SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Yang Perhatian dan Yang Sinis


__ADS_3

Perjalanan ke bandara lancar. Pesawat pun hanya meleset 5 menit dari jadwal. Selama penerbangan, Via tertidur pulas karena lelah.


Sesampai di bandara, Edi menelpon seseorang. Sementara Farhan menggandeng Via seolah takut istrinya hilang. Ketika menaiki eskalator dekat pintu keluar, Farhan berada di belakang Via. Ia melihat ada noda di gamis istrinya.


"Cinta haid?" bisik Farhan.


Via tergagap. Ia mengingat-ingat. Sayangnya, ia tidak merasakan sesuatu karena ia tertidur tak lama setelah pesawat lepas landas.


"Sepertinya begitu. Hubbiy kok tahu?"


"Ada noda di gamismu."


"Blush..." pipi Via merona malu.


Farhan melepas jaketnya begitu turun dari eskalator. Ia mengikatkan ke pinggang Via.


"Udah, santai saja. Gak keliatan kok."


Via mengangguk lega. Ia bersyukur karena suaminya pengertian.


"Mungkin ini yang menyebabkan kemarin emosinya meledak-ledak. PMS rupanya. Ah, begini kalau nggak punya saudara perempuan. Nggak tahu tanda-tanda PMS," batin Farhan.


Edi menghampiri Farhan. Ia memberi tahu sopir sedikit terlambat.


"Mas, Via nggak punya pembalut," bisik Via ke telinga Farhan.


"Panggil apa tadi?" Farhan mendekatkan wajahnya.


"Hubbiy, Via nggak punya pembalut," kata Via dengan suara menahan geram meski lirih.


Farhan terkekeh. Ia memandang istrinya dengan tatapan gemas.


"Tenang, Cinta. Ada suami siaga di sampingmu."


"Masih lama, nggak nih? Apa kita naik taksi saja?" rengek Via.


"Tuh baru saja datang. Yuk!" Farhan menggandeng tangan Via.


Begitu Via mendekat ke mobil, sang sopir keluar. Via kaget.


"Pak Yudi?"


"Saya, Mbak. Apa kabar, Mbak Via?"


"Baik, Pak. Kok bisa Pak Yudi ...."


"Sudah, masuk dulu! Ngobrolnya nanti di perjalanan. Barang sudah masuk mobil semua, Mas Edi?" Farhan memotong pembicaraan Via dan Pak Yudi.


"Beres," jawab Edi.


"Yuk berangkat!" ajak Farhan.


"Pak Yudi dihubungi Mas Edi?" tanya Via penasaran.


"Pak Andi yang menghubungi. Cinta sudah nyaman dengan Pak Yudi, kan? Mas juga tenang kalau Cinta bepergian diantar Pak Yudi." Farhan yang menjawab.


Pak Yudi tersenyum tipis. Ia tetap menatap ke depan.


"Maaf, waktu Mbak Via menikah saya tidak hadir. Undangan pernikahan Mbak Via baru kami terima hari Minggu," kata Pak Yudi.


"Kami? Maksud Pak Yudi?" Via penasaran.


"Saya, Pak Noni, Bi Marsih, dan Mbok Minah semua dapat undangan terlambat. Mungkin karena alamat kami sulit dicari, orang yang disuruh Pak Andi terlambat menyerahkan undangan itu," tutur Pak Yudi.


"Masya Allah, Pak Andi begitu memperhatikan keluargaku. Aku bahkan lupa mengundang 4 orang yang berjasa kepada keluargaku," batin Via.


Ketika sampai depan minimarket, Farhan meminta berhenti. Dia bergegas turun. Via hendak mengikuti suaminya turun.


"Tidak usah ikut, biar Mas saja. Nggak lama, kok," kata Farhan mencegah Via turun.


Via menurut. Selang 10 menit kemudian, Farhan sudah keluar menenteng tas plastik yang tidak terlalu besar.

__ADS_1


"Cepat amat?" tanya Via keheranan.


"Kebetulan tidak ada pembeli lain dan Mas cuma beli ini," jawab Farhan sambil membuka tas plastik, menunjukkan isinya.


Via tersenyum malu. Ia mendekatkan wajahnya ke Farhan dan berbisik, "Terima kasih, Hubbiy. Kok tahu merek yang biasa dipakai Via?"


"Bukannya kita pernah berbelanja bersama membeli semacam ini?"


Via mengangguk. Ada rona kelegaan dan kebahagiaan terpancar dari wajah Via karena Farhan begitu perhatian.


Tak terasa mereka telah sampai di kediaman dokter Haris. Edi dan Pak Yudi menurunkan barang belanjaan Via dan membawanya masuk sesuai arahan Farhan.


Setelah itu, keduanya berpamitan.


"Farhan, kau baru pulang?" Sebuah pertanyaan yang terlontar dari seseorang yang berada di kamar tamu.


"Iya, Tante," jawab Farhan. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk kamar.


Tak lama kemudian, seorang perempuan berusia sekitar 50 tahun keluar dari kamar tamu. Farhan mencium punggung tangan tantenya.


"Mana istrimu?" tanya Tante Asih.


"Tadi ke dapur. Sebentar, Farhan panggil." Farhan mencari Via di dapur.


"Datang-datang langsung nyelonong masuk dapur. Memang ini rumah siapa?" pikir Tante Asih.


Tak lama Farhan muncul dengan menggandeng tangan Via. Istri Farhan itu meraih tangan Tante Asih dan menciumnya.


"Assalamualaikum, Tante. Perkenalkan saya Via," ucap Via sopan.


"Waalaikumsalam," jawab Tante Asih singkat.


"Di mana Rara, Tante?" tanya Farhan.


"Sedang tidur."


"Ya sudah, kami ke atas dulu," pamit Farhan. Ia menarik tangan Via.


Farhan dan Via menuju ke lantai 2. Mereka meninggalkan Tante Asih yang terlihat kesal tanpa ada sebab yang jelas.


"Mau ke mana? Masa kita mau sendiri-sendiri? Sini, ke kamar Mas!"


Via bengong sesaat. Ia ragu mengikuti arahan Farhan.


"Barang-barang Via bagaimana?"


"Biar saja. Kalau butuh apa-apa tinggal ke kamar itu. Ayo, masuk ke sini," ajak Farhan sambil menarik tangan Via.


Via mau tak mau mengikuti Farhan. Ia segera membersihkan diri di kamar mandi.


Menjelang pukul 5 sore, Via baru turun. Ia menuju ruang makan.


Ia berniat mengecek ketersediaan menu makan malam. Baru saja ia melihat meja makan, ada suara yang mengejutkan.


"Wah, anak pungut jadi menantu terus naik derajat, ya?"


Via menoleh. Seorang gadis bediri di pintu dan menatapnya dengan sinis.


"Kak Rara ya?" Via mencoba bersikap ramah. Sayangnya, gadis di depannya memasang wajah datar.


"Perkenalkan, saya Via," ucap Via sambil mengulurkan tangannya.


Gadis bernama Rara tidak bereaksi sama sekali. Ia berdiri dengan menyandar di pintu.


"Via, kau sudah datang?" Suara Bu Aisyah membuat Rara mengubah ekspresi. Namun, ia menunjukkan raut tak senang saat Bu Aisyah memeluk Via.


"Kalian sehat, Nak?" tanya Bu Aisyah.


"Via dan Mas Farhan sehat, Bunda. Ayah dan Bunda juga sehat, kan?" Via balik bertanya.


"Seperti yang kamu lihat, Bunda sehat."

__ADS_1


"Ayah belum pulang? Dek Azka ke mana?" tanya Via lagi.


""Ayah tadi menghubungi Bunda kalau pulang agak telat. Azka sudah berangkat ke Medan," jawab Bu Aisyah.


"Alhamdulillah, berarti jadi ngambil S-2 di sana? Oya, Via mau menyiapkan menu makan malam," kata Via.


"Nggak usah, kamu pasti capek baru pulang dari perjalanan jauh. Bunda udah pesan, delivery order kok. Mana suamimu?"


"Tadi Mas Farhan ke musala belum kembali ke kamar," jawab Via.


"Kalau begitu, tunggulah nanti kalau ada yang mengantar. Bunda mau mandi dulu." Bu Aisyah meninggalkan keduanya.


"Kamu beruntung banget, ya? Yatim piatu diangkat anak, dijadikan menantu, hidup enak," cibir Rara.


Dada Via serasa dipukul keras. Ia ingin menjerit, tetapi tidak mungkin dilakukan.


Akhirnya, Via melangkah keluar dari ruang makan sambil menahan tangis. Ia bergegas menuju ruang tamu.


Saat makan malam, Via lebih banyak diam. Hatinya masih sakit karena ucapan Rara. Ia hanya menanggapi ucapan Farhan dan Bu Aisyah sesekali.


Paginya, saat yang lain menunaikan salat subuh, Via sudah berkutat di dapur. Ia menyiapkan hidangan untuk sarapan.


"Nah, begini baru pantas. Kamu harusnya tahu diri. Tante Aisyah kan gak punya pembantu. Jadi, kamu harusnya yang mengerjakan pekerjaan pembantu sebagai balas jasa." Via dikejutkan suara sinis dari belakangnya. Ternyata Rara sudah berdiri di pintu dapur.


"Iya, Kak," sahut Via singkat.


"Bahkan, harusnya kamu lebih keras lagi. Masak, nyuci, bersih-bersih rumah, semuanya kamu lakukan. Hitung-hitung sebagai ganti biaya pernikahan dan bulan madumu yang menghabiskan ratusan juta atau bahkan mungkin sampai M. Masa anak pungut berani bermewah-mewah."


"Namanya juga nggak tahu diri. Kenapa juga om dan tantemu begitu percaya, ya Ra?" celetuk Tante Asih yang menyusul Rara.


"Pakai pelet kali, Mih," jawab Rara sambil tertawa mengejek.


"Siapa yang pakai susuk?" Suara Bu Aisyah mengejutkan dua orang yang tengah mem-bully Via.


"Eh, Aisyah. Ini...e...dulu orang sering pakai susuk," jawab Tante Asih sedikit terbata.


"Oh, begitu. Kamu masak apa, Via?" Bu Aisyah beralih menanyai Via.


"Cuma nasi goreng seafood, Bunda. Via nggak nemuin bahan makanan lain. Nanti buat makan siang biar Via belanja," jawab Via.


Ia berhasil menyembunyikan kesedihannya.


Menjelang pukul 06.30 semua orang yang berada di rumah dokter Haris berkumpul di meja makan.


Baru saja mereka akan menyantap sarapan, terdengar ucapan salam. Farhan bergegas membukakan pintu.


"Kak Alif, berangkat dari Solo jam berapa? Kok sudah sampai sini?" pekik Aisyah bahagia. Ia segera menyambut kakak tertuanya.


"Tadi habis subuh. Aku ingin istirahat sebentar di rumahmu. Nanti sore kami kembali ke Jakarta."


"Ayo, sarapan sekalian!" ajak Pak Haris.


Setelah sarapan, mereka melanjutkan berbincang-bincang.


"Maaf, waktu Farhan menikah kami tak bisa datang. Neneknya Rara, mertuaku, jatuh sakit. Alhamdulillah, sekarang sudah sembuh.


"Alhamdulillah, syukurlah. Nggak apa-apa, kok. Doa restu dari Om saja sudah cukup," kata Farhan.


"Maaf, Via ambil piring-piring yang kotor dulu," ucap Via. Ia bangkit dari duduknya dan membereskan semua peralatan makan yang kotor.


"Ra, bantu tuh istri Farhan," perintah Om Alif.


Rara dengan malas bangun dari duduknya. Ia menyusul Via ke dapur.


"Udah, aku lihatin kamu aja. Cuci tuh semua piring sendok! Kamu kan pengganti pembantu rumah tangga!" perintah Rara sinis.


"Siapa pengganti pembantu rumah tangga?"


Sebuah pertanyaan yang membuat Rara terlonjak kaget hingga sedikit ketakutan.


***

__ADS_1


Bersambung


Mohon dukungan seluruh readers untuk selalu meninggalkan jejak like dan komen maupun vote. 🙏🙏


__ADS_2