
Sampai di halaman Eyang Probo, Farhan segera memarkir motornya. Baru saja sampai teras, Farhan mendengar suara mesin mobil dimatikan. Farhan menoleh. Ternyata eyangnya baru sampai rumah.
"Assalamualaikum, Eyang," ucap Farhan sambil mencium tangan eyangnya.
"Waalaikumsalam. Masuk dulu, yuk," ajak Eyang Probo.
Mereka berjalan beriringan ke dalam rumah.
"Ada apa? Sepertinya begitu penting?" tanya Eyang Probo langsung.
"Iya, Eyang. Ini menyangkut masa depan Kencana Grup," jawab Farhan.
"Ada apa dengan perusahaanku? Memang akhir-akhir ini ada penurunan. Tapi, masih batas wajar. Kan selalu ada pasang surutnya."
"Eyang jangan lengah! Wijaya Kusuma dulu juga begitu. Sebetulnya perlahan-lahan sudah digerogoti oleh musuh-musuh almarhum papa Wirawan. Karena almarhum kehilangan konsentrasi, beliau tidak menyadari hal itu."
"Maksud kamu, aku juga sedang diincar?"
"Bukannya sudah pernah kita bicarakan kalau Om Danu mulai mengincar Eyang?" Farhan balik bertanya.
"Iya. Tapi, aku belum melihat pergerakan berarti."
"Saat ini ada orang dalam yang berbahaya. Dia dulu pernah berulah di Wijaya Kusuma. Sayang, sebelum berhasil almarhum papa mengetahui dan memecatnya. Om Danu mengganti orang itu. Dan, orang itu sekarang menyusup di Kencana, Eyang."
"Siapa yang kamu maksud?"
"Salah satu manager Eyang, Feri Kurnia."
Eyang Probo terkejut. Ia tidak mengira salah satu managernya dicurigai sebagai pengkhianat.
"Kamu yakin? Kamu punya buktinya?"
"Yakin, Eyang. Bukti memang belum banyak. Besok Farhan akan menghubungi orang-orang Pak Chandra agar membantu mencari bukti-bukti keterlibatan Feri ini. Setidaknya, rekaman ini adalah bukti awal."
Farhan menunjukkan rekaman yang pernah ia ambil di kafe.
"Farhan yakin itu adalah Feri. Eyang bisa melihat jam tangan yang dipakainya. Farhan hafal dengan jam tangan itu. Postur tubuhnya juga sangat mirip."
__ADS_1
"Sebentar, tadi kamu bilang orang-orang Pak Chandra. Apa maksudmu?"
"Pak Chandra mengirim beberapa orang untuk membantu pemulihan Wijaya Kusuma. Bahkan, termasuk menjaga keselamatan kami. Di antara mereka ada pakar IT. Mereka mendeteksi adanya kebocoran data perusahaan. Farhan pun sebenarnya sudah mencurigai hal itu. Ini mengindikasikan lemahnya keamanan data. Mereka akan memperkuat keamanan data perusahaan. Kalau perlu, saya akan minta mereka memperkuat keamanan data Kencana."
"Bukannya Pak Chandra itu investor baru di Wijaya Kusuma?"
"Benar, Eyang. Sehari setelah Farhan menikah, menemui orang itu ke Jakarta bersama Dek Via dan Om Arman."
"Sejauh itukah yang dilakukan Pak Chandra?" Eyang Probo penasaran.
"Iya, Yang. Farhan juga heran dan sudah menanyakan kepada Om Andi."
"Bagaimana kata Andi?"
"Kata Om Andi, Pak Chandra bisa dipercaya. Yang beliau lakukan demi peningkatan Wijaya Kusuma. Untuk jangka pendek Pak Chandra belum berharap profit. Namun, beliau optimis profit besar menanti di tahun mendatang."
Eyang Probo mengerutkan keningnya. Tapi, orang tua itu tidak mendebat apa yang disampaikan cucunya.
"Apa kira-kira orang-orang Pak Chandra mau membantu Eyang?"
"Farhan yakin mereka mau. Biar Farhan yang menyampaikan."
"Kembali ke masalah Feri. Memang bukti-bukti belum banyak. Tapi, Farhan minta Eyang berhati-hati khususnya orang yang bernama Feri itu. Cek data-data penting dengan cermat, ada tidak data yang mencurigakan," pesan Farhan.
"Baik, Eyang mengerti."
"Kalau begitu, Farhan permisi dulu. Sekali lagi, Eyang harus waspada. Sudah ya, Eyang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah mencium punggung tangan eyangnya, Farhan melesatkan motor kembali ke kantor.
Sesampai di kantor, Farhan segera menghubungi Hendrik meminta informasi tentang Feri. Mereka sepakat untuk bertemu keesokan harinya di rumah Eyang Probo agar bisa membahas langkah yang akan diambil bersama Eyang Probo.
***
Saat matahari berada di atas ubun-ubun, tiga lelaki beda generasi tengah berbincang serius. Teriknya sinar sang surya tak menembus kesejukan ruang tamu rumah yang asri itu.
__ADS_1
Hendrik mengeluarkan laptopnya. Ia juga meletakkan setumpuk berkas.
"Maaf, Tuan Probo, kami lancang menyelidiki perusahaan Tuan. Hasil investigasi kami menunjukkan adanya keterkaitan antara Wijaya Kusuma dan Kencana. Keduanya menjadi target konspirasi Danu." Hendrik membuka pembicaraan.
"Iya, Mas. Saya yakin Eyang tidak keberatan. Bukan begitu, Eyang?" Farhan menanggapi.
Eyang Probo tersenyum. Masih ada keraguan di wajahnya.
"Tuan Probo, kami yakin Feri adalah orang yang dikirim oleh Danu cs untuk menyusup ke perusahaan Tuan. Ini bukti-bukti yang kami dapatkan," sambung Hendrik.
Eyang Probo mengamati rekaman video yang diputar Hendrik. Setelah itu, ia mencermati print out yang Hendrik sodorkan.
"Apa aku harus memecat Feri sekarang?" desis Eyang Probo.
"Sebaiknya jangan, Tuan. Kita perlu bermain cantik. Tuan pura-pura tidak tahu kelakuan orang itu."
"Lalu aku harus bagaimana?"
Hendrik menjelaskan panjang lebar tentang rencananya. Eyang Probo memperhatikan dengan cermat penjelasan Hendrik.
Sebenarnya, bukan hanya isi penjelasan Hendrik yang diperhatikan Eyang Probo. Orang tua itu juga mengamati ekspresi dan nada bicara Hendrik. Ia mengukur tingkat kejujuran anak muda yang tengah berbicara itu.
"Aku tidak menangkap kelicikan dari anak itu. Apa dia benar-benar jujur? Aku baru mengenal dia. Farhan juga. Tapi, yang ia katakan memang benar. Ah, aku ikuti saja sarannya. Namun, aku nggak boleh lengah."
"Bagaimana, Eyang? Apa Eyang bisa menerima yang disampaikan Mas Hendrik?" tanya Farhan.
"Ya, ya. Eyang paham. Ada baiknya kita coba. Kita kan harus bekerja sama dalam hal ini."
"Benar, Tuan. Antara Kencana dan Wijaya Kusuma harus saling mendukung. Tapi, jangan sampai dipublikasikan. Dan, awasi terus Feri," tambah Hendrik.
Eyang Probo mengangguk-angguk mengerti. Senyum tipis menghiasi bibirnya.
Setelah dirasa cukup, Farhan dan Hendrik berpamitan.
***
Bersambung
__ADS_1
Maaf, author cuma bisa up segitu. Ide terasa buntu.