
Menjelang subuh, Meli terjaga dari lelapnya. Dia tidur begitu nyaman. Usai berdoa, ia mulai mengamati keadaan sekitar. Ia baru menyadari kalau ia bukan di kamarnya.
“Ah, iya. Ini kamar Mas Azka. Eh, kami ngapain semalam, ya?”
Meli mengingat-ingat kejadian sejak makan malam hingga menjelang tidur. Tanpa disadari senyumnya merekah.
“Maaf, Mas. Meli belum bisa menjalankan tugas sebagai istri.”
Meli menoleh ke samping. Tangannya meraba kasur di sampingnya. Tidak ada siapa pun di dekat Meli.
“Ke mana Mas Azka? Apa sudah bangun?”
Meli bangkit menuju kamar mandi. Setelah membersihkan diri, ia melangkah keluar. Dapur menjadi tujuannya.
“Meli, baru bangun?” kata Bu Aisyah yang tengah menyiapkan bahan-bahan masakan.
“Iya, Bun. Mas Azka ke mana, ya?” tanya Meli.
“Oh, dia masih di musala. Tadi waktu Bunda ke sini, dia sedang murojaah. Meli biasa qiyamullail nggak?”
“Iya, Bunda. Tapi kadang enggak pas bangun kesiangan,” jawab Meli malu-malu.
“Memang tidak ringan menjalankan qiyamulail. Namun, kalau sudah biasa, tidak lagi terasa berat.”
“Iya, Bunda. Ini mau masak apa?”
“Bunda mau masak ayam goreng, capcay, dan tumis kacang panjang. Bahan-bahannya lagi disiapin dulu. Eksekusinya nanti habis salat subuh. Sebentar lagi azan.”
Pembicaraan mereka terjeda karena kehadiran Azka.
“Eh, istriku sudah bangun. Nggak mimpi buruk, kan?” ujar Azka diikuti senyuman.
“Enggaklah. Mas Azka mau ke masjid?”
“Iya, sebentar lagi masuk waktu subuh. Berangkat dulu, ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Bu Aisyah dan Meli bersama.
Meli masih menatap punggung suaminya hingga menghilang setelah melewati pintu. Aroma parfumnya masih tertinggal, Meli hirup dalam-dalam. Ia sangat menyukai aroma ini.
“Azka sudah pergi. Kita siap-siap, yuk!” Bu Aisyah menepuk bahu Meli yang masih berdiri mematung.
Meli tersipu malu. Ia membalikkan badannya.
“Siap-siap apa, Bun?” tanya Meli untuk menghilangkan grogi.
“Siap-siap salat subuh. Tuh, sudah ada yang mengumandangkan azan,” jawab Bu Aisyah sambil mencuci tangan.
“A—anu Bunda, Meli sedang halangan,” ucap Meli lirih.
Bu Aisyah menatap Meli dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, wanita yang berusia hampir setengah abad itu tersenyum lembut.
“Kalau begitu, bisa Meli melanjutkan menyiapkan bumbu? Nanti kita masak bersama setelah Bunda salat subuh.”
__ADS_1
“Baik, Bunda.”
Bu Aisyah memberi tahu apa-apa yang mesti Meli kerjakan. Setelah itu, ia meninggalkan Meli untuk menunaikan kewajiban sebagai muslimah.
“Kalian belum beruntung menikmati pertemuan ini dengan ibadah sunah yang nikmat,” batin Bu Aisyah. Senyum tipis mengembang di bibir.
Sementara itu, Meli melakukan pekerjaan sesuai petunjuk ibu mertuanya. Meski belum pandai memasak menu harian, setidaknya ia sudah sering membantu ibunya. Jadi, ia tidak canggung menyelesaikan pekerjaan itu.
Usai salat, Bu Aisyah kembali ke dapur. Ia menjumpai menantunya tengah memotong sayuran.
“Meli biasa memasak kalau di rumah?” Tanya Bu Aisyah.
“E—enggak, Bun. Meli paling bantu-bantu ibu. Kalau bikin kue, Meli suka,” jawab Meli malu.
“Mau belajar?” Bu Aisyah menawari.
“Mau, Bun!”
Bu Aisyah tersenyum senang. Kemudian, ia mulai menjelaskan bumbu dasar. Ia pun menjelaskan makanan kesukaan Azka. Meli memperhatikan sungguh-sungguh. Ucapan sang mertua ia simpan di otaknya.
Pukul 5.30 hidangan sudah matang. Meli menata masakan di rantang. Pagi itu, mereka berniat sarapan di rumah sakit.
Pukul 7 mereka sudah sampai rumah sakit. Farhan tampak segar, tetapi tidak dengan dokter Haris. Semalaman dokter Haris memantau perkembangan ayahnya. Tak heran matanya berubah menjadi mata panda.
“Bagaimana perkembangan Eyang?” tanya Bu Aisyah.
“Semalam tensinya sempat naik lagi. Ayah masih sadar, sih,” jawab dokter Haris.
“Sesudah sarapan, bisakah Bunda nengok Eyang?”
“Oh, begitu. Kalau begitu, kita sarapan dulu!”
Mereka duduk lesehan menikmati sarapan. Baru saja selesai, Via datang membawa makanan kecil dan buah-buahan.
“Banyak amat, Via?” kata Meli.
“Iya, buat yang nunggu biar nggak ngantuk,” jawab Via sambil tersenyum.
“Wah, aku nggak bakal kelaparan,” seru Azka sambil membuka bungkus makanan.
“Ih, perasaan baru sarapan sepiring penuh. Belum kenyang?” Meli mencibir.
Azka terkekeh. Ia tetap saja memasukkan makanan ke mulut.
Pak Haris meninggalkan kamar. Ia menuju ICU.
“Eyang sebenarnya sakit apa, sih?” tanya Via kepada Farhan.
“Stroke. Ada penyumbatan di otak kanan. Di samping itu, ginjalnya juga bermasalah,” jawab Farhan.
Bu Aisyah menarik nafas panjang. Ia teringat kejadian berpuluh tahun silam saat anak-anak masih kecil.
“Kenapa, Bunda?” tanya Via yang tertarik dengan reaksi Bu Aisyah.
__ADS_1
“Bunda teringat kejadian beberapa waktu silam. Eyang sudah pernah mengalami stroke ringan waktu itu. Makanya, ayahmu sudah meminta Eyang menjaga pola makan. Eyang menurut, makanya Eyangmu bisa terjaga kondisinya. Kata salah satu ART, belakangan ini eyangmu sering mengabaikan aturan pola makanan. Mungkin itu penyebab sakitnya Eyang Probo,” kata Bu Aisyah.
Via dan Meli saling tatap. Keduanya mengangguk paham.
“Kapan Eyang Probo mengalami stroke?” tanya Azka.
“Waktu itu kamu masih bayi, umur sekitar 10 bulan. Bunda cukup kerepotan karena kalian masih kecil-kecil. Ayahmu juga belum selesai mengambil program spesialisnya.”
Mereka berbincang tentang Eyang Probo. Beberapa menit kemudian, dokter Haris kembali.
“Bagaimana kondisi sekarang, Yah?” tanya Bu Aisyah.
Pak Haris tampak lesu. Orang-orang pun terdiam, menjadi tegang.
“Eyang kembali tidak stabil. Kesadaran menurun,” jawab dokter Haris lesu.
“Kenapa bisa begitu?” Farhan keheranan.
“Entahlah. Ayah juga heran karena kemarin sore sudah stabil,” ujar dokter Haris.
Semua terdiam. Banyak hal berkecamuk dalam pikiran mereka.
“Berarti sekarang Eyang Probo belum bisa ditengok, Yah?” tanya Azka.
“Belum. Sekarang sedang ditangani tim dokter syaraf.”
“Kira-kira kapan bisa ditengok lagi?” tanya Meli.
“Ayah belum bisa memastikan. Bergantung kondisi nanti.”
Mereka terdiam. Ada perasaan sedih, bingung, merasa bersalah berkecamuk menjadi satu.
“Ayah istirahat saja dulu! Jangan sampai Ayah ikut sakit,” saran Bu Aisyah.
“Benar, Yah. Ayah harus menjaga kesehatan. Selagi Eyang Probo sedang ditangani dokter lain, Ayah beristirahat. Semalam Ayah begadang,” tambah Farhan.
Pak Haris mengangguk. Tetapi, ia tidak segera merebahkan diri.
“Bagaimana kita keluar dulu biar Ayah bisa istirahat?” usul Azka.
“Iya. Sebentar, aku telepon Mas Edi dulu agar menempatkan body guard di dekat ICU dan di sini. Kalau ada apa-apa kita bisa dihubungi. Begitu, ya!” ujar Farhan.
Mereka sepakat meninggalkan dokter Haris agar bisa beristirahat. Setelah ditinggal anggota keluarganya, dokter senior itu pun segera merebahkan diri, mengikuti saran anak dan istrinya.
Dengan dipimpin Farhan rombongan keluarga dokter Haris pergi berbelanja ke mall dekat rumah sakit. Mereka tidak mau pergi terlalu jauh agar bisa segera kembali bila terjadi sesuatu.
Saat mereka pergi, ada beberapa pasang mata yang mengawasi mereka. Kode-kode diberikan begitu mereka sudah meninggalkan rumah sakit. Beberapa orang berseragam perawat bergerak ke ICU.
***
Maaf belum bisa up banyak. Kondisi sedang tidak fit.
Yang kepo tentang Meli, cusss ke CS1 ya!
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar di novel kami.😘