lirih.
Farhan mengalah, tidak jadi meledek sang istri. Ia memilih masuk ke kamar mandi. Tak lama kemudian, terdengar guyuran air shower.
Farhan keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Ia mengambil baju gantinya. Dengan santai, ia memakai baju di dekat tempat tidur.
"Ish, kok Hubbiy nggak malu?" desis Via.
"Malu kenapa? Kalau Mas gak pakai baju keluar, baru malu," jawab Farhan santai.
Kemudian, ia mendekati Via yang tengah duduk di tempat tidur.
"Cinta ingin makan apa? Biar Mas minta Bu Inah menyiapkan," kata Farhan.
"Siomay," jawab Via singkat.
"Nggak pengin sate apa bubur ayam biar ada karbohidrat yang masuk. Badanmu lemes banget, tuh."
Via menggeleng dan menjawab lirih,"Via maunya siomay yang biasa mangkal di dekat mulut gang."
Akhirnya, Farhan mengalah meminta Bu Inah membeli siomay.
"Kayaknya beneran Mbak Via ngidam, deh. Belum pernah pagi-pagi makan siomay," komentar Bu Inah.
__ADS_1
"Mudah-mudahan begitu," sahut Farhan.
"Pokoknya turutin aja, Mas. Biar debay nggak ileran," saran Bu Inah.
Farhan tertawa. Ia kembali ke kamar.
"Hubbiy kok masih pakai kaos? Ke kantor jam berapa? Maaf, Via nggak bisa nyiapin keperluan Hubbiy," ucap Via.
"Cinta lupa kalau hari ini libur? Sudahlah, tidak usah mikirin Mas. Kalau pun sekarang nggak libur, Mas juga bisa nyiapin sendiri. Cinta kan lagi sakit."
Tak lama Bu Inah masuk mengantarkan siomay ke kamar.
"Ini siomay pesanan Mbak Via. Mas Farhan mau makan di kamar juga?" Bu Inah menawari Farhan.
"Enggak, Bu. Saya nanti saja. Kalian makan saja dulu, nggak usah nunggu saya, ya!"
Bu Inah terlihat ragu. Ia masih berdiri mematung.
"Nggak usah sungkan, Bu. Atau, tolong bawakan makanan saya ke sini nggak apa-apa. Biar saya makan bersama istri saya."
Bu Inah mengiyakan. Ia bergegas ke ruang makan dan kembali ke kamar membawakan makanan untuk Farhan.
"Taruh dulu di situ! Bu Inah dan lainnya segera sarapan, ya!"
Bu Inah keluar kamar setelah meletakkan piring dan gelas ke nakas. Farhan mengambil piring berisi siomay.
"Cinta, ayo makan dulu! Mas suapi, ya!"
"Via bisa sendiri, kok," tolak Via. Ia bangun dari posisi rebahan menjadi duduk bersandar.
"Sudah, tidak usah menolak. Ayo, berdoa dulu! Sekarang, buka mulut! Aaa...," ucap Farhan.
Akhirnya, Via menurut. Sesuap demi sesuap, siomay berpindah dari piring ke perut Via.
Farhan mengambilkan Via minum. Baru tiga teguk, Via merasa perutnya serasa diaduk. Farhan tanggap, segera membopong istrinya ke kamar mandi.
Via pun memuntahkan kembali siomay yang baru dimakan. Wajahnya semakin pucat.
"Cinta makan nasi, ya! Kalau nggak, badanmu semakin lemas," bujuk Farhan.
"Ada sambal sama lalap, nggak?" tanya Via.
"Ah, kebetulan ada ayam bakar dan lalapan. Ayo, Mas suapi lagi!"
Via menurut. Kali ini, Farhan tidak menggunakan sendok. Ia menyuapi Via menggunakan jari tangannya. Setengah isi piring telah habis. Via menolak melanjutkan.
"Sudah, cukup! Perut Via nggak nyaman. Ntar malah mutah lagi," kata Via saat Farhan membujuknya untuk membuka mulut lagi.
"Ya sudah. Lumayan, ada nasi yang masuk," ujar Farhan sambil tersenyum lega.
"Hubbiy makan sana! Via tiduran lagi, ya!" kata Via sembari menarik selimutnya.
Farhan membawa piring kotor keluar. Lalu, ia ke ruang makan untuk sarapan.
Baru saja selesai, Mbok Marsih masuk sambil membawa buah-buahan.
"Baru belanja buah, Mbok?" tanya Farhan.
"Iya, nih. Barangkali Mbak Via ingin rujak, Mbok bisa langsung bikinin."
Farhan tersenyum. Ia senang dengan perhatian para ART-nya.
Selesai makan, Farhan kembali ke kamar untuk menengok Via. Ia mengkhawatirkan kondisi istrinya.
Di kamar yang didominasi warna soft, Via tengah tertidur. Ini di luar kebiasaannya
Setelah melihat Via tertidur, Farhan kembali ke lantai 1. Ia menuju musala untuk salat duha.
Habis salat, ia berpamitan kepada Bu Inah yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Bu, saya titip Dek Via. Saya mau ke apotek sebentar untuk beli testpack."
Bu Inah tersenyum dan menjawab,"Nggak nyuruh Pak Nono atau Yudi saja?"
"Biar saya saja. Ya sudah, saya pergi dulu."
"Belinya jangan cuma satu, Mas. Kalau bisa beda merek," pesan Bu Inah.
__ADS_1
Farhan mengangguk. Ia pun meninggalkan Bu Inah.
Tak lama ia sudah kembali karena jarak ke apotek tidak lebih dari 2 kilometer. Ia pun tak sabar untuk mengetes hasilnya. Oleh karena itu, Farhan bergegas ke kamar.
"Assalamualaikum, Cinta. Sudah bangun?" ucap Farhan begitu melihat Via tengah duduk. Wajahnya tidak terlalu pucat.
"Waalaikumsalam. Hubbiy bawa apa?" Via balik bertanya.
"Testpack. Mau coba sekarang?"
Via kaget. Ia tidak mengira Farhan akan membelikan benda itu.
"Hubbiy, Via belum terlambat mens. Kalau negatif, Hubbiy tentu kecewa," kata Via.
Farhan tersenyum lembut. Ia segera duduk di samping istrinya.
"Kalau negatif, kita masih harus bersabar. Coba, ya!" Farhan menyodorkan satu testpack.
Via menerima dengan ragu. Ia pergi ke kamar mandi. Tak lama kemudian, ia keluar.
"Bagaimana?" tanya Farhan tak sabar.
"Satu garis terlihat jelas, ini seperti ada garis lagi tapi nggak jelas," jawab Via sembari menyodorkan benda kecil.
"Besok pagi coba diulang. Di petunjuk tertulis yang baik waktu bangun tidur di pagi hari."
Via mengangguk. Ia mengajak Farhan turun.
"Sudah baikan, Mbak?" tanya Mbok Marsih saat berpapasan di dekat tangga.
"Mendingan, Mbok. Udah nggak lemes," jawab Via.
"Mbak Via mau rujak?"
Mata Via mendadak berbinar mendengar kata rujak. Ia mengangguk senang.
"Bagaimana kalau di taman belakang?" Mbok Marsih menawari lagi.
"Boleh. Ayo, Hubbiy kita ke taman belakang!" Via menarik tangan Farhan.
Di taman belakang, Bu Inah dan Mbok Marsih sibuk menyiapkan rujak. Via dan Farhan hanya melihat.
"Aaah....Via kok kepengin jus mangga," ucap Via.
"Sebentar, saya buatkan dulu." Bu Inah bergegas ke dapur.
Via begitu senang menerima jus dari Bu Inah. Ditambah sepiring rujak dari Mbok Marsih membuat senyum di bibir Via melebar. Dengan lahap ia menghabiskan rujak itu.
"Enak banget. Jus mangga ya juga seger," puji Via.
"Cinta nggak mual?" Farhan menatap Via khawatir.
"Enggak," jawab Via tanpa menghentikan senyumnya.
"Syukurlah. Mungkin sudah mulai adaptasi. Mas tinggal ke masjid, ya! Sebentar lagi zuhur. Cinta salat dulu, baru tidur," ucap Farhan.
Via mengangguk. Sementara Farhan ke masjid, Via pun bersiap untuk salat zuhur di rumah.
Selang setengah jam kemudian, Farhan pulang dari masjid. Ia disambut Bu Inah yang terlihat panik.
"Mbb--mbak Via kejang," kata Bu Inah.
Farhan berlari ke kamar. Begitu membuka pintu, ia melihat istrinya terbaring dengan mata tertutup rapat ditunggui Mbok Marsih.
"Sudah nggak kejang, tapi panasnya tinggi banget," ucap Mbok Marsih khawatir.
"Bilang ke Pak Yudi untuk menyiapkan mobil!" perintah Farhan.
Mbok Marsih bergegas keluar. Farhan mengambil jilbab kaos dan memakaikan ke kepala Via. Kemudian, ia membawa istrinya turun.
"Ke rumah sakit, Pak!" Farhan memberi tahu Pak Yudi.
Pak Yudi segera memacu mobil ke rumah sakit. Sementara di jok belakang, Farhan memangku istrinya yang terlihat pucat dan lemas.
***
Bersambung
__ADS_1
Benarkah Via hamil? Beberapa readers sudah menebak hamil. Kita tunggu jawabannya besok pagi insya Allah.
Jangan lupa untuk memerahkan jempol dengan menyentuhnya! Komentar juga, ya. Aku berusaha membalas komentar para readers sebagai bukti apresiasi ku kepada readers yang telah mendukungku. Insya Allah aku juga dukung balik authors lain yang komen. Love you 😘😘