
Setelah menimati hidangan yang sudah tersedia di meja makan, Via dan Meli berpamitan ke kamar Eyang Probo lagi. Para suami ikut menemani mereka. Sementara para orang tua masih bertahan di ruang makan untuk mengobrol.
“Eyang belum ngantuk?” tanya Meli sambil duduk di kursi dekat ranjang.
Eyang Probo menggeleng pelan. Wajahnya masih memancarkan kebahagiaan.
“Mungkin karena Tuan Probo menjelang sore baru tidur. Jadi, beliau belum mengantuk,” kata perawat.
“Sehari ini kondisi eyang stabil?” tanya Via kepada perawat yang berdiri di dekat nakas.
“Alhamdulillah, suhu, tensi, dan nadi normal. Tuan Probo juga terlihat tenang emosinya, wajahnya selalu cerah. Ini perkembangan yang baik.”
Mereka begitu lega mendengar penjelasan si perawat.
“Eyang ingin apa?” tanya Meli.
“Eyang ingin cicit lagi? Dari Azka dan Meli, ya?” tambah Azka.
“Ish, Mas Azka nih!” pekik Meli. Mukanya merona menahan malu.
Via dan Farhan tertawa mendengarnya. Eyang Probo menarik sudut bibirnya jauh-jauh membentuk senyum lebar. Sementara, si perawat hanya tersenyum menahan tawa.
“Nggak apa-apa, Mel. Biar Eyang dapat hiburan baru, Zayn punya teman. Eh bagaimana kalau semester depan kamu pindah saja ke Jogja? Dek Azka kan sudah selesai S-2. Kalian tidak usah LDR-an lagi, bisa fokus menghadiahi Eyang seorang cicit. Benar, Eyang?” Via mengerling eyangnya dan Meli bergantian.
“Mbak Via!” Meli kembali memekik manja.
Via terkekeh. Ia senang sekali menggoda iparnya.
“Wah, ramainya! Sedang ngobrolin apa, nih?” ucap Pak Haris sambil melangkah masuk.
“Rencana menghadiahi eyang cicit baru,” jawab Farhan cepat.
Meli menunduk. Mukanya makin merona karena ayah mertuanya ikut bergabung bersama mereka. Ia masih memiliki rasa sungkan.
“Berarti cucu buat Ayah, dong,” sahut Pak Haris.
“Iyalah. Sudah pantas, kan, Azka jadi seorang ayah?” Azka menaik-turunkan alisnya sambil menyunggingkan senyum tengilnya.
“Pantas, sangat pantas malah,” jawab Pak Haris diiringi tawa renyahnya.
“Tuh, Mel, dengar! Suamimu juga sudah ingin dipanggil ayah. Kamu sudah siap, kan?” ucap Via.
Meli semakin terpojok. Ia tak bisa menjawab apa-apa, hanya senyum tak jelas.
“O ya, tadi Ayah lupa menyalakan lampu teras. Ka, bagaimana kalau kamu dan Meli ke rumah Ayah, sekalian menunggui rumah?” Pak Haris menawari.
”Ehm, sana kamu ajak Meli ke rumah ayah! Jangan lupa kunci semua pintu biar nggak ada yang bisa masuk!” perintah Farhan.
“Kamu mau nginap di rumah ayah?” tanya Azka kepada Meli.
“Terserah Mas Azka saja,” jawab Meli.
“Udah, nggak usah kebanyakan mikir! Ambil kunci sana!” ucap Via.
Azka bangkit dari duduknya lalu mendekat ke ranjang.
“Eyang, Azka dan Meli ke rumah ayah dulu, ya! Besok insya Allah ke sini lagi,” kata Azka.
Eyang Probo mengangguk. Ia tidak menunjukkan keberatan sama sekali.
“Mbak Via dan Mas Farhan tunggui eyang, ya!” pesan Azka.
Azka mengulurkan tangan kepada Meli. Ia membantu istrinya berdiri.
__ADS_1
“Jangan ganggu, ya!” bisik Azka ke telinga Farhan sebelum keluar.
Di depan pintu, mereka bertemu Bu Aisyah dan kedua orang tua Meli.
“Kalian ma uke mana?” tanya Bu Fatimah.
“Ke rumah ayah bunda, Bu. Ayah dan bunda di sini, rumah kosong. Kata ayah tadi lampu belum dinyalakan,” jawab Meli.
“Kalian nginep di sana?” ganti Pak Roni yang bertanya.
“Iya, sekalian. Ayah dan ibu nggak apa-apa, kan tinggal di sini? Banyak orang kok.” Azka yang menjawab.
“Iya, nggak apa-apa. Hati-hati, ya!” pesan Bu Fatimah.
“Iya, Bu,” jawab keduanya serempak.
Setelah bersalaman, mereka menuju teras depan. Mendadak Meli balik kanan.
“Ada apa, Sayang?” tanya Azka heran.
“Koper Meli di dalam kamar,” jawab Meli.
Saat Meli akan kembalo masuk, Azka menahannya. Pria itu memegang pergelangan tangan Meli.
“Mas Azka, Meli Cuma ambil baju,” ucap Meli.
“Ngapain? Kamu lupa kalau di sana sudah tersedia baju untukmu?”
Meli terkekeh, menertawakan dirinya yang sudah mulai pelupa.
“Ayo, kita berangkat!” perintah Azka.
Azka membuka pintu depan mobil bundanya. Setelah Meli masuk, ia berputar untuk mengambil posisi di belakang kemudi. Tak lama kemudian, roda mobil mulai menggilas jalanan.
Usai memasukkan mobil ke garasi, Azka menutup gerbang. Kemudian, ia mengajak Meli masuk.
“Sepi banget, ya? Tadi di rumah Eyang Probo ramai sekali,” gumam Meli. Meski lirih, telinga Azka masih menangkap kalimat yang Meli ucapkan.
“Kalau kamu pindah ke sini seperti usul Mbak Via, aku yakin tak lama lagi rumah ini menjadi tak sepi lagi,” kata Azka sambil menggandeng tangan Meli menuju kamarnya.
“Iya, aka nada 4 penghuni,” sahut Meli.
“Bukan empat, tapi tiga,” koreksi Azka.
“Kok tiga? Mas Azka bilang aku pindah ke sini. Ya berarti empat, ayah, bunda, Mas Azka, dan aku,” protes Meli.
“Ayah dan bunda berencana tinggal di kediaman Eyang Probo kalau kita tinggal di sini,” kata Azka.
“Ayah dan bunda nggak suka sama Meli, ya?” Meli tampak sedih.
Azka tertawa sambil mengacak jilbab Meli.
“Bukan begitu. Mereka ingin kita tinggal berduaan agar mereka segera dapt cucu baru.”
‘Ish, nyebelin!” Meli mencebik.
“Biar nyebelin, suamimu tetep ganteng dan memesona, kan?”
Meli kembali mencebik meski dalam hati ia membenarkan ucapan Azka.
Azka membuka pintu kamar. Ia mempersilakan Meli untuk ganti baju dan membersihkan muka.
“Kenapa kamu tidak pakai yang warna merah maroon?” tanya Azka.
__ADS_1
“Maksud Mas, lingerie seksi itu?” tebak Meli.
Azka mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu mendekat ke Meli.
“Ya sudah, ini juga nggak apa-apa. Nanti aku bantu nglepasin,” bisik Azka ke telinga Meli.
Hembusan nafas Azka membuat Meli geli. Ia mulai merinding dibuatnya.
“Mas Azka, aaa…” desah Meli.
Azka terus mmenyapukan ujung hidungnya ke pipi lalu turun ke leher. Meli menggelinjang. Geli bercampur nikmat ia rasakan. Setelah beberapa menit, Azka mengakhiri dengan kecupan lembut di tengkuk Meli.
“Kau tidak lelah, kan?” tanya Azka.
“Sedikit pegal karena duduk seharian di kereta,” jawab Meli manja.
Dengan cepat, Azka merengkuh tubuh Meli lalu menggendongnya. Ia tak memedulikan pekikan Meli yang terkejut dengan perlakuan Azka. Diletakkannya tubuh sang istri ke ranjang dengan hati-hati.
Azka menyunggingkan senyuman yang dilihat Meli begitu manis. Meli pun membalasnya. Sebuah kecupan lembut kembali Azka berikan.
“Sudah malam, mari kita mengistirahatkan diri,” ucap Azka.
Pria itu naik ke atas ranjang. Ia tduduk menghadap Meli.
“Aku kira Mas Azka menginginkan olah raga dulu,” piker Meli.
Tangan Azka terjulur memegang betis Meli. Dengan gerakan lembut tetapi cukup bertenaga, Azka memijat betis istrinya.
“Mm-maasss, kok malah Mas Azka yang pijit Meli. Harusnya Meli yang pijitin Mas Azka,” ujar Meli yang tak enak hati.
“Kali ini biar Mas yang pijitin kamu. Bukannya tadi bilang kalau pegal kkarena seharian duduk di kereta? Kesempatan lain, gentian kamu yang pijitin aku. Sekarang, nikmati pijitanku.
Meli terdiam. Ia mulai merasakan sensasi pijatan Azka yang begitu enak.
“Mas Azka pernah belajar mijit? Kok enak sekali?” tanya Meli.
“Hem,pernah belajar sebentar. Guru silat Mas yang ngajari. Kamu akan ketagihan merasakan enaknya pijatanku. Sekarang, telungkup. Mas akan mijit punggungmu. Buka dulu kimonomu!” perintah Azka.
Meli kaget. Ia tak mengira kalau harus membuka bajunya.
“Ta—tapi Meli .…”
“Kenapa? Malu? Bukankah Mas sudah pernah lihat? Ayolah!” sahut Azka cepat.
Meli mulai membuka kancing kimononya. Azka ikut membantu membuka kimono Meli dan melemparkan asal-asalan.
Azka menelan salivanya saat melihat punggung mulus Meli terpampang di depannya. Darahnya berdesir. Namun, ia menahan gejolak yang mulai bergelora.
Begitu Meli menelungkup, tangan Azka mulai memijat punggung Meli. Kenikmatan pijatan Azka membuat Meli merem melek.
Sepuluh menit berselang, tekanan tangan Azka mulai berubah. Telapak tangannya tak lagi memijat melainkan mengusap. Perlahan dan penuh perasaan. Meli pun merasakan sensasi kenikmatan yang lain. Kali ini, gairahnya mulai bangkit.
Azka membalikkan tubuh Meli. Keindahan tubuh bagian depan pun membuat Azka makin bergejolak. Tangannya mulai menyapu permukaan dada yang dihiasi sepasang gunung yang menantang. Belian itu berubah menjadi remasan lembut. Desahan Meli mulai terdengar.
Malam itu keduanya menikmati indahnya penyatuan cinta dan raga mereka. Tak ada gangguan dari siapa pun.
***
Bersambung
Maaf, kemarin tidak up. Semoga tetap mau mengikuti karya recehku ini. Jangan lupa mampir ke CS1 karya Kak Indri Hapsari untuk mengenal kehidupan Meli. Dukung terus karya kami dengan klik like dan tinggalkan komentar di tiap episode.
__ADS_1