SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Memulai Kehidupan Baru


__ADS_3

Meski keluarga Om Alif sudah pulang, Via dan Farhan masih tinggal di kediaman dokter Haris. Bu Aisyah yang meminta mereka untuk sehari lagi di situ.


Farhan dan Via menurut karena kasihan kepada sang bunda. Wanita itu tengah kesepian karena Azka tinggal di Medan.


Seharian Via dan Farhan menemani Bu Aisyah di rumah. Mereka membuat kue bersama. Farhan pun ikut membantu.


"Bunda dari dulu ingin sekali punya anak perempuan. Alhamdulillah, sekarang sudah terkabul."


"Tinggal kepengin cucu perempuan? Dulu kan ingin mendandani anak perempuan," sahut Pak Haris yang sudah bersiap berangkat ke rumah sakit.


Pipi Via menjadi merona mendengar ucapan Pak Haris. Sementara Bu Aisyah dan Farhan hanya tertawa.


"Bagaimana, Cinta? Tuh, Bunda ingin cucu perempuan yang cantik dan lucu. Begitu, Bunda?" Farhan menambah candaan ayahnya.


"Panggil Via apa tadi? Cinta? Wah, co cuiiit," ledek Pak Haris.


Via semakin tersipu. Ia menjadi salah tingkah.


"Lalu, Via panggil kamu apa? Sayang? Sweet heart? My king?" Bu Aisyah akhirnya ikut kepo.


Farhan tertawa karena bundanya ikut-ikutan. Sementara Via menunduk sambil tersenyum malu.


"Panggilan untukku apa, Cinta? Tuh Bunda ingin tahu," ujar Farhan.


Via tidak menjawab. Ia masih menunjukkan sikap yang sama, hanya tersenyum malu.


"Hahaha...istriku malu, Bun. Dia juga belum pernah dengar panggilan sayang Bunda ke Ayah dan juga sebaliknya."


"Memang kamu tahu, Farhan?" tanya Pak Haris.


"Tahu, dong. Kalau cuma berdua, Ayah panggil Bunda kan Sayang Bunda, ...."


"Sudah, ni malah mbahas yang nggak jelas. Ayah berangkat sana! Nanti telat, lo!" Bu Aisyah juga memerah.


"Ya, baik. Ayang Bunda tampaknya juga tersipu malu seperti anak perempuannya hahaha," kata Pak Haris diikuti gelak tawanya.


"Ayah! Kok malah godain Bunda, sih?" Bu Aisyah pura-pura cemberut.


"Wah, ada yang marah. Baiklah, Ayah berangkat. Tapi, Ayah mau minta bekal dulu."


Tiba-tiba sebuah kecupan mesra mendarat di pipi Bu Aisyah.


"Ayah!" pekik Bu Aisyah kaget.


Pak Haris dan Farhan terkekeh melihat reaksi Bu Aisyah. Kemudian dokter yang tergolong senior itu mengulurkan tangannya. Bu Aisyah menyambut meski dengan wajah yang memerah.


Setelah berjabat tangan dengan istri dan anak-anaknya, Pak Haris pun berangkat diantar Bu Aisyah sampai teras.


"Ayah begitu mesra sama bunda, ya?" kata Via.


"Begitulah. Mas senang lihat kemesraan mereka di usia yang tak lagi muda. Mas ingin seperti itu," ucap Farhan.


Via menatap Farhan sambil tersenyum.


"Hubbiy mau hidup bersama Via sampai jadi kakek nenek?" tanya Via dengan tetap mempertahankan senyumnya.


"Enggak," jawab Farhan singkat. Sontak hal itu membuat senyum di bibir Via memudar. Sorot mata Via memancarkan kekecewaan.

__ADS_1


"Lalu, maunya bagaimana?" tanya Via lirih.


"Mas mau bersamamu hingga kelak di akhirat. Mas ingin Cinta menjadi bidadari untuk Mas di surga kelak," jawab Farhan sambil merengkuh Via ke dalam pelukannya.


Rasa kecewa Via berubah menjadi bahagia bercampur haru. Tak terasa air matanya menitik.


"Kok nangis? Nggak suka?" tanya Farhan.


"Via bahagia. Sangat bahagia," jawab Via sambil kembali membenamkan wajahnya ke dada sang suami.


"Aduh, pelukannya di kamar saja! Mentang-mentang pengantin baru, pelukan terus nggak lihat tempat," omel Bu Aisyah.


Farhan tertawa. Sebaliknya, Via tersipu malu.


"Ah, Bunda kayak nggak pernah muda. Coba kalau ayah masih di sini, pasti nggak mau kalah. Tadi saja sudah dapat kecupan, kan?" Farhan justru meledek bundanya.


"Haish, kamu ni malah ngeledek Bunda," gerutu Bu Aisyah.


Farhan tidak menjawab, hanya cekikikan. Via pun ikut tertawa. Keakraban mereka terlihat nyata. Kebahagiaan terpancar dari wajah ketiganya.


Namun, sore hari Via dan Farhan terpaksa meninggalkan rumah Pak Haris. Mereka kembali ke rumah yang Via tempati sejak kecil, hadiah dari kakeknya.


Menjelang pukul 5 sore, mereka tiba di rumah megah yang baru direnovasi.


"Assalamualaikum," ucap Farhan.


"Waalaikumsalam," jawab seorang perempuan berusia 50-an tahun.


"Mbok Marsih!" pekik Via kaget,"Mbok Marsih kapan datang?"


"Mbak Via! Masya Allah, Mbak Via tambah cantik pakai jilbab begini. Mbok baik," jawab Mbok Marsih.


"Mbok Marsih kapan datang?"


"Dua hari yang lalu, Mbak. Pak Andi yang jemput kami," jawab Mbok Marsih.


"Kami?" Via heran.


"Iya, ada saya, Bu Inah, Pak Yudi, juga Pak Nono."


"Betulkah? Mana mereka?" tanya Via tak sabar.


"Mbak Via," panggil Bu Inah.


Via tidak menjawab. Ia menghambur ke pelukan Bu Inah.


"Saya tidak mengira bisa kembali ke rumah ini lagi dan bekerja pada Mbak Via," ujar Bu Inah di sela isak harunya.


"Pak Nono mana?" Via mengulang pertanyaannya.


"Pak Nono sedang mandi. Kalau Pak Yudi keluar bareng Mas Edi," jawab Mbok Marsih.


Via mengangguk-angguk. Senyum bahagia sering menghiasi bibir mungilnya.


"Ni mau berdiri di luar terus?" tanya Farhan.


"Eh, maaf. Via kelewat senang jadi lupa. Ayo, masuk!" ajak Via.

__ADS_1


Mbok Marsih dan Bu Inah membantu membawa barang-barang ke kamar utama.


"Ini kamar papa mama dulu," bisik Via seolah sedang memberi tahu dirinya sendiri.


Meski lirih, Farhan masih mendengarnya.


"Cinta jangan bersedih, ya! Biarkan papa dan mama bahagia di sana," kata Farhan.


Diusapnya kepala Via dengan lembut. Via pun menyenderkan kepalanya ke dada bidang suaminya.


"Ini baju bersih semua, Mbak? Mbok masukkan ke lemari, ya," ujar Mbok Marsih membuyarkan kemesraan Farhan dan Via.


"Eh, iya Mbok. Kok malah Mbok Marsih yang menata baju," sahut Via malu.


"Sudah, Mbak Via istirahat saja. Ini kan kewajiban kami."


Via tidak menjawab. Dia bermaksud tetap ikut menata baju.


Saat membuka baju, ia kaget karena banyak baju yang terlihat masih baru. Via memegang beberapa di antaranya dan mengamati.


"Baju siapa ini? Jelas bukan bajuku juga bukan baju almarhumah mama."


"Mbok, baju sebanyak ini milik siapa?" Via penasaran.


"Tentunya milik Mbak Via. Masa punya Mbok?" Mbok Marsih menjawab sambil tersenyum lebar.


"Aku nggak pernah beli baju-baju ini."


"Itu pasti kakek yang membelikan," sahut Farhan yang tengah duduk di atas tempat tidur.


"Kakek? Sebanyak ini? Ini sepertinya ukuran Via. Dari mana kakek tahu?" Via keheranan.


"Paling tanya sama bunda. Sudahlah, kalau Cinta suka, pakai saja. Kalau nggak, ya disumbangkan," jawab Farhan santai.


"Sepertinya ini baju mahal," gumam Via.


"Tentu saja. Kakek mana mau beli baju murah."


"Ya sudah, Mbok. Ayo kita masukkan baju-baju yang ada di koper ke sini. Via menata baju Mas Farhan saja," kata Via sambil menarik koper Farhan.


"Wah, baju Hubbiy juga baru-baru," seru Via.


Farhan tersenyum melihat istrinya terpesona dengan baju-baju yang dibelikan kakeknya.


Via segera mengambil baju-baju Farhan dari dalam koper lalu menata di almari.


Baru saja selesai, Via merasa ada tangan melingkar di pinggangnya.


"Kita mulai kehidupan baru kita di sini. Semoga tangis bayi segera hadir," bisik Farhan.


"Iya, Hubbiy. Tapi lepaskan tangan Hubbiy. Malu, ada Bu Inah dan Mbok Marsih," kata Via juga dengan berbisik.


Farhan melepaskan tangannya. Sementara Mbok Marsih dan Bu Inah buru-buru pamitan.


***


Bersambung

__ADS_1


Mohon maaf, sejak kemarin sampai dengan besok author slow respon karena banyak tugas di dunia nyata.


Mohon tetap dukung author ya. Insya Allah Author kunjungi karya kalian hari Minggu.


__ADS_2