SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Meli Dilamar


__ADS_3

Sampai kediaman Pak Haris, mereka disambut oleh Bu Aisyah. Wanita itu tampak segar meski telah berumur. Seringnya siraman air wudhu membuat wajahnya tampak bersinar.


“Bagaimana liburan hari ini? Kalian senang?” tanya Bu Aisyah.


“Sangat senang, Bunda. Mas Azka bayarin kami banyak barang. Tadi di ruko juga. Via berikan banyak baju buat kami, keluarga, juga teman-teman kami,” jawab Meli.


Bu Aisyah tersenyum mendengarnya. Ia melirik putra bungsunya yang tengah membantu membawakan belanja kedua tamu mereka.


“Kami jadi nggak enak, nih. Masa segini banyaknya dibayarin semua,” sambung Anjani.


“Nggak apa-apa. Yang bayarin ikhlas. Iya, kan Azka?” ucap Bu Aisyah.


“Sangat, Bun. Lagian Azka jarang-jarang beliin orang lain. Yang ada Azka yang dikasih. Di Medan pun Om Candra yang selalu bayarin belanja Azka kalau kami pergi bersama,” kata Azka.


Via dan Bu Aisyah tertawa. Mereka merasakan aura kebahagiaan terpancar dari wajah Azka.


“Tuh, si bos dengan senang hati bayarin kalian. Besok bisa lanjut lagi belanjanya,” komentar Via sambil mengedipkan matanya.


“Ya, sudah. Sekarang, kalian membersihkan diri dulu. Sudah sore, nih. Kasihan tu Zayn belum mandi,” kata Bu Aisyah.


Meli dan Anjani  segera membawa barang belanjaan ke dalam kamar. Via membawa Zayn ke kamarnya.


Via terkejut saat masuk kamar ternyata tidak menjumpai Farhan. Ia mengira suaminya telah pulang.


Baru saja selesai memandikan Zayn, Bu Aisyah masuk ke kamarnya.


“Farhan lembur malam ini. Tadi Bunda dijemput ayah,” tutur Bu Aisyah menjawab pertanyaan yang sempat muncul di benak Via.


“Oh, begitu. Jangan-jangan Mas Farhan chatt Via tapi belum Via buka.” Via bermaksud mengambil gawainya.


“Nanti saja, selesaikan dulu  Memakaikan baju Zayn. Nanti dia kedinginan,” cegah Bu Aisyah.


Via menurut. Ia segera membalur tubuh Zayn dengan minyak telon dan memakaikan baju.


“Kamu tadi melanjutkan menanyai Meli? Bagaimana jawaban dia?” tanya Bu Aisyah tak sabar.


Via tertawa melihat tingkat kekepoan bundanya. Baru kali ini Bu Aisyah begitu kepo.


“Dia belum memberi kepastian, Bun. Tapi, dari gelagatnya Via yakin Meli suka sama Azka. Cuma, dia ragu untuk menikah dalam waktu dekat. Dia masih ingin melanjutkan kuliah,” jawab Via.


“Jadi, kalau dia tetap bisa melanjutkan kuliah, dia mau menerima lamaran Azka?” Bu Aisyah belum yakin.


“Kemungkinan besar begitu. Nah, kuncinya ada di Dek Azka dan Bunda,” ucap Via.


“Kok Bunda?”


“Bunda yang harus bicara ke Meli, meyakinkan Meli seperti dulu yang Bunda lakukan ke Via,” jawab Via sambil tersenyum.


“Oh, begitu. Kalau begitu, nanti kamu ajak Anjani ngobrol, biar Meli Bunda culik. Bunda mau bicara empat mata dengannya.”


“Wah, Bunda nih main culik segala. Eh, sebentar! Memang Dek Azka sudah benar-benar yakin mau melamar Meli?” tanya Via.


“Nanti Bunda tanya sekali lagi sebelum Bunda menanyai Meli. Seperti yang Bunda lakukan ke kalian dulu. Bunda tanya Farhan, baru tanya kamu,” jawab Bu Aisyah.


Via tersenyum mengenangnya. Kemudian, ia berpamitan untuk mandi dan meminta tolong Bu Aisyah untuk menjaga Baby Zayn.


Bu Aisyah menggendong Zayn ke kamar Azka. Setelah mendapat jawaban atas salamnya, Bu Aisyah masuk kamar putra bungsunya. Rupanya Azka baru saja selesai mandi.

__ADS_1


“Bagaimana jalan-jalan kalian tadi? Mengasyikkan nggak?”


“Bukannya tadi Bunda udah menanyakan hal itu?” Azka balik bertanya.


“Kan tadi kamu belum jawab. Yang jawab Meli. Atau kalian sehati, sama-sama senang?” Bu Aisyah mulai memancing.


“Itu tahu jawabannya,” sahut Azka.


Bu Aisyah terkekeh. Melihat neneknya tertawa, Zayn ikut tertawa. Hal itu memancing Azka untuk  mencium pipinya.


“Ini anak bikin Om gemas. Mmmuah.”


“Kamu nggak ingin dipanggil ayah?” pancing Bu Aisyah lagi.


“Iyalah, Bunda. Tapi kan modal belum cukup,” kata Azka.


“Kamu kan sudah punya penghasilan. Modal apa lagi?” desak Bu Aisyah.


“Modal istrilah. Memangnya kalau nggak punya istri, bagaimana punya anaknya? Ntar nggak sah dong,” jawab Azka santai.


Bu Aisyah kembali terkekeh mendengar jawaban putranya.


“Kalau Meli, cocok nggak jadi calon ibu dari anakmu?” tanya Bu Aisyah.


“Nggak.”


Bu Aisyah terkejut mendengar jawaban putranya. Ia menatap Azka dengan tatapan membunuh.


“Maksud kamu? Bunda dan Via sudah berusaha mengorek tentang Meli, sudah jauh melangkah begini, ternyata kamu nggak cocok kalau Meli jadi calon istrimu?” seru Bu Aisyah.


“Bunda, jangan keras-keras! Nanti Zayn takut, lo! Sini, Zayn sama Om. Eyang Uti lagi baper,” ucap Azka sambil meraih Zayn dari dekapan bundanya.


“Iya, Bun. Tadi Bunda kan tanyanya Meli cocok nggak jadi calon ibu dari anak Azka? Ya menurut Azka nggak cocoklah. Dia itu cocoknya jadi calon istri dan ibu dari anak-anak Azka. Azka maunya ga cuma punya satu anak, Bun,” tutur Azka santai.


Bu Aisyah melototi Azka. Ia merasa gemas hingga tak kuasa menahan jemarinya untuk mencubit paha Azka.


“Auw, sakit! Bunda kejam amat?”


“Dasar anak nakal! Kamu sudah bikin Bunda deg-degan!” gerutu Bu Aisyah.


“Nakal gimana? Azka kan menjawab pertanyaan Bunda,” sangkal Azka dengan bibir dimajukan.


“Sudahlah! Nanti malam Bunda mau melamar Meli,” ucap Bunda sambil beranjak dari duduknya.


Setelah mengambil kembali Zayn Bu Aisyah keluar dari kamar Azka. Ia kembali ke kamar Via.


“Tadi Bunda bilang mau melamar Meli? Apa? Berarti kalau Meli mau, aku nikah sama dia? Nikah? Aku nggak jomblo?” Azka bertanya-tanya pada diri sendiri.


*


Seusai salat Isya, Via mengajak Anjani ke perpustakaan keluarga. Mereka berdiskusi tentang hak dan kewajiban muslimah.


“Aku dengar kamu berhijab sejak kelas XII. Benar begitu?” tanya Anjani sambil membuka-buka sebuah buku.


“Iya. Waktu itu sudah hampir lulus. Bahkan sudah UN,” jawab Via.


“Apa yang mendorongmu memutuskan untuk menutup aurat?”

__ADS_1


“Setelah aku tahu hukum menutup aurat itu wajib dan juga batas aurat wanita. Saat itu ada pengajian di sini. Kemuadian, aku berdiskusi dengan bunda. Setelah mantap, aku mulai mengenakan hijab. Tadinya, aku memakai baju-baju milik sepupu Mas Farhan.”


Via menceritakan masa lalunya, bagaimana kehidupannya saat masih ada papa mamanya. Ia kemudian menceritakan proses perubahannya dari yang tak peduli pada ajaran agama hingga mulai mendalaminya. Bu Aisyah menjadi sosok yang sangat berarti dalam proses hijrahnya.


Anjani mengangguk kagum. Ia tak menyangka kalau Via dulu sangat jauh dari ajaran agama. Ia sebatas Islam di identitas dan pelajaran. Namun, Allah benar-benar Maha Membolak-balikkan hati.


Sementara Anjani berdiskusi dengan Via, Meli tengah diajak Bu Aisyah ke kamar lama Via. Ruangan tempat Bunda menanyakan kesediaan Via menikah dengan Farhan sekitar 3 tahun silam.


“Maaf, Mel. Ada hal yang ingin Bunda tanyakan ke kamu. Sebelumnya, Bunda minta maaf kalau nanti pertanyaan Bunda menyinggung perasaanmu,” kata Bu Aisyah membuka percakapan.


“Iya, Bun. Tapi, tentang apa, ya? Meli deg-degan nih,” ucap Meli.


Bu Aisyah tersenyum lembut. Ia mempersilakan Meli duduk di sofa tunggal dekat meja rias.


“Meli suka nggak selama di sini?” tanya Bu Aisyah memancing.


“Suka, Bun. Keluarga Bunda semuanya baik, menerima Meli dan Anjani dengan ramah. Bahkan Meli seperti punya orang tua baru dan saudara baru di sini,” jawab Meli jujur.


“Kalau tinggal di sini mau?” Bu Aisyah mengajukan tawaran.


“Ti—tinggal di sini?” Ia ingat pertanyaan yang sama saat ia datang beberapa waktu lalu.


“Kalau kamu menikah dengan Azka, apa kamu mau?” tanya Bu Aisyah menegaskan.


Meli mematung. Ia tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu.mLidahnya terasa kelu, Meli pun hanya diam membisu.


“Kamu kaget, ya? Bunda ngerti, kok, kamu belum siap menjawab.Tak apa. Bunda hanya menyampaikan permintaan Bunda. Kalau bersedia, Bunda ingin kamu jadi menantu kedua Bunda, menjadi istri Azka,” kata Bu Aisyah lagi.


“Jadi, ini semata-mata keinginan Bunda?” desis Meli.


Bu Aisyah tertawa lirih. Diusapnya kepaa Meli dengan lembut.


“Mana mungkin ini hanya keinginan Bunda? Ini keinginan kami semua. Azka tentu yang utama. Bunda, ayah, Farhan, juga Via sudah sepakat mendukungnya, jawab Bu Aisyah.


Meli tampak lega. Tanpa disadari, senyum tipis menghiasi bibirnya. Namun, untuk menjawab iya, Meli belum kuasa.


“Bunda, boleh Meli bertanya?”


“Tentu saja,”jawab Bu Aisyah mantap.


“Kalau Meli terima, apa berarti Meli harus tinggal di sini? Bagaimana kuliah Meli?”


Bu Aisyah tersenyum, lalu menjawab, “Tetu saja kamu tetap bisa melanjutkan kuliahmu. Kamu mau pindah kuliah di sini, boleh. Bunda tentu senang punya teman. Meli mau ikut Azka ke Medan juga bisa. Bahkan, Meli tetap boleh di Jember sampai lusus kuliah. Azka bisa menerima seandainya harus LDR-an sementara waktu.”


Meli menarik nafas lega. Hatinya terasa  dipenuhi bunga-bunga. Kembali bibirnya mengembangkan senyum bahagia.


“Me—li tidak keberatan, Bunda. Tapi, Meli nggak tahu orang tua Meli setuju apa tidak,” kata Meli lirih.


“Alhamdulillah,”ucap Bu Aisyah lega, “Tentu hal ini harus kamu bicarakan dengan ayah ibumu, Kalau mereka sudah aa keputusan, beri tahu Bunda. Kami akan ke Jember bila orang tuamu setuju.”


Pembicaraan mereka terhenti. Ketukan pintu kamar membuat Bu Aisyah beranjak untuk membuka,


***


Bersambung


Berlanjut menikah nggak, ya, Meli dan Azka? Temukan jawabannya di episode mendatang. Yang ingin tah latar belakang Meli, silakan meluncur ke novel Kak Indri Hapsari.

__ADS_1



__ADS_2