SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Adu Strategi


__ADS_3

Kok bisa Mira yang diculik? Lalu, Ratna benar diperalat oleh otak penculikan?


Flashback on


Saat Mira keluar dari ruko, beberapa pasang mata memperhatikan gadis itu. Bahkan, satu orang dari mereka mengikuti bus kota yang membawa gadis itu.


Edi, orang yang dikirim Pak Candra membantu pemulihan PT Wijaya Kusuma, ada di antara mereka. Begitu Mira naik bus kota, Edi segera menghubungi Farhan.


“Assalamualaikum,” terdengar suara Farhan begitu telepon tersambung.


“Waalaikumsalam. Mas, Mira pulang. Kami sedang memantau pergerakan Ratna. Kalau dia pulang, tolong Mas hubungi Non Via agar pulang. Kami akan siapkan taksi untuk mengantar Non Via seperti waktu .”


“Siap, Mas! Tolong pantau terus perkembangan kondisi di situ.”


“Ya, Mas. Sepertinya Beno akan mengeksekusi lagi rencananya malam ini.”


“Berarti kita mesti ekstra waspada.”


“Betul. Kami akan berjaga sepanjang malam.”


“Terima kasih, Mas Edi dan kawan-kawan menjaga istri saya. Jaga kesehatan juga, ya!”


“Itu sudah menjadi kewajiban kami. Sudah dulu, Mas. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Edi menyimpan ponselnya lagi. Ia memanggil anak buahnya dan memberi beberapa instruksi.


Menjelang azan isya, Edi melihat ada taksi berhenti di depan ruko. Ia segera waspada, memperhatikan dengan cermat penumpang yang turun.


Setelah yakin, Edi kembali menghubungi Farhan.


"Assalamualaikum," sapa Farhan.


"Waalaikumsalam. Perkembangan terbaru, Mira balik ke ruko. Tapi, saya lihat Ratna keluar membawa tas. Oh, ada mobil yang sudah menunggu."


"Bagaimana jadinya, Mas? Dek Via perlu saya suruh pulang?"


"Saya rasa tidak perlu."


"Apa tidak berbahaya? Bagaimana kalau Pak Beno melancarkan aksinya malam ini?" Suara Farhan terdengar khawatir.


"Justru itu yang kita tunggu. Kebetulan Mira datang."


"Maksud Mas Edi bagaimana?"


"Kita coba menangkap basah Beno. Saya kira dia tidak tahu kalau Mira kembali ke ruko. Yang penting Mas Farhan kirim pesan ke Non Via agar tidak keluar dari ruko malam ini. Apa pun yang terjadi, dia tetap harus di dalam."


"Beneran tidak membahayakan istri saya?" Farhan tetap khawatir.


"Insya Allah aman asal tetap di dalam ruko, termasuk tidak membukakan pintu kalau ada yang datang."


"Baiklah."


"Mas Farhan tenang saja. Saya pertaruhkan nyawa saya untuk keselamatan Non Via. Sekarang Mas Farhan kirim pesan kepada Non Via agar tidak membuka pintu ruko malam ini. Sudah dulu, Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Edi dan anak buahnya dibantu 2 bodyguard yang disewa Eyang Probo berjaga di dekat ruko sepanjang malam. Mereka tidak mau hanya mengandalkan CCTV.


Seperti yang telah Edi perkirakan, Beno melaksanakan niatnya menculik Via. Pukul 02.00 mobil orang suruhan Beno tiba di depan ruko. Begitu tahu, Edi pun segera menghubungi Farhan lagi.

__ADS_1


Untunglah, Farhan yang memang tidak bisa tidur nyenyak, langsung terbangun mendengar notifikasi panggilan. Ia sengaja mengatur volume yang agak keras agar segera tahu saat Edi menelpon.


"Mas, sepertinya benar dugaan saya. Beno beraksi. Dia menggunakan rekaman suara Ratna untuk memancing Non Via membukakan pintu. Tolong Mas telepon Non Via agar tetap di kamar!"


"Baik. Saya tutup."


Edi kembali fokus ke ruko. Ia melihat tiga lelaki berpakaian serba hitam berdiri di depan ruko. Satu di antara mereka memegang ponsel yang mengeluarkan suara teriakan memanggil Via. Satu lainnya menggedor rolling door dengan agak keras.


Tak lama kemudian, seorang gadis membuka pintu. Gadis itu langsung dibekap dan dimasukkan ke dalam mobil.


"Ikuti mobil itu! Ingat, jaga jarak dan ganti posisi setiap 10 menit!"


Setelah memberi instruksi kepada anak buahnya, Edi menelpon Farhan lagi, meminta pria itu datang ke ruko. Edi pun segera menyusul anak buahnya menggunakan motor sportnya. Sementara dua bodyguard tetap tinggal.


Beberapa menit kemudian, Farhan datang. Ia disambut dua bodyguard. Setelah berbincang sebentar, Farhan segera masuk ruko.


"Assalamualaikum. Dek Via di dalam?"


"Waalaikumsalam. Mas Farhan?" jawab Via dari kamar.


"Iya. Ini aku. Keluarlah!"


"Beneran aman, Mas?" Via sepertinya ragu.


"Iya, ada aku. Di luar juga ada bodyguard yang menjaga."


"Bodyguard?"


"Sudahlah, sekarang Dek Via keluar," pinta Farhan.


Via membuka kunci pintu kamarnya. Dia mengintip dari celah pintu yang ia buka sedikit. Setelah melihat Farhan seorang diri, ia melangkah keluar kamar.


"Mas, apa yang terjadi? Via takut," seru Via seraya memeluk Farhan.


"Tenanglah, ada Mas di sini."


Sepertinya Via baru sadar ia memeluk lelaki yang selama ini sering membuat dirinya salah tingkah. Ia segera melepaskan pelukannya.


"Ma---af..." desis Via.


"Maaf kenapa? Mas suka kok dipeluk," goda Farhan sambil tersenyum.


"Ish, malu."


"Kenapa mesti malu? Kan cuma ada kita berdua."


"Mbak Mira?" bisik Via sambil melirik kamar Mira.


Farhan mengambil nafas panjang lalu membimbing Via duduk di sofa.


"Mira tadi diculik."


"Apa? Siapa yang melakukan? Bagaimana dengan Ratna?"


"Tenanglah, sudah ada yang mengejar penculiknya."


Farhan lalu menceritakan secara ringkas apa yang baru saja terjadi.


"Jadi, selama ini Via diawasi?"


"Iya. Semua demi keselamatan Dek Via. Musuh-musuh almarhum papa masih mengincarmu dan merongrong Wijaya Kusuma. Sebentar, aku hubungi Mas Edi dulu. Dia yang memimpin pengejaran terhadap penculik Mira."

__ADS_1


Cukup lama Farhan menunggu panggilan teleponnya diterima.


"Assalamualaikum, Mas. Kami baru sampai lokasi penyekapan. "


"Waalaikumsalam. Situasinya seperti apa? Mira baik-baik saja?"


"Anak buah saya sedang menguping pembicaraan mereka. Nanti saya hubungi."


Panggilan telepon pun terputus.


"Bagaimana?" tanya Via tak sabar.


"Mas Edi dan anak buahnya sudah sampai lokasi. Mereka masih mengawasi. Nanti Mas Edi akan memberi tahu."


Baru saja Farhan selesai menjelaskan, panggilan dari Edi masuk. Farhan menerima dengan mengatur loud speaker agar Via mendengar percakapan mereka.


"Assalamualaikum," ucap Farhan.


"Waalaikumsalam. Mira masih dalam pengaruh bius. Mereka tidak menyiksa."


"Bagaimana dengan Pak Beno? Apa dia ada di sana?" tanya Farhan.


"Tidak. Beno akan datang nanti. Paling setelah subuh dia baru datang.


"Apa nggak sebaiknya menghubungi polisi?"


"Tentu saja. Saya sudah menghubungi dan saat ini petugas dalam perjalanan ke sini. Kami nanti akan bersama-sama mengatur strategi menyelamatkan Mira sekaligus menangkap Beno."


"Memangnya polisi langsung percaya?"


"Saya sudah bicara sebelumnya. Pak Candra yang menyuruh saya menemui Kapolres. Koneksi beliau kan luas."


"Syukurlah. Tetap waspada, ya! Semoga semua berjalan lancar."


"Aamiin. Doakan saja, Mas! Saya tutup dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Farhan meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia menatap Via yang terlihat tegang.


"Tenanglah. Dek Via dengar sendiri kalau polisi juga akan turun tangan. Kita tunggu kabar selanjutnya dari Mas Edi."


"Memangnya Pak Candra itu siapa, sih? Kok segitunya memperhatikan kita?" tanya Via lirih.


"Mas juga belum tahu. Tapi, Mas yakin beliau orang baik. Mungkin beliau teman baik almarhum papa."


Via mengangguk-angguk. Ia masih gelisah.


"Sudah qiyamullail? Mas belum, nih. Tadi begitu dikabari Mas Edi kalau Mira diculik, Mas langsung ke sini."


"Belum."


"Ayo, mumpung masih ada waktu. Kita doakan agar misi Mas Edi lancar, Mira kembali dengan selamat."


Via mengangguk. Ia bangkit dari duduknya diiringi Farhan untuk berwudu. Tak lama kemudian, mereka hanyut dalam ritual dialog dengan Sang Khalik.


***


Bersambung


Insya Allah author kembali meng-up date tiap pagi. Tetap setia mengikuti kisah ini, ya!

__ADS_1


Maaf, author belum bisa crazy up. 🙏


__ADS_2