SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kegelisahan dokter Haris


__ADS_3

Pak Haris memasuki kediaman ayahnya dengan langkah lesu. Salamnya pun tak dijawab karena diucapkan dengan suara lirih.


Bu Aisyah heran dengan sikap sang suami. Tak biasanya ayah dua anak lelaki itu tampak tak bersemangat. Mendung jelas sekali menghiasi wajahnya.


“Ayah mau mandi sekarang? Bunda siapkan, ya.” Bu Aisyah menawari.


Sengaja wanita itu tak menanyakan masalah yang tengah dihadapi sang suami. Ia menunggu Pak Haris bercerita tanpa ditanyai.


Pak Haris Hanya mengangguk. Ia segera masuk ke kamar yang sudah beberapa hari ini ia tempati bersama Bu Aisyah. Sambil menunggu air siap, pria itu mengecek pesan yang masuk ke akunnya.


Setengah jam kemudian, Pak Haris sedikit lebih segar. Kelesuan tidak tampak jelas, tetapi wajahnya masih tetap mencerminkan beban yang tengah menggelayut.


“Ayah sudah pulang ternyata. Sudah makan, Yah?” tanya Farhan yang baru keluar dari kamar Eyang Probo.


“Sudah dari tadi, Han. Kamu kapan datang? Istrimu ikut?” Pak Haris balik bertanya.


“Habis maghrib Farhan ke sini. Sendiri, Yah. Besok Zayn dan bundanya insya Allah ke sini.”


“Eyangmu sudah tidur?”


“Sudah. Tadi juga sudah minum obat. Ayah ada masalah? Kelihatannya kok lesu?”


Bu Aisyah yang berada di belakang suaminya memberi isyarat agar Farhan tidak bertanya terlalu banyak.


“Ayah sebaiknya makan dulu Yuk, Bunda temani,” ucap Bu Aisyah.


Pak Haris mengangguk. Ia memang belum makan sejak siang.


“Ayah makan dulu, Han. Kamu mau ikut? Sudah makan belum?” kata Pak Haris.


“Farhan sudah makan sebelum ke sini. Farhan ke teras saja, Yah,” sahut Farhan.


Pak Haris memutar tubuhnya mengikuti langkah Bu Aisyah ke ruang makan.


Setelah mengambilkan nasi beserta lauk dan sayur, Bu Aisyah mengupas buah. Ia hanya mengonsumsi pear dan jeruk karena sudah makan malam.


“Hari ini banyak pasien?” pancing Bu Aisyah.


“Nggak. Sampai sekarang kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit kita belum pulih. “


“Di tempat praktek?” tanya Bu Aisyah lagi.


“Seperti biasanya,” jawab Pak Haris singkat.


Bu Aisyah sedikit kecewa dengan jawaban Pak Haris. Namun, ia tidak memaksa suaminya bercerita.


“Ayah ke teras menemui Farhan.”

__ADS_1


Bu Aisyah mengangguk. Ia segera membereskan meja makan.


Sementara itu, Farhan tengah berbalas pesan dengan Via. Mereka membahas kondisi rumah sakit ayah mereka.


“Sedang apa, Han?” tegur Pak Haris yang sudah beberapa saat berdiri di pintu tanpa disadari kehadirannya oleh Farhan.


“Eh, Ayah. Farhan sedang chatting dengan bundanya Zayn. Zayn sudah bisa jalan, Yah. Dia bisa milih hadiah waktu Farhan nawarin. Zayn minta dibelikan mobil-mobilan dan kue tart,” cerita Farhan.


Pak Haris berbinar bahagia mendengarnya. Segala cerita kelucuan Zayn pasti membuat sang kakek senang.


“Hmm, Ayah jadi nggak sabar buat ketemu Zayn. Besok pagi-pagi ke sininya, ya. Biar Ayah bisa bertemu sebelum Ayah ke rumah sakit.”


“Memang Ayah berangkat jam berapa?”


“Biasa, jam 7. Tapi, kalau Zayn belum datang, Ayah nunggu saja, berangkatnya sedikit mundur. Toh pasien juga agak sepi,” jawab Pak Haris lirih.


“Sepi? Memang kenapa?” Farhan pura-pura tidak tahu.


“Sejak insiden keracunan yang dialami pasien di ruang VVIP waktu itu, pasien mengalami penurunan. Meski mereka sudah digratiskan, tetap saja namanya berita tidak bisa dibendung sepenuhnya. Tentu mereka menceritakan kepada keluarga atau kerabat juga sahabat tentang kasus itu. Kepercayaan masyarakat terhadap rumah sakit turun cukup drastis.”


Farhan menatap wajah ayahnya. Pak Haris masih menunjukkan ekspresi datar.


“Apa keuangan rumah sakit belum pulih?” tanya Farhan lagi.


“Mendingan. Kontrak dengan WK Husada menyelamatkan rumah sakit.”


Pak Haris menarik nafas panjang lalu menghembuskan kasar. Seolah pria itu tengah mengusir beban yang ada di pikirannya.


“Iya. Tadi siang Dirut WK Husada memberi peringatan keras kepada Ayah. Ini di luar dugaan,” kata Pak Haris.


“Wah, kurang ajar bener ni Dirut WK Husada. Cinta harus tahu soal ini. Berani-beraninya dia memberi peringatan keras kepada ayah bosnya,” gerutu Farhan dalam hati.


“Ada masalah yang seriuskah hingga si dirut turun tangan sendiri menegur ayah?” Farhan masih memancing cerita Pak Haris.


Pak Haris mengangguk. Ia menyapu langit-langit teras dengan ekor matanya.


“Rumah sakit membeli peralatan kesehatan kepada Global Persada. Padahal, seharusnya WK Husada yang mendapat prioritas menjadi penyuplai kebutuhan alat kesehatan dan obat-obatan.”


“Siapa yang menentukan pembeliannya kepada Global Persada? Apa karena harga di sana lebih murah atau lebih berkualitas dibandingkan WK Husada?” pancing Farhan.


Pak Haris menggeleng lemah. Ia terlihat begitu tertekan.


“Justru harganya selisih jauh. Tadi Ayah sudah mengecek, selisihnya jutaan. Kerugian rumah sakit mungkin mencapai seratus juta bahkan bisa lebih.”


“Lebih dari seratus juta, Yah. Menantumu sudah mengkalkulasinya.”


“Bagaimana bisa Global Persada yang ditunjuk sebagai penyedia alat kesehatan sedangkan harganya lebih mahal. Melalui tenderkah? Tapi tidak mungkin juga kalau melalui tender. Pasti sudah kalah karena harga yang ditawarkan begitu fantastis.” Farhan membantah ucapannya sendiri.

__ADS_1


“Ayah tidak tahu. Setahu Ayah, pembelian dilakukan kepada WK Husada sesuai perjanjian. Di rapat pun sudah diputuskan begitu. Entah bagaimana ceritanya bisa berbelok ke Global Persada,” keluh Pak Haris.


“Ayah sudah menyelidiki masalah ini?”


“Belum. Ayah juga baru tahu tadi siang saat bertemu Pak Rohman dari WK Husada. Beliau melayangkan protes keras akan tindakan pihak rumah sakit yang melanggar perjanjian.”


“Apakah WK Husada akan menggugat Assyifa?” tanya Farhan menyelidik.


“Saat ini tidak. Tapi, kalau ke depan kejadian ini terulang, mereka tidak segan membawa ke meja hijau.”


“Huh, keras sekali gaya Pak Rohman,” gerutu Farhan lirih. Namun, ayahnya masih bisa mendengar ucapan Farhan.


“Tidak. WK Husada di pihak yang benar. Dan, mereka sudah berbaik hati tidak menyeret ke jalur hukum. Kalau diadukan, Assyifa jelas kalah. Untunglah mereka memberi toleransi. Kalau tidak, Ayah tak bisa membayangkan.”


Pak Haris kembali menarik nafas panjang. Matanya menerawang seolah menerka masa depan.


“Apa langkah Ayah selanjutnya?” tanya Farhan lembut.


“Ini pelajaran bagi Ayah agar lebih hati-hati ke depannya. Ayah akui kalau Ayah ceroboh.  Ayah akan menyelidiki siapa pelaku penyelewengan ini.”


“Perlu bantuan? Menurut Farhan, ada oknum yang bekerja di rumah sakit dan orang itu suruhan seseorang. Kemungkinan besar, ia tidak bermain sendiri. Ini yang harus diungkap. Bukan orang dalam itu yang menjadi target utama penyelidikan tetapi siapa yang berada di balik oknum tersebut.”


Pak Haris menatap putra sulungnya. Dalam hati ia membenarkan apa yang Farhan ucapkan.


“Kau benar. Kalau sampai oknum dalam dibongkar, otak di baliknya pasti berusaha menghilangkan jejak.”


“Itu yang Farhan maksud. Jangan sampai mereka tahu saat kita mengungkap oknum dalam.  Kalau Ayah berkenan, Farhan bisa minta tolong Mas Edi agar menyuruh Kiki dan anak buahnya menyelidiki masalah ini.”


Pak Haris terdiam. Ia mempertimbangkan usul Farhan.


“Apa tidak apa-apa? Ini kan tidak berkaitan dengan Via dan Wijaya Kusuma,” ucap Pak Haris ragu.


“Tidak masalah. Ayah kan juga ayah Dek Via, kakek dari Zayn. Ayah jangan sungkan begitu.”


Pak Haris mengangguk. Ia memang tidak kompeten dalam urusan penyelidikan.


“Ayah menurut saja. Kalau butuh sesuatu, sampaikan saja kepada Ayah.”


Tanpa mereka sadari, sepasang telinga menyimak dari balik tembok. Ia berkali-kali mengernyitkan dahinya. Tangannya mengepal menahan geram.


 


 


***


Bersambung

__ADS_1


Hanya tinggal beberapa episode lagi novel ini end. Tidak ada season 2, ya. Kalau ada saran silakan sampaikan di kolom komentar. Jangan lupa tetap klik like!


__ADS_2