SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mulai Bergerak


__ADS_3

Sementara Via nggak muncul, ya! Yang kangen Via, baca episode sebelumnya 😍😍.


Selamat membaca 😘


🌱🌱🌱


Keesokan harinya, Farhan kembali bekerja seperti biasa. Peristiwa sore itu masih mengganjal di benaknya. Siapa gerangan Pak Chandra? Pertanyaan itu terus menari-nari mendorong Farhan mencari jawaban.


Siangnya, saat jam makan siang akan habis, Farhan memutuskan untuk menghubungi Pak Andi.


"Assalamualaikum. Ada apa, Mas Farhan?" terdengar suara Pak Andi.


"Waalaikumsalam, Om. Maaf mengganggu. Saya ingin menanyakan tentang rencana kemarin," jawab Farhan.


"Jangan melalui pembicaraan di telepon begini, Mas. Takut ada yang nguping. Lebih baik ketemu saya langsung atau lewat pesan saja."


"Apa saya bisa menemui Om Andi sore ini?"


"Silakan. Bagaimana kalau Mas Farhan datang ke rumah saya. Kalau saya yang datang ke rumah Mas Farhan, bisa jadi ada curiga."


"Baik, Om. Insya Allah nanti sore saya ke rumah. Saya tutup dulu, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Farhan kembali ke ruangannya. Meski jam istirahat masih tersisa beberapa menit, ia sudah menenggelamkan diri dalam kesibukan menyelesaikan tugasnya.


Sepulang kerja, Farhan mengarahkan laju motornya ke kediaman Pak Andi. Tidak sampai 30 menit ia telah sampai di kediaman pengacara itu.


"Kok sepi, Om?" tanya Farhan setelah dipersilakan masuk.


"Iya, saya sendirian di rumah. Yang lain sedang di rumah mertua saya. Silakan duduk, Mas."


"Ya, Om, terima kasih. Saya langsung pada pokok permasalahan, ya."


"Silakan, Mas. Sambil diminum. Maaf, hanya air mineral."


"Terima kasih. Nanti kalau saya haus akan saya minum. Begini, Om. Saya merasa ada kejanggalan dengan tindakan Pak Chandra."


"Tindakan yang mana yang Mas Farhan maksud?"


"Itu, mengirim orang-orangnya ke sini untuk membantu kita. Apa tidak berlebihan, Om?"


"Menurut Om tidak. Sebelum Pak Chandra mengirim mereka, saya sudah ketemu langsung dengan Pak Chandra terlebih dahulu membicarakan hal ini. Pak Chandra mengkhawatirkan kondisi perusahaan yang terancam oleh musuh-musuh almarhum Pak Wirawan. Sepertinya orang-orang itu belum puas dengan kemunduran Wijaya Kusuma dan meninggalnya Pak Wirawan. Jika perusahaan bangkit, kemungkinan mereka akan kembali menyerang. Sementara, kita tentu menginginkan perusahaan kembali pulih meski tak sebesar saat dipegang Pak Wirawan."


"Tapi, Om, Pak Chandra begitu tentu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Apa sebanding dengan keuntungan yang akan diperoleh?"


"Untuk jangka pendek tentu tidak. Pak Chandra memikirkan keuntungan jangka panjang dan keuntungan nonfinansial."

__ADS_1


"Maksud Om Andi?" Farhan merasa kebingungan.


"Untuk setahun ini, Pak Chandra sudah memperhitungkan belum mendapatkan keuntungan finansial. Kalau pun dapat, jumlahnya sangat kecil. Namun, kalau Wijaya Kusuma dikelola dengan baik, keuntungan yang diperoleh sangat menjanjikan. Di samping itu, Pak Chandra juga akan dapat melebarkan sayap bisnisnya."


"Om yakin kalau Pak Chandra orang yang dapat dipercaya? Maaf, Om, saat ini begitu banyak orang yang bisa menikam dari belakang. Kita harus waspada."


Pak Andi tertawa. Ia mengangguk-angguk lalu berkomentar, "Saya paham akan kekhawatiran Mas Farhan. Tapi saya jamin, insya Allah Pak Chandra orang yang dapat kita percaya. Beliau tulus membantu kita. Saya sudah mengenal beliau."


"Maaf, Mas Farhan, saya belum bisa menceritakan secara detail siapa Pak Chandra sebenarnya. Suatu saat, biar Pak Chandra sendiri yang mengungkapkan jati dirinya."


"Begitu, ya? Baiklah, kalau Om Andi yakin. Saya percaya kepada Om. Kalau begitu, saya pamit dulu. Tadi Bunda berpesan agar saya pulang sebelum magrib."


"Oh, iya, Mas. Hati-hati. Salam untuk Mas Haris dan bunda Mas Farhan."


"Insya Allah nanti saya sampaikan. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Farhan mengendarai motor matik Azka menuju rumah. Sebenarnya, ia belum bisa menerima sepenuhnya penjelasan Pak Andi.


"Sepertinya Om Andi menyembunyikan sesuatu. Lebih baik aku ikuti skenario Pak Chandra tanpa mengabaikan kewaspadaan."


***


Farhan tengah menyelesaikan pekerjaan yang menumpuk. Ada 2 hal yang menjadi perhatiannya. Yang pertama mengentaskan perusahaan mertuanya dari keterpurukan dan yang kedua mengungkap orang-orang yang mencurangi almarhum.


Hendrik


[Coba selidiki siapa orang yang meretas data dulu, yang dipecat almarhum Pak Wirawan]


Farhan segera mengetik balasan dan mengirimnya.


Farhan


[Baik, Mas. Saya ke ruang Om Arman sekarang.]


Farhan keluar ruangan menuju ruang Pak Arman. Ia mendekat meja sekretaris menanyakan keberadaan Pak Arman.


"Permisi, Bu Titik. Apa Pak Arman ada? Ada hal yang perlu saya bicarakan dengan beliau," kata Farhan sopan.


"Ada. Tapi sepertinya beliau sedang membicarakan hal serius dengan Pak Widodo," jawab Bu Titik.


"Sudah lama?"


"Lumayan, sekitar 15 menit yang lalu Pak Widodo masuk."


"Kalau begitu, nanti saja saya kembali."

__ADS_1


Farhan menjauh dari ruangan Pak Arman, tetapi masih bisa melihat pintu ruangannya. Ia tidak kembali ke ruangannya, memilih menunggu Pak Widodo keluar.


Begitu melihat Pak Widodo keluar dan menuju ruangannya, Farhan kembali.


"Pak Widodo sudah keluar. Silakan kamu masuk kalau mau ketemu Pak Arman," kata Bu Titik begitu melihat Farhan mendekat


"Terima kasih, Bu."


Setelah mengetuk pintu dan dipersilakan masuk, Farhan memasuki ruangan yang dulu ditempati almarhum mertuanya.


"Ada apa, Mas?" tanya Pak Arman setelah Farhan duduk.


"Ada yang ingin saya tanyakan. Ini tentang pegawai yang dulu mencuri data kemudian dipecat oleh almarhum."


"Kenapa? Itu sudah lama. Sekarang entah di mana orang itu," jawab Pak Arman.


"Siapa namanya? Tadi Mas Hendrik meminta saya mencari tahu informasi ini."


"Oh, mungkin tadi dia juga menanyakan ke saya. Dari tadi saya belum sempat membuka HP. Ee...nama orang itu Feri Kurnia. Dia memiliki kemampuan yang bagus dalam bidang IT dan keuangan."


Farhan agak terkejut mendengar nama itu. Ia merasa tidak asing dengan nama Feri Kurnia.


"Seperti apa orangnya?" tanya Farhan penasaran.


"Ah, sayangnya saya nggak punya foto orang itu. Di dokumen perusahaan pun saya tidak yakin masih ada fotonya. Coba nanti Mas Farhan buka dokumen HR."


"Sebentar, apa ini orangnya?" tanya Farhan sambil menunjukkan foto seorang lelaki berusia 40-an tahun yang tersimpan di memori ponselnya.


Pak Arman mengamati sejenak. Setelah yakin, ia mengangguk. "Ya, ini orangnya. Dari mana Mas Farhan mendapatkan foto itu?"


"Saya pernah bertemu dan bekerja dengannya. Sepertinya perusahaan eyang saya dalam bahaya. Bolehkah saya izin keluar menemui Eyang Probo?"


"Silakan, Mas. Apa ada hubungannya dengan Feri."


"Iya, Om. Tolong Om hubungi Mas Hendrik dan jelaskan tentang Feri. Saya permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Farhan bergegas menuruni gedung lewat lift. Sambil berjalan menuju tempat parkir, ia mengirim pesan kepada eyangnya agar pulang saat itu. Ia pun melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi.


****


**Bersambung


Sebenarnya author pengin cuti (eh🀭) nulis. Banyak tugas negara di dunia nyata. Salah satunya ujian Diklat. (Curcol iniiiπŸ™ˆπŸ™ˆ)


Tapi, demi pecinta Farhan dan Via, author paksakan nulis terus. Tolong dukung terus, ya! Like, koment, vote, dan rate 5 sangat Author harapkan. Love you readers** 😘😘

__ADS_1


__ADS_2