SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bobo Bareng


__ADS_3

Azka bangkit dari ranjang. Ia berjalan mendekati Meli yang baru duduk di depan meja rias. Azka memposisikan diri di belakang Meli.


Perlahan tangan Azka terjulur meraih handuk yang membungkus rambut Meli. Dibukanya handuk itu hingga rambut basah Meli pun jatuh tergerai.


Azka menatap wajah istrinya yang terpampang di cermin. Ini adalah kali pertama Azka melihat Meli tanpa hijabnya. Cukup lama Azka menatap wajah cantik di cermin.


“Mas, kok dipegangin gitu handuknya. Itu mau Meli pakai buat ngeringin rambut. Ada hair dryer nggak?” ucap Meli.


“Ah iya, aku lupa. Hair dryer? Aku nggak pernah pakai hair dryer. Eh, tapi tunggu! Aku lihat dulu di laci,” sahut Azka sambil menarik laci di depan Meli.


“Itu ada!” seru Meli.


“Iya. Kakak iparku memang pengertian. Pasti dia yang menyiapkan.”


Meli menatap Azka, mencerna ucapan Azka. Ia makin mengenal sosok Via.


“Skin care yang ada di depanmu, itu Mbak Via yang beli. Makanya begitu melihat skin care, aku berpikir kemungkinan ada hair dryer,” lanjut Azka sambil mencolokkan hair dryer ke stop kontak. Dengan lembut, Azka mengeringkan rambut hitam Meli.


“Kok jadi Mas Azka yang melayani Meli?” desis Meli.


“Memangnya kenapa? Aku ingin  istriku nyaman bersamaku. Ini pertama kalinya kita bersama di kamar kita. Mungkin kamu masih canggung bersamaku,” ucap Azka sambil tersenyum.


Meli ikut tersenyum. Hatinya terasa dipenuhi bunga cantik bermekaran. Ia menikmati setiap senuhan Azka.


Azka mengambil sisir. Perlahan, disisirnya rambut Meli. Kemudian, ia kecup dengan lembut ubun-ubun sang istri.


“Sayang, apakah kamu sudah siap melakukannya malam ini?” bisik Azka ke telinga Meli.


Meli terkesiap. Tengkuknya mendadak terasa dingin meremang. Ada hantu? Tentu saja bukan. Ucapan Azka penyebabnya.


“Ma—maksud Mas Azka?” tanya Meli gugup.


“Maksud aku, kita melakukan ibadah  yang hanya bisa dilakukan suami istri. Tapi kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksa,” jelas Azka dengan suara bergetar.


Meli teringat ucapan ayah dan ibunya tadi pagi. Ia tidak boleh menolak kalau suami meminta kecuali ada alasan yang bisa dibenarkan secara syari.


“Mas, Meli....”  ucapan Meli terjeda.


“Katakan saja, Sayang,” bisik Azka seraya membelai rambut indah Meli.


“Mmm, tadi ayah dan ibu memang sudah pesan agar Meli tidak menolak ataupun membantah ucapan Mas Azka selama itu tidak melanggar syariat agama. Meli berniat seperti itu.”


Azka terus mengusap lembut kepala Meli. Sesekali ia menghirup wangi sampo yang dipakai Meli.


“Tapi, untuk yang itu Meli tidak bisa melakukannya malam ini. Maafkan Meli, Mas.”


“Kan tadi sudah kubilang, kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksa. Aku menunggu sampai kau siap,” sahut Azka.


“Bu—bukan begitu. Tapi, tadi Meli kedatangan tamu bulanan. Meli merasakannya saat kita keluar dari bandara. Makanya tadi Meli minta kita berhenti di mini market untyk beli pembalut,”tutur Meli malu-malu.


Azka tertawa kecil. Ada sedikit kecewa, tetapi ia tidak bisa apa-apa. Ia juga tak menyalahkan Meli.


“Anda belum beruntung, Azka,” bisik Azka dalam hati.


“Kalau begitu, kita makan malam lalu tidur. Okey?”


Azka mengajak Meli ke ruang makan. Rupanya Bu Aisyah tengah menyiapkan makan untuk mereka.


“Makan dulu! Kalian belum sempat makan dari tadi, kan?” kata Bu Aisyah.


“Maaf, Bunda, Meli malah tidak membantu Bunda,” sahut Meli malu.


“Tidak apa-apa. Bunda cuma menghangatkan saja, kok. Sudah, ayo duduk!” ajak Bu Aisyah.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Meli berperan melayani dua orang yang ia hormati. Ia mengambilkan nasi untuk ibu mertua dan suaminya. Bu Aisyah tersenyum melihat kesigapan Meli.


Entah karena lapar atau karena makan bersama istri, Azka menghabiskan lauk cukup banyak. Bu Aisyah hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kelakuan putra bungsunya.


Usai makan, Meli membereskan meja makan. Saat akan membawa piring kotor, Azka mencegahnya. Pria itu yang membawanya ke tempat cuci piring. Mereka pun mencuci piring bersama.


“Segeralah beristirahat setelah selesai beres-beres!” pesan Bu Aisyah sebelum meninggalkan keduanya.


“Iya, Bun,” jawab Azka.


Setelah memastikan sang bunda tidak berada di dekat mereka, Azka mulai menggoda Meli. Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Meli.


“Auw! Mas Azka jangan gini! Meli geli, ih!” pekik Meli tertahan, khawatir terdengar ibu mertuanya.


Azka terkekeh. Ia tidak melepaskan tangannya, hanya memindahkan ke atas.


“Mas Azka usil, deh! Bagaimana Meli mau menyelesaikan pekerjaan ini kalau Mas Azka main peluk?” protes Meli.


“Iya, deh. Sekarang kita selesaikan segera. Kita tunda pelukannya,” sahut Azka sambil melepaskan tangannya.


Dengan sigap Azka membilas piring dan sendok yang sudah dibersihkan Meli lalu menata di tempatnya. Meli tersenyum melihat keluwesan Azka.


“Sudah selesai. Yuk, ke kamar!” Azka melingkarkan tangan, merengkuh bahu Meli.


“Mas, nanti kalau ketahuan bunda, bagaimana? Malu, kan?” bisik Meli.


“Tenang saja! Cuma ada bunda di rumah ini selain kita. Bunda juga pernah muda, pasti maklum,” jawab Azka santai.


Meli tidak bisa membantah. Ia hanya bisa pasrah mengikuti kemauan Azka. Untunglah kekhawatiran Meli tidak terjadi. Bu Aisyah sudah masuk ke kamarnya.


“Meli mau gosok gigi dulu,”  ucap Meli.


Meli melepaskan tangan Azka dan bergegas ke kamar mandi. Sementara Azka menuju kamar mandi di kamar Farhan begitu melihat Meli masuk kamar mandi.


“Males, ah. Udah pengin bobok ganteng. Sini, Sayang!” Azka menepuk kasur sampingnya.


“Mas Azka gosok gigi dulu, ih. Meli mau pakai night cream dulu,” ujar Meli diikuti langkah ke meja rias.


Azka gemas melihat tingkah Meli. Ia bangkit dari ranjang dan mendekati istrinya yang tengah membersihkan wajah.


“Memang tiap malam begini?” bisik Azka sembari menempelkan pipi kanannya ke pipi kiri Meli.


Aroma mint tercium saat Azka bicara. Meli baru menyadari kalau suaminya sudah gosok gigi.


“I—iya, Mas. Memang kenapa?” tanya Meli balik.


“Nggak apa-apa. Pantesan kamu tambah cantik. Yang penting, jangan berdandan saat keluar rumah. Okey?”


Meli mengangguk. Diambilnya night cream, lalu dioleskan tipis-tipis ke kulit wajahnya.


“Mas Azka mau diolesi cream ini juga?” bisik Meli sambil terus menatap cermin.


“Enggak. Aku nggak suka kayak gitu,” jawab Azka tanpa mengubah posisi.


“Kalau gitu, ni pipi jangan di sini!” Meli menepuk wajah Azka.


Azka terkekeh lalu berdiri tegak. Ia menunggu Meli selesai mengoleskan night cream-nya.


Baru saja Meli berdiri dan memutar tubuh menghadap ranjang, tangan kekar Azka menyambarnya.


“Auw! Mas Azka ngapain? Turunkan Meli!” Meli meronta.


Azka tak memedulikan protes Meli. Ia mengangkat tubuh ramping Meli dan diletakkan di ranjang. Tangan kanan Azka mematikan saklar di dekatnya, mengganti lampu. Suasana kamar pun menjadi  remang-remang.

__ADS_1


Azka mengambil posisi di samping Meli. Ia melingkarkan tangannya ke tubuh sang istri. Dikecupnya pipi kiri Meli dengan lembut dan lama.


“Mas Azka nggak kecewa karena malam ini kita tidak bisa melakukannya?” bisik Meli.


“Melakukan apa?” tanya Azka pura-pura tak mengerti.


“Tauk ah!” Meli cemberut lalu menggeser posisinya membelakangi Azka.


Dengan cepat, tangan Azka membalikan tubuh Meli hingga menghadapnya. Kini, dua pasang mata itu saling tatap dalam jarak dekat. Jarak itu makin terkikis kala Azka mendekatkan wajahnya ke wajah Meli.


Desiran-desiran halus mereka rasakan. Irama jantung pun ikut memainkan jenis beat.


Azka memindahkan tangan kirinya ke kepala Meli. Diusapnya rambut Meli dengan lembut. Saat sampai tengkuk, tangan Azka menekan hingga wajah mereka beradu. Dua pasang organ bicara nan kenyal pun sudah menempel dan lekat.


Azka memulai permainannya. Dengan lembut, ia mel***t bibir Meli. Semakin lama kegiatan itu dilakukan, nafas mereka pun memburu.


Menyadari Meli seperti hampir kehabisan nafas, Azka melepaskan pa**tannya. Meli terlihat  kerepotan mengatur nafas yang terengah.


Azka tersenyum  karenanya. Tangannya kembali membelai rambut hitam istrinya. Sesekali, tangan itu berpindah ke pipi. Meli memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang Azka berikan.


“Tidurlah, istriku. Aku tidak ingin kehilangan kontrol. Insya Allah semua indah pada waktunya,” bisik Azka diikuti senyum manisnya.


“Mas Azka nggak marah sama Meli?” tanya Meli khawatir.


“Marah? Tentu saja enggak. Itu bukan salahmu. Allah pasti sudah membuat rencana yang indah untuk kita. Yakinlah itu!”


Meli mengangguk. Ia merasa lega mendengar jawaban Azka. Namun, ia belum bisa memejamkan mata. Kedekatan dengan suami untuk kali pertama bagi Meli menjadi hal yang mendebarkan.


“Kenapa? Belum ngantuk? Apa perlu aku nyanyikan lagu Nina Bobo?” tanya Azka.


“Enggak. Entahlah, kantuk itu belum datang.”


“Apa masih ingin memandangi wajah tampan suamimu?” ledek Azka.


“Ish, Mas Azka kepedean,” cibir Meli meski dalam hati membenarkan ucapan Azka.


Azka terkekeh. Ia gemas melihat bibir Meli saat mencebik. Ia pun kembali mendaratkan bibirnya ke bibir sang istri.


“Mas, kita beneran jadi pacaran halal, ya?” Meli cekikikan.


“Iya. Tahukah kamu kalau Mas Farhan dan Mbak Via harus menunggu hampir setahun untuk bersatu? “


“Setahun? “ Meli mengulang ucapan Azka. Ia mengingat-ingat cerita tentang Via.


“Iya. Aku masih lebih beruntung dibanding Mas Farhan. Kita baru berpisah beberapa minggu. Meski  sampai sekarang kita belum menikmati hubungan suami istri yang  utuh, paling tidak kita masih bisa bersama sewaktu –waktu. Kamu nggak nyesel, kan?” suara Azka mendadak berubah sendu.


“Tentu saja tidak. Biarlah kita nikmati hubungan kita seperti ini. Kita bisa saling belajar memahami karakter masing-masing karena kita belum lama kenal. Yang penting, kita saling percaya karena kita berjauhan,” jawab Meli bijak.


Azka tersenyum bahagia mendengar kalimat yang diucapkan Meli. Ia merasakan sisi kedewasaan seorang Meli yang ia kenal sering ceroboh.


“Sekarang, mari kita tidur. Biarkan aku memelukmu,” kata Azka.


Meli menurut. Ia membiarkan Azka mendekapnya hingga mereka bisa merasakan degup jantung pasangan mereka.


***


Bersambung


Ada yang kecewa? Maaf, ya! Aku jahat belum memberikan kesempatan kepada Azka dan Meli menikmati MP. Setidaknya sudah bobo bareng hehe....


Kunjungi novel kece Cinta Strata 1 karya Kak Indri Hapsari untuk tahu kehidupan Meli, ya! Jangan lupa untuk tetap dukung kami dengan meninggalkan jejak like dan komen di setiap episode. Sumbangan vote seikhlasnya, kalau rate minta bintang 5 hihihi....


Barakallahu fiik 🤲

__ADS_1



__ADS_2