SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Sisi Lain Edi


__ADS_3

Semburat jingga menghiasi langit barat. Matahari sudah tidak lagi memancarkan teriknya. Kesejukan kini menggantikan panas yang semula mendera.


Via duduk di dekat jendela. Tirai biru masih terbuka memberi ruang untuk menatap peristiwa di luar sana.


Sebuah tepukan lembut di bahu membuat Via sedikit tersentak. Meski tahu siapa pemilik tangan yang ada di bahunya, Via tetap menoleh memastikan. Seulas senyum tertoreh di bibir kala tatapan mereka beradu.


“Kayaknya asyik sekali. Cinta sedang lihat apa, sih?” tanya Farhan sembari duduk di samping Via.


“Tadinya Via lihat langit senja. Dulu, Via suka melihat matahari tenggelam. Indah sekali,” jawab Via.


“Kalau matahari terbit? Bukankah sunrise juga indah?”


“Iya. Dan sunrise yang paling menakjubkan yang pernah Via lihat adalah saat kita lava tour meski tidak melihat prosesnya,” kata Via.


Via menyenderkan kepala ke bahu suaminya. Farhan melingkarkan tangan melalui belakang tengkuk Via. Lalu, dengan lembut dibelainya rambut panjang sang istri.


“Kita memisahkan diri dari rombongan sehingga bisa pacaran haha….” Farhan tertawa mengingat kejadian waktu itu.


“Hubbiy memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan,” desis Via.


“Kok kesempitan?”


“Iyalah, waktu itu kan Via sakit perut. Itu kan yang awalnya menjadikan kita terpisah dari rombongan? Bukannya gabung setelah sampai puncak malah menjauh,” ucap Via.


“Tapi suka, kan? Kalau kita nggak misah dari rombongan, mana ada foto romantis itu. Atau sebenarnya waktu itu Cinta ingin berduaan di kamar? Kita bermesraan dengan leluasa di kamar Mas, terus …. Aww!” ucapan Farhan yang belum selesai diakhiri pekik kaget.


Ternyata, sebuah cubitan kecil mendarat di paha Farhan. Tentu saja sang istri pelakunya.


“Kok dicubit, sih?” protes Farhan sambil mengusap pahanya.


“Habis omongan Hubbiy mulai ngelantur. Ujung-ujungnya mesum, deh,” gerutu Via.


Farhan terkekeh. Ia menghujani pipi Via dengan ciuman gemas.


“Ish, udah dong! Ni Via mau ngomong.'


“Ya sudah, ngomong tinggal ngomong. Kan bisa Cinta ngomong sementara Mas cium pipimu.”


“Via jadi susah, ah. Hentikan dulu, dong!” pinta Via manja.


Farhan mengalah. Ia menghentikan ciumannya setelah mengecup bibir sang istri.


“Hubbiy lihat di sana!” Via menunjuk arah paviliun.


Pandangan mata Farhan mengikuti arah telunjuk sang istri. Ia mendapati seorang lelaki yang tengah duduk sendirian.


“Ada apa, sih? Mas cuma lihat sosok Mas Edi,” ujar Farhan.


“Lagi ngapain?” pancing Via.

__ADS_1


“Duduk sendirian."


“Dia di sana sejak Via belum ke sini. Posisinya masih sama seperti itu. Dia seperti patung.”


Farhan tertawa mendengar ucapan Via. Ia malah membayangkan patung Edi.


“Kok malah tertawa? Hubbiy perhatian sedikit dong sama asistennya!” protes Via.


“Maksud Cinta?” Farhan mengerutkan keningnya.


“Sepertinya ada sesuatu yang membebani pikiran Mas Edi. Via memperhatikan sejak kita mengumumkan kehamilan Via. Mas Edi jadi pendiam. Apa pertemuan dengan Om Candra membuatnya rindu keluarganya?” kata Via.


“Cinta perhatian sama Mas Edi rupanya. Kenapa tidak memperhatikan suami tampanmu ini?” keluh Farhan.


Via menoleh. Ia memperhatikan raut muka suaminya.


“Hubbiy, kok malah cemberut, sih? Udah deh, nggak usah cemburu apalagi pakai merajuk. Via serius nih. Coba Hubbiy dekati, ngomong dari hati ke hati. Kalau memang Mas Edi rindu keluarganya, ya kasih cuti. Kasihan dia.”


“Iya, deh. Ntar habis magrib coba ngobrol dengannya.” Farhan mengalah.


“Nah, gitu dong! Hubbiy harus perhatian sama anak buah,” ujar Via seraya tersenyum manis.


“Masa hadiahnya cuma senyum? Kalau seperti itu terus, Mas lama-lama diabet deh.”


“Kok diabet?” tanya Via tak paham.


“Senyummu manis sekali,” bisik Farhan.


Farhan memeluk Via erat. Diciuminya rambut Via yang harum.


***


Salat magrib berjamaah telah usai. Setelah mendirikan dua rekaat salat sunah rowatib, Farhan melipat sajadahnya. Ia mendekati Edi yang sedang duduk di serambi masjid.


“Pulang, yuk!” ajak Farhan.


Edi mengangguk. Ia bangkit dari duduknya.


“Pak Yudi dan Pak Nono mana, ya?” ucap Farhan sambil menyapukan pandangan ke seluruh penjuru masjid.


“Sudah pulang duluan, kok,” sahut Edi.


“Oh, begitu. Ayo, kita segera pulang!”


Mereka berjalan pulang. Farhan memelankan langkahnya. Ia sengaja agar memiliki kesempatan ngobrol lebih lama dengan Edi.


“Mas Edi sedang ada masalah?” Farhan membuka pembicaraan.


“Enggak, kok. Memang kenapa?” Edi balik bertanya.

__ADS_1


“Aku perhatikan sekarang Mas Edi lebih banyak diam. Mas Edi juga sepertinya sering melamun. Apa Mas Edi kangen ingin pulang?” cecar Farhan.


Edi menggeleng. Tentu saja Farhan tidak melihatnya. Karena, pandangan Farhan saat itu terfokus pada jalanan yang ia susuri.


“Mas Edi sudah kuanggap keluarga. Kalau ada apa-apa, mari saling berbagi. Termasuk masalah. Kalau Mas Edi ada masalah, lebih baik ungkapkan saja. Siapa tahu aku bisa bantu carikan solusi,” kata Farhan lagi.


“Iya, Mas. Saya berterima kasih kepada Mas Farhan dan keluarga yang telah begitu baik kepada saya. Saya beruntung bertemu Tuan Candra yang memberikan kepercayaan begitu besar kepada saya. Tugas mengawasi dan membantu keponakannya ternyata mengantarkan saya menemukan kehangatan keluarga dan kedekatan dengan Sang Khalik,” tutur Edi.


Farhan menoleh. Pria di sampingnya ternyata berjalan sambil menunduk.


“Mas Edi sudah lama tidak bertemu keluarga. Apa Mas Edi rindu? Itu wajar, Mas. Kalau memang Mas Edi kangen keluarga, Mas bisa ambil cuti beberapa hari untuk pulang kampong. Saat ini aku rasa tidak ada masalah serius dengan perusahaan.”


“Saya sudah biasa pisah lama dengan keluarga, kok. Lagi pula, keluarga saya tidak seperti keluarga Mas Farhan yang rukun dan harmonis. Orang tua saya sudah bercerai sejak saya duduk di bangku SMP. Sejak iu, saya tidak pernah bertemu ayah saya. Sementara ibu menikah lagi. Ayah tiri saya orangnya keras. Saya tidak pernah merasakan kasih saying seorang ayah lagi,” tutur Edi sendu.


“Mas Edi punya saudara?”


“Kalau saudara kandung seayah seibu, saya nggak punya. Ibu saya memiliki dua anak dari pernikahan keduanya.”


Tak terasa perjalanan mereka telah sampai. Pak Nono yang sudah sampai rumah terlebih dahulu menyambut mereka.


Farhan mengajak Edi melanjutkan obrolan mereka di teras. Edi menyetujuinya.


“Sudah berapa lama Mas Edi nggak pulang?” tanya Farhan setelah meletakkan pantatnya di kursi.


“Sejak saya lulus kuliah. Setelah wisuda, saya pulang selama seminggu kemudian merantau ke Medan. Kemudian, saya bekerja di perusahaan Tuan Candra. Selama itu, saya hanya berkomunikasi lewat telepon.”


“Ibu tidak pernah menyuruh Mas pulang?”


“Tentu saja pernah. Sering malah. Tapi, saya malas untuk pulang. Saya trauma dengan perlakuan ayah tiri saya. Dia tidak pernah menganggap saya sebagai anaknya. Dia tidak mau membiayai sekolah saya. Alhamdulillah sejak SMA saya dapat beasiswa. Untuk kebutuhan lainnya seperti beli buku juga biaya hidup saat kuliah, saya bekerja serabutan.”


Farhan menarik nafas panjang. Ia ikut prihatin dengan kehidupan Edi, khususnya masa lalunya.


Apa Mas Edi tidak pernah memiliki niat untuk pulang? Setidaknya menjenguk ibu?” tanya Farhan berhati-hati.


Edi terdiam. Tatapannya menerawang jauh.


“Saat ini belum. Mungkin kalau saya bertemumseorang …”


Edi tidak menyelesaikan kalimatnya. Farhan menunggu ucapan Edi.


“Kok nggak segera masuk? Ayo, makan malam dulu. Yang lain udah nunggu.” Suara Via membuyarkan pembicaraan dua pria itu.


Farhan bangkit dari duduknya. Ia menepuk bahu Edi, memberi isyarat untuk masuk.


“Kita lanjutkan nanti,” bisik Farhan.


Edi tersenyum. Ia mengekor langkah Farhan menuju ruang makan.


***

__ADS_1


bersambung


Jangan lupa untuk selalu dukung author dengan memberi like, koment, juga vote yang banyak.


__ADS_2