
Farhan terkekeh melihat reaksi sang istri. Ia bermaksud menyusul Via. Namun, notifikasi panggilan mengurungkan niatnya.
"Mas Edi? Ada apa, ya?" gumam Farhan.
"Assalamualaikum," ucap Farhan.
"Waalaikumsalam. Maaf, mengganggu. Ini soal gadis yang tadi saya bawa ke rumah sakit, Mas."
"Ada apa dengan gadis itu?" tanya Farhan tak sabar.
"Dia sudah ditangani dengan baik. Lukanya tidak mengkhawatirkan. Tapi, dia butuh 3 kantong darah. Stok tinggal 1. Paling tidak besok kita harus dapatkan pendonor," jawab Edi.
"Golongan darah apa?"
"AB, Mas."
Farhan menarik nafas dalam-dalam. Ia mengingat-ingat teman yang bergolongan darah AB.
"Baiklah, kita cari esok. Sebaiknya, kita istirahat dulu," kata Farhan.
Tak lama kemudian, pembicaraan melalui telepon itu berakhir.
"Soal gadis itu, Hubbiy?" tanya Via.
"Iya. Kita pikirkan setelah istirahat. Kita tidur dulu," ajak Farhan.
Via mengangguk. Ia juga sudah lelah. Pelukan Farhan tidak ia tolak. Keduanya pun terlelap dalam tidur yang nyaman.
Sebelum subuh, seperti biasa mereka mengerjakan qiyamullail. Kali ini, mereka agak terlambat. Selesai witir, waktu subuh sudah menjelang.
"Sebentar lagi subuh. Hubbiy bersiap ke masjid saja sekarang," ucap Via.
Farhan mengangguk. Ia segera berdiri lalu berpamitan pergi ke masjid. Via tetap di musala menunggu waktu subuh.
Saat azan berkumandang, Bu Inah, Mbok Marsih, dan Bu Hani menyusul. Mereka salat subuh berjamaah dengan diimami Via.
Usai berdoa, Via bermaksud kembali ke kamar menengok Zayn. Namun, Mbok Marsih mengajukan pertanyaan yang membuatnya menunda niat semula.
"Semua selamat, Mbak?"
"Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa. Hanya luka. Putra Bu Hani juga selamat, bahkan tanpa luka sedikit pun. Cuma ...."
"Cuma apa?" tanya ketiganya kompak.
"Ada sandera lain yang disekap bersama putra Bu Hani. Dia seorang gadis. Saat ini dia di rumah sakit karena kehilangan banyak darah. Sementara stok darah tinggal satu kantong," jawab Via.
"Golongan darahnya apa, Mbak?" Bu Inah ganti yang bertanya.
"AB. Aku dan Mas Farhan A. Kami nanti akan mencari pendonor golongan AB. Masih kurang 2 kantong," ucap Via.
"Saya O. Bukannya bisa diberikan ke semua pasien yang membutuhkan transfusi darah?" kata Bu Inah.
Via menggeleng.
"Saya AB, Nyonya," ucap Bu Hani.
Via menoleh ke Bu Hani. Matanya berbinar penuh harapan.
"Bu Hani bersedia donor?" pinta Via sopan.
"Kalau memang bisa, tentu saja saya mau.
"Bagaimana dengan Tanto? Dia juga sedang membutuhkan Bu Hani." Via sedikit ragu.
"Dia sedang tidur. Bu Inah dan Mbok Marsih bisa menjaga sebentar, kan? Tampaknya dia kelelahan. Semoga bangunnya kesiangan," sahut Bu Hani.
"Ya sudah, Bu Hani bersiap-siap," kata Via.
__ADS_1
Saat Via akan naik ke lantai dua, Farhan sedang berjalan ke arahnya. Senyum mengembang di bibir pria itu.
"Assalamualaikum, Cinta," ucap Farhan.
"Waalaikumsalam, Hubbiy. Kelihatannya kok seneng banget," jawab Via.
"Tadi bertemu Pak RT, ngobrolin tentang golongan darah. Ternyata beliau AB dan bersedia donor. Nanti kita cari lagi."
"Alhamdulillah. Bu Hani juga AB dan siap donor. Kalau begitu, segera saja," usul Via.
"Iya, ini juga mau berangkat. Siapkan roti atau apalah buat ganjal perut," pinta Farhan.
"Baiklah, Via siapkan. Hubbiy segera bersiap," sahut Via.
Via tidak jadi ke kamar. Ia menyiapkan bekal makanan untuk dibawa sebentar lagi.
Sepuluh menit kemudian, Pak Yudi sudah melajukan mobil yang membawa Farhan, Bu Hani, dan Pak RT. Via hanya mengantar sampai teras depan.
Setelah mobil yang dikemudikan Pak Yudi tidak terlihat, Via kembali ke dalam. Dalam hati ia terus berdoa agar keduanya bisa mendonorkan darah dan gadis itu selamat.
Via tidak ke dapur kali ini. Rasanya ia malas sekali. Ia memilih ke kamar menunggui Zayn sambil menyelesaikan pekerjaan kantor.
Setengah jam kemudian, Via menghentikan pekerjaannya saat gawainya bergetar. Ia segera mengambil alat komunikasi cerdas itu dan menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, Hubbiy. Bagaimana Pak RT dan Bu Hani? Bisa donor?" Via langsung mencecar Farhan dengan pertanyaan.
"Waalaikumsalam, Cinta. Alhamdulillah, keduanya dinyatakan memenuhi persyaratan donor. Saat ini mereka sedang dalam proses pengambilan darah. Satu masalah teratasi," jawab Farhan.
"Semoga darah mereka bisa digunakan," gumam Via.
"Aamiin. Zayn sudah bangun?"
"Belum. Tanto sepertinya juga masih tidur. Mbok Marsih yang jaga. Bu Inah masak," jelas Via.
"Oh, syukurlah," sahut Farhan, "Kalau begitu, Mas tutup dulu, ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Saat jarum jam yang pendek berada di antara angka 6 dan 7, rombongan Farhan kembali. Via menyambut mereka dengan gembira.
"Tanto sudah bangun, Nyonya?" tanya Bu Hani.
"Sepertinya belum karena saya belum mendengar suaranya. Seperempat jam yang lalu masih tidur," jawab Via.
Bu Hani meminta izin untuk ke kamar yang ia tempati bersama Tanto. Saat membuka pintu, Tanto menggeliat. Matanya mulai terbuka.
"Ibu," desisnya.
"Iya, Nak. Ini ibu," sahut Bu Hani sambil mendekat.
Mbok Marsih segera menyingkir. Ia meninggalkan ibu dan anak itu agar lebih leluasa melepaskan kerinduan.
"Bu, bawa Tanto pergi dari sini! Tanto takut," rintih Tanto.
"Tanto sekarang aman, Sayang. Tanto tidak bersama orang-orang jahat lagi, " kata Bu Hani sambil mengusap lembut rambut anaknya.
Mata Tanto terbuka lebar. Ia mulai menyapukan tatapannya ke seluruh ruangan.
"Ini bukan di rumah paman jahat, Bu?"
"Bukan. Ini rumah penyelamat kita."
Tanto tampak mengamati ruang kamar yang ia tempati. Ia tampak lebih tenang.
"Ibu, bagaimana kalau orang-orang itu datang lagi? Tanto nggak mau dibawa mereka. Seram sekali, Bu. Tanto dibentak-bentak terus," rengek Tanto.
Bu Hani memeluk putra tunggalnya. Batinnya teriris membayangkan berbulan-bulan putranya di bawah tekanan para penculiknya.
__ADS_1
Bu Hani menenangkan putranya. Ia terus membelai kepala Tanto dengan lembut.
"Kita sekarang aman, Nak. Yang punya rumah ini orang baik. Mereka yang mengirim orang-orang untuk membebaskan kamu. Mereka insya Allah akan melindungi kita," kata Bu Hani menenangkan Tanto.
"Beneran, Bu? Tanto nggak akan dibawa orang jahat itu?"
"Iya, Nak. Kita bisa tenang."
Setelah Tanto terlihat tenang, Bu Hani mengajaknya mandi. Ia memakaikan baju baru yang Farhan belikan saat pulang tadi.
Sementara itu, Via pun sedang sibuk memandikan Zayn. Anak lucu itu sering kali tidak mau diangkat dari bak mandi.
"Zayn belum selesai mandi, Bun?" tanya Farhan.
"Belum, Yah. Ni masih mau main."
"Zayn mau ikut ayah bunda nggak? Kalau mau, ayo segera ganti baju!" Farhan mencoba membujuk Zayn.
Kali ini bujukan Farhan mempan. Zayn mengulurkan tangan minta diangkat.
Via segera mengangkat bayi montok itu. Tawa gembira terdengar dari mulut Zayn.
Dengan telaten, Via mengusap minyak telon ke tubuh montok Zayn. Anak itu cukup aktif sehingga sedikit merepotkan saat memakaikan baju.
"Ayah mau ngajak Zayn ke mana?" tanya Via.
"Ke Jember, yuk! Kita gangguin pengantin baru," jawab Farhan sambil menyeringai.
"Ih, Bunda serius nih!" Via mencebik.
"Ayah juga serius. Ajak Ratna juga. Kalau perlu Rio diajak biar Ratna nggak bengong."
"Beneran mau ke Jember?" Via masih belum percaya.
"Beneran. Dek Azka rencana beberapa hari di sana. Toh thesisnya sudah selesai. Tadi ayah ngasih tahu Eyang Probo sudah boleh pulang. Jadi, apa salahnya kita refreshing melepas beban?"
Via tersenyum. Dalam hati ia sangat senang mendengar rencana Farhan.
"Via belum siapin kado untuk Anjani. Pengis ngasih sesuatu langsung ke pasangan pengantin baru itu."
"Tenang, sudah ada. Tuh di paper bag. Tinggal bungkus yang cantik, secantik Nyonya Farhan Alfarizi."
Via terkekeh. Ia melihat sekilas paper bag di nakas.
"Apa isinya?" tanya Via penasaran.
"Lihat saja sendiri!" jawab Farhan sambil beranjak ke kamar mandi.
Usai memakaikan baju Zayn, Via mengambil paper bag yang Farhan maksud. Ia melihat isinya.
"Cantik sekali," gumam Via sambil mengamati benda di tangannya.
Ia segera mengambil perlengkapan untuk membungkus jam tangan couple itu dengan cantik. Sementara ia membungkus, Zayn diberi mainan agar tidak mengganggunya.
"Ratna sudah dikabari belum?" tanya Farhan yang baru keluar kamar mandi.
"Belum. Sebentar, Via selesaikan ini dulu."
Usai membungkus kado untuk Anjani, Via mengambil gawai. Ia mencari kontak Ratna.
***
Bersambung
Maaf telat update.
Keseruan di Jember juga bisa diikuti di novel CS1 karya Kak Indri Hapsari.
__ADS_1
Jangan lupa tetap dukung kami dengan klik like dan komentar! Terima kasih.