
Farhan membuka pintu depan. Dua wanita berbeda generasi berdiri di sana.
"Dek... Eh, maaf," ucap Farhan.
Spontan dia hampir menyebut nama Via. Gadis yang berdiri di dekat wanita setengah baya itu memang mirip Via. Tepatnya Via saat masih SMA.
"Permisi, apa betul ini rumah ..." pertanyaan wanita tersebut terhenti.
"Mamah! Alhamdulillah, akhirnya sampai juga. Sini masuk!" Terdengar suara Pak Candra dari belakang Farhan.
Farhan menggeser posisi berdirinya. Ia memberi ruang untuk lewat kedua orang yang baru datang.
"Mereka istri dan anakku. Dini namanya," kata Pak Candra memperkenalkan.
Dini mengulurkan tangannya mengajak Farhan berjabat tangan. Farhan segera mengatupkan kedua tangannya ke depan dada sambil mengangguk diiringi senyum. Dini pun segera menarik tangannya dan balas tersenyum.
"Maaf, saya Farhan. Saya menantu Pak Wirawan eh... Pak Beni Wijaya," ucap Farhan sopan.
"Oh, ini suami Mbak Via. Lalu, yang namanya Mbak Via mana?" tanya Dini.
"Ayo, masuk ke ruang dalam. Kakek juga di sana," ajak Pak Candra.
Mereka pun berjalan beriringan memasuki ruang keluarga.
"Mohon maaf, saya menyela. Perkenalkan ini istri saya, Lena, dan ini putri saya, Dini. Mereka baru datang karena menunggu Dini menyelesaikan seleksi masuk ke perguruan tinggi. Anak saya baru lulus SMA," kata Pak Candra.
Dini dan mamanya mengangguk sambil mengatupkan kedua tangan. Lalu mereka mendekati Via.
"Ini Mbak Via, ya?" tanya Dini.
Via tersenyum ramah. Ia membuka tangannya lebar memeluk saudara sepupunya.
Kedua gadis itu saling berpelukan erat, seolah keduanya lama tak bertemu. Setelah melepas pelukannya, Dini menggeser posisinya, memberi kesempatan kepada mamanya memeluk Via.
"Tante, selamat datang," ucap Via sambil meraih tangan Bu Lena untuk dicium. Mereka pun berpelukan erat.
Bu Aisyah mendekat. Ia memperkenalkan diri.
"Saya Aisyah, bundanya Via."
Tangan Bu Aisyah disambut cepat oleh Bu Lena. Mereka bercipika cipiki sejenak. Dini pun menjabat tangan Bu Aisyah dan mencium hormat.
"Terima kasih telah merawat keponakan kami," ucap Bu Lena lirih.
"Tidak usah sungkan begitu. Kita sekarang sudah menjadi keluarga," kata Bu Aisyah ramah.
__ADS_1
"Hari sudah sore. Mari kita membersihkan diri sebelum magrib. Obrolan kita lanjutkan nanti malam. Setuju?" usul Pak Candra.
Semua setuju. Mereka membersihkan diri di kamar mandi yang ada di kamar tamu lalu bersiap mendirikan salat magrib.
Makan malam diadakan di rumah tersebut. Menu makanan dipesan dari restoran terdekat. Malamnya, mereka melanjutkan perbincangan.
"Tiga tahun yang lalu, kami baru melakukan pencarian anak saya. Ternyata tidak mudah. Saya pikir bukan hal yang sulit menemukan seorang Beni Wijaya. Mungkin kalau dia tidak mengganti identitas dirinya, orang suruhanku sudah bisa melacak keberadaannya." Pak Adi membuka pembicaraan.
"Benar. Almarhum Pak Beni Wijaya mengubah namanya menjadi Wirawan sebelum menikahi Bu Dewi. Makanya, di dunia bisnis pun tak satu pun yang mengenal Beni Wijaya." Pak Andi menambahkan.
"Om Andi mengenal Pak Wirawan sejak kapan?" tanya Azka menyela.
"Tidak lama setelah almarhum datang ke kota ini. Beliau memulai bisnis kecil-kecilan dengan modal kecil dari tabungan yang dimilikinya. Sewaktu kuliah, beliau sudah berjualan. Makanya, saat Pak Adi menyetop fasilitas keuangan, almarhum masih bisa bertahan. Beliau meminta bantuan saya membuat identitas diri baru. Karena dulu masih mudah membuat kartu identitas, saya pun bisa membuatkan," kata Pak Andi menjelaskan.
Via membayangkan kehidupan almarhum papanya. Ada kebanggaan terselip di hatinya, membayangkan betapa gigihnya almarhum dalam merintis bisnis.
"Kami baru menemukan titik terang sekitar 15 bulan yang lalu. Namun, kami juga belum yakin," lanjut Pak Adi.
"Itu sebabnya, kami menawarkan untuk menyokong dana yang dibutuhkan PT Wijaya Kusuma dengan syarat bertemu pemilik perusahaan. Kami pikir kalau memang itu milik Kak Beni, kami bisa bertemu Kak Beni. Jadi, awalnya rencana itu hanya pancingan," imbuh Pak Candra.
Pak Andi tersenyum. Ia masih ingat betul pertemuan pertamanya dengan Pak Candra membahas rencana penanaman modal.
"Kami belum tahu kalau Kak Beni sudah meninggal. Kami hanya tahu kalau Wijaya Kusuma milik Pak Wirawan, yang kemungkinan besar adalah Beni Wijaya," lanjut Pak Candra.
"Lalu kapan Pak Adi dan Pak Candra mengetahui kalau Pak Wirawan telah meninggal?" tanya dokter Haris.
"Sekitar tiga atau empat hari sebelum bertemu Via. Orang suruhan kami mengirimkan pesan itu. Saya langsung menghubungi Pak Andi mengklarifikasi berita tersebut. Pak Andi membenarkan dan mengatakan kalau Via akan menikah dengan Nak Farhan. Saya langsung memberi tahu ayah."
Pak Adi tampak berkaca-kaca. Ia menatap Via sebentar.
"Begitu mendengar kalau Beni sudah tiada, saya shock. Jantung saya kambuh. Saya langsung dilarikan ke RSJJ. Candra kembali menghubungi Pak Andi untuk mengetahui informasi lengkap tentang pernikahan Via. Sebenarnya, saya ingin datang menjadi wali nikah cucu saya. Tapi, kondisi saya tidak memungkinkan. Apalagi Via tidak mengenal saya."
"Papi menyuruh saya menjadi wali nikah Via. Tentu saja saya menghubungi Pak Andi terlebih dahulu membicarakan tentang hal ini. Karena waktu itu kondisi papi buruk, saya meminta Pak Andi untuk merahasiakan siapa saya. Papi ingin kami yang mengatakan kebenaran ini kepada Via, bukan orang lain. Makanya, kami menunggu papi sembuh dan bisa bepergian jauh."
Via terhenyak. Ingatannya kembali ke masa ijab qobul.
"Tunggu, jadi Om Candra yang menikahkan kami? Om waktu itu pakai jas biru?" tanya Via.
Pak Candra mengangguk. Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto.
"Iya, ini Om yang pakai jas biru," jawabnya sambil menunjukkan foto bersama pasca ijab qobul.
"Pantesan. Via merasa Om menatap Via terus. Dan tatapan itu serasa tak asing bagi Via," gumam Via.
Pak Candra mengerutkan keningnya. Ia tak begitu paham ucapan keponakannya itu.
__ADS_1
"Maksud Via?"
Via menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
"Om Candra mirip almarhum papa. Bukan hanya wajah Om yang mirip. Bahkan, tatapan mata Om juga mirip papa," kata Via lirih.
Suasana menjadi hening. Ada haru menyelimuti hati yang hadir di ruangan itu.
"Ehm, ada yang mau saya sampaikan," ucap Pak Andi memecahkan keheningan.
Orang-orang menatap Pak Andi. Pria berusia hampir 50 tahun itu tersenyum.
"Ini soal rumah. Pak Adi menyuruh saya membeli rumah ini dan merenovasi beberapa bagian, menyesuaikan selera Mbak Via. Saya cari info tentang selera Mbak Via dari keluarga Mas Haris. Jadilah seperti ini. Dan rumah ini sekarang ...."
"Rumah ini aku serahkan kepada cucuku, Via sebagai hadiah pernikahannya," sambung Pak Adi.
Via melongo. Ia seperti mimpi.
"Kek, Via nggak mimpi? Via menempati rumah ini lagi?"
Pak Adi mengangguk. Ia menatap cucunya lalu beralih ke Pak Andi.
"Surat-surat rumah ini sudah beres, kan?"
Pak Andi mengangguk lalu menjawab mantap,"Sudah. Nanti saya serahkan kepada Mbak Via."
"Berarti Pak Andi sudah mengetahui tentang keluarga Dek Via sejak lama? Sudah hampir setahun," kata Farhan.
"Iya, Mas. Maafkan saya. Saya merahasiakan tentang hal ini atas permintaan Pak Adi melalui Pak Candra."
"Pantesan Pak Andi tidak curiga waktu Pak Candra mengirimkan beberapa orang untuk membantu kita. Saya sebenarnya sudah merasakan keanehan kok perhatian Pak Candra begitu besar," gumam Farhan.
"Kalau kamu, tahu nggak, Man?" tanya Eyang Probo kepada Pak Arman.
"Tidak, sama sekali tidak. Pak Andi sangat pandai menutup rahasia ini."
Semua orang tertawa. Mereka merasa lega dan bahagia.
Setelah pembicaraan dirasa cukup, mereka memutuskan untuk beristirahat di rumah itu. Rumah yang menyimpan banyak kenangan bagi Via.
***
Bersambung
Yang sudah nggak sabar pernikahan Via dan Farhan, ikuti episode selanjutnya.
__ADS_1
Jangan lupa, siapkan angpau untuk kondangan berupa vote 😆
Author ucapkan terima kasih atas dukungan Kakak semua. Apalagi yang sudah nyumbang banyak vote. 😘😘😘 Sayang, masih jauh dari 20 besar. Ga papa, author tetep semangat kok 💪