
Keluarga Via, keluarga Farhan, juga keluarga kedua mempelai sudah berkumpul mengelilingi meja panjang. Mereka siap menyantap hidangan. Pak Candra memperhatikan yang hadir. Terasa ada yang kurang.
Edi dan Mira sudah duduk berdampingan dengan wajah segar. Keluarga mereka juga suudah hadir dengan muka berseri, kecuali Pak Hendra tentunya. Keluarga Via sudah lengkap termasuk Pak Adi. Keluarga Farhan?
Pak Candra mengerutkan kening. Ada yang kurang. Pak Haris pun menyadari kalau anak bungsunya tidak ada.
“Azka ke mana, Bun?” tanya Pak Haris kepada istrinya.
“Bunda juga nggak tahu. Tapi, tadi Bunda sempat lihat sekilas, masih ada di hotel ini, kok,” jawab Bu Aisyah.
“Jangan-jangan diculik cewek yang bersamanya tadi malam,” celetuk Farhan.
Orang-orang yang mengenal keluarga Farhan menatap Farhan. Mereka seolah meminta klarifikasi ucapan Farhan.
“Tadi malam Farhan lihat Dek Azka bersama seorang gadis pakai gamis warna maroon. Farhan nggak begitu jelas lihat wajahnya. Yang jelas, Dek Azka makan bersamanya,” jelas Farhan.
“Sekitar jam berapa? Kok Via nggak lihat? Via cuma lihat waktu ngasih popok buat Dedek Zayn. Habis itu nggak lihat lagi.”
Farhan terdiam. Ia sedang mengingat-ingat sesuatu.
“Oh iya, semalam kan Dek Azka kusuruh beli popok. Nah waktunya sekitar itu. Mungkin setelah beli popok, dia bersama gadis itu,” kata Farhan.
“Ya sudah, karena tinggal Azka, kita makan dulu, yuk! Biar saja anak itu nanti nyusul,” ujar Pak Haris menengahi.
Mereka pun mulai bersiap menikmati hidangan pembuka. Saat mereka baru menghabiskan setengah, Azka datang sambil nyengir.
“Maaf, maafkan Azka telat. Tadi ada urusan,” ucap Azka sembari mengatupkan tangan di depan dada.
Setelah itu, dia duduk di kursi dekat bundanya.
“Kamu dari mana saja, Ka?”bisik Bu Aisyah.
“Nanti deh, Azka ceritakan. Sekarang, mari sarapan.”
“Kamu hutang pejelasan ke Bunda, lo!’ Bu Aisyah kembali melanjutkan makannya.
"Yah, Bunda Sama anak perhitungan amat?” gerutu Azka.
Bu Aisyah hanya tersenyu. Ia melanjutkan sarapan.
Usai makan bersama, keluarga Edi berpamitan ke kamar. keluarga Mira segera benyusul. Kemudian, Via jga bangkit berdiri karena Baby Zayn rewel kehausan.
“Mumpung tidak banyak orang, ada yang akan aku sampaikan ke Edi dan Mira. Ed, kalian kan sudah menikah. Rencana mau tinggal di mana?” kata Pak Candra.
“Sementara kami mau cari kontrakan dulu sambil cari rumah, Tuan, Nanti siang kami akan melihat ,rumahmyang dikontrakan yang kemarin sempat saya lihat,” jawab Edi.
Pak Candra tersenyum. Ia memberi kode kepada salah satu body guard-nya yang berada di ruangan tersebut. Dengan sigap, lelaki bertubuh kekar yang mendapat kode segera mendekat dan menyerahkan sebuah map.
“Ini kado dariku, semoga bermanfaat,” ucap Pak Candra. Pria itu menyerahkn map yang baru diterima kepada Edi.
Dengan tangan gemetar, Edi menerima map tersebut. Ia menatap Pak Candra dengan raut muka kebingungan.
__ADS_1
“Buka saja, Mas,” saran Farhan.
Dengan tangan masih gemetar, Edi membuka map tersebut. Matanya terbelalak membaca tulisan yang ada pada dokumen di dalam map.
Pak Candra mengangguk. Senyum lebar terlukis di bibirnys.
“Lokasinya tak jauh dari rumah Via, kok. Hanya sekitar 500 meter.”
“Ta—tapi iini tentu mahal, Tu—tuan,” ucap Edi ragu.
“Mahal? Aku nggak peduli, yang penting kamu cocok dan mau menerimanya. Bagaimana, kau menerima rumah itu atau aku cari rumah yang lain?”
“Ti—tidak usah, Tuan. Saya terima. Terima kasih atas kebaikan hati Tuan. Saya....” Edi tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Tenggorokannya terasa kering.
“Ya sudah kalau begitu. Aku hanya bisa ngasih rumah kecil untuk kalian,” kata Pak Candra santai.
Pak Adi tersenyum melihat ekspresi Edi. Mira yang duduk di samping edi tak kuasa menahan haru.
“Aku juga punya hadiah untukmu. Nggak semahal yang Candra berikan untukmu. Setidaknya, ini bisa melancarkan pekerjaanmu.” Pak Adi mengeluarkan amplop coklat yang ukurannya empat kali lipat amplop biasa.
Lagi-lagi Edi gemetar menerimanya. Ia menyerahkan amplop itu ke Mira.
“Buka, Mira!” ucap Bu Aisyah lembut.
Perlahan Mira menyobek amplop tersebut. Sebuah BPKB dan STNK mobil juga atas nama Edi. Air mata Mira tak lagi menggenang. Akhirnya, air itu meleleh membasahi pipinya.
“Mobil kalian sudah diantar ke rumah.”Pak Adi berkata dengan tenang.
Edi segera bersimpuh di depan Pak Candra lalu bergantian ke Pak Adi. Ia sangat bersyukur menjadi bagian dari keluarga Wijaya.
Pak Adi dan Pak Candra mengumbar senyum. Mereka lalu menyuruh Edi kembali duduk.
Mereka beranjak dari duduknya menuju kamar masing-masing. Baru saja satu langkah Azka menapak, Bu Aisyah menarik tangannya.
“Nanti dulu! Ingat, kau berhutang penjelasan ke Bunda. Tadi kenapa terlambat? Lalu apa benar yang dikatakann
kakakmu?” tanya Bu Aisyah.
“Ya elah, Bun. Kok Bunda jadi kepo gini,” jawab Azka santai.
“Sudahlah, tak perlu banyak protes, jawaab saja pertanyaan Bunda!” perintah Bu Aisyah tegas.
“Oke, Bundaku Tadi malam eh masih agak sore, habis maghrib, Mas Farhan nyuruh Azka ke mini market. Agak jauh dari sini karena mini market di seberang jalan tutup.”
“Ngapain ke mini market?” potong Bu Aisyah.
Azka tertawa lirih. Ia merasa bundanya saat ini kekanak-kanakan.
“Disuruh beli popok. Mbak Via cuma bawa sebungkus, ternyata isinya cuma 2. Kurang, deh. Tadi Mas Farhan juga udah bilang.” jawab Azka.
“Lalu di mana ketemu gadis itu?”
__ADS_1
“Waktu Azka keluar dari mini market, Azka lihat ada cewek lagi kebingungan. Nah, jiwa hero Azka bergejolak, deh. Terus, Azka wawancarai cewek itu. Ternyata, dompetnya ilang. Catatan alamat yang akan dituju ada di kertas di dalam dompet.”
“Kenapa nggak telepon orangnya?”
“HP-nya low batt. Kayaknya dia tipe agak-agak ceroboh kayak si Ratna temannya Via itu. Dia kan bingung karena nggak hafal seluk beluk Jogja, alamat ilang, HP nggak bisa dipakai, uang cuma beberapa ribu. Lengkap, kan penderitaannya.”
“Terus, kamu ajak ke sini?” cecar Bu Aisyah.
“Betul, Bun. Tadinya nolak. Dengan berbagai jurus, akhirnya Azka bisa meyakinkan tu cewek. Begitu sampai sini, dia carge HP-nya. Sementara HP sedang diisi, aku ajak dia ngisi perut. Nah saat itulah mungkin Mas Farhan lihat. Habis makan, HP sudah bisa dinyalakan. Tapi, nomor temannya nggak aktif. Bingung lagi, kan?” jelas Azka.
“Lalu kau antar ke mana?”
Azka menoleh ke kanan dan kiri. Ia memastikan hanya bundanya yang mendengar yang akan ia katakan.
“Dia nginep di sini, di lantai 2.”
“Apa?” seru Bu Aisyah kaget.
“Sstt, jangan teriak gitu, Bun! Kan cuma nginep di hotel. Apa salahnya? Azka kan nggak sekamar dengannya. Masuk kamarnya juga enggak,” kata Azka.
Bu Aisyah menarik nafas lega. Ia sempat berpikir negatif akan Azka dan gadis yang belum ia ketahui namanya.
“Rencananya, kalau teman dia bisa dihubungi, Azka mau antar dia ke alamat temannya itu. Kalau enggak, Azka antar ke stasiun saja. Begitu, Bunda,” tutur Azka.
Bu Aisyah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda paham. Beberapa detik kemudian, ia seperti teringat sesuatu.
“Ka, gadis itu sudah makan belum? Kenapa tadi tidak kau ajak sekalian makan bareng kita?”
“Udah aku pesenin, kok. Dia makan di kamarnya. Kalau ia makan bareng kita, tentu dia canggung. Tenanglah, putramu ini bertanggung jawab dan dapat dipercaya.” Azka menebar senyum lebar.
“Tapi, Bunda ragu apa kamu suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan,” sahut Bu Aisyah.
Sebagai anggota Pramuka sejati, mereka tentu hafal dasa dharma.
“Kalau pikiran dan perbuatan insya Allah suci. Kalau perkataan, beraaat. Setidaknya Azka jujur, kan?” sahut Azka.
“Terserahlah. Ka, Bunda ingin kenal gadis itu. Ayo, antar Bunda ke kamarnya!” ajak Bu Aisyah
Azka terkejut. Ia tak menyangka bundanya akan bereaksi seperti itu.
“Ayo, tunggu apa lagi? Kenalkan gadis itu!” seru Bu Aisyah
“Memang kenapa Bunda ingin kenal sama dia?” Azka terlihat ragu.
“Siapa tahu dia jadi menantu Bunda. Kan Bunda perlu mengenalnya,” jawab Bu Aisyah santai.
Azka menggelengkan kepala mendengar jawaban bundanya yang ia rasa absurd. Namun, ia tak bisa membantah. Mau tak mau ia menuruti kemauan bundanya, mengenalkan gadis itu.
Azka bersama Bu Aisyah menuju lift. Cowok itu menekan angka 2. Begitu lift terbuka, seorang gadis berdiri tepat di depan pintu. Baik Azka maupun gadis itu sama-sama terkejut.
***
__ADS_1
Bersambung
Masih penasaran dengan gadis yang Azka ajak? Insya Allah di episode selanjutnya. Semoga nanti sore bisa aku lanjutin. Saat ini lingkunganku sedang lock down karena pandemi covid. Sudah 8 orang di RW-ku yang positif covid. Mohon doa teman-teman agar pandemi ini segera berakhir.