SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pernikahan Edi-Mira


__ADS_3

Edi berjalan menuju tempat acara akad nikahnya. Dia diapit Hendra dan Pak Candra. Ia pun duduk di kursi berlapis kain putih.


Sang pengulu sudah bersiap bersama petugas dari KUA lainnya. Pria yang terlihat masih muda itu mengecek kelengkapan persyaratan pernikahan. Ayah Mira duduk di samping penghulu, berhadapan dengan Edi.


Jantung Edi mulai memainkan irama tak beraturan. Seandainya didengarkan memakai stetoskop, mungkin telinga yang mendengarnya menjadi gatal.


Setelah semua beres, penghulu mulai menanyai Edi dan Pak Handoyo.


“Nak Mas Edi Wibowo,apakah sudah mantap mempersunting  Nak Ayu Miranti Lestari untuk diajak jalan bersama mengarungi bahtera  rumah tangga?” tanya penghulu.


“Insya Allah siap,” jawab Edi mantap.


Penghulu menoleh ke Pak Handoyo, lalu menanyakan kesiapan Pak Handoyo.


“Bapak Handoyo, apakah siap menerima Nak Mas Edi Wibowo sebagai bagian dari keluarga Bapak? Apakah semua ikhlas?”


Pak Handoyo pun menjawab mantap, "Siap. Insya Allah semua ikhlas tanpa ada paksaan.”


“Pak Handoyo akan  menikahkan sendiri atau mewakilkan kepada saya?” tanya penghulu sekali lagi.


“Saya sendiri, Pak.”


“Baik. Sudah bisa, kan? Atau perlu dijelaskan?”


“Sudah bisa.”


Lagi-lagi Pak Handoyo memberi jawaban mantap.


Setelah memberi sedikit penjelasan , penghulu mempersilakan Pak Handoyo dan Edi mengucapkan  ijab kabul. Pak Handoyo menjabat tangan Edi erat.


“Bismillahirrahmanirrahiim. Nak Mas Edi Wibowo!” seru Pak Handoyo.


“Saya!” sahut Edi cepat.


“Saya nikah dan kawinkan Saudara dengan putri saya Miranti Lestari untuk diri Saudara dengan Mas kawin berupa seperangkat alat salat dan perhiasan emas seberat 50 gram dibayar tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Miranti Lestari putri Bapak Handoyo untuk dirai saya sendiri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” kata Edi dengan lantang dan dalam satu tarikan nafas.


“Bagaimana para saksi?” tanya penghulu.


Orang-orang yang hadir di ruangan itu kompak menjawab, “Sah!”


Mereka mengucap hamdallah dilanjutkan doa untuk pengantin.  Tak lama kemudian, Mira dibimbing ibu dan mertuanya mendekati Edi yang sudah sah menjadi suaminya. Ia mencium tangan Edi dan dibalas kecupan mesra di


kening Mira.


“Jangan lama-lama, Ed! Nanti saja kalau mau lama!”  celetuk Pak Candra.


Hadirin pun tertawa mendengar ucapan Pak Candra. Sementara, Edi dan Mira menunduk malu.


Acara dilanjutkan pembacaan sighat taklik dan  penandatanganan dokumen. Setelah itu, penghulu memberikan sedikit nasihat untuk kedua mempelai.


Setelah berfoto dengan keluarga, kedua mempelai beristirahat. Usai zuhur, mereka bersanding di pelaminan. Edi dan Mira mengenakan busana adat Jawa yang dimodifikasi.

__ADS_1


Meski tak semewah resepsi pernikahan Via dan Farhan, pernikahan Edi dan Mira termasuk meriah. Tamu yang hadir pun hampir tak ada jeda.


Di salah satu meja, 2 orang pria dan 2 orang wanita yang sudah tak muda lagi terlihat begitu bahagia. Mereka menikmati hidangan tak henti-hentinya.


“Akhirnya, kita bisa menikmati yang namanya pesta di hotel. Ternyata begini, ya?” ujar Pak Nono


“Bagus banget hiasannya. Pasti mahal,” kata Bu Inah.


“Ini saja bukan hotel  bintang 5, begini bagusnya. Waktu pernikahan Mbak Via pasti lebih bagus dari pada ini.” Mbok Marsih menimpali.


Mereka terus berbincang tentang kemeriahan pesta itu. Mulut mereka juga hampir tak berhenti dijejali makanan.


Ke mana majikan mereka hingga mereka bisa bebas? Via dan Farhan menemui tamu yang sebagian adalah kolega bisnis mereka. Via tidak membiarkan Zayn sendirian. Ia menggendongnya,  membawanya ke mana pun ia melangkah. Ketika bayinya mengantuk, Via menidurkan di boks yang mereka bawa dan diletakkan di ruang ganti tak jauh dari tempat resepsi.


Ratna dan Salsa pun membantu menerima tamu. Mereka berdua mengenakan gaun yang sama, pemberian Via. Ya, keluarga dekat baik dari pihak Mira maupun Edi, diberi pakaian yang sama oleh Via. Sementara keluarga Via dan Farhan juga tak berbeda, mengenakan pakaian seragam.


Kali ini, Raatna tak sekonyol biasanya. Ia tampak sedikit murung. Meski berusaha menutupi di balik kemeriahan pesta, Ratna tak bisa lari dari Via. Ia tak bisa mengelak saat Via bertanya tentang masalahnya.


“Kenapa, Rat? Aku perhatikan sejak tadi kamu kok lesu? Ada masalah apa?”


“Eh, Via. Eng—enggak ada, kok,” jawab Ratna gugup.


“Kau bisa bohongi Salsa, tapi tidak denganku. Ada pa? Kau masih menganggap kami saudara?” Via terus mendesak Ratna.


Ratna menunduk. Ia memandang ujung sepatunya.


“Ratna,” panggilan Via membuatnya kaget.


Via menarik nafas panjang.


“Sekarang tinggal pemulihan, bukan?”


“Iya, termasuk mentalnya. Dia stress, dia nggak bisa menerima keadaan. Mamanya tetap nggak mau pulang, tetap berada di Belanda, ikut adiknya. Dia tidak peduli kondisi anak dan suaminya,” keluh Ratna.


Via merangkul bahu Ratna. Ia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana.


“Coba besok kita pikirkan lagi, ya! Aku sampaikan ke Mas Farhan bagaimana baiknya. Sekarang nikmati pestanya! Aku keluar dulu, nengok Baby Zayn. Tadi tidur di ruang ganti,” kata Via berpamitan.


Ratna mengangguk. Ia mengusap wajahnya menetralkan perasaannya.


“Ratna!’ terdengar suara cowok memanggil.


Ratna menoleh ke sumber suara. Tampak Rio menghampirinya. Cowok itu mengenakan batik satin warna


coklat muda. Ia terlihat lebih dewasa.


“Kau sendirian?” tanya Rio.


“I—iya. Mas Rio sama siapa?” Ratna balik bertanya.


“Sama kamu,” jawab Rio sambil mengembangkan senyum lebar.


Ratna tersenyum kikuk. Kali ini dia tidak bisa mengeluarkan kekonyolannya. Selain masalah Dika, di dekat Rio jantungnya seperti sedang memainkan musik dangdut.

__ADS_1


“Kamu lihat Azka? Aku dari tadi nyari tapi nggak ketemu,” ucap Rio.


“Enggak,” jawab Ratna singkat.


“Kalau begitu, kamu bisa temani aku? Kita duduk, yuk!” ajak Rio.


Ratna semakin berdebar. Ia benar-benar gugup.


“Kau sudah makan?” tanya Rio lagi.


Ratna menggeleng. Nafsu makannya memang sedang berkelana sejak kemarin. Kondisi Dika yang menjadi


penyebabnya.


“Ambil makanan dulu, yuk! Atau mau aku ambilkan?” Rio menawari.


“Ambil sendiri aja. Nanti Mas Rio ambilnya nggak sesuai seleraku,” ucap Ratna yang mulai bisa menata jantungnya.


Mereka ke meja prasmanan mengambil makanan. Melihat porsi makan Ratna, dahi Rio berkerut.


“Lagi diet? Kok sedikit banget?”


“Biar bisa diisi yang lain. Kalau banyak, aku nggak bisa nikmati lainnya. Kan sayang,” jawab Ratna.


Rio tertawa mendengar jawaban Ratna. Ia mulai mengamati gadis yang tengah menikmati makanan perlahan.


“Lucu juga ni cewek. Kayaknya dia ini yang suka bikin Via tertawa pas mereka bareng. Wajahnya saja kelihatan kocak,” batin Rio.


“Mas Rio kok lihatin Ratna terus?” protes Ratna yang menyadari dirinya menjadi objek tatapan Rio.


Cowok itu terkejut. Ia segera mengembangkan senyum untuk  menutupi gugupnya.


“Memang nggak boleh? Kan aku lihatnya pakai mataku, ngak pinjem punya orang lain,” jawab Rio seenaknya.


“Iya, iya. Tapi, kasihan tuh makanan di piring. Masa mereka Mas Rio cuekin, sih,” protes Ratna lagi.


“Iya, deh. Aku perhatiin mereka, nih.”


Baru saja Rio menyantap makanannya, ekor matanya menangkapsosok yang sangat ia kenal. Ia sedang bersama seorang gadis. Rio merasa asing dengan gadis itu.


“Azka...” gumam Rio.


“Kenapa, Mas?” tanya Ratna.


“Eh, enggak. Lanjutin saja makanmu.”


***


Bersambung


Siapa cewek yang bersama Azka? Ikuti terus, yuk! Jangan lupa klik like dan koment, ya! Terima kasih.


__ADS_1


__ADS_2