
Begitu sampai bandara, Azka mendapat kejutan. Biasanya ia memesan ojol atau taksi. Kali ini, Pak Nono siap mengantarkan dia dan Ardi. Yang membuat Azka heran adalah adanya orang-orang yang mengawal mereka.
“Pak Nono, mereka body guard suruhan Mbak Via?” tanya Azka dalam perjalanan menuju rumah sakit.
“Iya, Mas,” jawab Pak Nono singkat.
“Tumben. Bukankah biasanya Mas Farhan dan Mbak Via tidak mau dikawal? Kalau pun dikawal, nggak mau terang-terangan?”
“Sudah sekitar dua minggu seperti ini. Kata Mbak Via, Mas Edi yang menyarankan.”
Azka mengangguk-ngguk. Kalau Mas Edi menyarankan dengan tegas, berarti ada sesuatu yang gawat.
Sesampai rumah saki, Azka megajak Ardi menuju ICU. Tampak Via, Farhan, dan Bu Aisyah duduk di depan ruangan.
“Assalamualaikum,” ucap Azka dan Ardi bersama.
“Waalaikumsalam,” jawab ketiganya.
Setelah bersalaman dengan Farhan dan Bu Aisyah, Azka menyuruh Ardi duduk.
“Memang papa Nak Ardi sudah sembuh? Kok ikut Azka ke sini?” tanya Bu Aisyah.
“Sembuh total jelas belum, Tante. Tapi, papa sudah bisa mengurus pekerjaan kantor tanpa bantuan orang lain. O ya, papa dan mama menitipkan salam untuk Kak Via beserta keluarga Jogja. Beliau minta maaf karena belum bisa ke sini.
“Waalaikumsalam. Terima kasih.” Via menjawab singkat.
Azka tampak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hal itu membuat Farhan memperhatikan adiknya.
“Cari apa, Dek?”
“Ayah. Apa ayah ada di dalam?”
“Iya. Tadi tiba-tiba tensi darah eyang kembali naik menjadi 180 Padahal sejak jam 10 sudah cukup stabil di kisaran 140,” kata Via menjelaskan.
Azka menunduk. Ia terlihat sangat sedih.
“Berdoa saja, Dek!” ucap Farhan.
Azka mengangguk lesu. Ia sebenarnya sudah sangat ingin menemui eyangnya.
Sekitar satu jam kemudian, dokter Haris keluar ruangan. Wajahnya tampak kelelahan.
“Bagaimana kondisi eyang, Yah?” tanya Azka tak sabar.
Pak Haris tidak langsung menjawab, justru membarikan pelukan kepada putra bungsunya.
“Alhamdulillah kamu sudah sampai. Eh, ada Nak Ardi juga,” ucap dokter Haris ramah.
Usai bertanya tentang kabar, dokter Haris menjelaskan kondisi eyang.
“Jadi, sekarang eyang sudah tidak disiplin menjaga pola makan?” Azka tampak kaget.
“Mungkin juga pola hidup sehat lain,” lanjut Bu Aisyah.
Azka menarik nafas panjang. Ia merasa bersalah karena tak lagi sering menengok eyangnya.
“Kamu istirahat di rumah, Ka. Nak Ardi juga,” perintah Bu Aisyah.
“Tapi, Azka ingin menjaga eyang,” tolak Azka.
“Biar malam ini Ayah dan Farhan yang menunggu. Besok, kamu dan Nak Ardi bolehlah menggantikan,” ujar dokter Haris, “Kalian kan baru datang, butuh istirahat.”
“Ya sudah, tapi, Azka pulangnya nanti malam bareng Meli. Ardi biar ikut Mbak Via,” sahut Azka.
“Meli? Di mana dia? Memang dia ke sini?” tanya Via.
Azka mengangguk. Wajah murungnya sedikit berubah.
__ADS_1
“Tapi nanti sore baru sampai. Ni masih dalam perjalanan. Azka nanti jemput Meli, ya Bun,” kata Azka.
“Iya, tapi nggak boleh bawa mobil sendiri,” jawab Bu Aisyah.
“Kenapa, sih? O ya, tadi kami juga dikawal waktu ke sini?”
“Kondisi sedang tidak kondusif. Kita ikuti saja saran Om Candra dan Mas Edi,” jawab Farhan.
“O ya, Azka dan Nak Ardi bisa lihat eyang. Tapi sebentar saja, ya!” Pak Haris memberi tahu.
Azka masuk bersama Ardi ke dalam ruangan. Setelah memakai baju dari petugas, mereka masuk ke ruang pasien.
Azka tampak berkaca-kaca melihat kondisi eyangnya. Tubuh tuanya tampak kurus dan lemah. Matanya terpejam rapat di wajah yang terlihat pucat.
“Cepat sembuh, Eyang. Azka ingin Eyang hadir pada acara wisuda Azka,” bisik Azka.
Setelah 5 menit, mereka keluar ruangan. Azka tampak tak bersemangat.
“Kita berdoa saja agar eyang segera sembuh. Kamu jangan seperti itu, Dek,” ucap Farhan.
Usai salat ashar, Via mengajak Ardi pulang ke rumahnya. Bu Aisyah masih bertahan menunggu kedatangan Meli.
Pukul 5 sore, Azka pergi ke bandara dengan diantar Pak Yudi. Ia masih sempat salat magrib di musala sebelum jadwal landing pesawat.
Azka menajamkan mata setelah mendengar pengumuman pesawat sudah mendarat. Meski baru beberapa kali bertemu Meli, perasaan sebagai suami sangat kuat. Ia begitu paham wanita yang telah resmi menjadi pendamping hidupnya.
Ia langsung mengenali Meli yang mengenakan gamis biru. Ia segera mendekat.
“Assalamualaikum, istriku,” ucap Azka lembut.
“Waalaikumsalam,” jawab Meli yang kemudian meraih tangan Azka. Diciumnya tangan sang suami.
Azka membimbing Meli keluar. Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Pak Yudi mengaspal menuju rumah sakit.
Ketika melihat mini market, Meli meminta berhenti. Ia minta izin berbelanja sebentar.
“Nggak usah. Meli cuma sebentar, kok,” kata Meli sambil bergegas turun. Ia berjalan cepat memasuki mini market.
Azka tetap mengikuti istrinya. Namun, Meli sepertinya tidak memedulikan Azka. Ia berjalan cepat dan memasukkan beberapa barang ke keranjang. Saat Azka ke kasir, beberapa belanjaan Meli sudah dimasukkan tas. Azka menyerahkan camilan yang ia ambil sekaligus membayar semua belanjaan. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Begitu sampai rumah sakit, Meli diajak menuju ICU. Bu Aisyah sudah menunggunya.
“Assalamualaikum, Bunda. Apa kabar?” ucap Meli sambil mencium tangan Bu Aisyah.
“Waalaikumsalam, Sayang. Alhamdulillah, Bunda sehat. Kamu juga sehat, kan?” balas Bu Aisyah.
“Iya, Bunda. O ya, salam dari ayah dan ibu,” kata Meli.
“Waalaikumsalam. Kamu mau menemui eyang? Azka, antarkan Meli ke dalam!” perintah Bu Aisyah,
Azka membimbing Meli masuk. Ia pun membantu istrinya mengenakan baju khusus.
“Assalamualaikum, Eyang. Ini Meli datang,” ucap Meli lirih.
Meli mengusap tangan kanan Eyang Probo. Tanpa diduga, jemari tangan Eyang Probo bergerak-gerak.
“Eyang, Eyang dengar suara Meli? Eyang, Meli ingin mengenal Eyang lebih dekat. Eyang mau, kan?” ucap Meli lagi.
Azka memperhatikan wajah eyangnya. Bibir eyangnya tampaksedikit tertarik seolah akan tersenyum.
“Lihat, Sayang! Eyang sepertinya merespon ucapanmu,” kata Azka, “Kamu teruslah mengajak Eyang bicara, aku akan memberi tahu dokter jaga.”
Azka bergerak cepat keluar. Kebetulan dokter Haris baru datang.
“Ayah, Eyang Probo ada respon. Dia seperti mau tersenyum. Jemarinya juga bergerak,” ucap Azka sedikit gugup.
Sang ayah segera masuk ke tempat perawatan yang Probo. Ia melihat putri menantunya sedang berbicara dengan lembut. Wajah Eyang Probo tampak berbeda. Ada ekspresi senang terlukis di wajah yang sudah keriput itu.
__ADS_1
Dokter Haris segera memeriksa kondisi sang ayah. Ia terlihat senang dengan perkembangan Eyang Probo.
“Alhamdulillah, ada perkembangan yang baik. Meli, tolong kau temani Eyang Probo. Kamu bisa cerita apa saja yang menyenangkan. Sepertinya Eyang Probo bahagia dengan kedatanganmu.”
Azka tersenyum lega. Ia mengusap bahu sang istri.
Sekitar 10 menit kemudian, mata Eyang Probo tampak mengerjap. Perlahan, kelopak matanya terbuka.
“Ayah! Ayah bisa mendengar suara Haris?” dokter Haris mendekatkan wajahnya ke kepala Eyang Probo.
Hanya anggukan lemah yang diberikan Eyang Probo. Namun, itu sudah membuat dokter Haris sedikit lega.
“Ini Meli datang dari Jember nengok Eyang. Semangat, ya! Meli kan ingin mengenal Eyang lebih dekat,” kata Azka.
Lagi-lagi kepala Eyang Probo mengangguk. Senyum pun merekah di bibir dokter Haris, Azka, dan Meli.
“Kalau begitu, Ayah istirahat lagi, ya! Haris akan memeriksa lebih lanjut kondisi Ayah. Meli biar pulang dulu. Kasihan, dia baru datang,” ucap dokter Haris lembut.
“Insya Allah besok pagi Meli ke sini lagi. Eyang istirahat, ya!’ Azka menambahkan.
Setelah melihat respon eyangnya, Azka dan Meli keluar. Bu Aisyah masih menunggu mereka di teras.
“Bunda, alhamdulillah Eyang Probo sudah sadar. Ia merespon ucapan Meli. Kata ayah, kondisinya sekarang stabil.” Azka menceritakan kondisi eyangnya.
“Alhamdulillah,” sahut Bu Aisyah lega. Ia mengusap wajahnya.
Mereka tampak bahagia meski Eyang Probo belum sembuh. Setidaknya, sudah ada harapan Eyang Probo membaik.
Bu Aisyah mengajak anak dan menantunya pulang untuk beristirahat. Mereka diantar Pak Yudi.
“Kamarmu bukan di situ. Ayo, ikut aku!” ajak Azka sambil menarik tangan Meli yang semula hendak ke kamar tamu.
Wajah Meli bersemu merah. Ia hanya mengikuti suaminya. Sementara Bu Aisyah tersenyum melihat kedekatan keduanya.
“Meli mandi dulu, ya. Sudah lengket, nih,” ujar Meli. Ia segera membongkar tasnya, mengambil baju ganti juga peralatan mandi.
“Besok lagi kalau ke Jogja nggak usah bawa baju dan peralatan mandi gitu. Sudah aku siapkan, kok.”
Azka menarik tangan Meli. Ia menunjukkan pakaian-pakaian wanita yang telah tersusun rapi. Meli hanya melongo. Ia tak mengira Azka sudah menyiapkan semua keperluannya.
“Dari mana Mas Azka tahu ukuranku?” desis Meli.
“Kamu lupa kalau aku memiliki kakak ipar yang luar biasa? Dia yang menyiapkan ini semua?”
“Maksud Mas Azka, Via?” tanya Meli.
Azka mengangguk, membenarkan tebakan sang istri.
“Dan kamu harus memanggil dia Mbak Via. Oke?”
“I—iya. Tapi, Meli masih susah,” kata Meli.
Azka tertawa. Diacaknya jilbab Meli karena gemas.
“Aku juga tadinya sulit. Dia tadinya kan adik angkatku. Setelah menikah dengan Mas Farhan, otomatis jadi kakak iparku dan aku harus memanggilnya Mbak Via. Sudah, sekarang mandilah! Aku juga mau mandi di kamar Mas Farhan,” kata Aska sambil melangkah meninggalkan Meli.
Meli menarik nafas lega karena ia tidak ditunggui Azka. Masih ada rasa gugup saat di dekat suami dan hanya berdua. Ia bergegas ke kamar mandi.
Waktu keluar kamar mandi, Azka ternyata sudah selesai. Pria itu duduk di ranjang sambil memainkan gawainya. Begitu menyadari Meli keluar kamar mandi, Azka meletakkan benda cerdas miliknya. Ia ganti menatap sang istri.
Ada debar halus menyapa.
***
Bersambung
Apa yang Azka dan Meli lakukan bersama? 🤔 Kalau ingin tahu, ikuti episode selanjutnya. Yang ingin tahu keluarga Meli dan teman-teman dia, silakan tengok novel kece karya Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1.
__ADS_1