SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Projek Azka


__ADS_3

Suara mobil yang memasuki halaman membuat Via mendongakkan kepalanya. Ia segera merapikan bajunya yang sedikit berantakan setelah memberikan ASI kepada Zayn.


Diangkatnya tubuh Zayn yang mulai berisi. Ia mendekati Bu Aisyah yang baru turun dari mobil.


“Assalamualaikum. Hai, anak sholeh yang ganteng! Wangi amat, nih. Eyang Uti jadi gemes, “ucap Bu Aisyah seraya mendekatkan wajahnya ke Zayn.


“Wangalaikumsalam, Eyang. Zayn kan udah mandi,” jawab Via dengan suara seperti anak kecil.


Zayn yang berada dalam gendongan Via tertawa-tawa. Tangannya meraih bros di jilbab neneknya.


“Waduh, lepasin bros Eyang Uti, Sayang. Itu ada penitinya. Zayn main yang lain, yuk!” kata Via sambil melepaskan tangan Zayn dari bros secara perlahan.


“Ini, Zayn main ini saja. Om Azka punya boneka bagus,” seru Azka yang sudah berada di belakang Bu Aisyah sambil memainkan boneka jari.


Akhirnya, Zayn melepaskan cengkeraman di bros neneknya. Perhatiannya beralih ke boneka jari di tangan Azka.


“Kalau begitu, Bunda mandi dulu, ya. Badan sudah terasa lengket, nih,” kata Bu Aisyah sambil melangkah ke dalam.


Azka mengambil alih Zayn. Ia memangku bayi lucu itu sambil duduk di kursi teras.


“Sudah ada kabar dari Meli?” tanya Via.


Azka menggeleng. Ia sendiri sebenarnya gelisah, mengkhawatirkan gadis itu.


“Paling baru berangkat dari Gubeng. Masih 3 jam lebih sampai Jember,” jawab Azka berusaha menampakkan ketenangan.


Mereka bermain-main dengan Zayn sambil membicarakan tentang Meli.Via merasa adik iparnya sudah mantap memperistri Meli.


“Sudah hampir maghrib. Sini, Zayn aku bawa masuk. Kamu bersiap-siap ke masjid!” ucap Via. Ia mengambil kembali Zayn dan membawanya ke dalam.


Habis maghrib, Farhan baru datang dari kantornya. Wajah lelahnya berganti kebahagiaan begitu melihat Zayn yang tengah duduk bermain boneka jari dengan bundanya.


“Assalamualaiku, Cinta, assalamualaikum kesayangan Ayah,”  ucap Farhan sambil mendekat ke ranjang.


Zayn menoleh ke ayahnya. Senyumnya mengembang begitu matanya menangkap sosok pria yang ia kenal sebagai ayah. Tangannya terulur minta digendong.


“Eh, Ayah belum mandi. Tunggu sebentar, ya! Ayah mandi dulu,” kata Farhan. Ia bergegas ke kamar mandi.


Melihat sang ayah meninggalkannya, Zayn menangis keras. Via menggendongnya sambil menyiapkan baju ganti untuk Farhan.


Farhan yang tak tega mendengar tangisan anaknya, mempercepat mandinya. Kurang dari 10 menit ia sudah keluar memakai jubah mandi. Ia pun menggendong Zayn meski belum memakai baju.


“Ayah ganti baju dulu, ya! Zayn sama Bunda sebentar,” bujuk Via.


Zayn menolak. Terpaksa Farhan mengurungkan niat memakai baju.


“Sudahlah, nggak papa. Zayn kangen ayah, ya? Seharian Zayn nggak ketemu ayah,” ujar Farhan sambil menatap wajah anaknya.


Via tersenyum melihat kedekatan ayah dan anak itu. Dia merasa bahagia sehingga tak pernah menyesali keputusannya menikah muda.


“Meli dan Anjani jadi naik kereta?” tanya Farhan.


“Iya, jadi. Tadi jam 10 lewat keretanya. Sebentar lagi tentu keretanya sampai Jember,” jawab Via.


“Mudah-mudahan selamat sampai rumah. Semoga juga dilancarkan rencana melamar Meli,” gumam Farhan.


“Aamiin. Eh, anak soleh ngantuk, ya? Sini bobok,” kata Via sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


Zayn menguap lagi. Ia menyambut uluran tangan bundanya. Akhirnya, anak itu terlepas dari gendongan ayahnya.


Farhan segera mengambil baju yang sudah Via siapkan. Sementara Via menidurkan Zayn sambil bersalawat dengan suara indahnya.


“Hubbiy, kayaknya ada yang kepengin menyusul Dek Azka dan Meli,” ucap Via dengan suara berbisik.


Farhan yang sudah selesai memakai baju mendekat ke ranjang dan merebahkan diri di sisi kanan Zayn.


“Menyusul? Mau lamaran? Siapa?” tanya Farhan bertubi-tubi dengan suara berbisik pula.


“Mas Rio dan Ratna. Tapi, Mas Rio sepertinya masih ragu kalau menikah dalam waktu dekat,” jawab Via dengan suara masih sama.


Via kemudian menceritakan kejadian saat  mereka makan siang. Farhan mendengarkan sambil sesekali tersenyum.


“Hhmm, semoga mereka dimudahkan jodohnya, dilancarkan niat baiknya, dilapangkan rizkinya,” ucap Farhan. Ia bangun dari posisinya.


“Aamiin,” sambung Via yang juga ikut bangun.


“Mas ke masjid dulu. Nanti kita sambung lagi.” Farhan mencium kening Via.


Sepeninggal Farhan, Via juga bersiap salat Isya berjamaah di musala keluarga. Setelah itu, ia bersama Bu Aisyah menyiapkan makan malam.


“Kalian menginap lagi saja, ya! Kesepian Bunda terasa banget kalau kalian pulang malam ini. Lagi pula, kasihan Zayn malam-malam dibawa bepergian meski naik mobil,” pinta Bu Aisyah sambil meletakkan mangkuk sayur.


“Via terserah ayah Zayn, Bunda.” Via menjawab diplomatis.


Bu Aisyah tersenyum. Ia senang akan kepatuhan Via terhadap Farhan.


Tak lama kemudian, Farhan pulang bersama Azka. Mereka langsung menuju ruang makan.


“Ayah belum selesai?” tanya Azka.


Benar saja. Sekitar lima menit berselang, Pak Haris masuk ruang makan. Pria itu langsung duduk dan mengambil potongan buah yang sudah disiapkan.


“Sudah ada kabar dari Meli, Ka?” tanya Pak Haris usai meneguk air putih.


“Belum. Azka juga belum mengecek HP Azka lagi. Paling nanti jam 8 lewat, Yah. Menurut jadwal, kereta sampai Jember jam 8.10. Sekarang belum ada jam 8,” sahut Azka santai


“Farhan, kalian nginap di sini lagi, ya! Bunda merasa sangat kesepian kalau kalian ikut pulang sekarang,” pinta Bu Aisyah dengan memasang wajah memelas.


Faehan menoleh ke Via. Ia meminta pendapat sang istri. Via hanya tersenyum.


“Baiklah, Bunda. Kami nginap di sini lagi,” kata Farhan pada akhirnya.


“Bunda, kayaknya ada yang bisa Azka proyek untuk ikut lamaran,” celetuk Azka.


Bu Aisyah menatap Azka. Yang ditatap hanya cengar-cengir tak jelas.


“Maksudmu, ada teman yang akan kamu ajak saat melamar Meli, begitu? Ingat, orang tua Meli belum memberi lampu hijau! Sabar, Ka!” ucap Bu Aisyah.


“Bukan begitu, Bunda. Maksud Azka, ada yang bisa Azka kompori agar ikutan melamar gadis,” jelas Azla.


“Ikutan siapa? Ikutan kamu? Kamu saja belum pasti,” cibir Farhan.


Azka cemberut mendengar ejekan kakaknya. Sementara kedua orang tuanya hanya terkekeh.


“Mas Farhan bukannya dukung adiknya malah ngrecokin,” sungut Azka.

__ADS_1


“Siapa bilang nggak dukung? Tapi, kamu kan belum melamar siapa pun,” sanggah Farhan.


“Sudah, sudah. Yang Azka maksud mau dikompori lamar gadis itu siapa?” Pak Haris melerai.


“Rio, Yah. Tapi, dia belum pede karena secara ekonomi pondasi belum kuat. Makanya, Azka mau minta tolong Mas Farhan sebagai bos,” tutur Azka.


“Kenapa tidak kamu saja sebagai sahabatnya?” Farhan terlihat acuh tak acuh.


Via menepuk paha Farhan. Ia menoleh dan memberikan tatapan  tajam sebagai isyarat tidak suka akan sikap suaminya.


“Mas Farhan kan bosnya Rio. Jadi, Mas Farhan lebih tepat dalam hal ini. Ya, kan?” sanggah Azka.


“Iya, Mbak juga insya Allah mau bantu sahabat Mbak kok.”


Azka menarik bibirnya membentuk senyum lebar. Jempolnya diacungkan ke Via.


“Tunggu! Via bilang sahabat. Maksud kalian siapa sebenarnya?” Bu Aisyah kebingungan.


“Ratna, Bunda. Sepertinya mereka berdua klik, seperti Dek Azka dan Meli,” jawab Via.


Azka tersenyum dengan muka memerah.


“Dari mana kalian menyimpulkan seperti itu?” tanya Bu Aisyah lagi.


Via kembali bercerita tentang kejadian saat makan siang. Bu Aisyah mengangguk-anggik paham.


“Bunda setuju kalau kalian bantu mereka,” ucap Bu Aisyah.


“Tuh, dengerin kata Bunda!” ejek Azka.


Farhan hanya tersenyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


“Ayah juga setuju. Sekarang, Ayah akan menyelesaikan laporan tahunan dulu,” kata Pak Haris sambil beranjak dari duduknya.


Azka mengekor ayahnya. Ia menuju kamar mengambil gawainya. Sementara Bu Aisyah dan Via membereskan meja makan dibantu Farhan.


Selesai beres-beres, mereka menuju ruang keluarga. Saat asyik ngobrol, terdengar teriakan Azka.


“Alhamdulillah, sudah sampai rumah.”


“Masya Allah, kok pakai teriak begitu, sih?”  tegur Farhan,


“Hehe... habis Azka lega mereka sudah sampai rumah.”


“Memang dari stasiun mereka naik apa? Taksi?” tanya Bu Aisyah.


“Kata Meli dijemput Kak Mario,” jawab Azka.


“Kak Mario? Berarti cowok. Jangan-jangan Meli sudah punya calon,” celetuk Farhan.


Dada Azka berdesir. Ia mengingat-ingat cerita Meli tentang orang-orang yang dekat dengannya. Namun, ia belum juga menemukan nama Mario. Jantung Azka semakin berdegup kencang.


*


Bersambung


Bagaimana Meli dan Anjani sepulang dari Jogja bisa Kakak baca di novel Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1. Jangan lupa selalu tinggalkan like dan koment di setiap episode, ya! Insya Allah kami akan mampir ke karya Kakak dengan meninggalkan jejak. Terima kasih kepada semua readers yang telah dan terus mendukung kami.

__ADS_1


O ya, besok kemungkinan tidak bisa terbit pagi. Maafkan aku, ya.



__ADS_2