SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Menginap di RS


__ADS_3

Via baru saja meminum obatnya. Dengan susah payah ia menahan agar tidak memutahkan lagi. Ia mempertahankan posisi duduknya.


Namun, mendadak rasa pusing menyergap. Sosok Farhan yang duduk di dekatnya perlahan kabur. Akhirnya, kesadarannya pun menghilang. Via tidak mendengar pekik kaget suaminya.


Farhan segera membetulkan posisi Via hingga berbaring. Kemudian, ayahnya memeriksa kondisi Via.


"Bagaimana, Yah?" tanya Farhan cemas.


"Insya Allah tidak apa-apa. Yang penting, Via bed rest, makan dan minum sesuai anjuran, juga minum obat."


Farhan sedikit lega mendengar penjelasan ayahnya. Ia mengusap kening Via yang masih panas.


“Assalamualaikum,” ucap seorang wanita dari balik pintu.


“Waalaikumsalam,” jawab Pak Haris sambil membuka pintu.”Bunda, Bu Inah, Mas Edi, kok bisa bareng?” tanya Pak Haris keheranan.


“Kebetulan tadi kami bertemu di lobi. Jadi, kami masuk ke sini bareng-bareng,” kata Bu Aisyah menerangkan. “Bagaimana kondisi putriku?”


Farhan bangkit dari duduknya menyambut yang baru datang. Ia mencium punggung tangan bundanya.


“Via habis makan dan minum obat, lalu pingsan. Insya Allah tidak mengkhawatirkan, sebentar lagi siuman.” Pak Haris menenangkan istrinya yang tampak cemas.


Bu Aisyah mendekat ke kepala Via dan menempelkan punggung tangannya ke kening Via.


“Masya Allah, panas banget. Berapa tadi suhunya?” tanya Bu Aisyah lagi.


“Waktu baru masuk IGD tadi hampir 40,” jawab Pak Haris.


“Kok bisa begini? Apa Via jajan sembarangan?” Bu Aisyah menatap tajam putra sulungnya.


“Maaf, Bunda. Farhan salah. Kemarin waktu Dek Via mengeluh mual, kami kira dia ngidam. Jadi, dia minta makan dan minum apa saja, kami turuti,” sesal Farhan.


“Memang Via minta apa saja?” Bu Aisyah penasaran.


“Bakso, siomay, rujak buah, jus mangga,” jawab Farhan lirih.


Bu Aisyah terlonjak kaget. Ia menggelengkan kepalanya.


“Saya juga salah, Nyonya. Saya ikut menyarankan Mas Farhan agar menuruti kemauan Mbak Via. Saya minta maaf,” ucap Bu Inah.


Pak Haris mendekat. Ia merangkul bahu Bu Aisyah.


“Sudahlah, tidak usah disesali, semua sudah terjadi. Sekarang fokus ke penyembuhan Via saja, ya,” saran Pak Haris bijaksana.


Mereka mengngguk-angguk. Pandangan mereka tertuju ke Via yang terbaring lemah. Tak lama kemudian, kelopak mata Via terbuka perlahan. Farhan segera mendekat.

__ADS_1


“Cinta, Cinta bisa dengar suara Mas?” bisik Farhan.


“Hub—biy, Via di—di mana? Pus—sing kepala Via,” rintih Via.


“Cinta di rumah sakit. Cinta harus istirahat total biar cepet sembuh. Tuh, ada ayah bunda, Bu Inah, juga Mas Edi. Makanya, Cinta harus semangat untuk sembuh, ya.”


Via mengerjap-ngerjapkan matanya. Pandangannya diedarkan ke seluruh ruangan. Kesadarannya perlahan mengumpul. Via mencoba melempar senyum ke semua orang dengan susah-payah.


“Via tadi sudah ketemu ayah, kan?” Via mengingat kejadian sebelum ia kehilangan kesadaran.


Pak Haris tersenyum dan mengangguk.


“Iya, tadi Ayah juga sempat meriksa kamu. Via banyak istirahat, ya!”


Via mengangguk lemah. Ia mencoba bangun dari posisinya. Namun, dengan sigap Farhan mencegah.


“Jangan bangun dulu! Cinta masih lemes gini. Buat tiduran dulu, ya,” bujuk Farhan.


Via menurut. Ia merasakan badannya seperti tak bertulang.


“Memang hasilnya seperti apa, Yah?” bisik Bu Aisyah.


Pak Haris mengambil stopmap yang ada di nakas. Ia menunjukkan catatan yang ada di situ. Bu Aisyah sesekali tampak mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala. Meski Bu Aisyah bukan tenaga medis, ia sedikit banyak tahu tentang catatan medis karena berlatar belakang pendidikan biologi.


“Iya, Bunda.”


Bu Inah menarik koper yang ia bawa. Ia menata pakaian Farhan dan Via dalam lemari yang tersedia di ruangan itu. Ia juga menata keperluan lain agar Farhan mudah menemukan saat memerlukan.


"Bu Inah pulang saja sama Mas Edi, ya. Biar saya yang nunggu Dek Via," kata Farhan.


"Iya, nanti ada saya yang menemani, kok," tambah Bu Aisyah.


"Memang Bunda sudah bawa baju ganti?" tanya Pak Haris.


"Sudah, dong! Tuh, di tas pakaian. Cuma dua stel punya Bunda dan dia stel punya Ayah," jawab Bu Aisyah sambil menunjuk tas pakaian yang ia bawa.


"Saya tetap di sini. Biar Bu Inah pulang bersama Pak Yudi," tolak Edi.


Akhirnya, hanya Bu Inah yang pulang bersama Pak Yudi. Edi tetap di rumah sakit meski hanya di teras. Ia menolak beristirahat di kamar yang tidak ditempati pasien.


Edi tetap berpegang pada tugas utamanya yaitu menjaga keselamatan Via. Secara diam-diam, ada bodyguard yang sebenarnya terus menjaga dari jarak agak jauh. Mereka bergantian sesuai jadwal.


Kala malam merayap menebar kesunyian, suasana rumah sakit pun lengang. Hanya satu dua orang yang masih berseliweran.


"Cinta istirahat, ya! Tidurlah!" Farhan membujuk Via yang masih terjaga.

__ADS_1


"Iya, Nak. Tidurlah, hari mulai larut. Kalau kau tidak segera tidur, kesembuhanmu juga terhambat. Kamu mau berlama-lama di rumah sakit?" Bu Aisyah menimpali.


Via pun memejamkan mata. Ia berusaha untuk tidur.


"Bunda juga istirahat. Yuk, kita pindah! Biarkan Farhan yang menjaga istrinya," ajak Pak Haris.


Bu Aisyah menurut. Ia mengikuti langkah suaminya setelah berpamitan dengan Farhan.


Pak Haris mengajak Bu Aisyah ke kamar khusus untuk dirinya. Biasanya, saat lembur Pak Haris menggunakan kamar itu untuk beristirahat.


"Ayah, kemarin Via bisa makan sembarangan gitu karena Farhan mengira istrinya ngidam. Apa ia sudah begitu berharap punya anak, ya?" gumam Bu Aisyah saat masuk kamar.


"Wajar kalau Farhan sudah ingin jadi ayah. Mereka menikah sudah sekitar 1,5 tahun dan hidup bersama hampir 6 bulan," kata Pak Haris.


"Bunda takut kalau Farhan begitu terobsesi dan menekan Via. Masalahnya, Via kan belum genap 20 tahun. Mungkin saja ia belum siap hamil."


Pak Haris tersenyum sambil menatap istrinya yang duduk di tepi tempat tidur.


"Coba besok Bunda ngobrol masalah anak. Bunda beri pengertian agar mereka ikhlas mengikuti skenario yang digariskan Allah saja," tutur Pak Haris lembut.


"O ya, Bunda nggak nyangka Farhan ternyata bisa romantis gitu, ya. Padahal, sebelum menikah kan kelihatan dingin," ujar Bu Aisyah sambil berdiri lalu mengambil baju ganti.


"Bunda baru tahu? Dia memang biasanya hanya saat berdua Via panggil mesra. Saat bersama orang lain panggil 'Dek Via'. "


Pak Haris tersenyum penuh arti. Ia mendekati istrinya yang tengah melepas jilbabnya.


"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Farhan tentu seperti kita, Ay," bisik Pak Haris.


Pipi Bu Aisyah menjadi merona. Ia tersenyum malu.


"Ih, kok pakai malu-malu gitu


Tapi aku suka. Jadi ingat dulu," kata Pak Haris sambil menarik lengan istrinya.


Bu Aisyah yang tidak siap pun kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung. Dengan sigap Pak Haris mendekapnya. Mereka pun berpelukan.


***


Bersambung


Maaf, author lagi sakit gigi jadi mungkin ada typo atau cerita yang kurang nyambung.


Tetep dukung Author, ya dengan klik gambar jempol, koment, juga vote. Author berusaha jawab komentar yang ada juga mengunjungi balik karya authors lain yang koment.


Terima kasih banyak untuk yang sudah memberi vote. Terima kasih juga kepada yang sudah meninggalkan jejak jempol dan koment.

__ADS_1


__ADS_2