
“Makanya, jangan terlalu larut dalam kesedihan! Sedih boleh, tapi jangan terlalu hingga mengabaikan semuanya. Ardi sebenarnya mengkhawatirkanmu, tetapi dengan kondisi om dan tante saat ini kehadirannya lebih dibutuhkan di sana. Ia berharap kamu bisa curhat dengan Tuti.”
Dini menunduk. Ia menyadari kesalahannya, telah menambah berat beban kakak semata wayangnya.
Mendadak Dini terlihat kebingungan. Ia menatap gawai di tangan dan Via bergantian.
“Kak ....” ucap Dini ragu.
Via menatap Dini penuh tanya. Ia tidak tahu maksud adik sepupunya itu.
“Ada apa, Din? Kok kelihatannya kamu kebingungan gitu?”
“I—ini Kak Doni vicall. Aku nggak mau Kak Doni lihat wajah sembabku,” sahut Dini lirih.
Via tersenyum. Ia mengerti kalau Dini dilema. Doni pasti melihat kalau Dini sedang online hingga ia meneleponnya. Dan, sepertinya cowok itu tidak menerima penolakan. Sedari tadi gawai Dini bergetar tanpa henti.
“Kamu cuci muka dulu, sana! Biar Kakak yang angkat teleponnya,” kata Via.
Dini mengangguk setuju. Ia menyerahkan benda pipih nan cerdas miliknya lalu melesat ke kamar mandi.
“Assalamualaikum,” ucap Via.
”Waalaikumsalam. Ada apa denganmu? Dari kemarin kamu nggak online, chatt-ku diabaikan.” Doni tampaknya tak sabar mengeluarkan unek-uneknya hingga tidak memperhatikan siapa yang mengangkat telepon.
“Ini aku, Don, Via. Dini lagi di kamar mandi. Tadi aku pinjam HP-nya untuk menghubungi Ardi.” Via sedikit berbohong.
“Oh, kau sedang di Medan? Sejak kapan? Aku kira di Jember. Dini juga bilang mau ke Jember karena Mas Azka nikah. Kok malah kamu di Medan?” ucap Doni bertubi-tubi.
“Iya, kemarin aku di Jember karena Mas Azka menikah. Sorenya kami terbang ke Medan karena Om dan Tante mengalami kecelakaan,” jawab Via tenang.
“Apa kamu bilang? Om dan Tante kecelakaan? Maksudmu papa dan mama Dini?” Doni mengklarifikasi.
“Iya, mereka kecelakaan dalam perjalanan ke bandara mau ke Jember. Dini dan Ardi tidak apa-apa karena mereka di mobil yang berbeda,” jelas Via.
“La—lalu kondisi om dan tante bagaimana? Kok Dini nggak cerita ke aku?” sesal Doni.
“Alhamdulillah kemarin sore sudah dioperasi dan tadi pagi sudah mulai membaik. Tinggal pemulihan. Soal Dini nggak cerita ke kamu, itu karena dia shock. Sampai tadi pagi sebelum aku datang, dia begitu ketakutan. Sementara Ardi fokus ke om dan tante. Ini aku baru datang dari rumah sakit memberi tahu Dini soal kondisi om dan tante,” kata Via.
“Sekarang Dini bagaimana?” Doni terdengar khawatir.
“Alhamdulillah sudah tenang. Nanti dia mau aku ajak ke rumah sakit. Nah, ni anaknya baru keluar dari kamar mandi. Din, ni calon suamimu telepon,” seru Via seolah Dini tidak tahu kalau Doni menelepon.
__ADS_1
Dini menghampiri Via dan menerima gawai miliknya.
“Aku tinggal dulu, ya! Jangan nangis di depan calon suami. Nanti Doni langsung terbang ke Medan,” canda Via.
Dini terkekeh. Ia pun asyik ngobrol dengan Doni begitu Via keluar kamar.
Satu jam kemudian, Dini keluar kamar menemui Via dan Bu Aisyah. Dia sudah rapi dan segar.
“Sudah siap. Din?” tanya Via.
“Sudah, Kak. Ayo, kita berangkat sekarang!” ajak Dini tak sabar.
“Ayolah! Tampaknya sudah tak sabar. Dari kemarin malah ngumpet,” ledek Via.
Dini tersenyum malu. Dalam hati ia menyesali kebodohannya.
Mereka kembali ke rumah sakit. Dini tampak tak sabar bertemu orang tuanya.
“Kak, beneran papa mama sudah baikan? Kakak nggak bohongin Dini, kan?” tanya Dini.
“Memangnya Kakak terlihat bohong?” tanya Via balik.
“O ya, Din, tadi Doni bilang apa? Dia mau ke sini?”
“Tadinya iya. Tapi aku melarangnya. Besok dia mulai kuliah.”
Via mengangguk-angguk. Dia menoleh ke adik sepupunya itu.
“Maaf, Din. Apa kalian nggak ingin segera menikah?” tanya Via hati-hati.
“Tentu saja ingin. Tapi, kami kan masih kuliah. Kami nggak ingin kuliah kami terhambat karena repot mengurusi rumah tangga.”
“Kan bisa tetap kuliah lancar meski sudah berumah tangga. Kakak juga nggak ada masalah, tuh. Ni Dek Azka juga. Dia belum menyelesaikan magisternya. Sementara Meli, istrinya juga belum kelar S-1. Mereka nggak mau terjebak hubungan terlarang.”
Dini tersentak. Ia menoleh ke Via dan menatapnya tajam.
“”Kami kan nggak kumpul kebo, nggak berzina, “ sahut Dini ketus.
Via menyadari kekeliruam ucapannya. Ia mengusap lengan Dini lembut.
“Maaf, maksud Kakak bukan begitu. Begini, Din, yang namanya tunangan kan belum sah secara agama dan negara. Selama kalian bertunangan, kalian kan saling merindukan, saling membayangkan. Bila bertemu, kalian menumpahkan rindu. Mungkin dengan pelukan, jalan bareng bergandengan tangan, dan sebagainya,” ucap Via lembut.
__ADS_1
“Itu kan sudah biasa. Bahkan banyak pasangan lebih dari itu. Ciuman dengan pacar juga biasa,” protes Dini.
“Biasa, tetapi bukan berarti dibenarkan agama. Hubungan yang seperti itu sama dengan mendekati zina, adikku. Kakak hanya mengingatkan, sih. Maaf, ya.”
“Tante minta maaf sebelumnya. Tante hanya ingin menyampaikan bahwa yang dikatakan kakakmu benar, Nak. Tante bukan membelanya karena dia anak Tante. Tapi yang jelas menikah itu jauh lebih indah daripada tunangan atau pun pacaran. Percayalah, pacaran setelah menikah itu lebih nikmat karena tidak ada kekhawatiran melampaui batas,” tambah Bu Aisyah.
Dini terdiam. Ia mencoba mencerna kata-kata Via dan Bu Aisyah.
Tak terasa perjalanan mereka telah sampai. Bu Aisyah menyuruh Via menemani Dini. Sementara sang bunda mengasuh Zayn di taman rumah sakit.
“Apa papa sudah bisa diajak ngobrol?” tanya Dini.
“Bukan hanya ngobrol. Bicara serius juga bisa. Memang mau membicarakan apa? Menghalalkan hubunganmu dengan Doni?” tanya Via sambil mengerling adik spupunya.
“Ih, Kak Via! Dini kan khawatir papa kenapa-kenapa,” ucap Dini sambil mengerucutkan bibirnya.
Via terkekeh melihat reaksi Dini. Sebelum sampai kamar perawatan Pak Candra, mata Via tertumbuk pada sosok cowok yang amat dikenalnya. Dia sedang asyik mengobrol kelihatannya. Benda kotak pipih dipegang di depan wajah. Bibirnya berulang kali ditarik membentuk senyum dan tawa.
“Lihat ke sana! Dia terlihat bahagia, bukan?” bisik Via sambil menunjuk cowok yang tengah melakukan video call.
“Bukankah itu Kak Azka? Sedang apa dia?” gumam Dini. Ia menghentikan langkahnya. Diperhatikannya cowok tersebut dengan tatapan menyelidik.
“Pasti sedang vicall Meli. Maklumlah, pengantin baru. Dia tu lagi pacaran. Bahagia, kan? Entah kapan saat mereka ketemu, tabungan rindu mereka pasti sudah menumpuk. Nah, untuk melepas rindu, meteka mau ngapain saja, terserah. Tidak akan ada masalah. Mau di rumah, di hotel, pokoknya bebas.”
“Ih, Kak Via nih. Kok sampai hotel segala.”
“Lo, kan bisa saja. Mungkin ingin privasi spesial,” ucap Via.
Dini terdiam. Otaknya berputar membayangkan ucapan Via.
“Nah, jadi baper kan? Ayo, jalan! Om dan tante pasti sudah menungngu,” ajak Via seraya menarik tangan Via.
Dini mengikuti langkah Via. Pikirannya masih dipenuhi saran Via. Menikah.
Bersambung
Maaf baru bisa up. Jangan lupa kunjungi novel Kak Indri Hapsari untuk mengetahui Meli, istri Azka.
Klik like, tinggalkan komen di karya kami. Terima kasih.
__ADS_1