
Azka meletakkan ponselnya dengan posisi menelungkup. Tentu saja hal itu membuat Farhan bertambah geram. Sayup terdengar percakapan Azka dengan seorang pria.
Farhan menunggu Azka kembali aktif. Sudah 5 menit berlalu, layar masih tetap hitam.
“Kebiasaan ni anak. Masa aku disuruh ngobrol sama meja?” gerutu Farhan.
“Kok sama meja?” tanya Via heran.
“Tuh, lihat sendiri! Ini pasti HP-nya ditaruh telungkup di atas meja. Sudah lima menit nih aku dikacangin.”
Via tersenyum lebar. Ia menduga Azka sedang berbicara dengan om-nya.
“Ini, Om! Lihatlah! Ini Mas Farhan beneran, Om. Azka sudah menguji pakai 3 pertanyaan. Semua bisa dijawab dan benar. Kan berarti dia lulus, eh maksud Azka dia beneran Mas Farhan,” jelas Azka bertubi-tubi.
Layar ponsel Via kembali menampilkan wajah Azka. Cowok itu tampak meringis begitu menyadari ponselnya ia letakkan sembarangan.
“Maaf, Mas. Azka lupa. Tadi Om Candra haeboh ditelpon Mas Edi tuh. Om, sini! Nih, Om lihat sendiri! Itu Mas Farhan, kan?” Pak Candra mendekat. Ia tampak kaget menatap layar ponsel Azka. Beberapa detik Pak Candra
masih bengong.
“Om, ini beneran Farhan. Farhan baru sampai di Jogja kemarin sore. Maaf baru kasih kabar,” kata Farhan.
Sebelum Pak Candra bereaksi, pintu kamar diketuk seseorang diikuti salam. Ternyata Edi.
“Maaf, ini saya baru ngabari Tuan Candra. Beliau belum percaya kalau Mas Farhan belum meninggal,” ucap Edi.
Via tertawa. Dia memberi isyarat agar Edi duduk di sebelah Farhan. Edi pun menurut.
“Edi, kaukah itu? Ini beneran Nak Farhan yang ada di sebelahmu?” suara Pak Candra terdengar bergetar.
“Iya, Tuan, Ini beneran Mas Farhan. Dia selamat dari maut saat kecelakaan itu,” jawab Edi.
“Ja—di ini bener? Lalu, jenazah siapa yang dimakamkan waktu itu?” tanya Pak Candra gugup.
“Itu Tedi, Tuan,” jawab Edi lirih.
“Bagaimana bisa?” tanya Pak Candra lagi.
“Tedi ikut mobil lagi karena ban motor temannya juga bocor. Mas Farhan selamat karena berhasil loncat dari mobil sedangkan Tedi tidak.”
Pak Candra tampak termangu. Dia merasakan dua rasa sekaligus, senang juga sedih. Senang, karena suami keponakannya masih hidup. Ia sekaligus sedih karena kehilangan sopir keluarga yang sudah bekerja bertahun tahun pada keluarga Wijaya.
“Om, Om Candra kenapa?” tanya Azka sembari menepuk bahu Pak Candra.
Pak Candra tampak terkejut. Ia mengusap wajahnya.
“Ah, Om benar-benar terkejut, senang, sekaligus sedih. Benar-benar di luar dugaan,” kata Pak Candra lirih.
Azka hanya mengangguk-angguk Ia sendiri masih shock meski tak dipungkiri kalau dia lega juga bahagia mengetahui kakak satu-satunya masih hidup.
__ADS_1
“Lalu, bagaimana kondisi Nak Farhan? Apa baik-baik saja?” Pak candra kembali bertanya.
“Yang jelas tangan kiri saya cedera, Om. Entah patah, retak, atau dislokasi. Nanti akan dilakukan pemeriksaan. Kepala juga. Sampai sekarang masih sering nyeri. Kemarin saja saya pingsan di taksi saat menuju rumah. Alhamdulillah, Om,” papar Farhan diiring senyum.
“Kok alhamdulillah?” Pak Candra keheranan.
“Iya, qodarullah. Kalau saya nggak pingsan, teman Dek Via nganterin saya ke rumah dan saya nggak
langsung ketemu istri saya, Om. Berhubung pingsan, saya diantar ke rumah sakit dan segera bertemu istri tercinta,” ujar Farhan sambil melirik sang istri.
Pipi Via bersemu merah mendengar ucapan Farhan. Ia mendekati Farhan dan mencubit lengan suaminya.
“Wah, jangan bikin ngiri yang masih jomblo, dong! Mentang-mentang bahagia, lalu pamer kemesraan,” gerutu Azka.
“Eh, kamu nggak usah ngiri, Dek! Nganan aja gih!” Farhan tersenyum.
“Iya, iya. Nganan, lurus puter,” jawab Azka ketus.
Pak Candra tersenyum tipis mendengar perdebatan dua orang kakak beradik itu.
“Om, Azka boleh pulang? Mas Farhan bilang ingin jitak Azka. Sebagai adik yang baik, Azka ingin mengaabulkan keinginan kakak satu-satunya. Takutnya baby-nya ngiler kalau nggak diturutin,” ucap Azka.
“Nak Azka nih ada-ada saja. Masa bikin bayi ngiler. Memangnya lagi ngidam? Nanti Om suruh pesen tiket buat ke Jogja bareng-bareng,” sahut Pak Candra.
“Maaf, Tuan. Boleh saya memberi saran?” Edi menyela.
“Gimana, Ed?” tanya Pak Candra.
“Apa? Kelelawar Hitam sudah tahu kalau Nak Farhan masih hidup? Bagaimana bisa?” seru Pak
Candra.
“Sewaktu Mas Farhan berniat mengambil uang di ATM, ada anggota Kelelawar Hitam yang mengenali karena mungkin penampilan Mas Farhan yang mencolok dengan baju kotordan sobek-sobek. Untunglah, ada seseorang yang menyelamatkan.”
Pak Candra terdiam. Ia mempertimbangkan saran Edi.
“Di samping itu, apa tidak lebih baik Tuan menyampaikan kabar duka ini kepada keluarga Tedi? Mereka kan belum tahu kalau sebenarnya yang meninggal adalah Tedi,” lanjut Edi.
Pak Candra mengangguk setuju. Raut kesedihan tergambar di wajahnya.
“Kau benar, Ed. Kasihan keluarga Tedi menanti kabar anak itu. Apalagi istrinya sedang sakit. Aku harus ke sana, tidak boleh hanya diwakili anak-anak. Aku berniat menjamin sekolah anak almarhum hingga lulus kuliah. Bagaimana menurutmu?” Pak Candra meminta pendapat Edi.
“itu bagus, Tuan, Saya sangat mendukung keputusan itu.”
“Ya sudah, Nak Azka sebaiknya pulang hari ini. Aku menyusul setelah menyelesaikan urusan berkaitan dengan keluarga almarhum Tedi,” kata Pak Candra memberi keputusan.
“Iya, Om. Terima kasih,” ucap Azka.
Farhan tersenyum lega. Sebenarnya ia merindukan Azka, adik satu-satunya. Namun, mereka memang tidak pernah mengakui kalau sebenarnya saling merindukan.
__ADS_1
“Mas Farhan pasti seneng. Iya, kan? Sudah siap jitak kepalaku, ya?” tuduh Azka.
Farhan tertawa mendengar tuduhan adiknya. Ia memang sangat merindukan bertengkar dengan Azka. Pertengkaran yang dilandasi kasih sayang.
“Boleh saya akhiri pembicaraan ini, Om? Cerita saya lolos dari maut pending dulu, ya. Saya ceritanya kalau
Om ke sini saja,” ucap Farhan.
“Iya, Nak. Om ke Jogja sekalian tante dan adikmu. Sekalian nunggu Dini pulih. Dia kelelahan,” kata Pak Candra.
“Dini di Medan, Om?” tanya Via.
“Iya. Ujiannya sudah selesai, kok,” jawab Pak Candra.
“Salam buat tante dan Dini. Kami menunggu kedatangan Om sekeluarga,” kata Via. “Ni mau jenguk baby. Mas Farhan ingin lihat.”
“Iya, iya. Silakan. Jaga diri baik-baik. Edi, perketat penjagaan, jangan sampai kecolongan!” kata Pak Candra tegas.
“Iya, Om. Assalamualaikum.” Via dan Farhan menjawab bersamaan.
“Siap, Tuan,” ucap Edi.
Azka dan Pak Candra ikut kompak menjawab salam sebelum wajah mereka menghilang dari layar
ponsel Via.
“Mas Farhan kapan mulai pemeriksaan?” tanya Edi.
“Nunggu ayah datang, Mas. Sekarang kami akan ke ruang Peristi dulu. Aku ingin ketemu baby
Zayn,” jawab Farhan.
Dengan cekatan Edi mengambil kursi roda dan mempersilakan Farhan naik. Dahi Farhan seketika
bertemu.
“Ngapain aku naik kursi roda? Aku masih kuat jalan, kok,” tolak Farhan.
“Nggak apa-apa, Hubbiy. Kan Hubbiy belum boleh kelelahan. Ayolah, Hubbiy naik kursi roda saja,” paksa Via.
“Kenapa nggak Cinta saja?” tanya Farhan.
“Via kuat jalan. Biasanya juga Via jalan, kok,” kata Via.
Akhirnya, Farhan mengalah. Ia naik kursi roda yang sudah Edi siapkan.
Via mengunci pintu kamar. Perlahan Edi mendorong kursi roda ke ruang peristi. Sambil mendorong kursi roda, Edi melayangkan pandangan ke sekeliling. Ia mengecek keberadaan para bodyguard yang ia persiapkan menjaga Via dan Farhan di rumah sakit.
***
__ADS_1
Bersambung
Alhamdulillah bisa update lagi. Mohon dukungan Kakak yang baik hati, tidak sombong, dan suka menabung. Klik like dan kasih koment, ya! Terima kasih atas dukungan Kakak.