
Meski sedang ujian semester, Via tetap bisa menyiapkan daftar teman yang akan diundang. Semua ditik rapi dalam format Excel.
Dua hari kemudian, Azka berkunjung sambil mengantarkan undangan untuk teman-teman Via.
"Cepat sekali, Mas. Kok sudah siap dibagikan, nih?" komentar Mira begitu melihat setumpuk undangan yang dibawa Azka.
"Iyalah. Kakak iparku orangnya simpel. Desain undangan, terserah. Dekorasi pelaminan, terserah. Gaun pengantin, terserah. Untung saja jawabannya nggak terserah kalau ditanya siapa mempelai prianya," jawab Azka sambil nyengir.
Via melotot mendengar jawaban Azka. Ia melemparkan pulpen yang sedang dipegang ke arah adik iparnya itu. Sementara Ratna justru terbahak-bahak.
"Eh, jadi beneran Mbak Via mau nikah? Kirain becanda," ujar Salsa.
Ratna menoleh ke Salsa. Gadis itu tetap melanjutkan pekerjaannya memberi label harga.
"Bukan akan, Sa. Via tuh udah nikah. Besok tinggal resepsi."
Salsa menghentikan aktivitasnya. Ia mendekat ke Ratna.
"Benarkah? Kapan? Kok Salsa nggak tahu?"
"Panjang ceritanya, Sa. Udah, ntar aja. Kita siap-siap menghandle tugas Via. Habis ujian dia langsung cabut, persiapan resepsi," kata Ratna.
"Habis itu lanjut bulan madu. Iya, kan?" terdengar suara Mira menimpali. Gadis itu sedang menapaki tangga menuju lantai 1.
"Hooh, Mbak. Tenang aja, Vi. Serahkan urusan toko kepada kami. Kamu nikmati saja bulan madumu yang tertunda begitu lama. Eh, nggak cuma bulan madu yang tertunda, ya?" ledek Ratna. Gadis itu tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.
"Apa lagi yang tertunda?" tanya Salsa polos.
"Tentu saja malam pertama. Via kan belum mencicipinya. Bener, kan?" ledek Ratna lagi.
"Ngaco, ah! Udah, kamu mau nolong aku, nggak? Kalau ya, jangan bawel!" hardik Via.
Muka calon mempelai wanita itu memerah. Sementara Ratna yang baru dibentak justru tertawa cekikikan. Yang lain pun ikut tertawa.
"Eh, sudah! Ntar kalau dia ngadu ke kakakku, aku yang repot. Aku bakalan gak dapat uang jajan. Kasihanilah pengangguran ini," ujar Azka dengan muka memelas.
Ratna menoleh menatap Azka. Ia merasa geli melihat wajah Azka yang dibuat memelas.
"Ini cowok kok makin lama makin nggemesin, sih? Aku kira dulu dia naksir Via. Ah, boleh nggak kalau aku naksir Mas Azka? Ups, kok jadi ngelantur begini," batin Ratna.
"Rat, besok tolong bantu nyebarin undangan ini, ya," pinta Via.
Ratna masih diam. Ia belum kembali dari petualangan khayalannya.
"Ratna!" panggil Via dengan suara keras.
"Eh, iya! Aku di sini. Siapa yang nyari?" Ratna tersadar.
Semua orang menatap Ratna geli. Yang ditatap bertambah kebingungan.
__ADS_1
"Kamu mikir apa, sih? Jangan kebanyakan baca novel! Jangan-jangan kamu sedang menghayal ditembak Mario, tokoh novel Cinta Strata 1," tebak Mira sambil tersenyum.
"Ish, apaan Mbak Mira. Aku pilih Valko yang tajir saja," balas Ratna.
"Oh, novel M.T. Cahyani? Udah, jangan mengkhayal terlalu tinggi. Tuh, ditanya Dek Via," ujar Mira.
"Kamu tanya apa, Vi?" Ratna terpaksa menanyakan hal itu. Ia betul-betul tidak mendengar saat Via bertanya.
"Hhmmm, ketahuan kamu melamun. Rat, aku minta tolong kamu nyebarin undangan. Bisa, kan?"
Ratna tersenyum lega. Via tidak meledek dirinya.
"Siap, Say! Nanti aku kerahkan pasukan biar cepat. Dijamin sampai alamat dengan aman terkendali," jawab Ratna sambil memberi hormat.
"Gayamu, Fulgoso!" cibir Via.
Azka senang melihat canda riang mereka. Dulu, saat Via belum lulus SMA, Ratna sering berkunjung. Suasana rumahnya menjadi ramai. Meski hanya sebentar, suasana itu dirindukan oleh Azka.
"Mas Azka kok senyum-senyum sendiri?" tanya Mira heran.
"Eh, nggak papa. Aku suka lihat dua orang itu bertengkar."
Via dan Ratna menatap tajam ke Azka. Cowok itu sedikit grogi. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maksud aku, kalian suka becanda, suasana jadi seru. Ya udah, aku pulang dulu. Aku juga mesti anter undangan ke tempat lain. Assalamualaikum," pamit Azka.
"Terima kasih, Mas Azka," ucap Via.
Azka hanya mengangguk sambil terus melangkah keluar. Tak lama kemudian, terdengar suara motor distater. Azka pun tak terlihat lagi bersama laju motor matiknya.
Sementara Ratna langsung membawa tumpukan undangan pernikahan Via ke lantai 2. Ia memilah undangan berdasarkan latar belakang dan alamat. Teman kuliah ia jadikan 1, sementara teman sekolah ia pilah dari alamat.
Melihat Ratna langsung bekerja, Via tersenyum. Ia juga merasa terharu.
"Makasih, ya. Kamu jangan terlalu capek. Besok ada 2 mata kuliah yang diujikan, lo," ucap Via tulus.
"Tenang, cuma milah undangan. Ini juga hampir selesai. Aku sudah hubungi beberapa teman sekolah kita dulu untuk bantu bagiin undangan."
"Beneran, ya! Kamu nggak boleh memforsir tenagamu!"
"Iya, Marimar! Kamu kok jadi bawel? Nggak usah terhura gitu, deh!" Ratna mencebik begitu melihat ekspresi Via.
Mau tak mau Via tertawa. Ratna memang susah diajak serius.
Meski demikian, Ratna sosok yang suka membantu dan bertanggung jawab. Makanya, ia segera menghubungi teman-temannya untuk membantu menyebarkan undangan. Esoknya, hampir semua undangan tersebar. Teman-teman kuliah Via pun cukup kaget mengetahui kabar pernikahan Via.
Via pun sedikit kerepotan menjawab pertanyaan dari teman-temannya. Ia hanya menjawab kalau orang yang menjadi suaminya adalah saudara angkatnya.
Untunglah, Ratna ikut membantu Via menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman-teman. Hal itu tidak sampai mengganggu ujian Via.
__ADS_1
Hingga akhirnya, tibalah hari terakhir ujian. Via dan Ratna pulang pukul 10.00. Sampai ruko, Via segera berkemas. Farhan akan menjemputnya usai salat Jumat.
"Duh, calon mempelai sudah sibuk. Pulang jam berapa, Dek?" tanya Mira.
Via menghentikan aktivitasnya memasukkan baju ke koper. Ia menoleh ke Mira.
"Habis jumatan Mas Farhan akan jemput. Mbak Mira dan lainnya pulang nanti, kan?"
"Iya. Kenapa?"
"Besok pagi ke rumah, ya! Temani Via, Mbak," pinta Via.
Mira tersenyum dan mengangguk. Ia tidak bisa menolak permintaan sederhana dari orang yang sudah ia anggap saudara.
"Insya Allah besok aku, Ratna, dan Salsa datang pagi-pagi. Keluargamu berangkat ke hotel jam berapa?"
"Via belum tanya. Nanti deh, Via kabari pastinya. Jam 8 kalian bisa, kan?"
"Insya Allah bisa."
Via memegang erat kedua tangan Mira. Ia menatap gadis yang pernah patah hati karena Farhan.
"Mbak Mira nggak marah padaku, kan?" tanya Via lirih.
Mira agak kaget.
"Marah kenapa? Kok Dek Via nanya gitu?"
Via menundukkan kepalanya. Ada perasaan bersalah menyusup ke perasaan halusnya.
"Aku telah memupuskan harapan Mbak Mira terhadap Mas Farhan," jawab Via.
Mira tertawa. Ia menarik tangan Via hingga mereka sama-sama terduduk di ranjang.
"Dek, kamu menikah dengan Mas Farhan terlebih dahulu dibandingkan aku mengenalnya. Tentu saja itu bukan salahmu. Masalah kamu tidak menceritakan hubungan kamu dengan Mas Farhan juga bukan salahmu. Itu karena sikon. Sudahlah, aku benar-benar nggak marah. Jangan terbebani dengan perasaan bersalah kepadaku," ujar Mira sambil mengusap kepala Via.
Via menarik tangan Mira dengan cepat. Tubuh mereka berhimpitan karena Via memeluk Mira erat. Mira pun balas memeluk Via.
Dua jam kemudian, Farhan sudah sampai ruko. Via turun sambil menyeret kopernya.
"Teman-teman, aku pulang dulu. Jangan lupa, besok pagi kalian datang, ya! Assalamualaikum," pamit Via.
"Siap. Waalaikumsalam," jawab Ratna yang berdiri di dekat pintu.
***
Bersambung
Mohon tetap dukung author ya! Maaf kalau ceritanya gak greget. Author belum fit 100%. Eh, kok jadi curcol 🙏🙏
__ADS_1