
Zayn tampak gembira saat melihat koper yang siap dimasukkan ke bagasi mobil. Sepertinya anak pasangan Via dan Farhan itu sudah paham kalau dia akan diajak bepergian jauh.
Via dan Farhan memang akan mengajak Zayn ke Jember. Meski resepsi pernikahan Anjani dan Mario sudah lewat, Via ingin menemui Anjani-Mario untuk memberikan ucapan langsung. Kalau Farhan, niat utamanya adalah berlibur.
Setelah semua siap, Pak Yudi mengemudikan mobil yang membawa Via, Farhan, juga Zayn menuju bandara.
Mereka tidak hanya bertiga. Ada Ratna yang juga ingin bertemu Anjani dan Meli.
Zayn tampak gembira saat melihat koper yang siap dimasukkan ke bagasi mobil. Sepertinya anak pasangan Via dan Farhan itu sudah paham kalau dia akan diajak bepergian jauh.
Via dan Farhan memang akan mengajak Zayn ke Jember. Meski resepsi pernikahan Anjani dan Mario sudah lewat, Via ingin menemui Anjani-Mario untuk memberikan ucapan langsung. Kalau Farhan, niat utamanya adalah berlibur.
Setelah semua siap, Pak Yudi mengemudikan mobil yang membawa Via, Farhan, juga Zayn menuju bandara.
Mereka tidak hanya bertiga. Ada Ratna yang juga ingin bertemu Anjani dan Meli.
Ratna tidak mau dijemput. Ia naik taksi ke bandara. Mereka tiba di bandara hampir bersamaan.
Alangkah terkejutnya Ratna ketika melihat sosok yang tampak tegap di samping Farhan.
"M--mmas Rio," desis Ratna
"Kamu kenapa? Kok kayak kaget gitu?" tanya Via pura-pura tidak tahu.
"Eng--nggak, kok." Ratna mencoba berkelit.
Rio pun tampak gugup. Ia tidak tahu kalau Ratna ikut.
"Ya sudah. Kalau begitu, masuk yuk!" ajak Via.
Via berjalan di samping Farhan. Mau tak mau, Ratna berjalan di belakang suami istri itu dan di sampingnya ada Rio.
Ratna yang biasanya cerewet berubah menjadi pendiam. Ia menghemat kata.
Sesampai Jember, mereka sudah disambut pengawal suruhan Edi. Mobil yang mengantar mereka selama di Jember pun telah siap.
Tujuan pertama mereka adalah rumah Meli. Keluarga Meli sudah menjadi keluarga Via-Farhan, tentu tidak enak jika tidak menemui ayah ibu Meli terlebih dahulu.
Bu Fatimah terkejut dengan kedatangan rombongan Via. Dengan tergopoh-gopoh ia menyambut tamu yang tak terduga.
"Wah, Nak Via kok nggak ngasih kabar kalau mau datang? Maaf, rumah masih berantakan."
"Iya, Bu. Memang kami juga mendadak ke sininya. Urusan kami baru selesai," jawab Farhan.
"Sebenarnya kami inginnya hadir saat pernikahan Anjani. Tapi, waktu itu tidak memungkinkan. Ini sedikit oleh-oleh, Bu," tambah Via sambil memberi kode kepada Rio untuk menyerahkan kardus oleh-oleh kepada Bu Fatimah.
"Silakan duduk dulu. Ibu panggilkan ayah Meli," kata Bu Fatimah.
Wanita yang masih tampak cantik di usia yang tak lagi muda itu beranjak ke belakang. Ia menghubungi suaminya yang masih berjualan. Kemudian, ia menyiapkan minuman dan makanan kecil.
"Maaf, adanya cuma ini. Meli biasa bikin donat, anaknya dari kemarin sibuk membantu Anjani. Sampai sekarang belum pulang," tutur Bu Fatimah sambil meletakkan cangkir berisi teh hangat.
"Ibu malah jadi repot. Iya, Dek Azka sudah memberi tahu kalau Meli sedang berada di hotel bersamanya. Biar saja mereka menikmati indahnya pengantin baru yang tertunda." Farhan tersenyum sambil melirik Via.
"Oh, jadi mereka sekarang sedang ...."
Via dan Farhan saling tatap lalu tertawa. Sementara Ratna dan Rio hanya diam.
"Assalamualaikum." Terdengar salam dari balik pintu.
"Waalaikumsalam," jawab semua yang tengah duduk di ruang tamu.
"Eh, ada tamu agung dari Jogja rupanya. Sudah lama, Nak?" Pak Roni yang baru datang menyapa.
Farhan dan Rio segera menyalami ayah Meli. Via dan Ratna menangkupkan tangan di depan dada sambil mengangguk hormat.
__ADS_1
"Belum lama, kok. Maaf, kami tidak memberi kabar terlebih dahulu karena memang mendadak. Ayah dan bunda juga belum bisa ke sini lagi karena masih merawat Eyang Probo," jawab Farhan.
"O ya, bagaimana kabar eyangmu? Masih dirawat di rumah sakit? Maaf, kami belum bisa menjenguk. Bahkan, kami juga belum pernah bersilaturahim ke Jogja," sesal Pak Roni.
"Jangan begitu, kami tidak mempermasalahkan, kok. Alhamdulillah Eyang Probo sudah membaik. Masalah silaturahim, siapa yang sempat saja," ucap Via.
Mereka pun mulai mengobrol hal-hal yang ringan. Lama-lama Ratna tak bisa menahan mulutnya untuk tidak bersuara. Kecerewetan gadis itu mulai pulih. Suasana pun cair.
Usai salat ashar, rombongan Via berpamitan. Mereka bukan pulang, melainkan menuju hotel tempat dua pasang pengantin menginap.
"Kenapa tidak menginap di sini saja? Rumah kami memang kecil, tapi masih ada kamar kosong kok," ucap Bu Fatimah sedih.
"Maaf, Bu, bukan kami tidak mau menginap di sini. Kami ingin bertemu Anjani, juga Meli dan Dek Azka. Kami ingin seru-seruan bersama mereka. O ya, mereka belum tahu kalau kami datang," kata Via.
"Kami ingin memberi mereka kejutan, Bu," tambah Ratna.
Pak Roni dan Bu Fatimah mengangguk paham. Mereka bisa mengerti keinginan mereka.
Dengan berat hati, Pak Roni dan Bu Fatimah melepas rombongan Via. Bu Fatimah berpesan agar Via dan yang lain kembali mampir sebelum kembali ke Jogja.
Rombongan Via menuju hotel tempat dua pasang pengantin baru menginap. Sebelumnya, Farhan sudah memesan tiga kamar untuk mereka sehingga kamar mereka berdekatan.
Usai mandi, semua berkumpul di kamar Via. Mereka akan membahas rencana mereka selama di hotel.
"Ni Meli kayaknya memanfaatkannya bener kesempatan mumpung Mas Azka di sini. Dipuas-puasin nih dia," celetuk Ratna.
"Bukan cuma Meli, suaminya juga. Dek Azka pasti juga begitu. Ah, kamu belum tahu rasanya jadi pengantin baru, sih. Apalagi mereka LDR-an sebelum sempat menikmati MP," sahut Farhan.
Ratna tersipu. Ia merasa tertohok.
"Makanya, buruan nikah, gih!" Via mengompori sambil meladeni Zayn yang meminta bermain.
"Belum ada yang melamar," ucap Ratna asal.
"Kok aku?" Rio kebingungan.
"Lah, Mas Rio ingin melamar Ratna, nggak? Kalau nggak, biar cowok lain saja yang melamar. Kayaknya Ratna udah nggak sabar, tuh," ucap Via memanas-manasi.
Ratna celingukan. Dia menjadi salah tingkah.
"Kok aku?"
"Lah, kamu siap dilamar nggak?" Via mendesak Ratna.
"Aa--ku nggak tahu. Belum ada yang melamar juga," ucap Ratna.
Farhan melirik Rio. Senyum tersungging di bibirnya.
"Kode, tuh. Bagaimana, Rio? Nikah itu menyempurnakan setengah ibadah lo! Jangan khawatir soal rizki. Insya Allah rizki akan mengalir setelah kalian menikah. Farhan menatap Rio.
"Mas Rio dan Ratna kan sama-sama bekerja. Jadi, jelas ada penghasilan tetap. Soal tempat tinggal, kalian bisa menempati ruko." Via menambahkan.
"Tapi, menikah kan juga butuh biaya. Buat lamaran, buat pernikahan. Aku sedang menabung untuk bitu, kok," kata Rio.
"Kalau kamu siapkan untuk itu, Cinta siap nggak?" Farhan menatap sang istri.
Via mengangguk. Ia bala menatap Farhan sambil mengedipkan mata.
"Sip! Kami siap bantu. Bagaimana kalau minggu depan Rio melamar Ratna? Siap?" desak Farhan.
"Hah? Aku?"
"Iya? Kalau nggak mau, ya sudah. Jangan menyesal kalau Ratna dilamar orang lain," sahut Farhan.
Rio tampak kebingungan. Ia ragu-ragu akan memberikan keputusan.
__ADS_1
"Kalau Ratna dilamar Mas Rio, diterima kan? Sudah siap?" Via mendesak Ratna.
"Bergantung Mas Rio, ah." Ratna berkelit.
"Rio, tuh Ratna sudah siap. Kalau memang niat melamar Ratna, gercep dong! Mau nggak?" Farhan kembali melancarkan serangan.
"Ii--iya, mau," jawab Rio.
"Alhamdulillah!" Via dan Farhan spontan berseru.
Ratna tersentak kaget mendengar jawaban Rio. Hatinya berdebar kencang.
Rio segera menundukkan kepalanya. Ia malu tapi bahagia.
"Kita matangkan lusa setelah pulang ke Jogja. Sekarang kita persiapkan kejutan untuk dua sejoli," ucap Farhan.
"Bagaimana nanti kita kumpul lagi habis isya?" usul Rio yang sudah bisa mengendalikan perasaannya.
"Oke. Nanti ya. Sekarang salat maghrib dulu," kata Farhan.
Ratna dan Rio keluar dari kamar Via. Mereka kembali ke kamar masing-masing.
Pukul 19.30 keduanya kembali ke kamar Via. Mereka sudah siap dengan gawai masing-masing.
"Zayn sudah bobo, kan?" bisik Ratna.
Via mengangguk sambil menunjuk anaknya yang telah terlelap.
Via, Farhan, dan Ratna sudah membuka gawai. Mereka menelepon sesuai pembagian. Farhan menghubungi adiknya, Via menelepon Meli, dan Ratna menelepon Anjani.
Sementara di kamar Azka, Meli tengah membersihkan wajahnya. Parfum lembut ia semprotkan ke lehernya.
"Wanginya istriku. Kalau begini, Mas males kembali ke Medan," ucap Azka sambil memeluk Meli dari belakang.
"Haish! Nggak boleh begitu! Selesaikan dulu sampai dapat ijazah," kata Meli.
Azka terkekeh. Hidungnya mulai menjelajah pipi Via. Saat mulai turun ke leher, notifikasi panggilan dari gawai Azka dan Meli menghentikan aktivitasnya.
Dengan malas Azka mengambil kedua gawai. Ia menyerahkan satu kepada Meli.
Keduanya sama-sama terlibat dalam pembicaraan. Azka tampak kesal. Sementara Meli justru cekikikan.
Di kamar lain, Mario juga tengah mengulang-ulang kegiatan baru tang mengasyikkan bersama Anjani. Tangannya mulai bergerilya menyapu bawah leher istrinya.
"Sebentar, ada telepon. Aku angkat dulu," bisik Anjani.
Meski cemberut, Mario menuruti keinginan Anjani. Ia melepaskan tangannya, membiarkan Anjani menerima panggilan.
"Dari siapa?" tanya Mario lirih.
"Ratna. Dia ada di Jember," jawab Anjani dengan berbisik pula.
"Apa? Temanmu dari Jogja itu? Aduh!" Mario menepuk keningnya.
Mario sudah punya firasat buruk. Ia merasa rencana indah yang sudah ia susun untuk malam ini gagal total.
***
Bersambung
Bagaimana kelanjutan rencana Farhan? Ikuti terus novelku, ya! Kalau ingin tahu bagaimana pernikahan Anjani, tengok novel CS1 karya Kak Indri Hapsari, ya!
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan komen!
__ADS_1