
Ketika Via mengarahkan pointer ke tulisan shut down, notifikasi email masuk diterima. Ia mengurungkan niatnya mematikan laptop. Perambah internet kembali dibuka.
“Tumben Erna mengirim email,” gumam Via yang sedang menunggu pesan masuk di akun emailnya terbuka. Sebuah lampiran disertakan.
Mata Via mencermati tulisan yang tertera di layar. Dahinya mengerut membaca angka-angka yang ada.
Tanpa sadar, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, ia mengirim pesan lewat aplikasi WA kepada Erna. Setelahnya, Via kembali melihat angka-angka di layar.
Setengah jam Via berkutat dengan laporan yang baru ia terima. Tampaknya ia gelisah.
Diliriknya jam dinding kamarnya. Jarum pendek sudah menunjuk angka 9. Farhan belum pulang. Suami Via itu sudah memberi tahu kalau pulang malam karena ada acara makan malam bersama klien.
Akhirnya, Via mematikan lap topnya. Ia pergi ke kamar mandi untuk cuci muka sekaligus menyegarkan wajahnya yang kusut. Saat ke luar kamar mandi, ternyata Farhan sudah berada di kamar.
“Sukses, Hubbiy?” tanya Via.
“Alhamdulillah. Cinta sudah makan?” tanya Farhan sambil melangkah mendekat, menyapu jarak dirinya dengan Via.
“Sudah. Emh….” Kalimat Via terpotong karena badannya ditarik hingga menempel erat ke tubuh Farhan.
Sejenak Via menikmati kehangatan pelukan. Aroma maskulin yang dirindukan ia hirup dalam-dalam.
“Kangen,” bisik Farhan.
Via tertawa. Didorongnya tubuh Farhan dengan lembut hingga pelukannya terlepas.
“Mandi dulu! Memangnya nggak lengket?”
Tanpa menunggu reaksi Farhan, Via kembali ke kamar mandi untuk menyiapkan air. Baru saja akan memberi tahu Farhan kalau air sudah siap, pria itu sudah berada di belakangnya dengan telanjang dada.
“Mau mandi bareng?” bisik Farhan ke telinga Via.
“Eng—nggak. Via kan udah mandi,” jawab Via sambil menggelinjang menahan geli.
Via buru-buru ke luar. Kalau tidak, pastilah Farhan akan membuatnya mandi malam.
Setelah menyiapkan baju untuk Farhan, Via kembali mengambil gawainya. Ia mengecek pesan masuk dari Erna. Setelah mengirim pesan lagi, barulah Via menyimpan kembali gawainya. Ia duduk termenung memikirkan isi email yang belum lama ia terima.
“Kok melamun? Ada apa?” Pertanyaan Farhan mengagetkan Via.
“Eng—nggak, kok. Hubbiy mau dibuatkan teh hangat atau kopi?” Via menawari.
“Nggak usah. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Ada apa?” desak Farhan.
Via memutar duduknya hingga menghadap Farhan. Ditatapnya pria yang rambutnya masih basah itu.
“Ini soal rumah sakit ayah.”
“Ada masalah apa? Apa Rahardian menyabotase lagi?” Farhan tampak begitu khawatir.
__ADS_1
“Entahlah. Yang jelas, ada potensi penyelewengan dana ratusan juta. Bila tidak segera dihentikan, bisa jadi hal ini berlanjut. Dalam hitungan minggu rumah sakit dipastikan gulung tikar. Via nggak mau apa yang dulu menimpa almarhum papa dialami juga oleh ayah. Saat ini ayah hampir sama kondisinya dengan almarhum papa, memikirkan keluarga yang sakit.”
Kening Farhan berkerut. Pangkal alisnya hampir bertemu.
“Dari mana Cinta tahu ada penyelewengan dana?” kejar Farhan.
“Sekitar satu jam yang lalu Erna mengirim email. Di situ ada laporan pembelian alat kesehatan dengan nilai milyaran. Pembeliannya kepada Global Persada. Padahal, dalam perjanjian dengan WK Husada beberapa waktu silam disebutkan bahwa setiap pembelian alat kesehatan dan obat-obatan selama setahun WK Husada mendapat prioritas.”
Farhan tidak langsung menanggapi. Ia sejenak berpikir.
“Apa WK Husada akan melayangkan gugatan?” tanya Farhan lirih.
Via membelalakkan matanya. Ia menahan kesal.
“Tentu saja tidak. Memang WK Husada dirugikan. Tapi, kekeluargaan lebih utama. Andai ayah mau menerima bantuan kita secara langsung, Via juga nggak perlu menggunakan kedok WK Husada.” Via menahan geram.
“Terima kasih, Sayang. Kamu begitu pengertian,” ucap Farhan sambil menunduk.
“Sudah, nggak usah basa-basi gitu! Kita suami istri. Sudah seharusnya susah senang kita tanggung bersama. Tidak ada keluargaku dan keluargamu, yang ada keluarga kita,” kata Via tegas.
Farhan masih menunduk. Ia menjadi mirip pesakitan yang tengah diinterogasi.
“Sekarang ini, kita harus menemukan siapa dalang di balik mark up dana pembelian alat kesehatan ini. Kita juga harus tahu motifnya,” ujar Via berapi-api.
“Iya, tapi tolong kecilkan volume suaramu. Nanti Zayn terbangun.” Farhan mengingatkan.
Via menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak sadar berbicara dengan suara keras.
Farhan tersenyum. Ia mengambil posisi di samping Via.
“Cinta yakin ada mark up?” Farhan masih belum ykin.
“Tentu saja. Via sudah mengecek barang yang sama di file WK Husada. Selisihnya jutaan rupiah per item. Ini tentu sudah ada kesepakatan antara orang dalam dengan pihak penjual, Global Persada.”
“Kalau begitu, ayah perlu tahu.”
Via melambaikan tangannya. Ia memberi isyarat kalau dia tidak setuju.
“Kenapa?” tanya Farhan heran.
“Kalau Hubbiy yang memberi tahu ayah, memangnya ayah tidak curiga dari mana Hubbiy tahu? Terus, ayah juga akan cari tahu tentang WK Husada. Kalau tahu kita membantu, apa ayah tidak akan tersinggung?” Via melempar pertanyan retoris.
Farhan terhenyak. Ia membenarkan ucapan Via.
“Biar Erna mengatur masalah ini. Nanti Erna menyuruh orang yang bisa dipercaya untuk melapor ke ayah,” jawab Via.
“Lalu,bagaimana tentang penyelidikannya? Apa ayah kita biarkan menyelidikinya?”
“Tentu saja tidak sendirian. Anak buah Kiki dan Mas Hendri tetap mengambil peran diam-diam. Dan Via akan mengirim orang dari WK Husada untuk menemui ayah, memprotes tindakan rumah sakit yang melanggar perjanjian.”
__ADS_1
Farhan kaget mendengar penuturan Via. Ia khawatir istrinya akan membawa ke ranah hukum.
“Jadi, Cinta akan membawa masalah ini ke meja ….”
“Ih, apaan sih? Tadi Via kan sudah bilang bahwa keluarga itu diutamakan.Uang yang digelontorkan Via anggap untuk membantu ayah. Masalah protes WK Husada ini bukan berarti penyelesaiannya melalui jalur hukum.”
“Lalu?” Farhan tak sabar.
“Biar ayah lebih serius menangani masalah ini dan lebih waspada. Ke depan, jangan sampai ayah kecolongan begini,” jawab Via santai.
Serta-merta Farhan memeluk Via yang berada di sampingnya. Dihujaninya kepala Via dengan ciuman bertubi-tubi.
“Alhamdulillah, puji syukur kepada-Mu, Ya Allah. Kau beri hamba pendamping sebaik ini,” desis Farhan.
“Hubbiy, jangan lebay!” protes Via sambil melepaskan diri.
Farhan memegang bahuVia. Ia menatap bola mata istrinya.
“Lebay bagaimana? Memang Mas merasa Allah begitu baik memberi istri sesempurna dirimu, Sayang.”
Pipi Via merona. Ia menggeser duduknya hingga tidak lagi menghadap Farhan.
“Tidak ada yang Namanya istri sempurna. Kesempurnaan kan hanya milik Allah,” ucap Via.
“Ah, iya. Tapi, di mataku kau sosok istri yang tak punya cela. Banyak hal yang kau lakukan dengan sangat baik.”
“Jangan terlalu memuji, ah! Takutnya itu berlebihan, nanti cinta Hubbiy melebihi cinta kepada Sang Khalik. Ingat, Allah itu Al Ghayyur, Maha Pencemburu.”
“Iya, Sayang. Makasih diingatkan. Masalah ini kita pikirkan lagi besok, ya! Sekarang, kita istirahat, yuk!”
Via bangkit dari duduknya. Ia mematikan lampu utama hingga kamar menjadi redup oleh lampu 5 watt.
“O ya, Via mau kasih tahu kalau Zayn sudah bisa jalan. Lucu deh. Besok Hubbiy lihat sebelum berangkat ke kantor, ya!” ucap Via senang.
“Alhamdulillah. Ya, semoga bangunnya tidak kesiangan. Semoga jadi anak soleh, ya.” Farhan mengecup dahi Zayn yang begitu pulas.
“Apa kita akan memprogram adik buat Zayn sekarang?” tanya Farhan sambil menoleh ke Via.
“Ish, jaraknya terlalu dekat. Minimal 2 tahun, Hubbiy. Via nggak ingin caesar lagi.” Via mencebik.
Farhan membalas dengan mendaratkan ciuman singkat. Namun, yang singkat dibalas dengan yang lama hingga akhirnya memanas.
***
Bersambung
__ADS_1
Nantikan penyelesaian masalah rumah sakit dokter Haris, ya! Jangan lupa ketik “MAU” di kolom komentar episode 170 novel CS1 karya Kak Indri Hapsari agar ada CS1 season 2.