SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Berkenalan


__ADS_3

Azka bersama Bu Aisyah menuju lift. Cowok itu menekan angka 2. Begitu lift terbuka, seorang gadis berdiri tepat di depan pintu. Baik Azka maupun gadis itu sama-sama terkejut.


“Mm—mas Azka,” desis gadis itu.


“Kau mau ke mana?”  tanya Azka.


“Mau cari Mas Azka. Aku  mau pamit. Tadi kutelepon, tak diangkat,” jawabnya.


Azka meraba sakunya. Lalu, ia menepuk dahinya.


“Masya Allah, HP-ku tertinggal di kamar. O iya, kenalkan ini bundaku,” kata Azka.


Gadis itu meraih tangan Bu Aisyah dan menciumnya dengan takzim.


“Assalamualaikum, “ sapa gadis itu.


“Waalaikumsalam. Bisa kita berbincang di kamarmu?” sahut Bu Aisyah.


Gadis itu mengangguk. Ia membalikkan badan dan mengajak Bu Aisyah ke kamarnya.


“Azka, ambil dulu HP kamu. Barang kali ada pesan atau telepon penting!” perintah Bu Aisyah.


Azka menautkan alis. Rasanya perintah Bu Aisyah begitu aneh.


“Aku kok jadi curiga sama bunda. Tumben-tumbenan antusias gitu sama cewek yang belum dikenal. Aku saja belum kenal jauh,” batin Azka.


“Ngapain bengong? Sudah, sana!” usir Bu Aisyah.


Meski dalam hati merasa ada yang janggal, Azka mengikuti perintah sang bunda. Ia kembali masuk lift. Sebelum pintu lift benar-benar menutup Azka terus memperhatikan bundanya bersama teman baru.


“Namamu siapa, Nak?” tanya Bu Aisyah begitu mereka masuk kamar.


“Meli, Bu. Lengkapnya Meli Syahrani,” jawab gadis di depan Bu Aisyah.


“Oh, Meli dari mana?”


“Jember, Bu.”


“Ini baru pertama kali buat kamu datang ke Jogja?”


Meli menggeleng. Ia mempersilakan Bu Aisyah duduk di sofa.


“Saya sudah pernah datang ke Jogja, ke resepsi teman. Tapi, waktu itu nggak sendirian. Yang dituju sebuah hotel bintang 5. Turun dari kereta, kami tinggal naik taksi ke hotel.”


“Kali ini kamu sendirian?” tanya Bu Aisyah lagi.


“Iya, Bu. Dan alamat teman saya hilang. Saya dapatnya kan waktu dia telepon. Saya mencatat di kertas, disimpan di dompet, lalu dompet saya hilang. Untunglah ketemu Mas Azka ketika saya sedang kebingungan,” jelas Meli.


Bu Aisyah mengangguk-angguk. Ia menatap Meli  tak berkedip dalam waktu cukup lama. Tentu saja gadis itu menjadi salah tingkah.


“Aduh, Bu, jangan tatap aku seperti itu! Rasanya aku seperti sedang menghadapi calon mertua nih. Eh, emang calon mertua kayak gini sikapnya? Kalau memang aku mau dijadikan menantu, aku nggak nolak, kok. Mas Azka cakep gitu. Haish, mikir apa aku ini?”


“Meli masih kuliah?” Bu Aisyah mengajukan pertanyaan untuk kesekian kalinya.


“Iya, Bu. Ambil ekonomi,” jawab Meli.


Bu Aisyah menatap Meli dengan intens lagi. Sepertinya bunda Azka sedang menyelidiki Meli.


“Ada apa, Bu? Ada yang salah dengan baju Meli?” tanya Meli menghilangkan grogi.


Bu Aisyah menggeleng sambil tersenyum. Ia masih terus menatap Meli.


“Ibu ingin sekali punya anak perempuan. Beberapa tahun yang lalu, Ibu mengangkat murid Ibu menjadi anak angkat Ibu. Dia ditinggal kedua orang tuanya. Tapi, sekarang ia sudah tidak tinggal bersama Ibu lagi,” keluh Bu Aisyah.


“Oh, kenapa Bu? Dia menemukan orang tuanya?” tanya Meli penasaran.

__ADS_1


Bu Aisyah menggeleng lalu menjawab, “Bukan, orang tuanya sudah meninggal.”


“Lalu?” kejar Meli.


“Ia sudah menikah. Dia tinggal bersama suaminya. Sekarang, ia menjadi menantu Ibu karena suaminya putra Ibu. Tapi, mereka tinggal di rumah peninggalan orang tuanya.”


“Oh, jadi Mas Azka sudah menikah? Yah, pupus sudah harapanku dapat jodoh dari Kota Gudeg. Ambyaaarr...”


“Mas Azka dan putri angkat Ibu tidak tinggal di Jogja?” tanya Meli.  Semangat keponya sudah mulai luntur.


“Via, putri Ibu, tinggal di Jogja juga. Tapi, tidak setiap hari mengunjungi Ibu. Sekarang, Ibu tinggal berdua dengan suami Ibu. Kadang-kadang sih kumpul. Tapi, itu jarang sekali. Putra bungsu Ibu sedang menyelesaikan S-2 di Medan. Belum tentu sebulan sekali dia pulang karena ia membantu mengurus perkebunan,” lanjut Bu Aisyah.


Meli mengangguk-angguk.  Dia tidak lagi berminat menanyakan apa pun kepada Bu Aisyah.


“Meli sejak kapan berhijab?” Bu Aisyah kembali menanyai Meli.


“Belum lama, Bu. Sejak semester 3.”


“Oh, begitu. Yang penting, jangan bongkar pasang. Sekarang pakai jilbab besar, bulan depan ganti pakai baju seksi. Eh, maaf. Ibu kok ngelantur. Ibu senang lihat gadis yang berhijab dan konsisten dengan hijabnya. Putri Ibu juga begitu. Begitu berhijrah, ia tak pernah menanggalkan jilbab saat harus bertemu lelaki yang bukan mahram,” tutur Bu Aisyah.


Meli mengangguk. Kini, ia merasa nyaman ngobrol dengan Bu Aisyah.


Obrolan mereka terhenti saat terdengar pintu diketuk. Meli bangkit dari duduknya untuk membuka pintu.


“Eh, Mas Azka. Cari Bunda ya?”


“Enggak. Ngapain cari-cari? Udah tahu bundaku di sini, kok,” jawab Azka cuek.


“Terus, ngapain kalau nggak nyari bunda?” tanya Meli lagi.


“Mau ketemu sama bunda juga kamu.” Azka melangkah santai melewati Meli.


“Dasar cowok ajaib!”


Azka duduk di samping Bu Aisyah. Sang bunda tersenyum penuh arti sambil melirik Azka.


“Maumu apa lagi?” Bu Aisyah balik bertanya.


“Loh, Azka kan nurut sama Bunda.” Azka menyandarkan kepalanya ke bahu sang bunda.


Meli memandang keduanya penuh keheranan. Baginya, aneh sekali ada pria dewasa begitu manja kepada ibunya.


“Ih, udah beristri masih manja gitu. Gimana perasaan istrinya, ya?”


“Anterin Meli ke tempat temannya, tuh! Sebelumnya, ke kantor polisi dulu!” perintah Bu Aisyah.


Azka mengangkat kepalanya. Ia terlihat bingung.


“Ke kantor polisi? Ngapain? Dia kan nggak ilang? Orang tuanya juga nggak nyari,” ucap Azka.


“Sembarangan kalau ngomong. Lapor kalau kehilangan dompet beserta isinya. Kartu apa saja yang hilang, begitu. Untuk ngurus kartu yang baru kan harus ada surat keterangan dari kepolisian,”papar Bu Aisyah seraya menoyor kepala Azka.


“Oh gitu. Untungnya bukan dompet beserta pemiliknya,” gumam Azka lirih tetapi masih dapat didengar Bu Aisyah dan Meli.


“Pemiliknya kan kamu temukan,” celetuk Meli.


“Ah, kau benar. Kalau pemiliknya hilang, yang lapor bapaknya,” sahut Azka.


“Sudah, sana! Kalau perlu ke bank, ya sekalian diantar,” lanjut Bu Aisyah.


“Ngapain ke bank? Gadein dia?” tanya Azka dengan gaya sok polos.


“Mas Azka ngawur!” pekik Meli gemas.


Azka terkekeh. Ia mengajak Meli pergi.

__ADS_1


“Hei, masa Bunda ditinggal begitu saja? Anak macam apa sih?” Bu Aisyah mengomel.


“Eh iya, lupa. Ayo, Bunda! Bunda ikut juga ke kantor polisi? Awas, lo, ntar Bunda ditangkap karena mencuri,” canda Azka. Ia memberi kode kepada Meli untuk mengunci pintu.


“Memangnya Bunda anak kecil, pakai ditakut-takuti? Bunda nyuri apa? Dompet kamu?” sungut Bu Aisyah.


“Mencuri hati Ayah,” sahut Azka diikuti gelak tawanya.


Bu Aisyah dan Meli ikut tertawa. Bersama orang somplak, biasanya terbawa somplak.


Sesampai di depan lift, mereka berpisah. Azka dan Meli memilih turun, Bu Aisyah naik ke kamarnya.


“Habis dari kantor polisi, kita ke mana? Ada ATM yang hilang?” tanya Azka.


Meli mengangguk. Ia memberi tahu nama bank tempatnya membuka rekening.


Dengan senang hati, Azka mengantar Meli mengurus segala sesuatu akibat kehilangan isi dompetnya. Hampir 3 jam urusan mereka baru selesai.


“Kita ke mana lagi?” tanya Azka.


“Mas Azka keberatan nggak kalau ngaterin aku ke ruko? Temanku berhasil kuhubungi. Sejak tadi malam ternyata HP-nya low bat, sama sepertiku. Dia tidak menyadari karena disimpan di tas, ia sendiri sibuk karena lagi banyak tamu,” kata Meli.


“Yang beginian ni model Ratna, sering ceroboh. Sekarang tambah lagi makhluk ceroboh yang kukenal.” Azka teringat Ratna.


“Kalau Mas Azka keberatan, aku biar naik taksi saja.” Meli merasa tak enak karena Azka hanya diam.


“Memang punya cukup uang buat bayar taksi?” ejek Azka.


“Kan sudah punya kartu yang baru, bisa nggesek,” tangkis Meli.


“Iya, iya. Tapi, aku nggak keberatan anterin kamu, kok,” ucap Azka,”Mana alamatnya?”


“Beneran? Istrimu nggak nyari?” tanya Meli khawatir.


Azka melotot. Ia heran tiba-tiba Meli mengira dia mempunyai istri.


“Kok bisa kamu mengira aku sudah punya istri?”


“Kata bundamu. Dia tadi cerita sempat punya putri angkat terus menikah sama putra kandungnya.”


Azka tergelak mendengar penjelasan Meli


“Itu Mas Farhan, kakakku. Ia baru saja dikaruniai momongan. Kebetulan cowok. Jadi, keinginan bunda menimang bayi cewek belum terkabul.”


“Hah? Ternyata bukan dia yang sudah menikah. Berarti aku masih punya kesempatan dong. Harapanku tak jadi ambyar, nih. Anjani, mari kita bersaing mendapatkan jodoh.”


Tanpa sadar Meli tersenyum. Hal itu tak luput dari pehatian Azka.


“Kok senyum-senyum sendiri? Apanya yang lucu?” tanya Azka.


“Eh, siapa yang senyum?” Meli mencoba mengelak.


“Kalau bibir membuat lengkungan, pipi ditarik, gigi sedikit terlihat, itu namanya apa?”


“Tau ah. Ni beneran mau ngantar aku? Ni alamatnya.” Meli mengalihkan pembicaraan dengan menunjukkan pesan singkat dari temannya.


Azka menyuruh Meli mengenakan seat belt-nya. Perlahan, Azka mulai melajukan mobil milik bundanya.


***


Bersambung


Yang ingin tahu siapa Meli, temannya Anjani, silakan baca novel Cinta Strata 1 karya Kak Indri Hapsari.


__ADS_1


Tunggu kelanjutannya, ya! Apakah Azka menyukai Meli? Salsa gimana, dong? Ikuti terus, yuk! Biar aku semangat, klik like dan tinggalkan koment, ya!


__ADS_2