
Tempat parkir cukup padat oleh kendaraan baik roda dua maupun roda empat. Maklumlah, lima menit lagi jam bezk pasien. Tentunya kendaraan itu milik para pembezuk di samping yang rawat jalan.
Sebelum sampai rumah sakit, Via sudah menghubungi Pak Candra. Ia memastikan keamanan saat menjenguk Lia.
Saat Farhan turun, Pak Haris mengingatkan tentang Zayn.
“Lebih baik kalian berdua yang masuk. Zayn biar bersama neneknya. Nggak baik bayi dibawa masuk ruang rawat inap. Selain itu, kemungkinan kalian juga tidak akan diizinkan masuk kalau membawa bayi.”
Via mentap Farhan meminta persetujuan. Farhan yang tengah berdiri di pintu memberikan anggukan kepala tanda setuju dengan yang dikatakan ayahnya.
“Kalau begitu, Via titip Baby Zayn. O iya, botol ASI-nya ada di tas, ya Bun.” Via menyerahkan Zayn yang tengah terlelap. Bu Aisyah yang sudah pindah ke barisan tengah menerima Zayn dan diletakkan di pangkuan.
Via melangkah turun dari mobil. Bersama Farhan ia berjalan menuju lobi.
Dari kejauhan ia sudah melihat lambaian tangan om-nya. Farhan menggandeng tangan Via bergegas mendekat.
“Kalian hanya berdua?” tanya Pak Candra.
“Yang lain menunggu di mobil, jagain Dedek Zayn,” jawab Via.
“Oh, begitu. Baiklah, malah lebih mudah kalau hanya berdua. Kalaian sebentar saja. Dokter hanya memberi waktu 5 menit untuk menemui Aurelia. Manfaatkan kesempatan itu,” kata Pak Candra memberi tahu.
“Baik, Om.”
Mereka berjalan mengikuti Pak Candra. Para body guard secara otomatis mengawal mereka.
Setelah melapor kepada perawat yang tengah piket, mereka diantarkan ke ruangan tempat Aurelia dirawat. Perawat pun berpesan agar berbicara dengan hati-hati dan waktunya sangat terbatas.
Via dan Farhan masuk perlahan ke kamar. Mereka melihat sosok perempuan dengan rambut acak-acakan tengah berbaring di ranjang pasien. Matanya menerawang menatap langit-langit.
Dengan langkah perlahan, Via dan Farhan mendekat ke ranjang. Mereka berdidi di sisi kanan ranjang.
“Assalamualaikum, Lia. Ini aku, Via, juga suamiku, Mas Farhan datang menjengukmu,” ucap Via lembut.
Tak ada reaksi apa pun yang Lia tunjukkan tatapannya masih ke arah yang sama. Tubuhnya pun tidak bergerak sama sekali.
“Lia, kamu masih ingat aku, kan? Aku teman SMA kamu. Kita memang tidak satu kelas. Tapi, kita satu angkatan. Kamu juga diajar oleh Bu Aisyah, bundanya Mas Farhan.” Via melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Gadis yang tergolek di atas ranjang itu masih pada posisi semula dengan tatapan yang sama. Ia belum merespon Via sama sekali.
“Kami prihatin dengan keadaanmu. Memang berat musibah yang harus kamu hadapi. Namun, kalau kau sanggup melewatinya, insya Allah akan berbuah manis. Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hamba-Nya,” kata Farhan.
Via menatap teman SMA-nya dengan tatapan iba. Gadis centil dengan tubuh berisi sekarang berubah menjadi sangat kurus. Tulang pipi Aurelia pun terpahat jelas, tak mampu disembunyikan lemak di wajahnya. Tangannya juga memperlihatkan tulang yang tercetak dengan nyata karena terbungkus lemak dan kulit yang teramat tipis.
Via meletakkan pantatnya ke bangku yang tersedia. Tangannya terulur mengusap lembut tangan teman SMA yang dulu selalu memusuhinya.
“Lia, aku tahu kau tidak menyukaiku saat SMA. Entahlah sekarang. Aku berharap kau sudah berubah, tak lagi membenci aku. Mengenai ayah kita, marilah kita lupakan. Kita tidak usah terlibat dalam permusuhan mereka. Apalagi, papaku jelas sudah meninggal. Tidak perlu lagi mengungkit dendam masa lalu,” kata Via.
“Tentang perusahaan papamu, sebenarnya bukan semata-mata ulah kami. Manajemen perusahaan Santoso Grup kacau. Papamu menggunakan dana di luar kendali. Namun, aku tetap harus minta maaf karena ikut andil dalam kehancuran Santoso Grup. Niat kami hanya untuk menghentikan langkah papamu dan juga temannya yang berusaha mencelakakan istriku juga Wijaya Kusuma peninggalan Papa Wirawan,” sambung Farhan.
Aurelia menoleh. Tatapannya tak lagi kosong. Namun, ada kilat kebencian tergambar di sorot matanya.
“Lia, tenanglah. Semua bisa kita selesaikan dengan baik kalau kita menggunakan kepala dingin. Amarah tidak akan membuat selesai masalah justru akan memperparah. Lia, mari kita berdamai. Kami minta maaf atas apa yang terjadi dengan Santoso Grup. Kami juga menyesal atas kemelut yang terjadi di keluargamu, termasuk meninggalkan Mas Rio.” Via menjeda ucapannya untuk menarik nafas demi melonggarkan sesak di dadanya.
“Sebaliknya, kami sudah memaafkan perbuatanmu juga papamu. Tentang ulahmu yang menyuruh Agus menabrakku, juga menyewa Kelelawar Hitam untuk mencelakakan Mas Farhan. Sementara ....” kalimat Via terpotong.
“Cukup! Aku memang jahat. Aku memang sampah. Jadi, tak ada gunanya aku hidup,” bentak Lia dengan suara lemah.
“Lia, hidup adalah suatu anugerah dari yang kuasa. Kita tidak boleh menyia-nyiakan. Bunuh diri bukan sebuah solusi karena pertanggungjawaban atas perbuatan kita telah menanti. Kalau kau mati, masalahmu tidak otomatis selesai. Kau harus menghadapi pertanyaan di alam kubur,” ucap Farhan mengingatkan.
Via beranjak dari duduknya. Ia berpindah ke ranjang dekat bahu Lia. Dengan lembut, ia mengusap kepala gadis yang tergolek lemah.
“Lia, percayalah masih ada yang peduli denganmu. Kami di antaranya. Kami memang tidak akan bisa sering menengokmu karen jarak. Namun, kami mengharapkan yang terbaik untukmu,” ucap Via lembut.
Sorot mata penuh kebencian milik Lia mulai meredup. Kini mata cekung itu memancarkan permohonan belas kasihan.
“Kalian ti—dak mem—benci a—ku?” tanya Lia terbata-bata.
Via menggeleng sembari tersenyum lembut. Saat itu, seorang perawat masuk memberi tahu kalau waktu mereka sudah habis.
“Suster, bisakah aku bicara dulu dengan mereka? Beri kami waktu lagi, ya!” pinta Aurelia penuh harap.
Perawat yang baru masuk terkejut. Ia sempat ternganga beberapa detik. Setelah dapat menguasai diri, ia menyetujui dan buru-buru keluar.
“Via, aku nggak tahu hatimu terbuat dari apa. Aku sejak dulu selalu memusuhimu bahkan mencelakai kamu dan terakhir suami kamu. Tapi, kamu tidak dendam kepadaku. Kamu malah memaafkan aku sebelum kuminta. Aku malu, Via,” ucap Lia dengan suara parau.
__ADS_1
Via terus mengusap kepala Lia dengan lembut. Batinnya teriris melihat kondisi Lia.
“Tak ada manfaatnya menyimpan dendam. Yang ada hati kita akan rusak. Marilah berdamai dengan kesalahan masa lalu. Kita mencoba memaafkan diri kita dan orang lain,” ujar Via.
“Tapi aku takut, Via. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi masa depanku yang kelam. Bagaimana nasibku kelak saat aku bebas?” keluh Lia.
“Percayalah, pastia ada jalan keluar. Kau masih muda. Masih banyak kesempatan untuk memperbaiki hidup, menata masa depan,” jawab Via.
“Memangnya ada yang mau menerima aku, bekas narapidana? Keluargaku saja tidak mau menerimaku. Buktinya, tak satu pun dari mereka yang menengok aku, termasuk mamaku,” keluh Lia lagi di sela isaknya.
Via meraih gelas berisi air putih. Dengan hati-hati ia membantu Lia meminum air dalam gelas itu. Setelah menghabiskan seperempat gelas, Lia sedikit lebih tenang.
“Yakinlah akan ada pertolongan Allah kalau kamu yakin kepada Rabb-mu. Mendekatlah pada Allah, mintalah pertolongan! Kalau di sini tak ada orang yang dapat kau jadikan tempat bersandar, kembalilah ke Jogja! Insya Allah kami menerimamu,” kata Via mantap.
Lia menatap Via ragu. Kepala Via dianggukkan untuk meyakinkan Lia akan kebenaran kalimat yang baru diucapkan.
“Sekarang, kamu harus dapat menata hidupmu. Selama di tahanan, dalami ilmu agama. Kami yakin pihak rutan memberi kesempatan untuk itu. Kamu harus bisa bangkit, Lia!” ucap Via menyemangati temannya.
“Terima kasih, Via, Mas Farhan. Maafkan aku, ya!” kata Lia tulus.
Via dan Farhan tersenyum. Mereka mengangguk mantap. Kelegaan terlihat jelas di wajah mereka.
“Maafkan kami tak bisa berlama-lama di sini. Kau tahu sendiri tadi perawat sudah meminta kami keluar. Selain itu, kasihan bayi kami ditinggal terlalu lama,” kata Via berpamitan.
“Kalian sudah punya anak? Oh senangnya. Anak kalian pasti lucu,” gumam Lia.
“Iya. Tapi, bayi kan tidak boleh dibawa masuk ke sini. Kami pamit, ya! Jaga diri baik-baik! Kalau ada kesempatan ke Medan, insya Allah kami menjengukmu. Assalamualaikum,” ucap Via lagi.
“Waalaikumsalam. Terima kasih,” jawab Lia.
Mereka meninggalkan Lia. Sebelum sampai pintu, Via menoleh ke Lia sambil melambaikan tangan. Lia membalas lambaian tangan itu dengan senyum tulus di bibirnya yang pucat.
*
__ADS_1
Bersambung
Mohon tidak lupa klik like dan meninggalkan koment agar aku lebih semangat, ya! Terima kasih kepada Kakak yang setia mendukungku.