SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Patah Hati


__ADS_3

Azka terlihat berbinar mendengar ucapan Ratna. Sebaliknya, Salsa semakin merasa sakit. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Tak mungkin ia melarang Azka jatuh cinta kepada seorang gadis.


Dengan langkah gontai, Salsa berjalan meninggalkan Azka dan Ratna menuju lantai 2. Baik Azka maupun Ratna sama-sama tidak menyadari perubahan pada diri Salsa. Ratna tengah asyik menerima telepon, sementara Azka memperhatikan Ratna yang sedang berbicara.


....


....


Azka mendekat ke Ratna. Ia penasaran dengan orang yang menelepon gadis itu karena sejak tadi Ratna tidak menyebut nama siapa pun.


“Siapa, sih?” bisik Azka.


Ratna sedikit menjauhkan ponsel pintarnya. Ia menatap Azka dengan tajam. Namun, sesaat kemudian senyum merekah di bibirnya.


“Eh, dengerin! Ada yang kepo, nih. Kita video call saja, ya biar kamu bisa lihat orang yang sedang penasaran,” ucap Ratna sembari menjauhkan gawai sebentar, mengubah mode panggilan.


Mendengar ucapan Ratna, Azka menjadi salah tingkah. Mukanya tampak memerah. Ia menjauh dari Ratna.


“Sebentar, aku arahkan kamera ke orang yang kepo,” kata Ratna. Ia memutar posisi gawainya menghadap Azka.


“Oh, dia yang penasaran. Dia berharap siapa yang menelepon kamu?” tanya si penelepon.


Azka melotot mendengar suara penelpon. Ratna sengaja memindahkan ke mode loud speaker.


“Dia berharap mahasiswa dari aw ...!” ucapan Ratna terhenti karena Azka mendekat dan menginjak kakinya.


“Diam, jangan bicarakan aku!” bisik Azka tegas.


“Kakiku diinjak. Sakit, nih,” adu Ratna.


Terdengar suara orang terkekeh dari ponsel Ratna.


“Bilangin ke orang yang nginjek kaki kamu, ya! Aku sudah tahu, kok,” ucap si penelpon.


“Kau telpon sendiri saja orang itu. Ini namanya kekerasan dalam toko. Nih, ngobrol sama adikmu biar dia nggak melototi aku terus,” kata Ratna sembari menyodorkan gawainya kepada Azka.


Azka ragu menerimanya. Ia menatap layar yang menampilkan gambar wanita muda tengah memangku bayi.


“Kok mukamu kusut gitu, Dek?”


“Ah, Mbak Via nih sama saja kayak Ratna, ngledek terus,” gerutu Azka.


“Ngledek gimana? Aku cuma nanya, kok. Eh, ni serius! Apa benar kamu ada rasa ke Meli? Kalau iya, Mbak mau ngomong ke bunda biar nyiapin lamaran sekalian. Kamu nggak pengin kayak Doni? Dia sudah berani lamar Dini, lo!” Via mendesak Azka.


“Jangan bilang soal lamaran, deh! Terlalu jauh!” kata Azka.


“Jogja ke Jember memang jauh, Dek. Tapi kalau  sudah terikat, semua terasa dekat,” sahut Via cepat.


Azka tampak cemberut. Melihat hal itu, Via kembali terkekeh.


“Kenapa, sih? Kamu belum yakin? Sudah pernah nyinggung soal lamarn belum? Atau jangan-jangan nggak pernah chatting sama dia?” cecar Via.


Azka hanya diam. Ia memang tidak pernah berkirim pesan setelah kepulangan Meli dari Jogja waktu itu. Chatt terakhir hanya menanyakan kabar gadis itu setiba di Jember.


“Kamu diam, berarti tebakanku benar. Aah, kamu suka tapi nggak mau terbuka. Bener, kan?” ujar Via lagi.


“Ah, terserahlah,” ucap Azka pasrah.


“Eh, aku beberapa hari yang lalu chatting ma dia, lo!”


Ucapan Via terakhir membuat Azka tersentak. Matanya berbinar penuh harapan.


“Ngobrolin apa?” tanya Azka antusias.


“Ih, ngapain kepo?”

__ADS_1


Azka kembali cemberut. Dia sebenarnya ingin tahu tentang Meli tetapi gengsi mengakui.


“Ya sudah kalau nggak mau kasih tahu. Nih, HP aku balikin ke Ratna,” gerutu Azka. Ia menyodorkan kembali gawai Ratna kepada pemiliknya.


“Ih, ngambek! Beneran nggak ingin tahu?  Ya sudah,” suara Via masih terdengar.


Azka tidak memedulikan Via lagi. Ia mengambil ponsel miliknya lalu asyik memainkan jari telunjuknya di layar.


Mereka tidak menyadari keberadaan Salsa. Gadis itu tengah termenung di sofa lantai 2. Sesekali jarinya mengusap butiran air yang lolos dari pelupuk mata.


“Mungkin aku memang nggak pantas buat Mas Azka. Aku terlalu berharap kepadanya. Ah, beginilah kalau harapan terlalu tinggi. Jatuhnya terasa sangat sakit.”


Salsa meraih remote televisi. Setelah menekan tombol merah, tatapannya dialihkan ke layar 24 inchi di depannya.


Meski tatapannya lurus mengarah ke layar televisi, pikirannya tidak fokus ke acara yang tengah berlangsung. Ia masih memikirkan tentang Azka.


“Malang benar nasibku. Pertama kali jatuh cinta ternyata bertepuk sebelah tangan. Berbulan-bulan aku memendam perasaan ini. Aku juga sudah berusaha memantaskan diri dengan kuliah, tapi ternyata kenyataan tak seindah harapan. Aku harus tegar! Aku harus kuat! Aaah, ternyata begini rasanya orang yang patah hati meski belum jadian.”


Tanpa sadar, Salsa memekik saat dadanya begitu sesak. Ternyata, suaranya terdengar oleh Ratna. Ia segera bergegas ke lantai 2.


“Ada apa, Sa? Kenapa teriak?” tanya Ratna cemas.


Salsa masih diam. Ia masih tenggelam dalam lamunan. Gadis itu baru tersentak kaget saat tepukan tangan Ratna mendarat di bahunya.


“Eh, iya. Ada apa, Mbak?” tanya Salsa.


“Kamu kenapa tadi? Kok teriak?” Ratna mengulang pertanyaannya.


“Teriak? Oh, itu tadi aku kaget sama adegan film itu,” jawab Salsa sambil menunjuk layar televisi.


“Film? Bukannya itu berita?” gumam Ratna.


Salsa tergagap mendengar gumaman Ratna. Ia mencermati layar televisi yang memang tengah menyiarkan berita.


Ratna hanya diam. Ia merasa ada sesuatu yang Salsa sembunyikan. Namun, ia enggan bertanya lebih lanjut.


“Mas Azka sudah pulang?” tanya Salsa.


“Belum, masih di bawah. Nggak tahu tu orang tumben-tumbenan datang ke sini tanpa tujuan yang jelas. Kayaknya lagi sakit, deh,” jawab Ratna.


“Sakit? Sakit apa, Mbak?” tanya Salsa kaget.


“Sakit malarindu. Lagi jatuh cinta sama cewek Jombang aku kira,” jelas Ratna.


“Oh,” reaksi Salsa kecewa.


Ratna kembali ke lantai 1. Dilihatnya Azka masih asyik memainkan gawainya.


Baru saja Ratna akan menanyai Azka,  terdengar suara mesin mobil dimatikan. Sedan merah metalik terparkir di depan ruko.


“Assalamualaikum,” sapa Mira yang datang dengan membawa tas belanja dari supermarket.


“Waalaikumsalam. Wah, habis borong, ya?” jawab Ratna.


“Hehe, ini tadi belanja bulanan. Nih, cemilan buat teman kalau lagi istirahat,” kata Mira sembari menyerahkan tas yang dibawanya.


“Terima kasih.” Ratna menerima dengan gembira. Ia membawa pemberian Mira ke meja kasir.


“Eh, ada Mas Azka. Sudah lama, Mas?” sapa Mira begitu melihat Azka.


“Lumayan,” jawab Azka singkat.


Mira mengdarkan pandangan ke sekeliling ruangan.


“Kamu sendirian, Rat? Yang lain ke mana?” tanya Mira.

__ADS_1


“Ada Salsa di atas. Lagi ditonton televisi dianya,” jawab Ratna.


“Maksud kamu?” Mira heran.


“TV-nya nyala, pikiran Salsa nggak ke acara, malah nggak tahu acaranyaa. Kayak orang patah hati tu anak. Eh, Mas Edi mana?”


“Masih di mobil tadi. Paling sebentar lagi masuk. Aku lihat Salsa dulu.”


Mira melangkah cepat menyusuri tangga. Begitu kakinya menginjak lantai 2, ia melihat seorang gadis yang tengah duduk termenung. Tatapannya ke depan, tetapi kosong.


“Beneran ni anak melamun. Kalau benar dia patah hati, siapa cowok yang membuat dia begini? Ah, jadi ingat kisahku dulu.”


Mira mendekati Salsa. Gadis itu tidak menyadari kehadiran Mira.


“Lagi nonton apa, Sa?” tanya Mira lembut.


Salsa tidak menjawab. Sepertinya, ia memang tidak mendengar pertanyaan Mira.


“Sa, kamu melamun, ya?” Mira kembali bertanya. Ia mengambil posisi di samping Saalsa.


“Salsa, nggak baik kebanyakan melamun. Ada apa?” Mira kembali bertanya disertai tepukan halus di paha Salsa.


“Eh, copot!” seru Salsa kaget.


Mira terkikik melihat reaksi  Salsa. Ia bisa memastikan kalau gadis itu memang melamun.


“Makanya, jangan melamun terus. Ada apa?” Mira mengulang pertanyaannya.


“Eh, Mbak Mira. Kapan datang?”


“Bukannya menjawab malah balik nanya. Aku datang barusan. Kamu melamun apa, sih? Ada masalah?” Mira mengajukan pertanyaan yang masih sama.


“Eng—enggak, kok.” Salsa mengelak.


Mira menatap lekat wajah gadis yang sudah ia anggap saudara. Ia menangkap kebohongan di matanya.


“Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Tapi, kalau kamu nggak mau cerita, aku nggak berhak maksa. Kalau kamu mau berbagi, aku siap menerima keluh kesahmu,” kata Mira.


Salsa tertunduk. Ia merasakan dadanya makin sesak. Serta merta ia memeluk Mira dan menumpahkan tangisnya.


Mira balas memeluk Salsa. Diusapnya kepala gadis itu dengan lembut.


“Sal—sa lagi nggak enak hati. Ta—tapi Salsa nggak bisa cerita ke orang lain. Salsa malu,” keluh Salsa di sela isaknya.


“Kalau kamu belum siap cerita, aku juga nggak maksa. Mungkin lain waktu. Kalau kamu mau cerita, bilang saja, aku siap mendengarkan,” ucap Mira lembut.


Salsa mengangguk. Ia melepaskan pelukannya. Jemari Mira mengusap pipi Salsa yang basah oleh air mata. Ia mengulas senyum untuk memberi ketenangan kepada Salsa.


“Sana cuci muka dulu! Nanti ketahuan Mas Edi dan Mas Azka, kamu pasti ditanyai macam-macam.” Mira menyuruh Salsa.


Salsa menurut. Ia bangkit dari duduknya menuju kamar mandi.


“Jangan-jangan benar yang Ratna katakan, dia patah hati. Siapa yang membuatnya patah hati? Sepertinya dia nggak pacaran. Atau ada masalah lain?”


*


Bersambung


Aku usahakan update tiap pagi lagi. Kalau sempat 2 episode per hari. Dukung aku terus, ya! O iya, kalau kepo tentang Meli yang membuat Azka salting, baca novel karya Kak Indri Hapsari, ya!



Sambil nunggu up, baca juga novel yang bisa bikin jomblo baper 🤭


__ADS_1


__ADS_2