
Selesai salat duha, Farhan mencari Via. Ternyata sang istri tengah ngobrol dengan Mbok Marsih dan Bu Inah di taman samping rumah.
“Ternyata di sini. Mas nyari ke mana-mana,” ucap Farhan sambil meletakkan pantat ke kursi rotan.
“Memang nyari ke mana? Ke mall?” tanya Via diiringi senyum jenaka.
“Ayo, kalau mau ke mall! Ganti baju gih!” ajak Farhan.
Mata Via mendadak berbinar mendengar ajakan Farhan.
“Beneran? Ayo! Tapi, Via maunya ke ruko,” sahut Via.
“Kangen Ratna?” tanya Farhan.
“Hooh. Sekalian mau ngasih oleh-oleh. Hubbiy serius ajak Via keluar, kan?” Via bertanya dengan manja.
“Iya, ayo!” Farhan bangkit dari duduk. Ia menggandeng tangan istrinya masuk ke dalaam.
“Eh, bentar, Via belum pamit. Bu Inah, Mbok Marsih, Via pergi dulu sama Mas Farhan, ya!”
Via menoleh ke kedua IRT-nya. Mereka mengangguk sambil tersenyum.
Setelah bersiap-siap, Farhan dan Via meluncur ke ruko. Farhan sengaja tidak mengajak Pak Yudi karena ingin berdua dengan Via.
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai depan ruko. Begitu sampai, Via bergegas turun dan menghambur ke dalam.
“Assalamualaikum. Ratna, Mbak Mira, Via datang,” teriak Via.
“Waalaikumsalam. Marimar sayangku!” Ratna balas berteriak.
Mereka berpelukan erat seperti lama tidak bertemu. Mira pun ikut memeluk Via.
"Sama siapa? Dianterin nggak?" tanya Mira.
"Iya, dianter Mas Farhan. Astaghfirullah, kok malah kutinggal. Sebentar, ya!" Via menepuk jidatnya lalu berlari keluar.
Farhan tengah menurunkan barang-barang Via yang akan diberikan kepada teman-temannya.
"Maaf, Hubbiy. Via lupa meninggalkan Hubbiy di luar."
Farhan hanya tertawa. Rupanya dia tidak marah sama sekali.
"Mas tahu Cinta sudah kebelet," ledek Farhan.
"Haish, kebelet apaan?" Via menaikkan alisnya.
"Kebelet ketemu teman-teman," jawab Farhan santai.
Farhan membawa satu kardus ke dalam.
"Assalamualaikum," ucap Farhan.
"Waalaikumsalam," jawab Ratna dan Mira serempak.
"Bawa apaan, Mas? Buat saya, ya?" tanya Ratna.
__ADS_1
"Ih, kebiasaan ge-er gak sembuh-sembuh," celetuk Mira.
"Biarin. Weeek!"
Farhan tersenyum melihat pertengkaran keduanya. Ia meletakkan bawaannya di lantai.
"Ini buat kalian bertiga, kok," kata Farhan.
"Ciyus, Mas?" tanya Ratna penuh harap.
"Enggak. Kamu nih nggak percayaan banget. Jelek-jelek gini aku masih perhatian, kok. Sana, buka!" Via mencebikkan bibirnya.
Ratna mengambil gunting untuk memotong tali pengikat kardus. Kemudian, ia buka kardus yang telah terlepas tali pengikatnya.
"Wow, tas!" pekik Ratna senang.
Mira mendekat untuk melihat isi kardus.
"Cantik sekali tas ini," komentar Mira.
"Iyalah. Yang beli juga cantik, Mbak," sahut Via sambil cengengesan.
"Cantik juga yang pakai. Lihat!" Ratna
memegang salah satu tas lalu bergaya bak model.
"Ya, ya, cantik pakai banget. Apalagi kalau lihatnya dari Monas pakai sedotan," ujar Mira.
"Ish, Mbak Mira nggak ikhlas banget mujinya." Ratna cemberut.
"Iya, mukena Bali. Masing-masing satu tas dan satu mukena. Sisain buat Salsa, ya! Tolong Mbak Mira awasin Ratna! Takutnya jatah Salsa dia embat. Kan kasihan Salsa." Via melirik tajam sahabat karibnya.
"Yaelah, khawatir amat kau, Marimar!" gerutu Ratna.
Via terkekeh. Kemudian, ia menggeser duduknya.
"Ada yang mau aku omongin. Ini serius. Ratna, duduk sini!" perintah Via.
Ratna menurut. Ia meletakkan tas barunya, lalu duduk di dekat Via.
"Begini, Mbak Mira juga Ratna. Kalian kan tahu sekarang kondisi perusahaan almarhum papaku mulai pulih. Sebagai anak, aku harus berusaha mewujudkan harapan papa."
Via diam sejenak. Ada perasaan yang tak dapat dilukiskan mengharu biru dalam hatinya.
"Tadinya, aku tidak berpikir menggantikan posisi papa menjadi leader di PT Wijaya Kusuma. Namun, kakek dan Om Candra memintaku untuk itu. Apalagi aku menikah dengan Mas Farhan saja diawali niat menyelamatkan perusahaan peninggalan almarhum papa. Maaf, ya," kata Via sambil menatap suaminya.
Farhan tersenyum lembut. Ia mengangguk dan menggenggam tangan Via.
" Mas mengerti, kok. Mas nggak tersinggung. Lanjutkan!" Farhan meyakinkan Via.
"Setelah resepsi, kami membicarakan tentang perusahaan ke depannya. Semua sepakat untuk sementara Mas Farhan yang memegang tampuk pimpinan. Aku harus mendampingi Mas Farhan sambil belajar seluk beluk bisnis dan manajemen perusahaan besar yang sesungguhnya. Setelah aku siap, Mas Farhan akan menyerahkan kepadaku dan beralih ke perusahaan Eyang Probo. Tadinya aku minta Mas Farhan yang pegang seterusnya. Tapi, Eyang keberatan karena beliau merasa sudah waktunya pensiun. Mas Farhan memang sudah dipersiapkan menggantikan kedudukan Eyang dari dulu. Maka, mau tidak mau aku yang harus menggantikan almarhum papa."
Ratna dan Mira mengangguk-angguk saja. Mereka tidak berkomentar sedikit pun.
"Mulai besok, aku mesti belajar. Aku akan hadir di kantor Wijaya Kusuma di sela kegiatan kuliah nantinya. Aku tidak mungkin bisa fokus kalau masih harus memikirkan Azrina. Oleh karena itu, aku akan menyerahkan Azrina kepada kamu, Ratna."
__ADS_1
Ratna terkejut. Ia tidak mengira Via akan menyerahkan Azrina kepadanya.
"Tunggu, Vi. Kamu jangan buru-buru ambil keputusan! Azrina memang kecil dibandingkan Wijaya Kusuma. Tapi, ini adalah hasil jerih payahmu, hasil perjuanganmu dari nol. Masa kamu tinggal begitu saja?" protes Ratna.
Via tersenyum mendengar protes sahabatnya. Ia sudah menduga hal itu sebelumnya.
"Siapa bilang aku meninggalkan Azrina begitu saja? Aku kan menyerahkan kepada kamu. Jadi, kamu yang mengelola Azrina nantinya. Aku yakin kamu bisa," ucap Via mantap.
"Tidak, Via. Aku belum hebat kayak kamu. Aku hanya melaksanakan ide-ide dari kamu. Selama ini, kamu yang memikirkan pengelolaan Azrina." Ratna masih bersikukuh menolak.
"Dengerin aku, Ratnaku sayang! Aku nggak lepas tangan begitu saja. Aku tetap ngontrol, kok. Cuma, aku nggak ngontrol secara fisik. Laporan keuangan dan keadaan barang kamu kirim lewat email atau WA. Untuk penentuan jenis produk dan harga, sementara aku pegang. Tapi, lama-kelamaan kamu yang harus ambil keputusan," papar Via tegas.
"Tapi, aku tetap masih ragu," kata Ratna lirih.
"Kenapa? Nyatanya, seminggu aku nggak ke sini Azrina tetap jalan. Sekarang, aku mau lihat laporan."
Via melihat layar laptop di meja. Ia mencermati tulisan di sana. Sesekali ia mengangguk-anggukan kepala sambil bergumam.
"Aku lihat kondisi normal. Padahal, seminggu yang lalu kita libur. Toko baru buka 2 hari yang lalu, bukan? Di sini memang ada penurunan, tapi wajar. Ini membuktikan kalian bisa mengelola."
"Aku nggak pede, Via," rengek Ratna.
"Ish, kau ini. Kayak anak kecil aja, sih. Belajar, belajar! Kamu bilang ingin jadi CEO. Nah, ni jadi CEO Azrina hahaha."
Farhan ikut tertawa melihat perdebatan Via dan Ratna.
"Dek Ratna, apa yang dikatakan istriku benar adanya. Tolong bantu istriku mengelola Azrina. Masa mau dijual?" Farhan angkat bicara.
"Jangan, sayang kalau harus dijual. Sudahlah, Rat, kamu terima," desak Mira.
Ratna diam sejenak. Akhirnya, dia mengambil keputusan.
"Kalau begitu, aku terima ...."
"Alhamdulillah. Terima kasih, Ratna," potong Via sambil memeluk sahabatnya.
"Iya, tapi beneran kamu bantu!"
"Insya Allah. O ya, kamu boleh merekrut pegawai perempuan lagi," kata Via
"Berapa orang?" tanya Mira.
"Satu dulu," jawab Via singkat.
"Oke, siap!" sahut Ratna.
"Via mau ke atas mau ambil beberapa barang. Mas di sini saja, ya," pamit Via.
Farhan mengangguk. Via lalu bergegas menuju lantai 2. Ratna dan Mira mengekor.
***
Bersambung
Terima kasih untuk semua readers yang setia dukung author. Mohon selalu klik like dan tinggalkan komentar. Aku siap dukung balik karya authors lain.
__ADS_1