
Sarapan keluarga dokter Haris pagi itu terasa berbeda. Mereka merasakan lebih nikmat. Kehangatan memang begitu terlihat.
Ada dua sosok yang tampak malu-malu. Siapa lagi kalau bukan Azka dan Meli. Saat mereka tengah menyantap hidangan, ART Via berdatangan. Mereka memang diminta datang untuk menjaga Zayn selama ditinggal Via ke kantor.
Tak lama berselang, suara gadis yang agak cempreng terdengar. Kehebohan pun tercipta sesaat. Ratna tentu saja pelakunya.
Mereka diminta bergabung untuk sarapan bersama. Penambahan kehangatan keluarga tercipta, kenikmatan makan pun lebih terasa.
Setelah sarapan, Bu Aisyah diantar Farhan menggunakan mobil yang dikemudikan Pak Yudi. Selang 5 menit kemudian, Pak Haris berangkat sendiri ke rumah sakit.
“Kamu nggak ke kantor, Via?” tanya Anjani.
“Bos kan bebas, Anjani,” celetuk Ratna.
Via tersenyum. Ia memang tidak pernah di kantor full time sejak kelahiran Zayn. Ia hanya memantau keadaan, memimpin rapat penting, dan menemui klien penting. Itu sebabnya Pak Arman ditarik ke kantor pusat.
“Iya, aku cuma mimpin rapat direksi nanti jam 9. Habis itu aku pulang. Bagaimana kalau nanti kita jalan-jalan?” Via memberi tawaran.
“Mau! Aku mau!” seru Meli.
“Iya, tapi gak usah norak gitu. Nanti Baby Zayn kaget mendengar teriakanmu, lo!” tegur Anjani.
Zayn yang tengah menyusu memang menghentikn aktivitasnya. Agaknya, dia memang terganggu dengan teriakan Meli. Namun, tak lama kemudian, ia melanjutkan kembali kegiatannya.
“Memang mau ke mana?” tanya Ratna.
“Bagaimana yang dekat-dekat saja? Nengokin teman kamu di Gembiraloka lalu ke Malioboro?” usul Via.
“Bagaimana, Anjani, Meli” Ratna melempar usulan Via kepada kedua tamu.
“Terserah, deh. Kami ikut saja. Kalian tentu lebih tahu tempat yang bagus, “ sahut Anjani.
“Sebenarnya ada yang lebih bagus. Tapi, sebaiknya lusa saja. Kalian masih di sini, kan? Kalian toh libur semester, berarti libur panjang,” ucap Via.
“Habiskan waktu liburan kalian di sini saja!” tiba-tiba terdengar suara cowok dari pintu.
Semua menoleh ke pintu. Azka sudah berdiri di sana dengan memamerkan senyum manisnya.
“Cieee... ada yang ngarep kumpul terus sama pujaan hati, tuh,” ledek Ratna.
Meli tentu saja gugup. Ia menundukkan wajahnya yang mulai kemerahan.
“Bagaimana Anjani dan Meli, mau dua minggu di sini? tanya Via dengan mengulum senyum.
“Aku sih terserah Meli. Tapi, ya nggak dua minggu juga, kali. Nanti aku kena marah Paman Sam. Yang penting kerinduan Meli kepada sang he..aw!” Kalimat Anjani menggantung diakhiri teriakan.
Rupanya, Meli yang duduk di dekat Anjani mendaratkan cubitan yang cukup ampuh.
“Kenapa, Anjani?” tanya Via.
“Enggak, tadi ada semut gigit pingganku kayaknya,” kata Anjani.
Meli tampak lega. Namun, ia tak berani menatap ke arah pintu lagi.
__ADS_1
“Ya sudah, lusa kalian masih di sini, ya!” ucap Via,”Sekarang aku mau ke kantor dulu. Kalian ngobrol bareng Ratna dan Mas Azka. Selesai rapat, aku langsung balik.”
Sepeninggal Via, mereka kembali melanjutkan obrolan. Azka mencoba bersikap biasa, ikut bergabung bersama para gadis.
“Jadi, perintis olshop kalian itu Via? Hebat, dia benar-benar luar biasa,” puji Anjani setelah mendengarkan cerita Ratna tentang awal mula Azrina.
“Mungkin dia mewarisi sifat almarhum papanya. Konon, almarhum papanya membangun perusahaan yang sekarang dipegang Via, dari nol. Modal pun pinjam.,” tutur Azka.
Wajah Meli mendadak berubah. Ia terlihat kurang senang mendengar Azka menceritakan tentang keluarga Via.
“Mas Azka tentu paham tentang keluarga Via. Di Samping sekarang adik ipar Via, dulu juga saudara angkat,” kata Ratna begitu melihat perubahan raut muka Meli.
“Dan, sekarang dia memimpin perusahaan besar peninggalan papanya. Perusahaan itu sempat kolaps, tetapi sekarang kembali pada kejayaannya,” lanjut Azka.
“Hebat dong, Via. Membangun perusahaan yang sudah kolaps menjadi besar lagi,” ujar Anjani.
“Yang mengembalikan kondisi bukan Via, tetapi campur tangan banyak orang termasuk Mas Farhan. Om dan kakek Via membantu menyuntikkan dana segar,” papar Azka.
Meli lebih banyak diam. Sebenarnya, ia tengah menyembunyikan kegugupannya. Apalagi saat Azka tengah bicara. Jantungnya terasa seperti berpacu lebih cepat.
“Yang jelas, sekarang Wijaya Kusuma kembali besar. Perusahaan itu sudah memiliki beberapa cabang lagi. Makanya, Via sudah tidak sanggup berbagi konsentrasi dengan Azrina. Ia menyerahkan kepadaku,” lanjut Ratna.
“Kau juga hebat, Ratna. Kau bisa mengelola olshop sekaligus toko fisik,” ucap Anjani tulus.
“Aku belajar dari Via. Aku juga dibantu sahabat-sahabatku. Via juga msih membantu. Dia yang membayar sewa ruko yang aku tempati sekarang. Tadinya Eyang Probo yang bayar sewanya. Eyang Probo itu kakeknya Mas Azka, “ kata Ratna.
Meli hanya sesekali menanggapi. Itu pun sekedar ber-oh ria atau senyum. Anjani menangkap keanehan sikap Meli yang biasa heboh.
“Kamu sariawan, Mel?” tanya Anjani dengan suara berbisik.
“Bukan. Tapi, dari tadi kamu diam saja. Biasanya kan kamu heboh,” kata Anjani.
“Kan aku sudah banyak belajar waktu aku ke sini sendiri,” kilah Meli.
“Oh, berarti tujuan utama kamu ke sini kali ini lebih ke liburannya? Kemarin bilang ke aku kalau mau belajar olshop lagi.” Anjani membuka rahasia Meli.
Muka Meli memerah. Ia merasa malu karena Anjani membongkar rahasianya. Andai bisa, ia ingin bersembunyi ke kerak bumi. (Panas tuh kerak bumi, Meli!)
“Ih, apaan kamu? Aku tetep mau belajar. Yang tadi Ratna katakan, aku sudah tahu. Aku mau tanya yang lain nanti. Bagaimana kalau kita ke ruko?” Meli mencoba berkelit dari jebakan Anjani.
“Boleh. Nanti bilang ke Via kalau dia sudah kembali,” sahut Ratna.
Mereka kembali berbincang banyak hal.Tak terasa jarum pendek jam dinding sudah mendekati angka 10.
“Assalamualaikum. Wah kayaknya seru banget. Ngobrolin apa, sih?” ucap Via yang baru datang.
Mereka berempat menjawab salam Via bersama.
“Kok sudah balik? Nggak jadi rapat, Mbak?” tanya Azka.
“Sudah. Tadi rapatnya dimajukan setengah jam karena semua sudah siap. Rapatnya lancar jadi cepat selesai,” jawab Via.
“Jadi buka pabrik garmen, Vi?” tanya Ratna.
__ADS_1
“Belum diputuskan. Besok atau lusa tim baru bekerja mengkaji rencana itu. Memang kenapa?” Via balik bertanya.
“Nggak apa-apa. Siapa tahu Azrina bisa kecipratan ambil produk dengan harga pabrik hehe,” ucap Ratna cengengesan.
“Nah, otak bisnismu langsung jalan,” sahut Via,”Aku ke kamar dulu nemuin Zayn. Silakan lanjutkan ngobrolnya! Kita jadi jalan-jalan, kan?”
“Tentu saja,” jawab Meli cepat.
Semua tertawa melihat reaksi Meli. Via bergegas ke atas.
“Urusan jalan-jalan. Ratu Shopping langsung bereaksi,” canda Anjani.
“Ratu Shopping? Ah, yang benar saja! Aku kan paling cuci mata, nggak belanja,” bantah Meli.
“Iya, soalnya dompet kurang tebal. Coba kalau isi dompetmu tebal, kamu bisa kalap kalau belanja,” canda Anjani lagi.
Meli cemberut. Dalam hati ia membenarkan ucapan Anjani.
“Tenang, Mel! Di sini kamu bisa puasin hasrat belanjamu. Kan ada Pak bos,” kata Ratna sambil melirik Azka.
Meli menjadi kikuk. Ia tak enak hati dengan Azka. Ia ingat banyaknya barang yang dibayar Azka waktu dia ke Jogja sebelumnya.
“Ah, nggak enak. Masa minta sama Mas Azka. Nanti uang saku Mas Azka habis,” ucap Meli lirih.
“Gaji dia itu sama dengan laba Azrina sebulan. Uang sakunya utuh lagi,” kata Ratna.
Anjani dan Meli terbelalak. Ia menatap Ratna, mencari tahu keseriusan ucapan gadis itu.
“Mas Azka itu bukan anak kuliahan biasa. Di Medan ia juga bekerja di perkebunan yang selama ini dikelola om-nya Via. Gajinya gede tuh,” ungkap Ratna.
Azka terlihat tersipu. Sementara Anjani dan Meli melongo mengetahui tentang Azka.
“Wah, ternyata Mas Azka masih muda sudah tajir. Sudah anak orang berada, tinggal dia yang dibiayai, bekerja di perkebunan besar pula. Kalau model begini, nikah sekarang pun tak masalah baginya. Dia sudah bisa menafkai lahir batin. Eh, aku mikir apa?” batin Meli. Pipinya merona setelah menyadari kalau pikirannya terlalu jauh.
“Kenapa, Mel? Kamu nggak usah sungkan kalau minta traktir bosku ini. Apalagi bos besar. Dia lebih tajir lagi,” ucap Ratna diiringi gelak tawanya.
“Bos besar?” Anjani tampak kebingungan.
“Via, maksudku. Kalau cuma beli semua gamis yang ada di Azrina, itu kecil baginya. Nanti kalian bisa ambil gamis yang kalian suka di Azrina, biar aku potong gaji bos besar, lanjut Ratna.
“Maksud kamu?” Meli tak paham.
“Azrina itu kan tetap milik Via. Setelah menyerahkan kepadaku, dia nggak mau ambil bagian dari laba Azrina. Tapi, aku tetap menyisihkan. Bisalah kalau cuma buat gamis sekoper. Nanti kalian beli koper baru, deh.” Ratna mengedipkan matanya.
Anjani dan Meli kembali melongo. Ia tidak mengira Via setajir itu. tadinya, mereka hanya tahu kalau Via sukses mengembangkan olshop.
Hasrat belanja Meli kembali meronta. Namun, gadis itu masih bisa menggunakan akal sehatnya untuk meredam hasrat yang menggelora.
*
Bersambung
Meli dan Anjani itu seperti apa, sih? Anak orang kaya atau dari keluarga biasa? Yang ingin tahu, baca novel karya Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1! Jangan lupa tinggalkan like dan komentar setelah baca novel kami. Dukungan kalian sangat berharga. Baca juga cerpenku, Menanti Pelangi, ya! Terima kasih.
__ADS_1