
Bagian XXVI
Via diterima di manajemen seperti pilihannya. Otak encernya tidak sulit melahap materi ilmu sosial yang ia pelajari dari buku-buku selama beberapa hari.
Selama Ospek, Via diantar jemput Azka. Bundanya tidak tega kalau Via harus naik ojol demi sampai kampus tepat waktu. Apalagi pulangnya juga sudah sore.
Yang membuat Via bertambah semangat meski prodi itu bukan cita-citanya adalah bertemu Ratna. Sahabat rasa saudaranya ternyata kuliah di tempat yang sama.
"Ternyata kamu nggak bisa move on dari aku. Buktinya, kamu nggak jadi masuk kedokteran demi mengikuti aku. Iya, kan?" canda Ratna saat bertemu Via di teras aula.
"Sotoy, ah! Siapa juga yang ngikuti kamu. Ge er tingkat dewa namanya," sanggah Via.
"Terus kenapa kamu ambil manajemen? Ikut-ikutan jadi pengkhianat."
"Kepo. Eh, apa tadi? Pengkhianat?"
"Iya, kita sama-sama pengkhianat jurusan. Dari IPA nyelonong ke manajemen."
Mereka tertawa bersama.
"Kamu naik apa ke kampus? Rumahmu kan jauh?"
"Aku kost, Vi. Uang untuk transport mending buat bayar kost. Deket kok. Paling 500 meter. Jalan kaki 10 menit sampai. Kamu diantar jemput?"
"Iya, bunda belum mengizinkan aku pergi sendiri. Mungkin kalau sudah ada sebulan kuliah, bunda baru yakin aku bisa mandiri."
Mereka berjalan bersama memasuki aula yang mulai dipenuhi mahasiswa baru.
***
Sebulan sudah Via menjadi seorang mahasiswa. Bundanya, Bu Aisyah, sekarang sudah mengizinkan Via berangkat dan pulang sendiri. Sesekali Azka mengantarnya jika jadwalnya sama.
Bu Aisyah memberi uang saku bulanan untuk jajan dan ongkos. Uang sakunya diberikan dalam bentuk cash karena Bu Aisyah segan menanyakan nomor rekening Via.
Meski uang dari Bu Aisyah lebih dari cukup, Via terpikir untuk mencari uang saku sendiri. Ia mencoba bisnis online. Pilihannya jatuh pada penjualan pakaian. Ia mencoba menjadi reseller pakaian muslim.
Via mulai memanfaatkan jejaring sosialnya untuk promosi pakaian. Ia sengaja membuat akun WA lagi agar bisnisnya tidak diketahui keluarga angkatnya. Ia merasa tidak enak kalau ketahuan berbisnis kecil-kecilan.
Semakin lama order yang didapat Via makin banyak. Ia memutuskan untuk mengajak Ratna bekerja sama.
"Gila, kamu ternyata keren banget. Sumpah aku nggak nyangka kamu bisa kepikiran jualan online gitu." Begitu tanggapan Ratna setelah tahu usaha Via.
"Hei, aku masih waras, Ferguso! Jangan dikirim ke RSJ!"
"Iya, iya. Salut ma kamu yang udah bisa cari duit sendiri."
"Kalau papa mama masih ada, mungkin aku nggak kepikiran begini. Aku nggak mau terus-menerus bergantung kepada ayah bunda. Mereka memang baik. Tapi bukan berarti aku bisa memanfaatkan mereka. Aku ingin suatu saat aku bisa berdiri di atas kakiku. Aku ingin membiayai kuliahku sendiri." Mendadak suara Via berubah melow.
"Ok, Vi. Aku paham keinginanmu."
"Ehm, aku kok jadi baper. Rat, jualanku udah lumayan Lo. Gimana kalau kamu gabung?"
__ADS_1
"Beneran, Vi? Aku mau banget. Lumayan kan untungnya?"
"Sebulan terakhir aku bisa dapat untung bersih lebih dari 1 jeti."
"Kalau aku ikut, keuntungan kamu turun, dong!"
"Aku ingin mengembangkan biar lebih besar."
"Maksud kamu?"
"Kita menjalin kerja sama dengan produsen konveksi. Kita jadi tangan kedua. Jadi, harganya bisa kita tekan "
"Tapi cari produsen yang produknya bagus, harganya miring kan tidak mudah."
Via tersenyum. Ia memperlihatkan wajah yang penuh percaya diri.
"Aku sudah nemu. Kau tinggal bantu. Iklankan produk lewat jejaring sosial yang kamu punya. Aku juga manfaatin aplikasi e-commerce."
"Otakmu emang jenius."
"Haish, gak usah muji. Ntar badan aku jadi gede, bajuku gak muat. Kamu mau tanggung jawab beliin baju?"
"Yeee...kan kamu bosnya!"
Via hanya nyengir.
"Aku butuh kamar kost kamu untuk markas."
"Iya, buat packing dan tempat produk sementara. Kau pikir markas apa?"
Ratna menepuk dahinya. Ia pun terkekeh menyadari pikirannya yang ngaco.
"Kirain markas penyamun."
"Pikiranmu horor."
Mereka terbahak. Namun, itu tak lama. Mereka dikejutkan sosok yang berdiri di hadapan mereka dengan tatapan tajam. Seorang gadis berambut cepak dengan tinggi badan sekitar 155 cm itu sangat mereka kenal.
"Rupanya si gembel dan kacungnya masih tetap bersama. Kau setia sekali kepada majikan gembelmu itu," ucapnya sinis.
Ratna balas menatap gadis itu dengan tatapan tak kalah tajam.
"Heh, ubur-ubur! Kau masih saja membuntuti kami? Masih kepo dengan kehidupan kami rupanya?"
"Juih, ngapain ngurusin kalian. Kurang kerjaan banget. Aku kebetulan lewat sini."
"Duuuh.... Dasar ubur-ubur! Kamu nggak sadar juga, sih? Sudah dapat azab masih saja belagu. Kamu mau dapat azab yang lebih besar?"
"Azab? Jangan sembarangan ngomong!"
"Lah, pas perpisahan kamu nggak bisa datang karena baru kecelakaan, kan? Kakimu saja masih belum sembuh benar. Jalanmu masih pincang gitu. Sadar woi!"
__ADS_1
"Diam! Itu bukan azab. Akunya yang lagi sial."
"Terserahlah. Yuk, Vi, kita pergi. Buang waktu aja ngomong sama ubur-ubur."
Via yang sedari tadi diam, menuruti ajakan Ratna. Mereka melanjutkan perjalanan. Baru saja melangkah, terdengar bentakan Lia lagi.
"Tunggu! Buat kamu, gembel! Nggak usah keganjenan! Awas kalau kamu cari perhatian Mas Azka!"
Via hanya mengangkat bahu. Ia pun kembali berjalan.
"Kamu dijemput Mas Azka nggak?"
"Tadi pagi bilang mau jemput, sih."
"Ya sudah, tungguin di tempat biasa. Masa mau ikut ke tempat kostku?"
"Kalau lama, kan pegel kakiku."
"Terserah kamu deh."
"Bentar, aku chatt aja."
Baru saja Via membuka tas untuk mengambil ponselnya, terdengar bunyi klakson yang akrab di telinga Via.
"Tuh, dijemput."
"Ya udah, aku pulang dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Yuk, Ratna, assalamualaikum," Azka ikut berpamitan.
"Ya, Mas. Hati-hati ya! Waalaikumsalam."
Ratna masih berdiri menatap Via hingga tak terlihat lagi.
"Beruntungnya Via. Meski orang tua telah tiada, masih ada keluarga yang menyayangi, membiayai kuliahnya juga. Mas Azka begitu perhatian sama Via. Ah, seandainya aku... Haish, pikiran apa ini," desis Ratna. Ia segera melanjutkan perjalanan, pulang ke tempat kostnya.
Sementara beberapa meter dari Ratna, seorang gadis berambut cepak berdiri terpaku mengawasi Ratna dan Via. Tatapannya penuh kebencian.
"Awas, kau! Sudah aku peringatkan agar tidak mendekati Mas Azka, masih saja nekat. Aku bisa bertindak apa saja, gadis gembel. Dan, kamu tidak bisa lepas dari cengkeramanku. Tunggu saja pembalasanku!"
Gadis itu berjalan ke halte dengan kaki agak pincang. Tangan kanannya masih harus digendong. Sesampai di halte, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelpon seseorang.
***
TBC
Aurelia ternyata masih dendam, Saudara. Cewek model gini diapakan, ya?
Jangan lupa untuk meninggalkan cap jempol, ya, Kak😍😘
__ADS_1