
Pagi ini Via terlihat lebih segar. Meski masih sering pusing, wajahnya tidak sepucat hari sebelumnya. Ia juga sudah bisa menelan makanan meski hanya beberapa sendok.
"Mau minum susu, Vi?" tanya Ratna.
Saat itu hanya Ratna yang menunggui Via. Bu Aisyah sedang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan tentang kecelakaan yang menimpa Via. Azka ke kampus untuk mengumpulkan tugas. Sedangkan Pak Haris tengah menyiapkan berkas-berkas untuk akreditasi rumah sakit.
"Nanti saja, perutku masih kenyang."
"Kamu baru menghabiskan 5 sendok, Vi."
"Tapi rasanya perutku sudah penuh."
"Ayolah, Vi, makan yang banyak biar kamu cepat sembuh."
"Memang kalau makan banyak langsung sembuh?" Via mencebik.
"Ya nggak gitu juga. Setidaknya kamu punya tenaga."
"Udah, Rat, aku malah bisa mutah."
"Atau kamu ingin makan sesuatu? Ntar kalau Doni ke sini aku suruh beli dulu."
"Nggak, bikin repot aja."
"Kamu ni, kita kan seperti saudara. Kamu jangan sungkan, ngrasa ngrepotin teman. Kalau kamu masih sungkan gitu, berarti kamu nggak nganggep aku dan lainnya saudara."
"Iya...iya! Kamu emang paling bisa."
"Nah, bilang pengin makan apa?"
"Mmm, bubur kacang hijau. Kayaknya enak pakai santan yang agak banyak."
"Ya, nanti siang jelang jam bezuk aku kirim pesan ke Doni."
"Tapi kalau Doni repot..."
"Sssttt, jangan bilang repot lagi! Apalagi bagi Doni kamu kan lebih dari seorang teman."
"Maksud kamu?"
"Tiada maksud apa pun." Ratna buru-buru menutup mulutnya.
"Iih, kamu selalu suka ngeledek. Tapi kalau nggak ada kamu,..."
"Dunia terasa hampa, kan?"
Mereka tertawa bersama. Begitu asyiknya hingga tidak menyadari ada yang berkali-kali mengetuk pintu.
"Assalamualaikum," sapa cowok yang tengah berdiri di depan pintu. Ia sudah mengucapkan salam sampai 3 kali.
"Waalaikumsalam. Cari siapa, Mas?" tanya Ratna.
"Pasien atas nama Novia Anggraeni dirawat di ruang ini?"
"Siapa orang ini? Tampangnya bukan tenaga medis. Kalau kerabat Via, ini belum jam bezuk. Jangan-jangan orang ini komplotan orang yang nabrak Via," pikir Ratna.
"Anda siapa? Ada perlu apa?"
"Saya mau jenguk Dek Via," kata cowok itu.
"Ini belum jam bezuk. Nggak mungkin kamu bisa masuk. Siapa kamu?" bentak Ratna.
__ADS_1
"Ada apa, Ratna? Kok ribut-ribut, sih?" tanya Via heran.
"Eng...nggak ada apa-apa, Vi. Kamu istirahat aja. Biar aku yang beresin orang ini."
"Siapa sih? Coba kamu geser dikit!" perintah Via. Ia penasaran dengan orang yang tengah berbicara dengan Ratna.
Ratna menurut. Ia bergeser sedikit, memberi celah agar Via bisa melihat cowok yang mau masuk. Namun, ia tetap memegang daun pintu dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
"Mas Farhan? Kapan datang?" Via kaget melihat orang yang di depan pintu kamarnya.
"Baru saja. Boleh masuk?"
"Iya, masuk saja."
"Tapi temanmu ini ngelarang aku."
"Ratna, itu Mas Farhan kakak Mas Azka," Via menjelaskan.
Ratna bengong. Mukanya memerah menahan malu.
"Maaf, Mas. Silakan masuk," kata Ratna dengan kepala menunduk.
"Jadi, sekarang aku sudah boleh masuk?" goda Farhan.
"Iya, silakan."
Farhan tersenyum geli. Ia melangkah ke dalam lalu meletakkan tas plastik ke atas meja.
"Aku bawakan bubur kacang hijau. Barangkali Dek Via mau."
"Wah, kebetulan sekali. Tadi Via bilang ingin makan bubur kacang hijau. Kalau Mas sudah beli, saya gak jadi nyuruh teman saya beli. Makasih, Mas," kata Ratna dengan penuh gembira. Ia tidak memperhatikan ekspresi Via.
"Ya udah, dimakan tuh buburnya. Tolong Dek Via disuapi," perintah Farhan.
Ratna dengan cekatan membongkar tas plastik yang baru diletakkan di atas meja.
"Kok banyak, Mas?" tanya Ratna begitu tahu ada 3 cup bubur kacang hijau di dalam tas.
"Siapa tahu yang nunggu juga kepengin. Kasihan kalau cuma disuruh nyuapin," ujar Farhan santai.
"Oh, gitu. Makasih. Ayo, Vi, aku suapi. Kamu baru makan 5 sendok dari pagi."
Mau tidak mau Via menurut. Akhirnya, 1 cup bubur kacang hijau telah habis.
"Wah, kenapa Mas Farhan nggak dari kemarin datangnya? Begitu ada bubur dari Mas Farhan, Via langsung mau makan," celetuk Ratna tanpa dosa.
Via melototi Ratna yang tengah cengengesan. Ia geregetan karena Ratna begitu cueknya meledek dirinya.
"Saya sudah seminggu lebih di Jakarta. Baru kemarin saya tahu Dek Via kecelakaan dan dirawat. Sekarang gimana? Masih pusing?"
"Masih, Mas. Tapi mualnya sudah berkurang."
"O ya, maafkan saya tadi bersikap kurang ajar kepada Mas Farhan. Jujur, saya suudhon Mas Farhan komplotan orang yang nabrak Via. Habis...Mas jelas bukan tenaga medis, sementara sekarang bukan jam bezuk," Ratna menyela.
Farhan tertawa. Ia sempat jengkel juga karena sikap Ratna.
"Iya. Saya mengerti. Eh, sebentar! Tadi bilang apa? Komplotan? Memang kecelakaan yang dialami Dek Via direncanakan pihak tertentu?"
"Ee...ini baru dugaan, sih. Soalnya, Via waktu itu belum nyebrang. Masa sepeda motor tahu-tahu nyelonong trus nabrak Via yang masih di tepi jalan? Rasanya aneh."
Farhan mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Tapi, kita tidak usah berprasangka kepada seseorang. Biarlah pihak yang berwajib yang menyelidiki," ujar Farhan.
"Iya, Mas. Via juga nggak mau terbebani dengan dalang peristiwa kemarin. Kalau memang ada yang jahatin Via, biarlah Allah yang memberikan balasan."
"Hebat, kamu Dek,"puji Farhan sambil tersenyum.
Pipi Via mendadak merona. Ia merasa malu mendapat pujian dari Farhan.
"Ini kok si kulkas nggak dingin kayak biasanya, ya? Aku malah merasa aneh. Jangan-jangan kompresornya rusak. Eh, aku nggak boleh mikir yang nggak-nggak," batin Via.
"Mas Farhan kok udah pulang lagi? Memang urusan kampus sudah selesai?" tanya Via mengalihkan pembicaraan.
"Alhamdulillah, sudah. Kemarin sore aku selesaikan lalu tadi pagi pulang."
"Mas Farhan kuliah di Jakarta?" Ratna mulai kambuh keponya.
"Iya. Alhamdulillah sebentar lagi wisuda."
"Selamat, ya Mas. Wah, boro-boro wisuda. Kuliah aja belum ya, Vi."
"Kan sebentar lagi kalian kuliah. O ya, tuh masih ada bubur kacang hijaunya. Dek Via mau lagi?"
"Makasih, Mas. Udah kenyang, nih. Buat Ratna dan Mas Farhan aja."
"Beneran, Vi? Jangan nyesel, ya!"
Via mengangguk. Tiba-tiba kepalanya nyeri, penglihatannya agak kabur.
"Kenapa, Dek? Pusing? Aku panggil dokter, ya!" kata Farhan sambil berdiri bersiap menekan tombol.
"Nggak usah, Mmmass. Nanti ju... juga sembuh. Emang sering gini, kok.
"Sikap kamu bikin aku grogi, Mas," Via melanjutkan dalam hati.
Beberapa menit kemudian, sakit kepala Via mereda. Farhan juga tidak lagi cemas.
"Assalamualaikum," salam dari orang di depan kamar membuat mereka bertiga mengalihkan pandangan.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak. Orang yang baru memberi salam masuk. Ternyata dokter Haris.
"Ayah? Sudah selesai visit pasien?"
"Sudah. Kamu kapan datang, Han?"
"Baru saja, Yah. Farhan langsung ke sini, nggak pulang dulu. Bagaimana hasil pemeriksaan Dek Via, Yah?"
"Alhamdulillah, gegar otak yang dialami Via tidak tergolong berat. Nanti akan diobservasi lagi. Kalau bagus, hari ini bisa pulang. Di rumah Via tetap harus banyak istirahat."
"Iya, Yah," jawab Via.
"Untungnya kita sudah selesai ujian," celetuk Ratna.
"Iya, orang Jawa selalu beruntung," balas Via.
Mereka berempat tertawa.
***
bersambung
Beri jempol dan koment, ya! Biar author semangat 45. 😘😘😘
__ADS_1