
Saat di perempatan, lampu merah menyala. Dika tidak melihatnya, tetap melajukan si merah. Tepat di tengah perempatan, sebuah mobil boks menghantam dari sisi kanan.
Mobil Dika pun terlempar beberapa meter. Kondisinya ringsek. Sementara mobil boks yang menabrak tetap melaju
karena lalu lintas sedang sepi, tidak ada kendaraan lain.
Dika baru dievakuasi petugas setelah 30 menit dari kejadian. Ia dibawa ke rumah sakit terdekat. Kebetulan, itu adalah rumah sakit tempat dokter Haris bekerja.
Kondisinya cukup memprihatinkan. Tubuhnya penuh luka dan dia tidak sadarkan diri.
Salah satu anak buah Edi ada yang mengenali mobil Dika segera melaporkan kepada bosnya.
Edi segera meluncur ke rumah kontrakan. Ia tidak menyampaikan ke Farhan terlebih dahulu.
Ia membuka pintu rumah dengan kunci yang ia pegang. Hendrik ternyata belum tidur, masih menatap layar monitor laptopnya.
“Ada apa? Bawa makanan, nggak? Kiki kelaparan tuh,” ucap Hendrik tanpa menoleh.
“Dia nginep di sini?” tanya Edi.
“Iya. Memang ada berita apa?”
Hendrik menggeser posisi duduknya. Ia kini menghadap Edi.
“ Dika kecelakaan. Barusan anak buahku kasih tahu.” Edi mengatakan informasi yang baru didapatkan.
“O ya? Tewaskah?” Hendrikmenanggapi dengan santai.
Edi melotot ke arah Hendrik.
“Masih hidup, luka parah. Malah ia dirawat di rumah sakitnya dokter Haris,” lanjut Edi.
“Bagus, dong. Itu mempermudah kita menekan Dika. Kalau sembuh. Kalau nggak, ya wassalam. Bye, bye,” komentar Hendrik masih dengan gaya cuek.
“Keluarga Tanto dan Gunawan bagaimana?” tanya Edi.
“Tinggal bebasin saja mumpung Dika sekarat. Anak buah Dika sudah lemah kehilangan kendali. Apalagi kalau mereka tahu usaha milik Dika hancur. Siapa yang akan menggaji mereka? Mereka itu setia kepada yang kasih uang,” jawab Hendrik.
“Baiklah, besok mereka kita bebaskan. Adik Gunawan dipindah saja tempat perawatannya.” Edi menimpali.
Hendrik mengangguk setuju. Ia kembali melirik layar monitor laptopnya.
“Sekalian Gunawan dipindah saja. Kembalikan Arif ke posisi semula. Menurutku begitu.”
“Gunawan dipindah ke mana?” tanya Edi.
“Terserah bos. Aku kan bukan bos. Itu si Tanto juga sebaiknya dipindah. Meski mereka melakukan kecurangan di bawah tekanan, hal itu tetap kesalahan,” jawab Hendrik serius.
Edi terdiam. Ia menimbang-nimbang ucapan Hendrik.
“Omonganmu ada benarnya. Baiklah, besok aku sampaikan kepada Mbak Via dan Mas Farhan. Mereka yang berhak memutuskan, terutama Mbak Via.”
“Otakku memang jenius dari dulu. Itu takdir yang tak bisa kau bantah,” ucap Hendrik sombong.
“Sok ah! Jenius tapi jomblo,” ejek Edi.
Seketika Hendrik memasang wajah kesal. Ia melempar bantal kecil di dekatnya.
“Kau juga sok laku. Baru kemarin dapet cewek saja sudah belagu. Baru calon, calon Bang,” balas Hendrik dengan memberi penekanan pada kata calon.
“Biarin. Kan lebih baik dari pada jomblo. Week...” Edi menjulurkan lidahnya.
Dari salah satu kamar, Kiki keluar dengan rambut berantakan. Rupanya, ia sudah tertidur. Cowok itu duduk di sebelah Hendrik.
“Astaga, Kiki! Bikin kaget aja! Kirain kuntilanak,” seru Hendrik.
“Ih, sembarangan si abang. Masa kaya gini dibilang kunti,” sungut Kiki sembari menyibak rambut panjangnya.
Edi tertawa terbahak-bahak. Tawanya makin keras saat Hendrik mengikat rambut indah milik Kiki dengan karet gelang.
__ADS_1
“Bang, jangan keras-keras ketawanya, ih. Serem, tau! Entar tetangga pada bangun, lo!” ucap Kiki.
“Tetangga? Berapa meter jarak dari sini ke rumah tetangga? Yang terdekat kan di sebelah makam,” sahut Edi.
“Nah, itu dia tetangga terdekat kita itu yang di dalam makam itu. Coba kalau mereka kaget terus bangun, gimana?” lanjut Kiki.
Hendrik menoyor kepala Kiki sambil bersungut, “Gak usah aneh-aneh! Kalau ke sini beneran, kamu yang diculik.”
Edi dan Kiki hanya tertawa. Mereka melanjutkan obrolan hingga tengah malam.
***
Ruang makan keluarga Via dalam formasi lengkap. Mereka bertujuh sudah duduk mengelilingi meja. Hanya Baby Zayn yang berada di kereta bayinya.
Sarapan pagi itu terasa nikmat. Entah karena masakan Mbok Marsih atau terbawa suasana bahagia.
Edi memberi tahu kalau ia dan Hendri dibantu Kiki sudah mengetahui otak di balik manipulasi data pada laporan. Memang, Edi tidak memberi tahu apa yang mereka rencanakan untuk Dika. Ia hanya memberi tahu kalau masalah hampir beres.
Setelah sarapan selesai, Bu Inah dan Mbok Marsih membereskan meja makan. Edi sudah menyampaikan sebelumnya bahwa ia akan membicarakan tentang Dika.
“Apa yang akan Mas Edi sampaikan? Tindakan apa yang Mas Edi rencanakan untuk menghentikan Dika? Aku harap, kalian jangan menyakitinya. Bagaimana pun dia sepupu Ratna, sahabat Dek Via. Dia juga sudah menderita karena papanya di penjara, meski itu buah dari kejahatan yang ia lakukan.” Farhan membuka pembicaraan
“Untunglah aku tidak ikut campur mengobrak-abrik usaha milik Dika. Bisa runyam urusannya kalau sampai Mas Farhan tahu.”
“Ehm begini, Mas. Tadi malam saya mendapat informasi dari anak buah saya kalau Dika mengalami kecelakaan,” kata Edi dengan nada penuh kehati-hatian.
“Apa? Kecelakaan? Terus, kondisinya bagaimana?” seru Via kaget.
Farhan mengusap tangan Via, memberi isyarat agar sang istri tetap tenang.
“Maaf, saya sendiri belum melihat langsung kondisi Dika. Berdasarkan laporan dari anak buah saya, kondisinya parah. Mobilnya ringsek,” jelas Edi.
“Memang di mana kejadiannya?” tanya Farhan.
“Di perempatan. Penyebabnya masih dalam penyelidikan. Tidak ada saksi mata dalam kejadian itu. Polisi hanya bisa mengandalkan rekaman CCTV,” jawab Edi.
“Berarti tabrak lari? Di tempat kejadian hanya ada mobil Dika?”
Farhan dan Via saling tatap. Via mengangkat bahunya, memberi isyarat bahwa ia menyerahkan keputusan kepada Farhan.
“Baiklah, nanti kami ke sana sekalian mengecek tangan kiriku,” kata Farhan.
“Kalau begitu, Kiki saya suruh mendampingi saat menjenguk Dika,” ujar Edi.
Via mendadak menahan tawa. Ia selalu ingat reaksi Azka saat bertemu Kiki.
“Mas Edi nggak ikut?” tanya Farhan.
“Saya kan mesti ke kantor. Jangan khawatir, saya siapkan body guard di sana. Juga selama perjalanan,” jawab Edi.
Farhan mengangguk paham. Kemudian, ia menoleh ke Via.
“Kamu mau ikut, Cinta?” tanya Farhan lirih.
“Memang nggak apa-apa?” Via tampak ragu.
“Dedek Zayn ditinggal saja sama Bu Inah. Jangan lupa, tinggalkan ASI yang banyak!”
Via mengangguk setuju. Ia beranjak mengmbil breast pump untuk memompa ASI. Selain menyiapkan ASI, Via juga sekalian berganti pakaian.
Setelah berpamitan dengan Bu Inah dan Mbok Marsih juga menitipkan Baby Zayn, Via bergegas ke depan. Pak Yudi telah menyiapkan mobil untuk mengantar mereka.
Tiba di lobi rumah sakit, mereka bertemu dokter Haris yang baru mengantarkan tamunya.
“Farhan mau kontrol?” tanya dokter Haris.
“Iya, Yah. Selain itu, kami mau nengok Dika. Dia saudara sepupu Ratna. Menurut informasi yang Farhan terima, dia semalam kecelakaan dan dibawa ke sini,” kata Farhan.
Pak Haris melangkah ke bagian informasi. Ia bicara sebentar dengan petugas di bagian tersebut. Dengan sigap, petugas mengetik sesuatu lalu menyampaikan kepada dokter Haris. Setelah menerima penjelasan dari bagian informasi, dokter Haris kembali menemui Farhan dan Via.
__ADS_1
“Iya, ada pasien atas nama Handika yang masuk tadi malam. Kondisinya parah. Dari IGD dia masuk ke ICU. Ayah belum tahu detailnya. Nanti kita tanyakan ke ruang ICU. Kalian ke poli bedah dulu. Nanti kalau sudah selesai, kita ke ruang ICU.”
Setelah mengarahkan anak-anaknya, dokter Haris berpamitan akan memeriksa pasien. Farhan dan Via pun menuju poli bedah untuk mengecek kondisi lengan kiri Farhan.
Usai diperiksa, Farhan dan Via menghubungi ayahnya. Mereka menunggu didepan loket obat apotek rumah sakit.
Sekitar lima menit berselang, pria bertubuh langsing dengan rambut panjang yang diikat karet rambut warna hitam mendekat. Siapa lagi kalau bukan Kiki?
Ia memberi salam lalu duduk di samping Farhan.
“Sudah menjenguk Dika, Mas?” tanya Kiki tanpa basa-basi.”
“Belum, nunggu ayah. Kalau bersama ayah, kita bisa bertanya lebih leluasa kepada dokter yang merawat,” jawab Farhan.
“Dia dirawat di mana?” tanya Kiki lagi.
“ICU. Kondisinya parah. Itu informasi awal dari petugas bagian informasi tadi.”
Baru saja Kiki mau bertanya lagi, dokter Haris datang mendekat.
“Ayah sudah selesai? Kok cepat?” tanya Via.
“Iya, tadi kan sempat digantikan dokter Yahya karena ada tamu dari Dinkes. Ayah tadi tinggal melanjutkan memeriksa 2 pasien. Ayo, kita ke ICU!” ajak dokter Haris.
Mereka berempat menuju ruang ICU. Pak Haris tidak membawa mereka ke tempat rawat pasien, tetapi ruang dokter.
“Assalamualaikum,” ucap dokter Haris.
“Waalaikumsalam. Silakan masuk, dok,” sahut dokter Rahmat ramah.
Mereka duduk di kursi yang tersedia di ruangan yang tidak terlalu besar itu.
“Ada apa, dok? Kok bersama rombongan?” tanya dokter Rahmat.
“Ini, kami mau menanyakan kondisi pasien bernama Handika,” jawab dokter Haris.
“Oh, korban kecelakaan tadi malam? Kondisinya baru stabil. Sementara jangan dijenguk dulu! Apa dokter Haris mengenalnya?”
“Dia saudara teman saya, dok,” sahut Via.
Dokter Rahmat menoleh ke Via. Ia menyunggingkan senyum ramah.
“Kebetulan kalau begitu. Kami belum bisa menghubungi keluarganya. Padahal, kami butuh tanda tangan persetujuan pihak keluarga atas tindakan medis untuk Saudara Handika,” kata dokter Rahmat.
“Memang bagaimana kondisi Dika, dok?” tanya Farhan.
“Dia mengalami patah tulang kaki dan rusuk. Luka-luka luar juga cukup banyak. Yang mengkhawatirkan adalah patah tulang rusuk dan cedera di kepalanya. Kemungkinan, dia tidak mengenakan sabuk pengaman. Selain itu, dia mengemudikan mobil dalam pengaruh alkohol,” papar dokter Rahmat.
Mereka cukup terkejut mendengar penjelasan dokter. Kiki pun sempat ternganga sesaat.
“Lalu, apa tindakan yang akan diambil?” tanya Kiki.
“Yang jelas, kami menunggu kondisi pasien betul-betul stabil. Setelah itu, kami akan melakukan operasi untuk tulang rusuk dan kakinya. Kemungkinan kakinya diamputasi karena patah tulangnya parah,” jawab dokter.
Kembali mereka bertiga terkejut. Mereka tidak menduga kondisi Dika separah itu.
“Ada keluarga yang bisa dihubungi?” tanya dokter Rahmat.
“Ada, dok. Nanti saya beri tahu sepupunya,” jawab Via cepat.
Setelah mendapat penjelasan cukup, mereka berpamitan kepada dokter Rahmat. Sesampai di luar, Farhan dan Via ganti berpamitan kepada sang ayah. Kiki hanya mengekor.
Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Via menghubungi Ratna menyampaikan kondisi Dika. Sementara, Kiki mengirim pesan kepada Edi dan Hendrik.
[Target sudah jinak, tidak perlu dikhawatirkan. Sandera bisa dibebaskan dengan leluasa.]
***
Bersambung
__ADS_1
Bagaimana dengan rencana pernikahan Edi? Tunggu di episode berikutnya. Biar semangat, kasih like dan koment, ya! Aku insya Allah siap dukung balik karya Kakak.