
Maaf, ada pengulangan episode karena kemarin tak sengaja terupload padahal belum selesai 🙏
Happy reading
🌱🌱🌱🌱🌱
Hari ketiga setelah pemakaman, rumah Via menjadi lebih sepi. Pak Candra beserta keluarga sudah kembali ke Medan, sedangkan Dini kembali ke Bandung.
Pak Haris dan Bu Aisyah telah kembali beraktivitas seperti biasa. Pak Haris sibuk di rumah sakit, sementara Bu Aisyah bersama murid-muridnya. Sorenya, Bu Aisyah kembali ke rumah Via dan menginap untuk menemani anak angkat sekaligus menantunya. Ia tidak tega meninggalkan bumil muda itu tanpa didampingi saat terpuruk.
Eyang Probo juga sudah kembali ke kediamannya. Kakek itu terpaksa mengambil alih kembali posisi yang ditinggalkan Farhan. Karena kondisi kesehatannya belum pulih, ia hanya memantau dari rumah. Berkas yang harus ditandatangani diantar asistennya ke rumah.
Sementara Azka, yang sudah menyelesaikan ujian akhir semesternya, tinggal di kediaman kedua orang tuanya. Saat siang, ia mengunjungi Via.
Pekerjaan Via di kantor masih bisa dihandel oleh Edi. Via hanya menandatangani dokumen yang penting. Ia juga belum sanggup memantau perkembangan perusahaan peninggalan papanya. Semua dipercayakan kepada Edi.
Via masih saja mengurung diri di kamar. Ia keluar hanya untuk salat dan makan. Semua yang ia lihat seoah mengingatkan kebersamaannya dengan Farhan.
Via menyandarkan tubuhnya ke ranjang. Ia ingat, biasanya saat ia terlihat lelah dan duduk bersandar di ranjang, Farhan akan segera menyusulnya. Tanpa diminta tangan Farhan bergerak sigap memijit kaki dan tangan Via.
Flash Back On
Via POV
Aku langsung merebahkan tubuhku ke ranjang. Kakiku terasa pegal. Punggungku pun demikian. Kupijit betisku perlahan.
"Cinta capek, ya? Perutmu makin besar. Tentu berat membawa dedek ke mana-mana," katamu dengan nada khawatir.
"Tak seberat muatan truk, Hubbiy," candaku untuk menepis khawatirmu.
Kamu tergelak lalu berkomentar, "Jadi ingat tulisan di belakang bak truk."
"Cintamu tak seberat muatanku," sahutku.
Kamu kembali tertawa. Tangan mulai memijit betisku sambil menanggapi,"Cintaku lebih berat daripada muatan truk, lo!"
Aku tersenyum mendengarnya dan mulai merasakan enaknya pijatan kamu.
"Cintamu semurni solarku," ucapku.
"Haha...kok jadi menghafalkan tulisan di bak truk, sih? Eh, ada yang sakit? Cinta nggak usah banyak beraktivitas. Kan tiap jalan sama saja menggendong bayi," katamu.
"Ish, nggak gitu juga. Perempuan hamil itu bahagia meski perutnya gendut, berat lagi. Terutama saat diperhatikan suami gini. Bahagiaaa banget," ucapku sambil mengerling dirimu.
"Modus, nih? Biar dipijitin terus, hemm?" kamu mencebik.
"Tidak dimodusi saja sudah mijitin terus. Apalagi kalau dimodusin. Uwuuu...."
"Pijitnya jadi plus plus, ya? Mau pijit plus plus? Boleh, kok. Gratis lagi," goda kamu sambil menaik-turunkan alinya.
Aku spontan membelalakkan mata begitu mendengar ucapanmu. Aku merasakan ada kemesuman dalam kalimatmu.
"Nah, ini baru modus," ucapku
Kamu tersenyum lebar. Gigi putihmu tampak berbaris rapi.
"Yang dimodusin juga suka. Iya, nggak?" ledek kamu lagi.
__ADS_1
"Nggak," sahutku cepat.
"Nggak salah? Sini Mas pijit bahumu."
Kedua tangan kamu berpindah ke bahuku. Kamu memijit lembut bahuku yang memang pegal . Sepuluh menit kemudian, kantuk mulai menyerangku.
"Cinta mengantuk? Bobok sini!"
Kamu merengkuh tubuhku, mengatur posisi tidurku. Mataku semakin berat. Pelukanmu makin membuatku nyaman dan aku pun terhanyut dalam mimpi.
Flash Back Off
Via mengusap air mata yang mulai meleleh di pipinya. Hatinya perih saat puzzle kenangan menari di ingatannya.
"Auw," pekik Via lirih.
Perutnya terasa kencang seperti tertarik. Diusapnya perut buncitnya dengan lembut. Terasa ada tonjolan bergerak-gerak dari dalam perutnya. Via meringis menahan sakit.
"Sayang, sedang apa? Andai ayahmu ada di sini, tentu dia akan mengelus perut Bunda dengan lembut untuk menenangkanmu," gumam Via.
Kerinduan akan sang suami kian membuncah. Rindu suaranya, rindu sapaannya, rindu pelukannya, rindu segala tentang Farhan.
Bulir-bulir air mata kian deras. Isakannya pun tak dapat ditahan. Bahu Via berguncang karena tangis yang tertahan.
Semenit, lima menit, sepuluh menit berlalu tangis Via belum reda. Bantalnya sudah basah oleh air mata. Namun, Via tidak peduli. Ditumpahkannya segala rasa yang menyesakkan dadanya. Lama-lama, lelahpun menyerangnya. Via merasakan keletihan mendera jiwa dan raganya.
"Assalamualaikum, Cinta. Kamu makin cantik saja, sih," terdengar suara yang sangat Via kenal.
“Hubbiy? Ini Hubbiy, kan?” pekik Via.
“Ini beneran Hubbiy? Hubbiy masih hidup? Keyakinan Via bener, kan?” tanya Via bertubi-tubi.
Pria itu tersenyum. Ia tidak menjawab pertanyaan Via. Dibentangkannya kedua tangan lebar-lebar. Tak menunggu lama, Via menghambur ke pelukan pria yang ia rindukan.
“Perutmu nggak sakit memeluk Mas seerat ini? Kasihan dedek, Cinta,” tegurnya.
Via mengendurkan pelukannya. Kerinduan yang membuncah membuatnya lupa ada nyawa lain yang harus ia jaga di perutnya.
“Via lupa ada si kecil di sini. Sejak kemarin ia meronta-ronta, menendang perut Via. Mungkin ia kangen dengan ayahnya,” tutur Via.
Mereka berjalan beriringan ke sofa panjang di dekat meja rias. Dengan lembut, Via dibimbing untuk duduk. Perut Via yang gendut diusap perlahan.
“Dedek kangen Ayah, ya? Jangan nakal, ya! Kasihan Bunda! Dedek harus bisa menggantikan Ayah menjaga Bunda. Jadilah lelaki yang tangguh agar bisa melindungi Bunda, ya!”
“Memangnya Hubby yakin anak kita laki-laki? Kalau perempuan bagaimana?” protes Via.
“Kalau perempuan, dia pasti secantik, secerdas, dan setangguh bundanya. Namun, aku yakin dia laki-laki.”
“Hubbiy sudah menyiapkan nama untuk anak kita?” tanya Via.
Pria itu mengangguk. Senyumnya kembali mengembang.
“Tapi, Mas baru memikirkan nama bayi laki-laki. Yah, karena Mas menebak jenis kelaminnya laki-laki. Yang jelas, kalau laki-laki ada kata Muhammad tersemat di namanya. Kalau Cinta setuju, aku beri nama dia Muhammad Zayn.”
“Bagus. Zayn artinya indah, anggun, unggul. Begitu, kan?”
Anggukan kepala sang pria menunjukkan ia menyetujui ucapan Via.
__ADS_1
“Bagaimana kalau nama belakangnya Alfarizi, sama seperti ayahnya?” usul Via.
“Boleh. Kalau perempuan, Cinta saja yang memberi nama, ya.”
Via menatap heran. Ia merasa ada nada sumbang dari kalimat yang diucapkan terakhir.
“Hubbiy tidak suka kalau anak kita perempuan?”
“Bukan begitu, tapi entahlah Mas yakin dia laki-laki.”
Via membuang nafas kasar. Ia bangun dari duduknya dan berdiri di depan cermin.
“Via gendut banget, ya? Terakhir berat badan Via sudah naik 8 kilo. Via jadi lucu begini. Mana mata bengkak lagi. Ini gara-gara Hubbiy. Kenapa Hubbiy pakai pergi meninggalkan Via. O ya, sebenarnya apa yang terjadi,sih? Kok bisa mobil yang dikendarai Hubbiy kecelakaan? Terus siapa jenazah yang ada di dalam mobil? Hubbiy di mana waktu kecelakaan?” Via memberondong dengan pertanyaan.
Via merasa aneh karena tidak ada jawaban. Ia menoleh ke sofa. Kosong, tidak ada siapa-siapa. Pandangannya beralih ke ranjang. Sama saja, kosong.
“Hubbiy! Hubbiy jangan main-main! Jangan bikin Via khawatir lagi, dong!” teriak Via.
Bumil muda itu menuju kamar mandi. Ia membukanya dengan cepat. Ternyata kosong.
“Hubbiy! Hubbiy di mana? Keluarlah, jangan main-main! Via takut. Huhu….” Via tersedu-sedu.
“Via, apa yang terjadi?” terdengar suara Bu Aisyah diselingi ketukan pintu.
Karena khawatir, Bu Aisyah tidak menunggu jawaban Via. Ia segera membuka pintu kamar dan menemukan Via tengah duduk sambil menyembunyikan wajahnya di bantal yang ia letakkan di atas kakinya yang terlipat.
“Via kenapa?” tanya Bu Aisyah lembut. Ia mengusap kepala Via.
“Hubbiy, di mana Hubbiy?” tanya Via sambil mengangkat wajahnya.
Bu Aisyah mengerutkan keningnya. Ia tampak kebingungan.
“Maksudmu Farhan? Biarkan dia tenang, Via. Ikhlaskan kepergiannya menemui Sang Khalik, ya,” bujuk Bu Aisyah.
Via menggelengkan kepalanya lalu berkata dengan setengah berteiak, “Enggak. Mas Farhan baru saja menemui Via. Kami baru saja ngobrol, Bunda. Tahu-tahu dia pergi lagi tanpa pamit. Dia pamit Bunda, nggak?” tanya
Via.
Bu Aisyah tidak menjawab pertanyaan Via. Ia memeluk menantunya itu. Air matanya lolos menelusuri pipi yang sedikit ada kerutan.
“Tidak ada Farhan, Sayang. Mungkin barusan kamu mimpi atau berhalusinasi karena kerinduanmu kepada Farhan.
Via tersentak. Ia menatap Bu Aisyah tak percaya. Namun, otaknya mulai bekerja. Ia mengingat-ingat rentetan peristiwa yang sudah terjadi.
Tangis Via pecah seketika begitu ia menyadari kalau pertemuannya dengan Farhan bukan hal yang nyata. Kekecewaan mencabik-cabik hatinya. Kerinduan yang baru saja terobati kembali menyergap.
Bu Aisyah pun tak kuasa membendung rasa iba dan sedihnya yang mendesak di dada. Sebagai ibu, ia pun sebenarnya mengalami tekanan yang berat atas kepergian Farhan. Kedua perempuan beda generasi itu saling peluk dan menumpahkan perasaan yang menyesakkan dada.
***
Bersambung
Maafkan diriku kalau membuat Kakak-kakak sedih. Siapin handuk, deh. Tetep ikuti cerita ini untuk mengetahui Via berganti sandaran atau tidak. Apakah Azka menjadi sandaran Via menggantikan kakaknya?
Silakan koment. Like jangan lupa! Yang belum kasih penilaian, mohon beri bintang 5, ya! Favoritkan juga.
Aiiih, author kemaruk ini.
__ADS_1