
Jantung Via berdegup kencang. Badannya agak gemetar mendapat ciuman pertamanya. Meski hanya sekilas, itu sudah cukup membuatnya gugup.
"Ada yang ingin Mas sampaikan. Dulu Mas ingin sekali mengajak Dek Via kencan sesering mungkin. Mas ingin bisa dekat dengan Dek Via. Tapi, keadaan sepertinya tidak memungkinkan. Musuh-musuh almarhum papa masih terus mengincar kita. Mas nggak mau mereka tahu hubungan kita dan semakin gencar menyerang Dek Via. Itu sebabnya Mas tidak mengizinkan Dek Via sendirian di ruko."
Via mengangguk. Entah mengapa, sampai sekarang ia belum bisa rileks di dekat Farhan.
"O ya, Mas juga tahu kalau Dek Via belum siap sepenuhnya menjadi istri Mas. Makanya, Mas nggak akan maksa Dek Via melayani Mas."
Via mengangkat wajahnya dan menatap Farhan sebentar. Ia menemukan ketulusan di mata suaminya. Hatinya bergetar. Ada perasaan lega sekaligus bersalah.
"Terima kasih atas pengertian Mas. Via minta maaf ...."
"Ssstt, cukup!" potong Farhan sambil menempelkan telunjuk ke bibir Via. "Dek Via nggak usah merasa bersalah gitu. Mas yakin, seiring waktu Dek Via bisa menerima Mas seutuhnya. Sekarang, istirahatlah! Jangan lupa, besok jogging pakai kaos dan sepatu couple, ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Via segera menutup pintu begitu Farhan keluar. Ia berdiri nenyandar ke pintu sambil memegang dadanya yang masih berdegup kencang.
***
Matahari belum menampakkan diri. Dedaunan pun masih basah oleh embun. Keluarga dokter Haris bersiap untuk jogging.
“Pintu sudah dikunci?’ tanya Pak Haris memastikan.
“Sudah, Yah,” jawab Azka.
“Yuk, berangkat!” ajak Bu Aisyah.
"Sebentar. Hhmmm, ternyata ada yang pakai couple. Wiiih, sepatunya juga!" seru Azka
Pipi Via merona karena malu. Ia sebenarnya sudah menduga Azka akan meledek saat tahu Via dan Farhan pakai baju couple.
"Ayah dan Bunda juga, lo! Cuma kamu, Ka, yang ga punya," balas Pak Haris.
Azka menoleh ke ayahnya. Ia baru menyadari kalau ayah bundanya pakai kaos yang sama.
"Huahaha...kasihan kau, Dek! Sana cari jodoh biar bisa couple-an!" Farhan tergelak.
Azka bersungut-sungut. Maksud hati meledek kakaknya, apa daya malah kena serangan balik. Via pun tersenyum.
"Kita berangkat sekarang!" ajak Bu Aisyah lagi untuk menengahi.
Mereka berlari kecil keluar halaman. Pak Haris dan Bu Aisyah berada di paling depan disusul Azka. Farhan dan Via berlari paling belakang.
Kurang lebih berlari 500 meter, Pak Haris berhenti. Ia menoleh ke belakang.
“Kita ke taman kota saja, yuk! Nanti kita sarapan bubur ayam di sana,” ajak Pak Haris.
“Siap, Yah! Eh, mana Mas Farhan? Kok belum kelihatan,” ucap Azka.
“Biar saja. Paling kakakmu sedang pendekatan sama istrinya. Kita lanjut saja ke taman kota. Nanti biar mereka nyusul. Kau kirimi pesan ke kakakmu, kita nunggu mereka di taman kota.”
“Siap, Bun,” sahut Azka.
Mereka kembali berlari menuju taman kota. Azka mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Farhan.
Lima belas menit kemudian, mereka sudah sampai di taman kota. Mereka pun mendekati salah satu penjual bubur ayam yang ada.
“Pak, bubur ayam 5,” pesan Pak Haris.
Mereka bertiga duduk di tikar yang tersedia. Sambil menunggu pesanan, Azka mengecek laporan pesan untuk kakaknya.
“Mas Farhan belum membuka pesanku,” gumam Azka.
“Coba kamu telepon saja!” perintah Bu Aisyah.
Azka pun menurut. Ia sentuh ikon telepon di ponselnya. Setelah bunyi nada sambung ke-5 baru diangkat.
….
__ADS_1
“Waalaikumsalam. Mas Farhan di mana?”
….
“Sekarang bagaimana?”
….
“Kami nunggu di taman kota, Mas. Nih ayah sudah pesen bubur ayam.”
….
“Oke. Hati-hati, ya! Assalamualaikum.”
….
Azka meletakkan ponselnya.
“Bagaimana? Farhan dan Via sudah dekat?”
“Sudah, Bun. Tadi kaki Mbak Via terperosok. Betisnya luka dikit.”
“Bisa jalan, nggak?” tanya Pak Haris khawatir.
“Mas Farhan bilang sih, bisa. Pelan-pelan, Yah.”
“Kita sampai tidak menyadari kalau mereka berdua tertinggal terlalu jauh. Bunda kira Farhan sengaja memisahkan diri biar bisa berduaan dengan Via. Bunda jadi merasa bersalah,” desis Bu Aisyah.
“Kita tunggu saja. Ayah yakin Via nggak apa-apa, nggak ada yang serius,” kata Pak Haris menghibur.
Kurang lebih lima menit kemudian, tampak Farhan bersama Via berjalan mendekat.
“Itu mereka! Sini, Nak!” teriak Pak Haris.
Bu Aisyah berdiri menyambut menantunya. Dibimbingnya Via duduk di tikar.
“Nggak apa-apa, Bun. Cuma lecet dikit. Tadi Via larinya terlalu ke pinggir, jadi terperosok dan tergores dikit.”
“Sudah diobati? Apa kamu beli revanol sama obat antiseptik dulu ke apotik, Han!” kata Pak Haris.
“Sudah, kok. Makanya, kami baru sampai,” jelas Farhan.
“Ya sudah, kita makan dulu,’ ajak Bu Aisyah.
Selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang.
“Bun, Via boleh mampir pasar? Via ingin belajar bikin dimsum. Bunda ada waktu ngajari Via?” pinta Via.
“Boleh. Tapi, kaki kamu gimana? Apa Bunda aja yang belanja?”
“Enggak, nggak usah. Via nggak apa-apa, kok,” sahut Via.
“Han, temani istrimu!” perintah Pak Haris.
“Tentu, Yah,” jawab Farhan cepat.
Akhirnya mereka berpisah. Farhan mengantar Via ke pasar membeli bahan-bahan dimsum dan sayuran.
“Sudah cukup?” tanya Farhan.
“Sudah. Kita pulang, yuk!”
“Naik becak saja, ya!” ajak Farhan.
Via sedikir ragu. Ia membayangkan duduk berduaan di becak. Itu artinya, mereka begitu dekat dalam waktu cukup lama. Perjalanan sampai rumah setidaknya memakan waktu 20 menit.
Sebelum Via menjawab, Farhan sudah memanggil salah satu tukang becak. Ia pun meletakkan tas belanjaannya ke lantai becak.
“Ayo, naik!” perintah Farhan.
__ADS_1
Meski ragu, Via naik ke becak perlahan. Setelah Via duduk, Farhan menyusul.
“Hari ini cerah sekali sepertinya,” gumam Farhan.
Via masih dapat menangkap ucapan Farhan. Ia mulai merasa gugup.
"Kenapa sih, aku kok selalu gugup, berdebar-debar kalau dekat Mas Farhan? Apa sebenarnya aku mulai menyukai suamiku? Ah, tapi aku malu juga. Ya Allah, sebenarnya perasaan apa ini?"
"Dek, kok melamun?" tanya Farhan.
"Enggak, kok. Buktinya Via masih dengar suara Mas dengan jelas," sahut Via.
"Kok diam saja?"
"Via mesti ngomong apa? Mas juga nggak nanya, kan?"
"Oh, mesti ditanyai dulu? Ya udah, Mas tanya. Semalam mimpiin Mas, nggak?"
"Nggak mimpi apa-apa, tuh," jawab Via dengan nada datar.
"Wah, nggak kompak. Padahal, semalam Mas mimpiin Dek Via, lo. Kita jalan-jalan berdua di taman bunga yang indah. Eh, Dek Via terpeleset. Terus, Mas gendong. Ternyata hampir seperti kenyataan, ya?"
"Maksud Mas Farhan?"
"Tadi kan terperosok, kakimu sakit. Sayang, kamu nggak mau Mas gendong. Coba kalau mau. Kan mimpiku jadi kenyataan," kata Farhan.
"Memang Mas pengin gendong Via?" tanya Via polos.
"Iya. Mau?" tantang Farhan.
"Emmm...." Via kebingungan.
"Hahaha.... Wajahmu lucu sekaligus menggemaskan," ujar Farhan.
"Kalau saja nggak di becak, udah aku cium kamu. Bibirmu sungguh menggoda," batin Farhan.
"Ini rumahnya, Mas?" tanya tukang becak.
"Rumah yang cat hijau di depan itu, Pak," jawab Farhan.
Sampai depan rumah, Farhan segera turun sambil menurunkan barang belanjaan. Lalu, ia membantu Via turun.
"Via bisa sendiri, Mas," kata Via.
"Kan kakimu sedang sakit. Udah, nggak apa-apa."
"Mari masuk dulu, Pak," ujar Via kepada tukang becak.
"Makasih, Mbak. Saya mau kembali ke pasar lagi. Biasanya jam segini banyak ibu-ibu belanja," tolak tukang becak sopan.
Farhan membuka dompetnya dan mengeluarkan lembaran uang warna merah.
"Mas, saya baru narik, belum ada kembalian. Uang receh saja, Mas," kata tukang becak itu dengan nada memelas.
"Ambil saja, Pak. Semoga Bapak dapat banyak penumpang hari ini," ucap Farhan sambil tersenyum.
"Hati saya sedang berbunga-bunga, Pak. Hari ini indah sekali," kata Farhan dalam hati.
"Alhamdulillah. Terima kasih, Mas. Semoga Mas dan keluarga dikaruniai rizki yang melimpah dan barokah. Saya pamit, Mas."
Via dan Farhan mengangguk. Tak lupa mereka mengaminkan doa di tukang becak. Setelah tukang becak pergi, mereka berjalan bersama memasuki rumah.
***
**Bersambung
Jangan lupa untuk selalu dukung author biar tetap semangat up teratur dengan memberikan like, komentar, dan vote.
Terima kasih atas dukungan Kakak semua 😘😘😘**
__ADS_1