SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Persiapan Akikah


__ADS_3

Via tengah menimang sang buah hati. Sejak bangun tidur siang, bayi mungil itu belum mau memejamkan mata Ia juga tidak mau diletakkan di boksnya.


Setiap kali Via meletakannya di boks, Baby Z menangis. Ia kembali terdiam saat Via menggendongnya. Rupanya, dekapan sang bunda terasa begitu nyaman baginya hingga ia tidak mau terlepas.


Farhan sebenarnya kasihan melihat istrinya menggendong bayinya. Namun, ia belum bisa menggendong bayi dengan kondisi tangannya yang belum pulih. Ia hanya bisa membantu Via makan. Dengan telaten, ia menyuapi Via yang tengah menggendong Baby Z.


"Capek, Sayang? Ah, sudah barang tentu capek. Sudah satu jam kamu menggendongnya. Apalagi kamu belum


terbiasa menggendong bayi. Maafkan aku yang tidak bisa membantumu," sesal Farhan.


"Sstt, jangan bicara seperti itu! Via bahagia, kok. Kayaknya nggak terasa capek, deh," ujar Via.


Farhan menatap Via dengan tatapan penuh kasih. Ia bangga dan bahagia memiliki Via sebagai pasangannya.Meski


usianya baru lepas dari belasan tahun, pikirannya sudah dewasa.


 


Jarang sekali keluhan keluar dari mulut Via. Ia juga tidak pernah membantah tegas perkataan Farhan.


Cobaan berat yang menimpanya mungkin membuat Via menjadi pribadi yang lebih tangguh. Selain itu, bimbingan dari sang bunda angkat, Bu Aisyah, membuatnya lebih mendekat kepada Sang Khalik.


"Via, kamu istirahatlah. Sini, biar Eyang Uti gantian menimang anak tampan ini," kata Bu Aisyah yang baru


saja masuk.


 


"Via nggak merasa capek, kok," sahut Via.


"Sudahlah, kamu mungkin nggak merasa capek karena  terbawa bahagia. Tapi, tubuhmu butuh istirahat.


Lagian Bunda juga ingin menimang cucu tampan ini," kata Bu Aisyah membantah penolakan Via.


Akhirnya, Via mengalah. Ia menepiskan sungkannya, menyerahkan Baby Z kepada Bu Aisyah. Pancaran kebahagiaan tampak jelas di mata mertua Via. Ia tersenyum kepada Baby Z yang matanya masih terbuka. Bayi mungil itu tetap diam dalam dekapan sang nenek.


"Uhh, menggemaskan sekali, sih? Eyang ingin mencium kamu, tapi entar kamu bangun Ya udah, Eyang Uti gendong kamu saja, ya!" ucap Bu Aisyah ditujukan kepada Baby Z.


"Anakmu anteng digendong gini. Kamu hebat, Via, baru punya anak sudah bisa menggendong dengan luwes," puji Bu Aisyah kepada sang menantu.


"Tadi pagi perawat di ruang peristi ajarin Via menggendong dan menyusui bayi," sahut Via.


Bu Aisyah tersenyum. Ia kembali memperhatikan cucunya.


"Kamu tidur saja! Siapa tahu nanti malam anakmu ngajak begadang," kata Bu Aisyah.


"Tapi Bunda ...." Via masih ragu.


"Nanti kalau dia bangun, Bunda bangunin kamu. Farhan, ajak istrimu beristirahat!" ucap Bu Aisyah tegas.


"Ayo, nurut saja sama yang sudah berpengalaman!" ajak Farhan.


Pria itu menarik tangan Via lembut. Ia merangkul istrinya dan membimbing ke kamar yang ada di sebelah kamar Baby Z.


"Ayolah, pejamkan matamu agar rileks! Mas juga mau istirahat," kata Farhan.


Mereka merebahkan tubuh ke atas ranjang king size. Rasa nyaman seketika tercipta saat punggung rata di atas kasur.


Farhan memiringkan tubuhnya. Ia memandangi istrinya.


"Ada apa, sih? Tadi nyuruh tidur? Kenapa sekarang malah ngliatin terus?" tegur Via lirih.

__ADS_1


"Masih kangen. Kita nggak ketemu dua minggu lebih, ngobatin kangen belum genap 4 hari," ujar Farhan lirih.


"Memang butuh berapa hari buat ngobatin kangen?" tanya Via dengan mata terpejam.


Farhan melukis senyum di bibirnya. Ia tidak peduli sang istri menikmati senyum manisnya atau tidak.


"Mas nggak mau sembuh...." ucapan Farhan terputus.


"Apa? Kenapa nggak mau sembuh? Maunya cedera gitu?" ucap Via.


Kini posisi mereka saling berhadapan. Via menatap tajam pria yang seranjang dengannya.


"Maksud Mas bukan nggak mau sembuh dari cedera. Mas nggak mau sembuh dari kangen kepadamu," kata Farhan.


Pipi Via menjadi kemerahan. Ia malu karena gombalan Farhan sekaligus malu karena salah sangka.


"Gombal!" desis Via.


"Tapi dari sutra, lo!' canda Farhan.


"Terserahlah! Via mau bobo, ah!"


Farhan terdiam. Ia tahu kalau dia masih menanggapi ucapan Via, ibu muda itu tidak jadi tidur dan yang ada mereka hanya mengobrol. Farhan merasa kasihan kalau Via kelelahan.


Belum ada satu jam tertidur, Via terbangun, Ia berdoa dan bergegas turun dari ranjang.


"Farhan ikut terbangun karena pergerakan istrinya. Ia menatap Via heran karena Via terlihat terburu-buru.


"Kenapa tergesa-gesa gitu?" tegur Farhan.


Pertanyaan Farhan sukses menghentikan langkah Via yang sudah di depan pintu penghubung ke kamar bayi.


"Dedek menangis," jawab Via singkat.


Sampai di kamar Baby Z, Farhan melihat Baby Z tengah Via susui. Bu Aisyah duduk di saming Via sambil memperhatikan anak menantu dan cucunya.


"Tadi Bunda baru saja akan membangunkanmu, ternyata malah sudah bangun duluan," ucap Bu Aisyah.


"Dedek menangis, Bun?" tanya Farhan.


"Iya. Mungkin lapar atau haus. Tuh lihat, dia kelihatan rakus," jawab Bu Aisyah.


Farhan tampak kebingungan. Ia tidak mendengar suara tangisan bayinya.


"Kok Farhan nggak denger, ya?"


"Via dengernya pakai hati. Suaranya memang belum keras," jawab Bu Ausyah.


Via tersenyum ala model iklan pasta gigi. Memang, tangisan  Baby Z belum keras. Karena ikatan batin seorang ibu membuat Via tahu anaknya menangis.


"Via, kamu sudah memberi tahu om kamu tentang kepulanganmu juga rencana akikah?" tanya Bu Aisyah.


"Masya Allah, Via lupa." Via berdiri bermaksud mengambil ponselnya di kamar.


Farhan tanggap. Ia memberi isyarat agar Via tetap duduk. Dia yang pergi ke kamar mengambil alat komunikasi Via.


"Ah, pas sekali Om Candra menelpon. Aku angkat, ya!" Farhan minta izin.


Melihat Via mengangguk, Farhan pun menggeser tombol hijau. Ia melihat wajah Pak Candra di layar.


"Assalamualaikum, Om. Kami baru saja mau menghubungi Om Candra, eh Om malah menelpon duluan," ucap Farhan.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. O ya? Kebetulan sekali. Mana Via?" sahut Pak Candra.


"Kamu tetap yang pegang HP, Han. Via sedang menyusui Dedek," kata Bu Aisyah.


Farhan mengubah setting  suara panggilan menjadi loud speaker. Lalu ia mengarahkan ke Via.


"Itu, lagi menyusui Baby Z, Om," jawab Farhan.


Via kembali emamerkan deretan gigi putihnya ke arah layar ponsel. Pak Candra ikut tersenyum.


"Alhamdulillah, cucuku sudah bisa menyusu langsung. Sepertinya kalian bukan di rumah sakit," ucap Pak Candra.


"Iya, Om. Kami baru pulang tadi selepas zuhur," jawab Farhan.


"Syukurlah. Kapan kalian akan mengadakan tasyakuran untuk cucuku?"


"Insya Allah kami membuat akikah 3 hari lagi. Om bisa datang?" tanya Farhan.


"Rencana Om, kami berangkat nanti siang bersama tante kalian juga Dini. Alhamdulillah, Dini sudah fit. O ya, Om ada kabar gembira. Pelaku di balik kecelakaanmu sudah ditangkap. Untuk motifnya, belum mengerucut ke jawaban pasti."


"Syukurlah. Berarti Farhan tidak perlu bersembunyi lagi, ya Om?" ujar Farhan.


Pak Candra tampak mengernyitkan kening. Ia tampak bingung dengan pertanyaan Farhan.


"Mas Edi menyarankan agar Farhan menyembunyikan diri, hanya keluarga dan orang tertentu yang tahu kalau Farhan masih hidup."


Pak Candra tertawa lebar. Ia paham yang Edi  khawatirkan.


"Sebaiknya kamu bicarakan dengan Edi bagaimana baiknya. Mengenai pelaku, nanti kalau Om sudah sampai situ akan Om ceritakan."


"Ya, Om. Mas Edi juga belum pulang. O ya, maaf Dek Via tidak bicara dengan Om Candra karena Dedek nggak mau lepas. Mungkin dia sedang menikmati dekapan bundanya."


"Iya, Om paham. Nanti kalau Om sudah sampai, kita bisa ngobrol sepuasnya. Om juga bisa ikut menggendong cucu Om. Ya sudah, Om mau siap-siap dulu. Sebentar lagi berangkat."


"Iya, Om. Kabari kalau pesawat sudah jelas waktu take off. Nanti biar Pak Yudi jemput Om."


"Baik. Om tutup, ya. Assalamualaikum."


""Waalaikumsalam."


Farhan meletakkan ponsel milik Via di atas nakas Baby Z. Ia menghampiri Baby Z yang kembali tertidur.


"Coba Baby letakkan pelan-pelan ke boks. Siapa tahu dia tetap tidur," saran Bu Aisyah dengan berbisik.


Via bangkit dari duduknya, lalu meletakkan bayinya dengan hati-hati. Kali ini, Baby Z tidak terbangun. Ia tetap tertidur dengan nyenyak.


"Kamu sudah menghubungi katering milik temanmu?" tanya Bu Aisyah kepada Farhan.


"Sudah, Bunda. Tadi sewaktu baru pulang, Farhan cari di boks kartu nama, Farhan temukan kartu namanya. Sudah Farhan hubungi pakai HP Dek Via," jawab Farhan.


"Sana siap? Kan agak mendadak," kata Bu Aisyah.


"Siap, Bunda. Mereka sudah biasa melayani pesanan akikah. Jadi, misal pesan H-1 pun bisa."


"Alhamdulillah. Kalian buat untuk karyawan kantor?"


"Insya Allah buat. Cuma, mereka tidak perlu diundang. Kita kirim makanan saja untuk mereka. Sekalian wujud syukur atas keselamatan Farhan."


Bu Aisyah mengangguk. Ia menyetujui pendapat Farhan.


"Untu pengaturan tempat, kamu serahkan ke Pak Nono dan Pak Yudi saja. Termasuk juga undangan untuk warga sekitar," usul Bu Aisyah.

__ADS_1


"Iya, Bun. Mas Farhan nggak usah ikut terjun langsung," kata Via menyetujui.


Via berpamitan untuk mandi. Farhan tetap berjaga di kamar Baby Z sedangkan Bu Aisyah pergi ke musala.


__ADS_2