
Meli benar-benar menikmati suasana Malioboro yang sangat ramai karena akhir pekan. Tentu saja ia tidak lupa membeli pernak-pernik khas Jogja. Meski murah, setidaknya itu bentuk perhatian seorang sahabat. Untuk siapa? Anjani dipastikan menempati urutan pertama. Kak Lisa, Mario, Juno, Ken, Alenna, Dika, ....
Menyebut nama terakhir, ada getar lembut di dadanya. Ah, getarannya tak sedahsyat sebelumnya. Tepatnya sebelum bertemu Azka. Nah, ketika membandingkan dengan nama cowok terakhir, dada Meli mendadak berdegup kencang.
“Mel, kok melamun?” tegur Ratna.
“Eh, a—aku sedang mengingat-ingat sahabat yang akan kukasih gantungan kunci Prambanan,” jawab Meli sedikit gugup.
“Udah, ambil selusin sekalian! Mas, bayarin tuh!” ujar Ratna sembari menyikut Azka yang berdiri di dekatnya.
Meli memelototi Ratna. Ia tak enak hati kalau Azka harus membayar belanjaannya meski tidak seberapa.
“Eng—nggak ...aww!” Meli tak jadi menyelesaikan kalimatnya karena keburu merasakan kakinya sakit diinjak Ratna.
“Siap! Udah, tenang saja. Aku nggak bangkrut kalau cuma pernak-pernik gini. Pak, gantungan kunci selusin kaliyan hiasan candi niku nggih selusin (Pak, gantungan kunci satu lusin dan hiasan candi itu juga selusin). “ Azka tidak memedulikan Meli yang tampak tak enak hati.
Setelah membayar barang yang dibeli, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Jiwa shopping Meli bergejolak melihat kaos, tas, bahkan sandal jepit khas Jogja. Ratna tersenyum melihat Meli menahan keinginannya berbelanja.
“Udah, puasin. Anjani belikan, jangan lupa!” bisik Ratna.
Tanpa menunggu persetujuan Meli, Ratna mengambil kaos, tas, dompet, dan sandal masing-masing 2. Ia pun memberi kode kepada Azka untuk membayar. Tentu saja cowok itu tidak keberatan membayar barang-barang yang dipilih Ratna.
Melihat hal itu, Meli menjadi salah tingkah. Ia merasa kikuk karena semua belanja untuknya dibayar Azka.
Setelah hampir dua jam, Meli merasa puas. Ia mengajak pulang ke ruko.
“Eh, bukannya kalian sudah setuju menginap di rumahku? Ayolah, kasihan bunda sudah berharap kalian nginep di sana,” pinta Azka.
“Eh ni orang bisa juga pasang wajah memelas. Aku jadi gak tega. Tapi, gimana tujuanku semula?”
“Mas, Meli ke sini ingin belajar tentang olshop. Kalau nggak ada insiden dompet hilang, tentu Meli sudah ngobrol banyak dengan Ratna.” Meli berkilah
“Sudah,nanti kita bisa ngobrolin soal itu di rumah Mas Azka. Coba Via dihubungi, Mas!” Ratna memberi keputusan yang membuat Meli tak bisa membantah.
Azka segera mengeluarkan gawainya lalu menelepon Via. Sementara Meli memutar indra penglihatannya menyapu Malioboro sebelum ia tinggalkan.
“Yuk, kita ke rumah sekarang. Sebentar lagi ashar,” ajak Azka.
Kedua gadis itu mengikuti langkah Azka. Tak lama mereka telah sampai tempat parkir. Begitu semua sudah berada di dalam mobil, Azka melajukan mobil milik bundanya perlahan menyusuri jalanan yang cukup padat pada saat weekend.
Begitu tiba di kediaman dokter Haris, Bu Aisyah menyambut mereka dengan hangat. Wanita itu mempersilakan kedua gadis itu duduk di ruang keluarga. Sementara Azka berpamitan ke masjid dan langsung ke hotel mengambil barang Meli yang masih di sana.
Ketiga perempuan dari dua generasi itu juga hanya sebentar duduk. Mereka beranjak ke musala kecil untuk menunaikan salah ashar.
Selesai salat, mereka kembali ngobrol di ruang keluarga. Bu Aisyah terlihat begitu bahagia. Pancaran matanya melukiskan hal itu.
Selang beberapa menit, terdengar suara salam. Bu Aisyah bergegas menuju ruang tamu.
Ia kembali ke ruang keluarga. Namun, ia tak sendiri. Seorang wanita yang menggendong bayi mengikuti di belakangnya.
“Via! Akhirnya datang juga. Nginep, kan?” pekik Ratna senang.
Meski semalam mereka bertemu, kelebaian Ratna tetap muncul. Ia memeluk Via lalu mencium Zayn yang berada di gendongan bundanya.
“Ini beneran Meli? Masya Allah, aku pangling. Kalau Dek Azka nggak bilang, aku nggak tahu deh.” Via mendekat ke Meli, lalu cipika cipiki sejenak.
Meli melebarkan senyum saat menatap Zayn. Bayi berusia 2 bulan itu tampak lucu menggemaskan.
“Sebentar, jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Bu Aisyah.
Ratna mengangguk. Ia menceritakan pertemanan dengan Meli yang berawal dari dunia maya. Mereka juga pernah bertemu saat resepsi pernikahan Via.
“Meli salut sama Ratna yang bisa biayai kuliahnya sendiri. Itu sebabnya Meli bela-belain datang ke sini untuk ketemu Ratna,” jelas Meli.
__ADS_1
“Sebenarnya, Via tuh komandannya. Dia yang merintis usaha bisnis online ini. Tadinya dia sendirian, lalu aku bantuin dia. Alhamdulillah, olshop kami berkembang pesat hingga akhirnya berkembang jadi toko fisik di ruko itu dan memiliki pegawai meski cuma berlima denganku.”
Meli menatap Via kagum. Ia tak menyangka kalau Azrina dirintis sendirian oleh Via.
“Nanti deh kamu tanya-tanya Via soal strategi marketing. Dialah pakarnya. Kami banyak belajar dari dia.” Ratna menjelaskan penuh semangat.
Meli semakin kagum. Tatapannya terus mengarah ke Via. Hal itu membuat Via sedikit risi.
“Jangan berlebihan, deh. Aku sudah nggak di Azrina lo. Sekarang kan kamu dan lainnya yang mengelola,” tukas Via.
Meli tampak terkejut. Ia menatap Ratna dan Via bergantian.
“Beneran Via udah gak di sana? Sejak kapan? Kenapa?” tanya Meli penasaran.
“Dia sekarang jadi boss perusahaan besar. Jadi, Azrina diserahkan ke aku. Azrina kan kecil, nggak ada apa-apanya dibandingkan Wijaya Kusuma.” Ratna menjelaskan.
Via memelototi Ratna. Namun, sahabat karibnya itu tak memedulikannya.
“Oh, hebat ya, Via. Pantesan di WA olshop cuma Ratna dan Salsa yang sering aktif. Kemarin pun aku nggak terpikir menghubungi Via.” Meli menatap Via kagum.
“Eh, aku cuma nggak mau waktuku untuk keluarga tidak optimal. Apalagi Baby Zayn berkebutuhan khusus. Dia lahir prematur,” kata Via berusaha mengelak.
Untunglah, Bu Aisyah segera mengalihkan topik pembicaraan. Ia mengajak ketiganya menikmati bakpia yang ia suguhkan.
“Ah, aku lupa belum beli bakpia. Pasti besok teman-teman nagih bakpia, deh.” Meli teringat oleh-oleh lagi.
“Tenang, bisa pesan, kok. Kamu pulang jam berapa?” tanya Bu Aisyah.
“Meli belum tahu, Bu. Meli juga bingung mau naik kereta atau bus,” ucap Meli.
“Kereta saja! Nanti aku pesankan,” celetuk Azka yang tiba-tiba masuk ruangan.
Keempat wanita yang tengah ngobrol itu terkejut dengan kedatangan Azka. Bu Aisyah menatap Azka tajam.
“Apaan? Azka udah salam tapi nggak ada yang jawab, kok,” sahut Azka membela diri.
“Masa, sih. Perasaan aku nggak denger suara orang salam,” gumam Ratna.
“Ya sudah, tidak usah diperpanjang. Eh, tadi Via bareng Farhan, nggak? Kok Bunda sampai lupa nanyain ayah Zayn,” ucap Bu Aisyah.
“Tadi setelah Via turun, Mas Farhan lngsung pergi. Katanya mau ke toko elektronik beli perabot rumah tangga listrik buat mengisi rumah Mas Edi.”
“O begitu. Sekarang, lebih baik kalian mandi dan ganti baju dulu,” saran Bu Aisyah.
Meli tampak ragu. Ia sudah tidak memiliki baju ganti yang bersih. Via dapat menangkap kegelisahan Meli.
“Kalian pakai bajuku saja. Ratna, ikut aku ambil baju untuk kalian, yuk!” ajak Via sembari mengayunkan langkahnya menuju kamar yang dulu ia tempati.
Tak lama Ratna kembali membawa baju milik Via. Bu Aisyah menunjukkan kamar untuk mereka berdua.
Azka masih memainkan alat komunikasi cerdasnya. Ia sedang mencari tiket kereta. Selang lima menit kemudian, ia menuju kamarnya.
Jelang pukul 5 sore, Ratna dan Meli kembali ke ruang keluarga. Azka sudah duduk manis sambil memilih chanel televisi.
“Eh kalian sudah mandi rupanya. Gimana, Mel, mantap kan pakai kereta? Mau pagi atau sore?”
Meli menatap Ratna meminta pertimbangan. Namun, Ratna malah mengangkat bahu tanda dia tidak akan memberi saran apa pun.
“Kalau pagi sekitar jam 7 lewat, sore jam 6 lewat,” kata Azka lagi.
“Kalau bus?” tanya Meli.
“Nggak. Aku nggak setuju. Kemarin saja kamu kehilangan dompet beserta pemiliknya. Lebih aman naik kereta api. Jadwalnya lebih pasti,” tukas Azka.
__ADS_1
“Masa pemiliknya hilang. Ya nggaklah,” protes Meli.
“Coba kemarin kalau nggak ketemu aku,” balas Azka.
“Ih, tetep aja nggak ilang. Ketemu Mas Azka aku juga kehilangan lagi,” sahut Meli cuek.
Azka kaget. Ia menatap Meli tajam.
“Iya, kan aku jadi kehilangan ha—em—harapan eh waktu untuk bareng Ratna,” ucap Meli.
“Haish, hampir saja keceplosan kehilangan hati karena dicuri olehmu, Mas,” batin Meli.
“Kalau nggak ketemu aku, kamu malah mungkin nggak ketemu Ratna. Kamu juga bisa diculik preman-preman, terus dijual ke germo. Nah, bayangin aja!” Azka menakut-nakuti.
“Ah, Mas Azka nih malah nakut-nakutin nggak jelas. Gimana, Rat, mending paagi apa sore?” Meli meminta pertimbangan.
“Kalau sore, sampai di sana sebelum subuh, kamu berani pulng naik taksi? Atau ada yang jemput?” Ratna balik bertanya.
Meli berpikir. Ucapan Ratna ada benarnya. Ia nggak enak mengganggu istirahat orang, jam 3 ke stasiun untuk menjemputnya.
“Ya sudah, pagi saja, Mas.” Meli memutuskan.
Azka kemudian membuat pesanan dan membayarnya.
“Berarti kebersamaan kita tinggal malam ini. Aku kasih tahu banyak hal soal olshop, ya!” pinta Meli.
Ratna mengangguk. Ia memberi isyarat jempol kepada Meli.
“O iya, bakpia sama yangko diantar besok pagi sebelum jam 6,” kata Bu Aisyah yang baru masuk.
“Oh, terima kasih, Bu. Wah, Meli jadi merepotkan. Kalau begini, Meli kan betah, pengin ke sini lagi,” ucap Meli.
“Tentu saja pintu rumah ini terbuka. Kasih tahu Azka untuk jemput biar nggak hilang! Tapi, kalau pas Azka di rumah, sih,” kata Bu Aisyah.
Via masuk bergabung. Tentu saja Zayn dalam gendongannya. Aroma minyak telon dari tubuh Zayn terasa begitu menyegarkan.
“Iya, Mel, kalau libur datang lagi ke sini! Kalau Dek Azka nggak di rumah, telpon Ratna! Tapi, dia sering ceroboh, sih. Ah, aku juga bisa. Biar aku suruh Pak Yudi atau Pak Nono jemput kamu,” ucap Via.
“Kasih tahu aku seminggu sebelumnya boleh juga. Aku bisa pulang pas akhir pekan,” celetuk Azka.
“Duuuh, anak Bunda segitunya. Beneran nih bela-belain terbang dari Medan demi bertemu Meli?” goda Bu Aisyah.
Muka Azka sedikit memerah. Ratna dan Via bertukar kode dengan kedipan mata.
“Bun, bilang ke ayah siap melamar ke Jembar,” bisik Via tetapi volumenya cukup untuk didengar yang lain.
“Mbak Via jangan mulai, deh!” Azka bersungut.
“Ciee, masih malu-malu meong. Pus....” Ratna ikut melancarkan serangan menggoda Azka.
Muka Meli ikut memerah. Ia tak bisa membalas kedua temannya.
Suasana akrab pun tercipta. Rumah yang biasanya sepi menjadi hangat penuh tawa bahagia.
Malamnya, Meli begadang bersama Ratna. Via sesekali ikut saat Baby Zayn tertidur. Meli memang mengagumi keuletan Via dan Ratna yang bisa kuliah sambil berbisnis.
*
Bersambung
Akankah Azka berjodoh dengan Meli? Bagaimana nasib orang-orang yang memusuhi keluarga Via? Ikuti terus, ya! Jangan lupa untuk membaca latar belakang kehidupan Meli di novel karya Kak Indri.
__ADS_1