
Farhan menyibak tirai berwarna biru muda. Sinar matahari pun menerobos masuk ke kamar menawarkan keceriaan untuk hari itu. Hari ketiga Via dirawat di rumah sakit.
Wajah Via tidak lagi tampak pucat. Apalagi saat itu ia sudah bersih dan segar.
Farhan menatap wajah Via yang tengah menonton siaran berita di televisi. Senyum tipis menghiasi bibir Farhan yang tidak pernah tersentuh rokok.
"Cinta sudah lapar? Kalau ingin makan yang tidak disajikan pihak rumah sakit, bilang saja! Nanti Mas belikan," kata Farhan.
"Memang kalau Via pengin makan bakso kuah, siomay, atau cilok, akan dibelikan?" Via mencebik.
Farhan tertawa memamerkan deretan gigi putihnya. Ia teringat waktu sebelum Via masuk rumah sakit.
"Memangnya Cinta betah di sini? Kalau iya, nanti Mas belikan yang Cinta mau. Bakso atau mi ayam pakai saos sama sambal yang banyak? Atau rujak buah yang pedas?" Farhan meledek Via.
Wanita berusia hampir 20 tahun itu ikut tertawa. Ia menggelengkan kepalanya.
"Nggak... nggak mau lama-lama di sini. Via sudah bosan, ingin pulang," desis Via.
"Makanya, Cinta mesti nurut. Mas bilang akan belikan yang Cinta mau, asal bukan makanan dan minuman pantangan. Mau bubur?"
"Bubur kacang hijau?" Via menarik bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman.
"Seperti dulu?" tanya Farhan.
"Seperti dulu? Maksud Hubbiy apa?" Via tak paham.
"Sudah lupa waktu dulu opname karena insiden penyerempetan?" Farhan memancing ingatan Via.
Via menggeleng. Ia belum mengerti maksud Farhan.
"Bukannya dulu ingin bubur kacang hijau, Ratna akan minta tolong teman kalian untuk membelikan? Lalu Mas datang membawa tiga cup bubur kacang hijau."
Via menepuk jidatnya. Ia ingat peristiwa itu.
"Kok bisa, ya? Kenapa bisa pas begitu, Hubbiy datang bawain yang Via inginkan?" gumam Via. Farhan masih bisa mendengarnya.
"Cinta ingin tahu?" Farhan bertanya sambil duduk di dekat Via.
"Memangnya Hubbiy punya feeling kuat?" kejar Via.
"Karena, Mas sudah nyuri dengar waktu kamu bilang ke Ratna kalau pengin bubur kacang hijau. Terus, Mas beli di tukang bubur yang mangkal dekat sini," jelas Farhan seraya terkekeh.
Via gemas. Jari tangannya dengan cepat mendarat di pinggang sang suami.
"Auw, lagi dong!" Farhan menggoda istrinya.
"Pantesan bisa pas gitu. Kirain kebetulan. Hufff, ternyata ada yang nguping," gerutu Via.
Farhan terkekeh. Sementara Via tersenyum.
"Berarti... waktu itu Hubbiy sudah perhatian sama Via, ya? Hayo, jujur!" ujar Via.
Farhan merengkuh tubuh Via ke dalam pelukannya. Ia mendekap erat istrinya.
"Iya, Mas akui sebenarnya sudah ada ketertarikan saat itu. Cuma, Mas belum yakin."
Via terkekeh mendengar pengakuan Farhan. Ia menjadi teringat masa-masa sebelum menikah.
"Lucu, ya?" gumam Via.
__ADS_1
Farhan melepaskan pelukannya. Ia memegang bahu Via dan menatap wajah sang istri.
"Apanya yang lucu?" tanya Farhan.
"Sikap Hubbiy waktu itu. Kadang terkesan perhatian, tapi lebih sering dingin," jelas Via.
"Kan udah pernah ngaku kalau sebenarnya dulu ada rasa takut," kata Farhan.
"Takut kenapa?" Via ganti yang bingung.
"Takut mencintai seorang wanita yang belum halal. Tapi, Mas cemburu kalau Cinta dekat dengan cowok lain. Mas nggak suka. Bawaannya pengin marah, bahkan kadang pengin nonjok orang itu," aku Farhan.
Via kembali tertawa mendengar pengakuan Farhan.
"Apalagi sama Doni. Cemburunya gak ketulungan," ledek Via,"Tiga kali marah gara-gara Via sama Doni. Yang terakhir hampir merusak honeymoon kita."
Farhan tersenyum malu lalu berkilah,"Itu artinya Mas beneran cinta Dek Novia Anggraeni."
Farhan mengecup kening Via lembut. Kemudian, hidung Farhan menyusuri wajah Via.
Kemesraan mereka buyar karena kedatangan perawat yang mengecek suhu dan tekanan darah Via.
"Suhunya 37,6 dan tekanan darah 95/70. Masih pusing?" Perawat itu membuat catatan.
"Sedikit," jawab Via singkat.
"Baik, sebentar lagi makan, ya! Saya permisi dulu."
Via mengangguk. Perawat yang masih terlihat muda itu beranjak pergi. Tak lama kemudian, petugas pengantar makanan datang.
"Cinta makan bubur ini dulu, ya. Nanti Mas belikan bubur kacang hijau kalau ayah sudah memeriksa."
Via menurut. Meski terasa pahit, ia berusaha menelan bubur yang disuapkan Farhan.
Farhan tidak memaksa. Ia mengambilkan segelas air putih.
"Minum obatnya nanti dulu. Sekarang masih mual. Sayang kalau ntar dimuntahkan lagi," kata Via.
Farhan meletakkan kembali gelas yang ia pegang. Baru saja gelas kembali ke atas meja, terdengar notifikasi panggilan masuk dari ponsel Via. Farhan pun segera mengambil benda pipih itu dan memberikan kepada istrinya.
Tanpa memperhatikan layar dengan cermat, Via menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Assalamualaikum," ucap Via.
"Waalaikumsalam. Apa kabar cucu Kakek yang cantik?" terdengar jawaban dari seberang.
"Eh, Kakek. Via baik, Kek. Kakek sendiri bagaimana?" Nada Via terdengar ceria .
"Alhamdulillah baik. Kok gelap? Kakek sedang video call, Sayang," kata Pak Adi.
Via kaget. Ia pun menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Maaf, Kek, Via tidak memperhatikan tadi," ucap Via sambil terkekeh.
"Mana suamimu? Di dekat kamu, nggak?" tanya Pak Adi.
"Ada. Itu dia," jawab Via sambil mengarahkan layar ponselnya ke Farhan.
"Assalamualaikum, Kek," ucap Farhan sambil tersenyum.
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Kalian ada di mana? Apa yang terjadi?" Pak Adi terdengar cemas.
"Di--di kamar, Kek," jawab Via gugup.
"Jangan bohong! Coba Kakek mau lihat sekeliling kamu. Tadi Kakek lihat ada botol infus," desak Pak Adi.
"Eee...a--anu Kek, Via di rumah sakit," jawab Via terbata.
"Sakit apa? Kenapa nggak ngabari Kakek? Sudah berapa hari?" Kakek memberondong dengan pertanyaan.
"Tifus, Kek. Ini hari ketiga. Kakek nggak usah khawatir. Ayah yang menangani Via, kok."
"Nggak. Kakek harus ke situ. Kakek tutup dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Via lemas.
"Kenapa? Kok lemes gitu?" Farhan mendekat.
"Kakek mau ke sini. Via sudah bikin kakek khawatir," sesal Via.
"Namanya juga kakek yang sangat sayang cucu. Semoga perjalanan kakek lancar," ucap Farhan menenangkan.
Via menarik nafas dalam-dalam. Ia kasihan kalau kakeknya jauh-jauh dari Jakarta untuk menengoknya.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan! Sekarang, Cinta minum obat dulu. Sebentar lagi ayah pasti ke sini," bujuk Farhan.
Via mengangguk. Dengan dibantu Farhan, ia menelan obat yang harus diminum pagi itu.
"Assalamualaikum." Terdengar suara orang mengucap salam dari balik pintu. Tak lama pintu kamar dibuka.
"Waalaikumsalam," jawab Via dan Farhan bersama.
Dokter Haris melangkah masuk diiringi beberapa perawat dan seorang dokter muda. Kemudian, ayah angkat sekaligus ayah mertua Via memeriksa kondisi Via. Ia juga memeriksa catatan medis Via.
"Bagaimana, Yah?" tanya Farhan tak sabar.
"Cukup bagus. Insya Allah tidak sampai seminggu bisa pulang. Tapi, Via harus disiplin menjaga asupan makanan dan minuman. Obat juga harus selalu diminum teratur. Nggak pengin makan yang aneh-aneh, kan?" Dokter Haris melirik Via sambil tersenyum.
Via tersenyum malu. Ia tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, Via istirahat lagi. Jangan kau ganggu, Han!" Dokter Haris menatap Farhan dengan tatapan tajam.
"Ih, apaan sih? Mana ada Farhan ganggu istri yang lagi sakit," gerutu Farhan.
Orang-orang tertawa mendengar ucapan ayah dan anak itu.
"Ayah lanjut memeriksa pasien lain. Bunda bilang nanti siang ke sini. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Rombongan dokter Haris keluar dari kamar Via. Baru saja orang-orang itu pergi, terdengar notifikasi panggilan dari ponsel Via lagi.
***
Bersambung
Siapa yang menelepon coba?
Jangan lupa tinggalkan jejak agar aku bisa kunjungi balik karya Kakak. Krisan juga.
__ADS_1
Sambil nunggu up lagi kunjungi novel keren ini, yuk! Siapkan sapu tangan ya!