SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Protektif


__ADS_3

Happy eid Mubarak buat teman-teman yang merayakan.


Keikhlasan berkorban merupakan bukti cinta kita kapada Sang Khalik.


❣️❣️❣️❣️❣️


Setelah dirawat selama 5 hari, Via boleh pulang. Meskipun sudah dinyatakan sembuh, Farhan sangat berhati-hati menjaga sang istri. Via tidak boleh memasak apalagi melakukan pekerjaan rumah lainnya.


Hal ini berlangsung tidak hanya sehari dua hari, seminggu dua minggu, tetapi sudah satu bulan lebih pun larangan itu masih berlaku. Tentu saja Via merasa jenuh.


Pagi itu, usai salat subuh Via bermaksud memasak nasi uduk. Ia sudah menyiapkan semua bahan yang diperlukan.


"Sudah, biar Bu Inah dan Mbok Marsih yang memasak. Mbak Via istirahat saja. Nanti Mas Farhan marah, lo," kata Bu Inah.


"Enggak apa-apa, Bu. Ini kan nggak nguras tenaga. Lagian Via nggak sendirian," jawab Via santai.


Via kembali melanjutkan kegiatannya. Namun, belum lagi ia menyalakan kompor, sebuah teguran menghentikan niatnya.


"Cinta sedang apa? Bukannya sudah dibilangin untuk tidak usah memasak? Mas khawatir tifusmu kambuh lagi. Ingat, Cinta nggak boleh kecapekan!"


Via menoleh ke arah suara. Farhan tengah berdiri di pintu dengan masih mengenakan baju Koko warna putih lengkap dengan peci.


"Hubbiy, ini nggak nguras tenaga. Ada Bu Inah dan Mbok Marsih yang bantu, kok," kilah Via.


Farhan menatap tajam istrinya. Sayang, yang ditatap tidak memperhatikan.


"Cinta! Tolong jangan membantah! Ini untuk kebaikanmu!" Suara Farhan terdengar tegas.


Begitu mendengar suara Farhan seperti itu, Via menoleh. Ia melihat tajamnya tatapan mata sang suami. Via menunduk.


"Bu Inah, Mbok Marsih, tolong selesaikan, ya. Via nggak jadi masak," ucap Via lirih.


"Iya, Mbak Via nurut saja," jawab Mbok Marsih.


Via melangkah meninggalkan dapur. Ia menuju ke kamar dengan perasaan dongkol.


Farhan yang mengetahui raut muka Via cemberut segera mengikuti langkahnya.


Mereka berjalan beriringan, bukan bergandengan seperti biasanya.


Sampai di kamar, Via meraih ponselnya lalu membanting pantatnya ke ranjang. Ia menyibukkan diri dengan benda kotak pipih itu.


"Cinta marah, ya? Cinta kesal sama Mas? Semua itu karena Mas sayang. Mas nggak mau Cinta kecapekan lalu sakit lagi. Cukup sekali saja Cinta dirawat di rumah sakit karena keteledoran Mas," ucap Farhan sambil duduk di samping Via.


Perempuan itu belum mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangan. Farhan sedikit gemas dengan reaksi sang istri. Ia melingkarkan tangannya ke bahu Via.


"Cinta, Mas merasa sangat bersalah waktu Cinta dinyatakan tifus oleh dokter. Mas merasa tidak becus jadi suami. Kalau saja Mas lebih perhatian, tentu Cinta nggak perlu sakit sampai dirawat berhati-hati di rumah sakit," ucap Farhan lagi.


Via melirik ke Farhan. Rasa kesalnya belum hilang.


"Mas nyesel karena harus nungguin Via di rumah sakit?" Pertanyaan Via terdengar ambigu.


Farhan sebenarnya tidak suka dengan pertanyaan yang menyebalkan itu. Apalagi Via memanggilnya "mas". Itu menunjukkan perasaan Via sedang tidak baik. Namun, ia menahan diri agar tidak terpancing emosi Via.

__ADS_1


"Mana ada Mas nyesel nungguin istri cantik Mas. Dengerin, Sayang! Mas khawatir dengan kondisi Cinta. Mas nggak suka nungguin Cinta di rumah sakit bukan karena bosan di dekat Cinta atau capek. Mas nggak suka istri Mas ini sakit. Kalau bisa memilih, biar Mas saja yang sakit," papar Farhan.


Hati Via mulai meleleh mendengar ucapan Farhan. Kedongkolannya terkikis oleh kata-kata sang suami. Namun, rasa bosan dengan larangan Farhan membuatnya melancarkan protes.


"Memasak sehari sekali itu nggak bikin capek. Lagian ada yang bantuin. Capek dari mana, coba? Hubbiy sih, jarang bantuin Bunda. Jadi nggak tahu rasanya memasak kayak apa. Nggak kayak Azka," gerutu Via.


Farhan jelas tidak suka dibandingkan dengan orang lain, meskipun itu adiknya sendiri. Namun, ia masih dapat mengendalikan emosi.


"Iya, kalau cuma masak mungkin nggak capek. Tapi, sekarang kan sudah mulai kuliah. Belum lagi masih ke kantor dan mengurus Azrina. Itu kan menguras energi. Jadi, kurangi aktivitas yang nggak perlu atau yang bisa diserahkan kepada orang lain," kata Farhan dengan sabar.


Via terdiam. Ia membenarkan ucapan suaminya. Namun, di sisi lain ia ingin melakukan kegiatan yang ia sukai.


"Dengar, Cinta. Kalau sudah benar-benar sehat, tidak kambuh lagi selama tiga bulan, Mas izinkan Cinta masak deh," kata Farhan diiringi senyum.


Via menatap Farhan. Pria itu mengangguk dengan mempertahankan senyum di bibirnya.


Tanpa diduga, Via merobohkan dirinya ke Farhan. Untunglah, pria itu sigap menerima tubuh sang istri. Ia merengkuh erat dalam pelukannya.


"Mas lakuin ini karena Mas sayang banget," bisik Farhan. Sebuah kecupan mendarat di kepala Via yang tertutup jilbab.


"Mandi dulu, sana! Nanti ada jadwal kuliah pagi, kan? Atau mau Mas mandiin?" Farhan meledek Via.


"Ish, apaan dimandiin? Memang Via anak kecil apa?" Via mencebik.


Farhan tertawa melihat kelakuan Via. Di matanya, Via begitu menggemaskan. Ia menyukai kemanjaan Via.


Setelah hidup bersama, Via sering menunjukkan sifat aslinya. Ia memang bisa mandiri, tetapi ketika di dekat orang-orang yang menyayanginya ia cenderung manja. Begitulah dulu sikapnya terhadap almarhum papa dan mamanya.


Meski cenderung manja, Via jarang membantah kata-kata Farhan. Ia lebih sering menurut apa yang Farhan katakan.


Itulah sebabnya selama tiga bulan Via tidak pernah memasak apalagi bersih-bersih rumah. Ia juga tidak pernah membeli jajanan di pinggir jalan.


Hanya untuk saat ini ia tergoda. Teriknya matahari membuat tenggorokan terasa kering. Tulisan "rujak es krim" disertai gambar sukses membuat Via meneguk air liur berulang kali.


Hal itu tak luput dari perhatian Ratna. Ia heran melihat tatapan Via yang terus mengarah ke penjual rujak es krim.


"Via, kamu kenapa? Kepengin itu?" Ratna tak tahan memendam keheranannya.


Via mengangguk. Ia terlihat begitu menginginkan.


"Boleh nggak sama suami kamu? Nanti Mas Farhan marah?" Ratna ragu.


Seketika raut muka Via berubah. Ia tampak kecewa mendengar pertanyaan Ratna.


"Aku pengin banget, Ratna. Sudah lama nggak merasakan lezatnya es krim dipadu segarnya rujak. Ah, tentu enak sekali dinikmati siang yang terik begini," ujar Via.


"Kalau Mas Farhan tahu, aku bisa ikut kena marah," tukas Ratna.


"Kan nggak lihat. Aku nggak bilang, kamu juga. Ayolah, temani aku! Udah lama nih nggak makam rujak es krim."


"Tunggu? Sopir kamu, Pak Yudi?" Ratna masih ragu.


"Pak Yudi masih nanti, kok. Sekarang kan kita kosong. Aku telanjur minta jemput jam 2. Ayo, Ratna!" Via memaksa.

__ADS_1


Akhirnya, Ratna menurut. Ia mengekor langkah Via.


"Empat, dibungkus," pinta Via kepada penjualnya.


"Banyak amat?" Ratna keheranan.


"Buat Mbak Mira dan Salsa. Kita makan di ruko saja," bisik Via.


Usai membeli rujak es krim, mereka pulang ke ruko. Mira dan Salsa tengah melayani pembeli yang agak banyak saat itu. Setelah menyimpan rujak es krim ke kulkas, Via dan Ratna ikut membantu. Selang 10 menit kemudian, tidak ada satu pun pembeli.


"Kita nikmati yang seger dulu, yuk!" ajak Via.


"Apaan, Dek?" Mira bertanya.


"Rujak es krim, Mbak. Panas gini kan enak makan rujak es krim," sahut Via.


Di sela makan, Salsa teringat sesuatu.


"Mbak Via lagi ngidam, ya?"


Ratna tergelak mendengar pertanyaan Salsa.


"Via tuh emang suka makanan pedas. Makanya, waktu dia sakit sampai opname gara-gara rujak juga. Dikira ngidam, kepingin bakso, siomay, bahkan rujak, dituruti. Eh, nggak tahunya tifus. Makanya, Mas Farhan sekarang over protektif," kata Ratna.


"Kalau makan rujak es krim gini, memang nggak dilarang?" tanya Salsa polos.


"Tentu saja dilarang. Vianya ngeyel." Ratna mencebik.


"Sesekali bolehlah. Udah berbulan-bulan nggak makan yang pedes seger kayak gini," ujar Via santai.


Ketiga teman Via hanya menggelengkan kepalanya.


"Eh, memang Dek Via belum--belum ikut program hamil?" tanya Mira ragu.


"Iya, Via. Kamu nikah sudah hampir setahun. Eh, hampir 2 tahun malah. Ya, anggap setahun deh yang hidup bareng. Apa kamu atau Mas Farhan belum ingin punya anak?" Ratna menimpali.


Via terdiam. Ia memang tidak pernah membahas hal ini dengan Farhan.


"Saran saja, Dek. Karena bersama suami sudah setengah tahun lebih, nggak ada salahnya periksa kesuburan," saran Mira.


Via mengangguk. Ia segera menghabiskan rujak es krimnya. Setelah habis, ia mengirim pesan ke Pak Yudi agar menjemput di ruko.


Saat perjalanan pulang, Via merasakan ada yang membuatnya tak nyaman. Punggungnya terasa pegal. Ia khawatir tifusnya kambuh lagi. Ada sesal menyelinap karena telah mengabaikan larangan suaminya.


***


Bersambung


Jangan lupa untuk tetap dukung author, ya!


Sambil nunggu episode selanjutnya, baca karya teman author ini ya!


__ADS_1


__ADS_2