
Matahari sudah menebar senyum sejak beberapa menit yang lalu. Bunga-bunga di taman kecil milik Bu Aisyah tampak segar setelah mendapat siraman air dari gadis cantik.
Selesai menyiram bunga-bunga yang ada di taman, Via duduk di ayunan. Ia tampak menikmati keindahan bunga-bunga yang tengah mekar. Sambil memejamkan mata, sesekali dihirupnya aroma mawar yang semerbak mendominasi aroma yang ada.
Setelah beberapa menit, Via beranjak dari ayunan lalu mengambil sebuah buku yang ia letakkan di meja yang terbuat dari akar pohon. Via kembali ke ayunan dan mulai membolak-balik lembaran buku sambil bermain ayunan.
Ia begitu asyik membaca buku bersampul merah itu. Begitu asyiknya, ia tidak menyadari ada seseorang yang memperhatikannya dari tadi. Bahkan, ia masih belum menyadari saat orang itu mendekat.
"Dek Via," suara panggilan pun belum membuyarkan keasyikan Via. Matanya masih menatap tulisan pada buku yang dipegangnya.
"Ni anak baca apa, sih? Kok sampai tidak dengar aku panggil?"
"Dek Via," panggilnya dengan suara yang lebih keras.
"Iyaaa!" tanpa sadar Via menjawab dengan berteriak.
"Nggak usah berteriak gitulah. Aku dengar, kok. Aku nggak tuli. Kamu tuh yang dipanggil nggak nyahut."
"Eh, Mas Farhan. Maaf, Via nggak tahu," kata Via sambil menunduk malu.
"Baca apa, sih? Begitu konsentrasi sampai nggak denger aku panggil. Kalau ada bom meledak di sini, ga bisa menyelamatkan diri."
"Emm, lagi baca buku. Maaf, Mas."
"Buku apa?"
"Fiqih Wanita. Via lagi baca tentang thoharoh."
"Oh."
"Ni kulkas, tadi ngomel-ngomel, sekarang mulai deh beku," gerutu Via dalam hati.
"Dicari bunda."
"Ada apa, Mas? Bunda di mana?"
Farhan hanya mengangkat bahu lalu pergi meninggalkan Via. Ia kembali masuk ke dalam rumah.
Via pun turun dari ayunan. Ia menyusul langkah Farhan.
"Huh, kulkas...kulkas. Ditanya baik-baik malah ngeloyor pergi. Eh, bunda ngapain nyari aku? Astaghfirullah hal adzim, aku harusnya bantu nyiapin sarapan, kenapa sampai lupa?" bisik Via sambil menepuk jidatnya.
__ADS_1
Ketika akan masuk, Via mendengar suara Bu Aisyah.
"Lho, mana Via? Kok nggak bareng kamu? Kan Bunda suruh manggil Via."
"Astaghfirullah hal adzim. Sebentar, Bun," ucap Farhan. Saat membalikkan badan, ia langsung beradu pandang dengan orang yang akan ia panggil.
"Ni orangnya, Bun," kata Farhan sambil mengambil posisi di kursi makan.
"Oh, tadi si kulkas disuruh bunda panggil aku ternyata. Kenapa dia nggak bilang? Kayaknya konslet nih," batin Via.
"Kamu ke mana? Habis masak kok terus menghilang?" tanya Bu Aisyah.
"Nyirami bunga, Bun. Habis itu, kesyikan baca buku."
"Ya sudah, sini! Kita sarapan bareng."
Via duduk di dekat Bu Aisyah dan Azka. Setelah Bu Aisyah mengambilkan nasi untuk suami dan dirinya, barulah yang lain ikut mengambil nasi. Tak lama kemudian, suasana hening. Hanya sesekali benturan sendok dan piring terdengar lirih.
Setelah menghabiskan makanan di piring, Pak Haris membuka pembicaraan.
"Nanti malam Pak Andi mau ke sini, Via. Ada yang mau dibicarakan sama kamu."
Via menghentikan sejenak aktivitas makannya. Ia menyimak pembicaraan ayah angkatnya.
Via hanya mengangguk. Ia belum siap sepenuhnya untuk ikut memikirkan perusahaan almarhum papanya.
Sementara itu, Farhan dan Azka buru-buru menghabiskan sarapan mereka. Minum pun hanya sedikit. Lalu, mereka bergegas meninggalkan ruang makan.
"Farhan mau ke kamar ngecek laporan. Assalamualaikum."
"Azka ke garasi dulu, Yah, Bun. Motor Azka harus ganti oli. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Pak Haris, Bu Aisyah, juga Via serentak.
Farhan dan Azka pun meninggalkan ruang makan. Sepertinya mereka berdua enggan terlibat dalam pembicaraan ayah mereka.
"Via, apa kamu menginginkan perusahaan papamu bangkit? Setidaknya bisa beroperasi dengan baik meski tidak sehebat dulu?" tanya Pak Haris.
"Iya, Ayah. Via bukan melihat dari sisi besarnya profit yang akan Via dapat. Via merasa sayang kalau hasil perjuangan papa lenyap begitu saja." Suara Via terdengar bergetar. Bayangan masa kejayaan PT Wijaya Kusuma melintas di benaknya. Kesedihan menyergap hati Via saat bayangan itu melintas.
"Maaf, Via, bukan maksud Ayah mengungkit yang telah silam. Tapi, ini menyangkut masa depan perusahaan yang didirikan almarhum papamu."
__ADS_1
"Iya, Ayah. Via ngerti."
"Nanti kamu ikut menemui Pak Andi, ya," kata Bu Aisyah.
Via hanya mengangguk. Ia berusaha menata perasaannya.
"Bantu Bunda membereskan meja makan, yuk!" ajak Bu Aisyah untuk mengalihkan pembicaraan.
Via berdiri dan membawa piring dan gelas kotor ke belakang. Ia pun sibuk mencuci peralatan makan yang baru digunakan.
Selesai beres-beres, Via ke kamar. Sebelumnya, ia mengambil buku yang tadi ia baca. Saat melewati depan kamar Farhan, kebetulan pintu kamarnya tidak tertutup sepenuhnya. Via melihat cowok itu tengah duduk termenung di atas tempat tidurnya.
"Lho, bukannya si kulkas bilang mau ngecek laporan? Kok sepertinya malah melamun. Ah, bodo amat."
Via melanjutkan langkahnya ke kamar. Ia meletakkan buku tentang fiqih di meja belajar.
Saat malam belum terlalu larut, sebuah minibus memasuki halaman rumah dokter Haris. Tak lama kemudian Pak Andi turun dari mobil disusul seorang cowok.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju teras. Baru saja tangan Pak Andi akan memencet bel, pintu dibuka dari dalam.
"Assalamualaikum," ucap Pak Andi begitu melihat tuan rumah .
"Waalaikumsalam, masuklah."
"Terima kasih, Mas."
Mereka berdua pun masuk dan duduk di ruang tamu.
"Ini keponakan saya. Namanya Surya."
Cowok yang duduk di sebelah Pak Andi mengangguk dan tersenyum. Sementara dokter Haris sedikit terkejut melihat cowok yang bernama Surya. Namun, Pak Haris berusaha menutupi.
"Sebentar, aku panggil istriku dulu."
Pak Haris beranjak masuk. Hanya sebentar. Ia pun kembali menemui kedua tamunya
***
**Bersambung
Apa ya yang membuat Pak Haris terkejut? Boleh tebak deh! 😄
__ADS_1
Nantikan episode selanjutnya, ya! Mohon maaf, belum bisa kasih banyak episode sekali up. Author baru bisa mengusahakan up tiap hari secara teratur.
Terima kasih kepada readers yang setia** 🙏