SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XLV


__ADS_3

Pak Haris melajukan mobilnya dengan kecepatan tidak lebih dari 40 kpj. Karena hari masih pagi, mereka ingin menikmati suasana. Bu Aisyah meminta berhenti saat melihat penjual bubur ayam.


"Tolong buatkan lima bungkus, Pak," kata Bu Aisyah.


Dia lalu duduk di bangku panjang milik penjual bubur ayam. Pak Haris menyusul duduk di samping sang istri.


"Assalamualaikum," seorang pria berpakaian olah raga menyapa.


"Waalaikumsalam. Eh, Pak Andi. Baru jogging?"


"Hehehe...iya nih. Kesiangan tadi. Mas Haris dan Bu Aisyah dari mana sepagi ini?"


"Kami habis mengunjungi ayah. Duduk sini! Pak, bikinkan 3 mangkok, dimakan di sini. Yang dibungkus lanjutin nanti aja," kata Pak Haris.


Mereka akhirnya pindah tempat duduk, memilih lesehan di atas tikar.


"Bagaimana tanggapan Surya?" Pak Haris membuka pembahasan.


"Soal perjodohan dengan Mbak Via, ya? Dia sih menilai Mbak Via gadis yang baik. Tapi...." Pak Andi menggantung kalimatnya.


"Tapi kenapa?" tanya Bu Aisyah tak sabar.


"Sepertinya dia tidak mau kalau menikah dengan Mbak Via. Maaf, maafkan keponakan saya," ujar Pak Andi.


Pak Haris dan Bu Aisyah tertawa kecil.


"Tidak usah sungkan begitu. Dari awal kita kan sudah sepakat tidak ada pemaksaan. Kalau ada pihak yang keberatan, berarti rencana kita batal."


Pak Andi tersenyum. Ada kelegaan terpancar di wajahnya.


"Silakan, ini buburnya Pak, Bu." Penjual bubur menyajikan bubur ayam pesanan Pak Haris.


"Ayo, makan dulu! Mumpung masih hangat!" ajak Bu Aisyah.


Selesai makan, mereka melanjutkan obrolan sebentar.


"Via sendiri belum memberi keputusan mau tidaknya menikah dalam waktu dekat. Jadi, kita berjalan mengikuti arus saja. Biarkan Via merenung, memohon petunjuk kepada Allah dalam memutuskan jadi tidaknya ia menikah."


"Iya, Mas. Kalau Mbak Via sudah memberi keputusan, tolong kabari saya."


"Insya Allah segera kami kabari."


"O iya, ini dibawa untuk yang di rumah," kata Bu Aisyah sambil menyerahkan tas plastik isi bubur ayam.


"Kok jadi repot-repot. Saya sudah makan, masih bawa pulang."


"Sudah, nggak usah sungkan. Bawa saja!" Pak Haris menegaskan.


"Ya sudah, Mas, saya permisi. Terima kasih, ya. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Pak Haris.


Setelah membayar bubur ayam, mereka kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang.


Sesampai di rumah, sepasang suami istri itu bergegas ke kamar untuk mandi. Sebelumnya, Bu Aisyah meletakkan bubur ayam di meja makan.

__ADS_1


"Ayang bunda cantik kalau pakai baju warna dusty pink. Kayak masih gadis aja. Kalau jalan bareng Via pasti dikira kakaknya," goda Pak Haris.


Panggilan sayang biasa digunakan saat mereka berduaan. Itu untuk menjaga kemesraan mereka meski usia sudah tidak muda.


"Halah, Yayang mulai nggombal," elak Bu Aisyah sambil mencebik. Padahal, hatinya berbunga-bunga.


"Kalau tak percaya, sana tanya anak-anak."


"Iya, iya. Eh, ngomongin soal Via, bagaimana kalau kita tanyai Farhan? Mau nggak dia nikah sama Via."


"Duuuh... Ternyata ada yang gak sabar punya menantu," goda Pak Haris lagi sambil mencubit pipi istrinya.


Bu Aisyah pura-pura marah. Ia sengaja cemberut dan menjauh dari Pak Haris.


"Nggak usah merajuk gini, Ay. Aku jadi tambah gemes nih," kata Pak Haris.


"Makanya, serius dong!"


"Iya, iya. Eh, qadarullah tadi ketemu si Andi. Jadi, rencana kita lebih lancar. Ya, nggak?"


Bu Aisyah mengangguk. Ia setuju dengan pendapat suaminya.


"Lalu, kapan kita ngomong ke Farhan?" tanya Bu Aisyah.


"Apa nggak sebaiknya nunggu Via setuju menikah? Takutnya, Farhan sudah setuju ternyata Via nggak mau menikah dalam waktu dekat."


"Iya juga. Ah, Bunda terlalu memikirkan Via sampai melupakan perasaan anak sulung," keluh Bu Aisyah.


"Kita tunggu dua tiga hari ini. Siapa tahu Via sudah bisa ambil keputusan."


"Ngomong-ngomong, Ayang Bunda setuju Via jadi menantu kita?"


"Nggak," jawab Bu Aisyah singkat.


Pak Haris terbelalak. Ia menatap lekat wajah istrinya.


"Lho, gimana sih?"


"Nggak cuma setuju, tapi setuju banget," sahut Bu Aisyah.


"Iiih, mulai meledek, ya?"


"Udah, kita keluar yuk! Jangan-jangan anak-anak belum sarapan," ajak Bu Aisyah.


"Ah, mereka udah besar. Kalau lapar kan tinggal cari makanan."


"Di mataku, mereka tetap anak-anak yang harus diperhatikan terus, Yang."


"Iyalah, yang namanya ibu tuh selalu gitu," ujar Pak Haris mengalah.


Bu Aisyah terkekeh. Ia keluar dari kamar.


"Farhan, Azka, Via, kalian sudah makan?" Bu Aisyah bertanya sambil berjalan menuju ruang makan.


"Sudah, Bun. Tadi Dek Via masak nasi goreng," jawab Farhan.

__ADS_1


"Oh, ya sudah. Bunda tadi beli bubur ayam. Waktu Bunda pulang, kalian tidak kelihatan. Buburnya Bunda taruh di meja makan."


"Mana, Bun? Azka masih lapar. Tadi Via masaknya pas-pasan."


Bu Aisyah tersenyum sambil geleng kepala melihat tingkah Azka.


Cowok itu langsung berlari ke ruang makan dan menikmati bubur ayam.


"Buat Farhan satu, ya."


"Eh, Mas Farhan juga belum kenyang?"


"Nasi gorengnya enak, jadi nggak bikin kenyang," bisik Farhan.


Azka tertawa mendengar alasan kakaknya.


"Sekarang Via di mana?" tanya Bu Aisyah.


"Tadi habis sholat dhuha terus ke kamar. Ada apa, Bun?"


"Mau Bunda ajak masak buat makan siang nanti. Ya sudah, Bunda ke kamarnya dulu."


Bu Aisyah kembali menaiki tangga menuju kamar Via.


Tok...tok...tok.


"Boleh Bunda masuk?"


"Iya, masuk saja. Tidak Via kunci kok," sahut Via dari dalam.


Saat Bu Aisyah membuka pintu, tampak Via sedang menyimpan album foto. Matanya sedikit basah dan ada bekas air mata yang telah dihapus.


"Teringat papa mamamu?" tanya Bu Aisyah lembut.


Via mengangguk.


"Ada masalah?"


"Via kepikiran yang dikatakan Pak Andi kemarin. Via teringat papa mama, Bun. Seandainya mereka masih ada, masalah pernikahan Via tentu papa mama yang memikirkan."


"Via, semua berjalan menurut kehendak Allah. Dan Allah lebih tahu yang dibutuhkan hamba-Nya. Manusia kadang tidak menyadari hal itu. Yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah. Dan yang di mata kita penting, belum tentu penting di mata Allah."


Via menatap Bu Aisyah dengan tatapan sendu. Yang ditatap membalas dengan senyuman lembut.


"Misalnya, si A merasa bahwa kuliah adalah jalan terbaik. Namun, Allah berkehendak dia tida kuliah dengan jalan orang tuanya kehilangan uang. Si A akhirnya tidak kuliah tetapi bekerja. Karena keuletannya, dia berhasil menduduki jabatan penting. Bahkan, ia menjadi atasan temannya yang sarjana. Banyak kejadian seperti itu di kehidupan ini. Maka, kita harus khusnudzon terhadap ketentuan Allah."


Via meresapi apa yang dikatakan Bu Aisyah. Ia mulai bisa meredam kesedihannya.


***


**Bersambung


Terima kasih atas dukungan pembaca yang setia. Like, komen, dan vote selalu author nantikan agar tetap semangat. Author berusaha untuk up teratur setiap hari minimal 1 episode. Salam sayang untuk semua 😘😘😘


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi muslim muslimah. 🙏**

__ADS_1


__ADS_2