
Sesampai di rumah, Via langsung menuju kamarnya. Ia tidak mampir ke Kantor Wijaya Kusuma karena badan terasa tidak nyaman.
Setelah membersihkan diri, ia duduk di tepi ranjang. Tak sengaja matanya membentur pada benda di sudut ruangan. Ia mengambil benda itu dan menatap lekat angka yang tertera. Ada yang berdesir di dadanya saat menatap kalender.
"Masya Allah, lusa Mas Farhan genap berusia 28 tahun. Bulan lalu aku diberi kalung cantik ini saat umurku genap 20 tahun. Eh, ternyata selisih usiaku dan dia lumayan. Hhmmm, 8 tahun." Via memegang kalung yang melingkar di lehernya.
Ia tersenyum mengingat saat Farhan memberikannya.
Flash back on
Via melepas mukena yang dikenakan. Ia bermaksud tidur lagi setelah qiyamullail. Ya, jam baru menunjukkan pukul 03.15.
Farhan ikut bangkit melihat Via berjalan ke ranjang. Pria itu mengambil sebuah wadah berbentuk hati yang dihiasi pita cantik. Ia membawanya mendekat ke Via.
"Selamat ulang tahun, istriku yang cantik. Semoga bertambah kuat iman yang Cinta miliki, meningkat ketakwaan kepada Allah, juga bertambah kadar cintamu kepada Mas," ucap Farhan lembut.
Mata Via terbelalak mendengar ucapan Farhan. Ia tidak mengira Farhan mengingat hari ulang tahunnya.
Farhan mengulurkan benda yang dipegangnya. Ia duduk di samping sang istri.
"Kiss dulu, ya," bisik Farhan.
Tanpa menunggu persetujuan Via, sebuah kecupan mesra mendarat di pipi kanan Via. Farhan menarik dagu Via hingga menoleh ke kanan lalu memberikan kecupan pada pipi kiri.
"Sekarang, buka!" perintah Farhan.
Perlahan tangan Via menarik tutup benda di pangkuannya. Mulutnya seketika terbuka melihat benda cantik di dalamnya.
"Indah sekali, Hubbiy," bisik Via.
"Cinta suka?"
"Tidak," jawab Via singkat.
Farhan seketika memasang raut kecewa. Ia merasa seperti jatuh dari ketinggian.
"Via tidak suka, tapi sangat sukaaa. Makasih, Hubbiy," ujar Via cepat.
Sebuah ciuman mendarat di bibir Farhan. Tentu saja Farhan kembali melayang mendengar penuturan Via juga kelakuannya.
"Cinta pinter ngerjain Mas, ya! Sini, Mas pakein," kata Farhan gemas.
Ia mengambil kalung berhiaskan liontin yang dipegang Via. Ia pun memasang kalung itu di leher sang istri.
Via bangkit dari duduknya. Ia ke depan cermin. Dilihatnya kalung yang begitu indah di lehernya.
Mendadak pinggangnya terasa kencang. Rupanya Farhan melingkarkan tangannya di pinggang Via.
"Cantik banget," bisik Farhan.
"Terima kasih, Hubbiy. Ternyata Hubbiy mengingat ulang tahun Via."
"Nggak usah dirayakan, ya. Cukup jadi moment romantis bagi kita," pinta Farhan.
Via mengangguk. Sesaat ingatannya melayang ke masa papa mama masih ada. Mereka biasa merayakan hari ulang tahunnya di restoran atau hotel.
"Kalau bagi-bagi makanan di panti asuhan, boleh?" Via bertanya untuk mendapatkan izin.
"Itu bagus," puji Farhan. Tangannya masih melingkar di pinggang Via.
"Terima kasih, Hubbiy. Terima kasih sekali. Ternyata Hubbiy begitu baik dan pengertian," ucap Via.
"Cuma terima kasih, nih? Nggak ada lainnya?" Farhan melepaskan tangannya.
__ADS_1
Via memutar badan menghadap Farhan. Ia tidak memberikan jawaban, hanya menatap wajah suaminya.
Farhan tersenyum. Perlahan diraihnya dagu Via. Bibir Farhan didekatkan bibir Via lalu Farhan me****t bibir itu.
Flash back off
Via masih memegang kalender dan memperhatikan angka di sana. Sesekali ia berfikir. Mendadak ingatannya kembali ke ucapan Mira.
"Apa Mas Farhan menginginkan kehadiran seorang anak di tengah kami? Hhmmm, sebetulnya lucu juga kalau ada anak. Seandainya aku hamil, toh tidak mengganggu kuliahku yang hampir selesai. Ah, tapi bagaimana kalau aku nggak bisa hamil? Apa Mas Farhan kecewa? Terus, dia cari perempuan lain? Aaah...kok ngelantur begini sih?"
Matanya kembali menatap kalender. Sebuah senyum tipis terlukis di bibirnya.
***
Farhan membuka mata saat merasakan adanya tepukan halus di pipinya. Wajah cantik Via terpampang di depannya.
"Assalamualaikum, Hubbiy. Sudah hampir subuh," bisik Via.
"Waalaikumsalam, Cinta," balas Farhan. Ia berdoa sebentar dalam hati. Lalu, dengan gerakan cepat ia menarik tengkuk y hingga terjatuh menimpanya. Tak ayal, bibir mereka pun beradu.
"Hubbiy nakal. Dibangunin malah peluk-peluk sampai Via hampir kehabisan nafas," protes Via.
Farhan terkekeh. Ia tidak memedulikan protes istrinya. Ia tahu persis kalau Via sebenarnya juga menyukai perlakuan seperti itu.
"Belum jam 4," gumam Farhan.
"Haish, cuma kurang dikit. Hubbiy belum siap-siap. Habis itu, kan harus bangunin Pak Nono, Pak Yudi, juga Mas Edi. Kata Hubbiy Mas Edi sering susah dibangunin. Ayo, cepat!" Via memaksa Farhan bangun.
Pria itu pun bangkit dari tidurnya. Ia bergegas menuju ke kamar mandi untuk menyucikan diri. Sementara, Via menyiapkan baju untuk suaminya.
"Hubbiy lama amat di kamar mandi? Via juga mau ke kamar mandi, nih," teriak Via.
"Iya, bentar. Tumben sih, seperti ngejar-ngejar Mas?" sahut Farhan.
Tak lama kemudian, Farhan keluar dari kamar mandi dengan wajah segar. Via segera masuk.
Setelah 5 menit di kamar mandi, Via mengintip keluar. Begitu yakin Farhan sudah pergi, Via dengan langkah mantap keluar dari kamar mandi.
"Kok belum wudu?" Pertanyaan sederhana dari Farhan membuat Via terkejut.
"Hub--biy be--lum berangkat?" Via tergagap.
"Belum. Baru mau berangkat. Kok kaget gitu?" Farhan menatap curiga.
"Enggak. Via cuma kaget karena ngira Hubbiy sudah berangkat ternyata belum," jawab Via.
"Kalau gitu, Mas berangkat dulu, ya. Cinta juga segera bersiap salat subuh. Assalamualaikum," ucap Farhan diiringi langkah meninggalkan kamar.
"Waalaikumsalam," jawab Via.
Setelah Farhan keluar, Via bukannya mengambil air wudu justru sibuk menyiapkan kotak dan lainnya. Ia membungkus sebuah kotak kecil dengan kertas kado berwarna biru. Warna favorit Farhan. Saat azan subuh berkumandang, Via baru selesai membungkus kotak itu lalu meletakkan di meja rias.
Via pun bergegas ke musala. Ternyata Mbok Marsih sudah di sana bersama Bu Inah. Mereka bertiga mendirikan salat subuh berjamaah. Seperti biasa, Via yang mengimami.
Namun, kali ini Via tidak ngobrol memberi tausiyah ringan. Ia pamit kembali ke kamar.
Ternyata, di kamar Via memakai make up tipis. Tak lupa, ia menyemprotkan parfum yang Farhan sukai.
"Assalamualaikum, Cinta," ucap Farhan sambil membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam, Hubbiy," jawab Via sambil meraih tangan kanan Farhan lalu menciumnya.
"Kirain tidur," kata Farhan.
__ADS_1
"Iiih, kapan Via tidur habis subuh?"
Farhan tidak menjawab. Ia merasakan ada yang tidak biasa pada diri Via.
"Kok istri Mas cantik banget. Wangi lagi. Mau ke mana sepagi ini?" Farhan tak kuasa menyimpan keheranannya.
"Memang biasanya nggak cantik? Kalau pakai parfum, nggak bakalan mau pergi, dong," ujar Via.
"Terus, apa yang membuat istri cantik ini tampil lebih cantik dari pada biasanya?"
Via tersenyum manis. Dia lalu mengalungkan tangannya ke leher Farhan.
"Selamat hari lahir, suamiku. Barakallahu fii umrik," bisik Via.
Farhan tersenyum bahagia. Ia merengkuh tubuh Via ke dalam dekapan.
"Terima kasih, Cinta. Semoga keluarga kita senantiasa dirakhmati Allah," balas Farhan.
Setelah Farhan melepaskan pelukannya, Via menarik tangan sang suami ke sofa. Diraihnya kotak kecil yang sudah ia persiapkan.
"Via nggak bisa beli barang mahal. Via cuma ngasih itu. Semoga Hubbiy menyukai," kata Via sambil memberikan kotak yang ia persiapkan sebelum salat subuh.
"Terima kasih, Cinta. Apa pun hadiah yang kamu berikan, insya Allah Mas terima dengan senang."
"Ayo, bukalah!" Via tak sabar.
Perlahan, Farhan membuka pembungkus kotak. Lalu, ia membuka tutup kotak.
Dahi Farhan bertaut kala melihat isi kotsk. Dua plastik berisi benda yang hampir sama.
Diambilnya satu di antaranya. Dengan cermat, Farhan mengamati benda itu. Lalu, ia mengambil yang satunya. Ia pun melakukan hal yang sama.
"Cinta, a--apa ini artinya? Cinta, Cinta hamil?" Farhan bertanya ragu.
Via tersenyum manis dan mengangguk. Farhan tidak bisa menahan rasa haru. Ia kembali memeluk istrinya erat.
"Alhamdulillah, puji syukur kehadirat-Mu ya Allah. Terima kasih atas kepercayaan yang Engkau berikan kepada kami," ucap Farhan dengan suara bergetar.
"Hubbiy menangis?" tanya Via.
Farhan melepaskan pelukannya lalu mendudukkan sang istri di sofa. Ia menyusul duduk di sampingnya.
"Mas sangat bahagia, Sayang. Hadiah ini benar-benar luar biasa," kata Farhan dengan suara masih bergetar.
"Tapi, Via masih ragu. Maukah Hubbiy mengantarkan Via ke dokter kandungan untuk lebih meyakinkan?" pinta Via.
"Tentu saja. Nanti jam 8 kita ke rumah sakit, ya. Mas Edi biar ke kantor menghandle pekerjaan Mas. Cinta nggak kuliah?" Farhan menjawab dengan antusias.
"Hari ini tidak. Ada persiapan dies natalis kampus."
"Kebetulan kalau begitu."
Farhan menatap Via lembut. Sebentar-sebentar senyumnya mengembang. Ada kebahagiaan yang membuncah. Ia merasakan dadanya dipenuhi bunga yang bermekaran.
***
Bersambung
Yeeee... akhirnya Via hamil. Anak mereka cowok apa cewek ya?
Sambil menunggu Via periksa, yuk kunjungi novel karya author kece ini!
Jangan lupa untuk terus dukung author ya!
__ADS_1