SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kejutan Hari Pertama Azrina


__ADS_3

Hari kedua perkuliahan aktif bersamaan dengan hari pertama pembukaan toko fisik Azrina. Toko online mereka pun berubah nama menjadi Azrina.


Tidak ada yang istimewa dengan pembukaan toko. Tidak ada perayaan yang meriah. Pukul 07.30 Via dan Ratna membuka rolling door toko lalu menyerahkan kunci kepada Mira. Setelah itu, mereka berdua pergi ke kampus.


"Jangan lupa untuk menyisipkan informasi kalau kita punya toko saat ngobrol dengan kawan-kawan. Di sosmed kamu juga," pesan Via sambil berjalan ke kampus.


"Siap, Vi. Aku sudah posting di status WA-ku kok. Nanti kukanjutkan di medsos lain pas jam istirahat."


"Sip. O ya, nanti pulang kuliah kita mampir pasar, yuk!"


"Ngapain?" Ratna keheranan.


"Belanjalah. Kita belanja beras, bumbu, juga sayuran. Eyang kan sudah menyiapkan peralatan masak. Kenapa kita makan nasi bungkus? Kan lebih sehat dan higienis kalau masak sendiri," terang Via.


"Iya, Bu Dokter yang batal."


"Ih, ngledek kamu, ya!"


"Enggak, kamu kali ini bener. Eyang Probo sudah ngasih fasilitas bagus kayak gitu, kenapa nggak dimanfaatin?" Ratna menyetujui pendapat Via.


"Nah, bener kan?"


"Eh, waktu kita liburan memang apa yang terjadi sama Eyang Probo? Keracunan apa, sih? Atau kamu kasih jompa-jampi, mantra dari dukun ampuh, ya?" tanya Ratna penasaran.


"Ngaco, ah! Kuwalat lo kamu ngomong gitu! Kamu mau dikutuk jadi batu?"


"Ih, emang aku Malin Kundang? Lagian, aku nggak durhaka."


"Nggak durhaka, tapi kurang ajar sama orang tua," gerutu Via.


"Yaelah, yang baru jadi cucu kesayangan langsung sewot eyangnya dikatain gitu Atau jangan-jangan kamu dijodohin sama cucunya, ya?"


"Eh?"


Via kaget. Ia tak menyangka Ratna bakalan melontarkan kalimat itu.


"Siapa tahu kemarin waktu liburan diam-diam kamu tunangan," lanjut Ratna tanpa melihat Via.


Via diam saja. Ia khawatir keceplosan.


"Kok diam? Bener yang kukatakan, ya? Kamu dijodohin sama Mas Azka? Wah, bakal banyak yang patah hati, nih. Aku di antaranya."


"Uhuk...uhuk..." Via mendadak batuk. Ia kaget sekaligus geli mendengar pertanyaan Ratna.


"Kenapa, Vi? Batukmu kok aneh?"


"Nggak apa-apa. Aku cuma kaget dengan penuturan kamu."


"Kenapa kaget? Aku heran, apa yang bikin batuk kamu jadi aneh?" tanya Ratna.


"Habis, isi otakmu jadi aneh. Batukku ikutan aneh. Mas Azka tuh rencana mau S-2 tahun depan. Sekarang mau istirahat katanya."


"Kok pakai acara istirahat?" Ratna mulai kepo.


"Trauma dengan penguji skripsi hehehe..."


"Ah, masa? Tapi, beneran kamu nggak dijodohin sama Mas Azka?"


"Enggaklah. Ngapain aku bohong?"


"Hhmm, berarti aku masih punya peluang."

__ADS_1


"Peluang? Maksud kamu?"


"Ah, masa nggak paham? Udah, tuh dosen udah masuk," kata Ratna menutup pembicaraan.


***


Hari itu mereka pulang dari kampus pukul 13.00. Sepulang kuliah, mereka mampir belanja.


Mereka kaget ketika melihat keramaian di toko.


"Vi, ada apa ya? Kelihatannya banyak orang di toko? Hari ini kan hari pertama toko kita buka."


"Kita lihat, yuk!" ajak Via.


Mereka ternganga saat melihat bahwa orang-orang yang datang sedang melihat-lihat produk yang dipajang.


"Vi, mereka pengunjung," bisik Ratna.


"Iya. Yuk, kita ke atas dulu. Habis itu, kita bantu Mbak Mira dan Bila."


Selesai meletakkan tas dan belanjaan, Via dan Ratna kembali ke area toko. Mira dan Salsabila tampak sibuk melayani pengunjung.


"Mbak Mira sudah salat?"


"Belum. Kalau kutinggal, Salsa pasti kerepotan."


"Sudah, biar aku dan Ratna gantiin. Sana salat sekalian makan siang. Habis itu, ke sini lagi," kata Via.


"Oke. Bentar, ngitung belanjaan Mbak ini dulu."


Selesai menghitung total belanja seorang pengunjung, Mira mengajak Salsabila ke atas. Giliran Via dan Ratna sibuk melayani pengunjung.


Pukul 16 toko berangsur sepi. Mereka pun bergantian mandi, menyegarkan tubuh yang sudah gerah.


Mereka merapikan barang-barang yang sedikit berantakan. Via memilih model yang akan dipajang mengganti baju yang telah terjual.


"Apa sejak pagi pengunjung ramai, Mbak?" tanya Via kepada Mira.


"Nggak, sih. Jam 11 lewat baru ramai."


"Padahal toko kita saja belum ada namanya." Ratna menambahkan.


"Kau unggah promo di mana saja, Rat?" tanya Via.


"WA, IG, sama FB."


"Aku juga," kata Via.


"Entahlah, kok bisa seperti ini."


"Alhamdulillah, kita syukuri nikmat dari Allah. O ya, Bila kalau mau pulang, silakan. Nanti terlalu sore. Rumahmu agak jauh kan? Sebelum maghrib, usahakan sudah sampai rumah. Tapi jangan ngebut!" Via berpesan.


Gadis yang baru lulus SMA itu segera berkemas lalu berpamitan.


"Besok pagi sebelum jam 7.30 sudah sampai sini, ya!" pesan Mira.


"Bila gimana, Mbak? Bisa diandalkan?" tanya Via.


"Dia cekatan, kok. Kalian nggak salah pilih. Tapi, aku kadang bingung, panggilannya Salsa atau Bila?"


"Dia mau dipanggil Salsa maupun Bila. Terserah Mbak Mira aja," kata Ratna.

__ADS_1


"Mendingan kita sepakati, Salsa atau Bila," ucap Mira.


"Mbak Mira enak panggil Salsa atau Bila?" tanya Via


"Salsa," jawab Mira singkat.


"Aku juga. Via aja yang aneh, panggilnya Bila. Bila tiada mendalam cinta yang kurasakan, tak kan terlalu dalam luka yang kurasakan," sahut Ratna dilanjutkan menyanyi dengan suara cemprengnya.


"Kandas, dong!" celetuk Mira.


"Ya udah, aku ikut panggil dia Salsa, deh." Via mengalah.


"Kita tutup jam berapa, Vi?" tanya Ratna.


"Jam 5 sore," jawab Via singkat.


"Oke. Sambil nunggu waktu maghrib, kita cek pesanan di toko online kita," kata Ratna.


Via mengambil ponsel dari saku gamisnya. Ternyata sudah ada puluhan pesan.


Ada 7 pesan dari Farhan yang memberi tahu pesanan papan nama toko. Bundanya menanyakan tentang kenyamanan ruko. Dan, ada 11 pesan dari Azka. Ternyata isinya gambar promosi tokonya.


"Pantesan. Ternyata dia yang mempromosikan toko," desis Via.


"Siapa, Vi?" tanya Ratna penasaran.


"Oh, ini, Mas Azka ternyata membuat gambar-gambar promo yang menarik sebagai media promosi. Dia manfaatin marketplace. Ternyata sarjana pertanian pinter bikin iklan," kata Via sambil terkekeh.


"Coba lihat!" pinta Ratna.


Via menunjukkan gambar-gambar yang dikirim Azka. Ratna memperhatikan dengan cermat. Tanpa sadar, ia menarik ponsel Via dari tangan pemiliknya. Via segera menggenggam erat, seolah takut diambil.


"Ih, khawatir amat! Aku cuma lihat, nggak ngrampok HP kamu," gerutu Ratna.


"Ya udah, lihat saja. Aku yang pegang kan tetap bisa kamu lihat," sahut Via.


Akhirnya, Ratna mengalah. Ia tidak memegang gawai Via, cukup melihat gambar yang Via tunjukkan.


"Mas Azka memang jempolan. Udah ganteng, pinter, perhatian pula."


"Hemmm, terus aja dipuji," cibir Via.


"Kamu jealous, Vi?" tanya Ratna.


"Enggak. Ngapain juga aku cemburu? Weeek..." Via menjulurkan lidahnya.


Mira tertawa melihat pertengkaran dua orang sahabat. Dia merasa nyaman bekerja di tempat itu.


****


Bersambung


Kapan ngungkap kasus kecelakaan yang dialami Via?


Sabar, sebentar lagi. 🙏


Makanya, tetap setia mengikuti kisah ini. Jangan lupa tinggalkan komentar dan like.


Yang belum masuk GCku, silakan masuk. Ada pembagian poin terus lo. Juga hadiah lain.


Terima kasih pembaca tercinta 😘😘

__ADS_1


__ADS_2