
Farhan membimbing Via kembali ke tempat duduknya. Dengan lembut, diusapnya wajah Via menggunakan tisu.
Ratna dan Mira menatap sahabat mereka dengan cemas.
“Via, kamu sakit?” tanya Ratna.
Via menggeleng lemah. Ia paksakan seulas senyum menghias bibirnya.
“Enggak, cuma mual aja. Habis makan, kalian mau jalan-jalan atu pulang?” ucap Via lirih.
“Jalan-jalan dong. Kami belum jalan-jalan, Ratna mengajak ke sini. Kebetulan, jadi ketemu,” jawab Mira.
Via menoleh ke Farhan. Pria itu mengangguk, paham yang Via maksud.
“Maaf Dek Ratna dan Mira, kami mau pulang dulu. Saya khawatir dengan kondisi Dek Via,” kata Farhan.
“Iya, Mas. Kasihan Via pucat begitu,” sahut Ratna.
“Maaf, ya Rat,” ujar Via.
“Santuy. Udah sana,” balas Ratna.
Via bangkit dari duduknya dengan dibantu Farhan. Perlahan dibimbingnya Via keluar dari food court.
Entah apa yang sedang Edi pikirkan. Saat Farhan dan Via berpamitan, lelaki itu justru bengong.Ia seperti tersentak melihat kedua majikannya pergi. Buru-buru ia bangkit dari duduknya lalu menyusul Farhan yang tengah berjalan bersama. Namun, kakinya justru tersandung.
“Aauw!” pekik Mira tertahan.
“Ah, maaf. Ma—maafkan saya,” Edi tergagap meminta maaf.
“I—iya, Mas. Gak pa-pa.”
Ternyata tubuh Edi oleng dan menimpa Mira. Tidak fatal, tetapi hal tersebut membuat mereka kaget dan salah tingkah.
Setelah meminta maaf dan berpamitan, Edi bergegas menyusul Farhan dan Via.
“Mbak Mira nggak kenapa-kenapa?” tanya Ratna.
“Enggak, cuma kaget aja,” jawab Mira.
“Masih deg-degan nggak? Jangan-jangan nanti malam nggak bisa tidur gara-gara insiden tadi, terbayang-bayang Mas Edi.” Ratna meledek Mira.
Muka Mira memerah. Ia terlihat salah tingkah.
“Apaan, sih?” gerutu gadis itu sembari mencubit lengan Ratna.
“Auw, jangan lenganku, dong! Sana, nyubit Mas Edi saja. Kan dia sudah nubruk Mbak Mira tadi,” protes Ratna sembari mengusap lengannya.
“Tauk, ah.” Mira memasang wajah jutek.
Ratna senyum-senyum memperhatikan wajah sepupunya.
Sementara itu, Edi segera melajukan mobil meninggalkan mall begitu semuanya siap.
“Mas, jangan pulang dulu! Kita ke rumah ayah saja. Biar ayah memeriksa kondisi istriku. Hari Minggu begini dokter praktek kan tutup.” perintah Farhan.
__ADS_1
“Baik, Mas.” Edi mengarahkan mobil yang dikemudikannya menuju kediaman dokter Haris.
“Maafkan Via, Mas. Niat mau refreshing malah jadi kacau gara-gara Via,” ucap Via lirih.
“Sstt, sudahlah. Sini Cinta bobok di pangkuan Mas saja,” kata Farhan sembari menarik tubuh Via.
“Nggak, ah. Via lebih nyaman duduk begini,” tolak Via. “Mas Edi, tadi apa yang terjadi? Via denger ada sedikit keributan waktu Via hampir sampai pintu?”
“Ee—itu, anu saya tersandung kaki meja terus kehilangan keseimbangan. Emm, tadi nggak sengaja menimpa Mira. Ta—tapi nggak apa-apa, kok,” jelas Edi terbata-bata.
Via dan Farhan saling tatap dan tersenyum geli.
“Kok bisa, Mas? Pasti Mas Edi melamun lagi. Sudah di dekat Mas Edi kok dilamunin, sih?” farhan menggoda Edi.
“Maksud Mas Farhan bagaimana?” Edi seperti orang bodoh.
“Lha Mira ada di dekat Mas Edi kok dilamunin sampai ditubruk,” jelas Farhan sambil terkekeh.
Muka Edi menjadi hangat. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Sesampai kediaman dokter Haris, Farhan membimbing Via keluar dari mobil. Ia bermaksud menggendong sang istri masuk rumah. Namun, niatnya ditolak Via. Akhirnya, ia hanya merengkuh bahu sang istri, menuntunnya masuk rumah.
Bu Aisyah kaget sekaligus senang mengetahui anak-anaknya datang. Namun, ia berubah khawatir melihat Via yang terlihat sedikit pucat dan lemas.
“Via kenapa? Sakit?” tanya Bu Aisyah.
“Tadi habis mutah-mutah, Bun. Ayah ke mana? Farhan mau minta tolong ayah memeriksa kondidi Dek Via. Farhan khawatir tifusnya kambuh.”
“Ayahmu baru saja keluar, ke rumah Pak RT. Bawa Via masuk ke kamar untuk istirahat sembari menunggu ayahmu pulang. Bunda bikin minum dulu buat Mas Edi,” kata Bu Aisyah.
“Kenapa?” tanya Farhan yang melihat Via seperti memikirkan sesuatu.
“Via cuma ingat waktu pertama kita bertemu di kamar ini,” jawab Via sambil tersenyum.
Farhan ikut tersenyum. Ingatan mereka kembali ke masa Via masih SMA.
“Kita sama-sama kaget, ya? Untung jeritanmu tidak sampai membangunkan tetangga.” Farhan terkekeh.
“Bunda yang khawatir begitu mendengar Via menjerit,” sahut Via.
“Sekarang, istirahatlah. Mas turun dulu menemani Mas Edi,” kata Farhan.
“Ah, rencana Via setengah gagal jadinya,”keluh Via.
“Rencana? Jadi, kedatangan Ratna dan Mira bergabung dengan kita memang disengaja?”
Via mengangguk dan menjawab, “Iya. Sebelum kita berangkat, Via chatt Ratna agar mengajak Mbak Mira ke mall. Mereka tiba waktu kita baru selesai membayar belanjaan kita. Makanya, Via ngajak ke food court agar bisa ngobrol. Eh, belum ngobrol banyak malah Via mutah-mutah gak jelas gini.”
“Setidaknya kita sudah melihat tanda-tanda. Mas kira dugaanmu benar, mereka menyimpan rasa.”
“Kita jadi kayak detektif, ya?” Via tertawa kecil.
Farhan ikut tertawa. Ia merasa mereka berlaku sedikit konyol.
Faarhan mengurubgkan niatnya menemani Edi karena saat ia akan keluar, terdengar ketukan di pintu kamarnya yang diikuti salam. Pria itu menjawab salam sembari membukakan pintu.
__ADS_1
“Ayah? Kata bunda Ayah baru ke rumah Pak RT. Kok cepat amat?”Farhan terkejut melihat ayahnya sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Ayah belum jadi bertamu, baru sampai halaman Pak RT. Karena bundamu telepon memberi tahu kalian datang, ayah batalkan niat menemui Pak RT.”
“Oh, begitu,” sahut Farhan singkat.
“Anak Ayah kenapa? Bunda bilang tadi Via habis mutah-mutah?” tanya Pak Haris kepada Via.
Pak Haris mengeluarkan stetoskop yang sudah ia persiapkan. Ia memeriksa kondisi perempuan yang tengah terbaring lemas.
"Via makan apa tadi?" tanya Pak Haris lembut.l," kgg Bu
"Ee...bak-so, Yah. Tapi nggak pakai sambal ataupun saus, "jawab Via gugup.
Pak Haris hanya tersenyum. Ia kembali memeriksa.m
"Ayah rasa Via bekab sakit."
"Maksud Ayah?" Farhan tidak mengertipeku Farhan.
"Ouh, begitu. Alhamdulillah," pekik Farhan senang.
"Kalian harus menjaga baik-baik. Ingat, trimester pertama masih sangat rentan." Pak Haris mengingatkan.
"Siap, Yah," jawab Farhan sembari memberi hormat.
Pak Haris terkekeh karena tingkah konyol Farhan.
"Via istirahat dulu, ya!" perintah Pak Haris.
"Assalamualaikum. Bagaimana Via?" Bu Aisyah melangkah masuk.
"Waalaikumsalam. Putri Bunda nggak apa-apa, kok. Wajar, hamil muda." Pak Haris menjelaskan.
"Oh, jadi karena ngidam? Kirain ngebo kemarin-kemarin nggak mual nggak mutah," kata Bu Aisyah.
"Ngebo? Apa itu?" tanya Via.
"Ngebo itu hamil tanpa ngidam. Si calon ibu baik-baik saja seperti nggak hamil," terang Bu Aisyah.
"Oh, Via baru tahu."
"Kamu siap-siap saja dapat order aneh dari istrimu, Han! Siapkan stamina!" Pak Haris menggoda putra sulungnya.
Mereka tertawa bahagia. Farhan hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.
***
Bersambung
Maaf, minggu ini tugas negara begitu banyak. Sebenarnya mau cuti, nggak update seminggu. Tapi, takut ada yang marah hehehe....
Nah, tolong dukung terus karyaku, ya!
Terima kasih 🙏
__ADS_1