SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Nafkah untuk Meli


__ADS_3

Dua jam dokter Haris bisa mengistirahatkan fisiknya. Selama ditinggal keluarganya, pria itu terlelap. Ia bangun ketika ada bunyi telepon mengusiknya.


....


“Kok bisa?”


....


“Baik, saya ke sana.”


Dengan langkah tergesa, dokter Haris menuju ruang ICU. Ia baru mendapatkan laporan kalau Eyang Probo kembali kehilangan kesadaran dan kondisinya juga lebih buruk dibandingkan saat ia tinggalkan.


Sementara Via dan keluarganya kembali ketika dirasa sudah cukup memberi waktu kepada dokter Haris untuk beristirahat.


“Ayah tidak ada di ruangan. Apa di ruang ICU, ya?” ucap Farhan mendapati ruangan terkunci dan saat diintip ternyata tak ada orang di dalam.


“Biar Azka ke sana. Kalau ditelepon, kemungkinan tidak akan diangkat,” kata Azka.


Tanpa menunggu komentar yang lain, Azka melangkahkan kaki menuju ruang ICU. Tak sampai setengah jam, Azka kembali lagi.


“Gimana, Ka? Ayah ada di ICU?” tanya Bu Aisyah.


“Iya. Azka cuma bertemu perawat. Kata perawat itu, ayah sedang menunggui Eyang Probo yang kondisinya kembali drop,” jawab Azka.


Wajah-wajah mereka kembali tegang. Pikiran buruk pun berkecamuk.


“Mari kita ke musala untuk berdoa sekalian menunggu zuhur. Meli bisa menunggu di taman dekat musala,” ucap Bu Aisyah.


Mereka mengangguk setuju. Kelimanya berjalan beriringan menuju musala. Via berjalan berdampingan dengan Meli.


“Lagi halangan, Mel?” bisik Via.


:Iya,” jawab Meli lirih.


“Berarti semalam belum, dong!” kata Via sembari  mengulum senyum.


“Maksudmu?” Meli menatap Via tak mengerti.


“Kalian belum menikmati ibadah sunah yang menyenangkan,” jawab Via.


Sejenak Meli berpikir. Ia tersenyum malu setelah paham yang Via maksud.


“Berarti kalian memang mesti pacaran saja dulu,” lanjut Via diikuti tawa lirih.


Sampai depan musala, Meli melanjutkan langkah menuju taman. Yang lain pergi menyucikan diri.


Saat duduk di  bangku taman, perasaan Meli terasa tak enak. Ia merasa ada orang yang mengawasinya. Berulang kali ia mengedarkan pandangan, tetapi tak ia jumpai orang yang mencurigakan.


Untuk menghilangkan gelisahnya, Meli mengambil benda pipih nan pintar miliknya. Ia membuka kotak chatt dengan Anjani. Beberapa chatt dari Anjani belum ia buka.


[Mel, kamu benar. Mas Rangga ternyata menyukaiku. Tadi dia nembak aku.]


Meli terbelalak membaca pesan pertama Anjani. Ia merasa  geregetan.


“Beraninya dia nembak Anjani. Huh!” gerutu Meli dalam hati.


[Untungnya dia bisa berbesar hati waktu aku mengatakan tak bisa menerima. Dia memintaku tetap berteman.]


Meli menarik nafas lega. Ia tak lagi marah.


{Sayangnya, saat aku menyatakan bersedia tetap berteman, Mario datang. Ia salah paham dan memukul Mas Rangga.]

__ADS_1


“Astaghfirullahalazim, Kak Mario bisa khilaf juga,” gumam Meli lirih.


[Bagaimana kondisi eyang Mas Azka? Gawatkah? Kamu sampai tak sempat membaca pesanku.]


Meli tersenyum tipis. Ia segera mengetik pesan.


[Iya, maafkan aku baru baca pesanmu. Kemarin sore Eyang Probo sempat membaik, hari ini drop lagi]


Anjani ternyata sedang off hingga tak baca pesan Meli.  Meli  tampak sedikit keceea.


Meli mencari kontak ayahnya. Ia menyentuh tombol dial begitu ditemukan.


“Assalamualaikum, anak Ayah yang cantik,” sapa Pak Roni.


“Waalaikumsalam, Ayah. Ibu ada di situ?”


“Enggak. Ibumu di rumah. Bagaimana kondisi Eyang Probo? Semakin membaik?”


“Hari ini malah memburuk, Yah. Padahal, kemarin sore sudah ada perkembangan yang menggembirakan,” ucap Meli sedih.


“Banyak-banyaklah berdoa untuk kesembuhan beliau. Ayah dan ibumu juga mendoakan beliau. O ya, kapan kamu pulang? Bukankah besok kuliah?”


“Iya, Yah. Insya Allah nanti malam. Besok Ayah bisa jemput Meli, nggak?” tanya Meli manja.


“Insya Allah. Jam berapa?”


“Jam 3-nan. Meli pakai kereta saja.”


Setelah berbincang tentang kepulangan Meli, gadis itu menutup teleponnya. Ia melihat pesannya sudah dibaca Anjani. Sahabat Meli itu tengah mengetik pesan.


[Aku ikut prihatin. Semoga Eyang Probo segera sembuh. Kamu kapan pulang?]


Meli segera mengetik pesan balasan untuk Anjani.


[Kok tahu?]


Setelah mengirim pesan, Anjani tampak langsung off. Meli tentu saja merasa kesal.


Gadis itu bangkit dari duduknya ketika melihat Via dan Bu Aisyah keluar. Dari pintu yang lain, dua bersaudara berwajah tampan melangkah bersama meninggalkan musala. Meli segera mendekat.


Kita kembali ke ICU?” tanya Meli.


“Iya. Siapa tahu kita sudah bisa nengok,” jawab Azka.


Mereka tiba bersamaan dengan dokter Haris keluar ruangan.


“Kalian dari musala?”tanya dokter Haris ramah.


“Betul, Yah. Kondisi Eyang Probo bagaimana?”Azka terlihat tak sabar.


“Alhamdulillan stabil. Kalian mau nengok?  Silakan bergantian.  Ayah salat dulu.” Pak Haris berlalu.


Mereka bergantian menengok Eyang Probo. Via dan Meli bersama masuk setelah yang lain menengok bergantian.


“Assalamualaikum, Eyang. Ini Via dan Meli datang,” ucap Via.


“Ayolah, Eyang. Meli inginmengenal Eyang.Eyang segera sembuh, ya. Kalau Eyang sembuh, Meli akan ke Jogja lagi menemui Eyang. Kita bisa cerita banyak hal,” kata Meli tanpa jeda.


Bibir Eyang Probo sedikit tertarik. Seperti ada seulas senyum tipis  di bibir Eyang Probo.


Mereka berdua mengajak Eyang  Probo bicara. Tentu saja Eyang Probo hanya diam. Setelah sepuluh menit, mereka keluar. Ternyata, dokter Haris sudah kembali.

__ADS_1


“Bagaimana kalau siang ini kita makan di kafe depan saja?” Farhan menawari.


Semua setuju. Mereka berjalan kaki menuju kafe yang berada di seberang rumah sakit.


“Ayah, kira-kira ada keganjilan nggak dengan Eyang?” tanya Farhan saat mereka menunggu menu yang dipesan.


“Maksud kamu?” dokter Haris membalikkan pertanyaan.


“Kok tiba-tiba Eyang menjadi tidak disiplin? Bukankah selama ini Eyang disiplin dalam menjaga kesehatan?” Farhan menjelaskan maksudnya.


“Mungkin faktor usia. Karena usia sudah lanjut, Eyang Probo kembali seperti anak kecil,” papar dokter Haris.


Farhan terdiam. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikirannya.


“Meli kapan kembali ke Jember? Em, bukannya aku ngusir, tapi kan kamu harus kuliah.” Farhan sedikit tak enak hati.


“Iya, mas. Meli ngerti, kok. Nanti malam pakai kereta saja. Mas Azka sudah booking tiket, kok,” jawab Meli.


Azka mengangguk, membenarkan ucapan Meli.


“Kalau ada waktu, sering-seringlah ke Jogja! Kamu kabari aku, biar ada yang jemput saat tiba di sini,” kata Via.


Meli tersenyum dan mengangguk setuju.


“Dek Azka dan Meli, kalian fokuslah untuk menyelesaikan kuliah kalian. Apalagi Dek Azka. Magistermu sudah di depan mata. Kamu tidak boleh gagal. Semua akan kecewa. Jadi, kamu tidak usah pulang lagi selama thesismu belum selesai. Apa pun yang terjadi, biar kami yang menyelesaikan,” ucap Farhan tegas.


“Iya, Mas. Besok Azka kembali ke Medan. Insya Allah 2-3 minggu lagi kelar. Doakan saja,” sahut Azka.


“Tentu saja kami selalu mendoakan kalian,” kata Bu Aisyah lembut.


Mereka menikmati hidangan yang baru tersaji dengan tenang. Usai makan siang, mereka kembali ke rumah sakit.


Siang sampai dengan sore itu kondisi Eyang Probo stabil. Semua bisa bernafas lega. Bahkan, saat Meli berpamitan pulang, Eyang Probo dapat merespon dengan senyum tipis di bibir.


“Kamu harus hati-hati, jaga diri baik-baik. Maafkan aku yang belum bisa menjagamu,” bisik Azka saat mereka dalam perjalanan menuju stasiun.


“Mas Azka ngomong apa, sih? Kita kan sudah sepakat LDR, saling menjaga kepercayaan. Meli ngerti, kok,” ucap Meli bijak.


“Duh, istriku pengertian banget. Tapi, yang ini kamu nggak boleh nolak. Pakai ini untuk keperluanmu! Aku suamimu, aku yang harus mencukupi kebutuhanmu. Setidaknya, biarkan aku memberimu nafkah lahir.”


Azka mengambil benda kotak tipis dari dompet. Ia menyodorkannya ke Meli.


“Simpan, gunakan untuk kebutuhanmu! Aku tidak menerima penolakan. PIN-nya tanggal pernikahan kita,” kata Azka tegas.


Meli menerima kartu dari Azka. Ia menyimpannya dalam dompet. Entah kenapa rasa haru mendadak menyeruak. Mata Meli pun digenangi oleh air mata.


"Selesaikan kuliahmu! Aku juga. Kita sama-sama berjuang, ya!" ucap Azka saat melepas kepergian Meli.


Meli hanya sanggup mengangguk. Dadanya dipenuhi rasa yang tak dapat terungkap.


"Salam buat ayah ibu. Sampaikan juga permohonan maaf dariku yang belum bisa jadi suami yang baik untuk putrinya."


Lagi-lagi Meli hanya mengangguk. Ia tidak ingin berpisah. Namun, keadaan belum memungkinkan mereka bersatu.


Azka melingkarkan tangannya ke bahu Meli. Dia merengkuh tubuh Meli ke pelukannya. Meli pun pasrah, menikmati usapan lembut sang suami.


*


Bersambung


Terus ikuti kelanjutan kisah ini, ya! Bagaimana Meli setelah di Jember? Ikuti di novel kece karya author cantik Cinta Strata 1! Jangan lupa dukung kami dengan meninggalkan like dan komen di tiap episode! Terima kasih.

__ADS_1


Barakallahu fiik



__ADS_2